Sweet Pills

Sweet Pills
Bab 5. Makan Siang Perdana



Hari itu bukan hari buruh nasional, maupun hari serikat kerja, melainkan hanya hari selasa di minggu kedua bulan Maret.


Seorang ibu-ibu rambut singa sibuk membuang-buang waktu peserta pelatihan di dalam aula. Ia meminta mereka untuk menghapalkan hymne pekerja. Entah lagu darimana, tapi iramanya mirip hymne-hymne pada umumnya.


Semuanya sibuk menghapal, kecuali gadis di kursi nomor sebelas. Wajahnya cemberut masam. Jangankan menghapal, melirik kertas lirik itupun enggan.


“Buat apa sih? Nggak penting.” decaknya kesal.


Kakinya menjejal lantai berkali-kali. Punggungnya bersandar, guna melepas jenuh dan penat akibat kegiatan tak berfaedah, membosankan.


Ia lalu menengadahkan kepala. Rasanya, Ia telah membuat keputusan yang salah. Bukannya mendesain, Ia malah menghabiskan waktu tidak jelas.


“Niki, yang serius. Kamu dilihatin sama ibunya, tuh.” bisik Mita mengingatkan.


Berhasil, Niki kembali ke posisi awal meski mulutnya masih mencaci pelan. Tapi, tidak bertahan lama. Belum sepuluh detik berlalu, Ia kembali gelisah.


Xabil yang duduk dua kursi dari kirinya sampai ikut terganggu. Hapalannya hilang, fokusnya buyar karena gaduhnya suara sepatu Niki dan kursinya yang bersahutan di permukaan lantai aula. “Kayaknya perlu dibikin pingsan deh, setrum mana setrum?”


Abigail yang duduk di belakang Xabil cekikikan, “Kasih kuis Taylor Swift aja, lebih ampuh.” Xabil berdecak tak setuju, “Apanya, entar malah teriak lagi.”


Tiba-tiba muncul sesosok bayangan dari arah pintu B. Salah seorang peserta desain baru datang, benar-benar terlambat. Perempuan itu lalu menanda tangani daftar hadir yang dijaga oleh Pak Tua dan langsung kena maki di tempat.


“Baru hari pertama sudah terlambat. Aduh, nggak ada disiplinnya blas. Siapa namamu?”


Satu aula bisa mendengarnya, karena suasana memang sedang hening, larut dalam hapalan hymne pekerja.


“Kiki, pak.” sahutnya pelan menatap lantai.


Melihat perlakuan Pak Tua kepada peserta sejurusannya, menyebabkan api permusuhan di benak Niki tersulut dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Matanya menatap sinis. Jauh di dalam lubuk hatinya ingin beranjak dan menyodorkan cermin ke depan wajah Pak Tua lalu berkata ‘Yang lain pada pakai masker sesuai protokol, bapak kok nggak pakai. Dasar, sok tua.’


Kini, kebosanannya berubah menjadi decakan penuh gerutu nggak jelas. Dan pemandangan lucu itu dinikmati oleh Wijaya. Ia bisa melihat ekspresi jengkel Niki di balik masker.


Safira – peserta nomor lima belas yang duduk di belakang Niki – kerap memperhatikan Wijaya dari belakang. Bahunya yang lebar membuatnya kesulitan melihat ke depan aula. Belum lagi, gelagatnya yang sering menengok ke arah Niki.


Tapi, kalaupun jadi Wijaya, Ia pasti akan melakukan hal yang sama. Bagaimana tidak, perempuan satu ini seperti cacing kepanasan. Tidak bisa duduk diam dengan tenang.


Bosannya saja mengganggu, apalagi sekarang, makiannya ke Pak Tua itu masih belum berhenti.


Sejak eye contact dua jam yang lalu, mereka belum juga bertegur sapa. Wijaya sudah berