
His mask was revealed
Si Mas, lelaki misterius yang menempati ruang rahasia di dalam pikiran Niki. Sosok yang berkali-kali mampir tanpa sebab, di beberapa malam yang tak nampak istimewa, ketika bulan dan bintang bersinar seperti biasa di langit gulita.
Sosok itu buram, tidak jelas. Berkali-kali semesta merahasiakan rupanya, bertubi-tubi Niki penasaran padanya. Karena sebelum berpamitan, sebelum mata Niki terbuka, lelaki itu meninggalkan ciri-ciri yang pasti, seperti sepatu, lokasi, dan situasi tertentu.
Kecerdasan Niki diuji kali ini. Sehebat apapun Ia menjawab soal sains dan ujian akademik sejenis, tak ada apa-apanya dengan pengalaman misterius yang menghantuinya setiap malam.
Seratus persen mimpi yang pernah mekar sampai tiga kali selalu Ia ingat. Karena selogis apapun pikirannya, tidak ada nalar yang masuk akal untuk menjelaskan mengapa Ia hanya mengingat Si Mas.
Dan misteri yang tak pernah terpecahkan ini, lebih mengganggu otak cerdasnya, jauh lebih parah daripada rumus dan soal kimia yang berhasil Ia menangkan di berbagai lomba.
Ditambah lagi, hasil pencariannya seputar 'mimpi' meyakinkan dirinya bahwa selain bunga tidur, mimpi juga sebuah petunjuk. Alangkah lebih baik jika ingatan langka tentang mimpi itu ditulis.
Kalian tahu bagaimana seseorang yang mengutamakan fakta absolut berpikir, sebelum mereka menemukan kesederhanaan yang terpendam dalam sebuah kasus?
Rumit. Penuh cabang. Banyak variabel bebas. Dan yang jelas, membingungkan.
Enam episode totalnya. Niki menulis enam cerita Si Mas di dalam Sweet Pills. Tidak ada harapan yang Ia temukan dari bunga tidur itu, apalagi petunjuk. Nihil.
Kalau mau disederhanakan, semuanya hanya sebatas bunga tidur. Yakin seyakin-yakinnya, kehadiran Si Mas adalah hiburan untuk realita pedih yang dialaminya setahun yang lalu.
Ditolak, dikhianati, dibuat hancur mimpinya, dibuat tak berdaya keluarganya di depan hukum, lalu terpuruk oleh seluruh hutang yang mereka tanggung untuk melunasi biaya pengacara pekerja korban PHK.
Sebagai anak pertama, meski perempuan, Ia berinisiatif mencari uang. Tapi, hanya mengandalkan ijazah SMA tidak menjamin dirinya dipekerjakan, meski sebatas front office.
Tapi bukan ijazah masalahnya, melainkan fisik.
Pekerjaan yang berhubungan dengan klien, harus mempekerjakan seorang karyawan rupawan untuk menarik minat publik seluas mungkin. Dan Niki tidak memilikinya waktu itu.
Overweight, kumal, dekil, bau keringat, bau bumbu dapur, bahkan kawan dekatnya sendiri mengejeknya di tempat "Habis keminum minyak jelantah, mbak?"
Mungkin fisiknya tidak bernilai di mata dunia, namun akalnya jangan disepelehkan. Masalahnya, lagi-lagi dunia meragukan kualitasnya, sebagai pengajar.
Hanya lulusan SMA, sementang pernah ikut olimpiade, bukan berarti sederajat dengan mereka yang S1. Begitulah cibiran yang Ia dengar dengan telinganya sendiri. Pahit bukan?
Niki Keita, sosok ambis yang berusaha mengumpulkan rupiah dari segi manapun, meski harus keluar dari jalur akademik yang Ia kuasai. Desain grafis? Bukan masalah besar. Ia yakin dengan ketangkasan berpikir, otak encernya akan selalu menolongnya, dimanapun Ia berada.
Dan tanpa Ia ketahui, di bilik lain segaris lintang khatulistiwa, yang sejajar dengan kotanya, ada Wijaya tengah berkutat panas dalam realita yang sama.
Si Tampan Wijaya dan Si Cerdas Niki. Kalian memang bertemu untuk takdir hebat yang akan kalian jalani. Semesta mendengar doa kalian tanpa satu hari absensi. Bahkan gumaman kecil yang kalian gerutukan, juga didengar langit yang maha luas.
Jadi, tolonglah Niki. Bicaralah ke Wijaya, sekarang juga!
"Wijaya.." ucap Niki sambil menatap dua bola mata hitam legam yang sebesar miliknya, dipantulan kaca.
Ia sedang menenangkan diri di toilet lantai dua. Berusaha mengatur napas setenang mungkin. Memahami semua hal yang terjadi di senin ini sebagai petunjuk nyata, bukan lagi sekedar kebetulan belaka.
Ia melepas kacamatanya, menangkupkan tangan di bawah keran, lalu membasuh wajahnya yang kini cantik jelita. Tidak ada kusam, dekil, apalagi kumal. Ia benar-benar berbeda dari setahun yang lalu.
Jarinya mengetuk-ngetuk pelan di wastafel. Kecerdasannya mengatur beberapa strategi. Antara langsung jujur ke Wijaya tentang mimpi anehnya, atau mencoba memancing suasana, untuk merealisasikan mimpi keempat.
Bazar. Mimpi keempatnya terjadi di bazar. Ada puluhan tenda putih di sebuah lapangan. Ia dan Si Mas, berdiri menghadap biang lala. Lalu, Si Mas menunjuk permainan itu padanya. "Ada biang lala. Mau naik?"
Dalam mimpinya, Ia menggeleng, menolak ajakan langka itu di tempat. Kemudian, Si Mas kembali mengajaknya bicara di antara kerumunan manusia yang melintas.
"Kau beli lipstik apa? Sepertinya bagus. Aku ingin memberi hadiah ke ibuku." begitu katanya.
Dan Niki hanya diam. Tangannya tiba-tiba saja menggenggam sebuah lipstick coral cantik dari estalase make up. Bahkan dalam mimpinya, Ia mendapati dirinya mencari barang diskonan. Lipstik di tangannya itu lalu diambil Si Mas.
"Ini berapa?" tanya Si Mas ke salah satu SPG.
"Lagi diskon kak, hanya seratus lima belas ribu."
"Perasaan harga aslinya memang segitu. Kalau diskon lebih murah lagi, dong."
Lucu sekali, Niki tertawa geli melihat cara Si Mas menawar benda cantik yang digemari kaum hawa. Ia lalu terbangun sambil tertawa.
Keputusannya bulat. Daripada jujur dan disangka gila, bahkan lebih parahnya lagi, Wijaya akan ilfeel terhadapnya, jauh lebih baik pancing Ia untuk pergi ke bazar. Mereka berdua. Dan situasi saat ini benar-benar mendukung.
Selama ramadhan, kota cantik ini mengadakan festival jajanan ramadhan di lapangan publik dekat balai kota.
Drrt drrt
Handphone peserta desain lagi-lagi berdering. Kali ini ada pesan suara dari Xabil. Sejak jumat kemarin tidak kelihatan, rupanya voice note ini alasannya.
"Selamat pagi semuanya. Selamat beraktivitas. Mohon izin sebelumnya. Saya mau menyampaikan bahwa, mulai minggu ini saya berhenti dari pelatihan desain grafis. Alhamdulillah, saya lolos tes caba dan posisi saya sekarang berada di luar kota."
"Besok selasa, adalah hari terakhir saya ke kantor pelatihan. Saya mau pamitan sekalian sama kalian. Terima kasih atas waktu singkat yang menyenangkan selama ini. Terima kasih banget, mudahan kita semua sukses. Aamiin."
"Selamat deh buat Xabil. Hebat banget berhasil masuk polisi."
"Iya, ikut seneng dengarnya."
"Yaah, ilang satu personil. Jadi lima belas."
"Aduh, ganjil."
Seseorang menyebut kata terlarang. Sebuah kata yang ranahnya menyeramkan. Masalahnya, gedung ini memang lama tidak beroperasi sejak lima tahun yang lalu. Sebelum covid.
Dua puluh delapan komputer yang ditepikan ke dinding itu lama tidak berfungsi. Makanya, kantor membelikan komputer baru untuk mereka gunakan, dan ruang kelas baru agar mereka nyaman.
Antony melirik Mita dan Safira. Vanny lalu memperhatikan ada beberapa pasang mata melihat Niki. Namun, perempuan itu kelewat fokus demi merampungkan tutorial ke enam. Tak peduli lagi dengan situasi sekitar.
"Mbak.." bisik Vanny pelan.
"Mbak...?" panggilnya sekali lagi.
Telinganya cukup berfungsi, meski otaknya hanya merespon sekilas panggilan Vanny. "Hmm.. kenapa?"
"Dipanggil Safira tuh."
"Entar ya. Habis ini."
Tak salah Ia memilih Wijaya sebagai muse. Fokusnya tak teralihkan sama sekali, karena Wijaya memancing sisi ambisnya aktif kembali.
Lelaki itu menunjukkan keuletan tanpa lelah sedetik pun. Yang Ia lakukan hanya mengikuti video tutorial untuk merampungkan setiap tugas.
Niki berhasil mengikuti kecepatan Wijaya. Mereka sama-sama sedang mendesain baju batik berwarna biru yang agak rumit karena membuat duplikat cermin untuk kerangka baju agar simetris sedikit tricky.
"Jay, bentar lagi bahu kirimu bisa bolong kena laser." celetuk Abigail yang duduk bersandar dinding.
Abigail lalu memberi kode. Keduanya sama-sama menoleh ke belakang, ke arah Niki, seorang gadis yang sedang ambis.
"Dia ngeliatin aku dari tadi?" tanya Wijaya memastikan.
Abigail menggeleng "Bukan, layar komputermu yang ketutupan bahu lebarmu."
"Ngapain lihat kesini? Kan ada tutorial."
"Ya mana saya tahu. Minggir, biar aku periksa."
Abigail langsung berdiri menghampiri Niki. Ia menduga bahwa orang ambis itu pasti punya cara yang berbeda demi menjadi nomor satu.
Amati, tiru, modifikasi. Pasti. batin Abigail, karena dia juga begitu dulu.
"Niki? Sudah sampai man- Wah!"
Benar dugaannya. Perempuan ini sama sepertinya dan Wijaya. Sudah di tutorial ke enam. Peserta lain bisa memahami kalau yang duluan selesai Laras si anak IT atau Vanny yang paham seni.
Tapi Niki? Apa yang dipahami anak kimia tentang desain?
"Emang ngeri. Ambis banget." celetuk Laras dari kursinya.
"Oh, makanya pindah?" tanya Safira di tempat.
Laras mengangguk tanpa ragu. "Nggak bisa aku kalo sebangku sama anak ambis. Takut terdzolimi duluan."
Sontak seisi kelas tertawa dan mendekati Niki.
"Jangan ambis-ambis neng. Hidup itu nggak perlu balapan, santai." ucap Ryan.
Abigail hanya diam, Ia tidak berani berkomentar karena sebenarnya, jauh dari pantauan mereka, ada satu makhluk yang sejenis Niki.
Teman sebangkunya, Si Perfeksionis Wijaya.
Ia kembali menuju kursinya dan melihat kerjaan Wijaya. Lelaki itu mengunduh font, gambar, bahkan sticker yang digunakan di dalam video tutorial, agar hasil miliknya sama persis.
Ia bahkan mengikuti semua color adjustment, semua abjad dan angka untuk mendapatkan warna sempurna tanpa satu pixel pun yang berbeda.
Cocok, satu ambis, satu perfeksionis. gumam Abigail seraya kembali duduk.
Apa yang Niki lakukan seakan memantik semangat peserta lain agar segera merampungkan tugas ini dalam dua minggu. Kecuali Ryan, lelaki renta yang sejak awal memang terlalu santai, tanpa antusias, atau bahkan bisa dibilang, malas.
Dan lelaki itu semakin sering memantau Niki, yang kini, duduk tepat di sebelah kirinya. Ia berpikir bahwa pertemuan awal mereka bukan sebuah kebetulan.
Jodoh itu, saling melengkapi bukan? tuturnya yakin dalam hati.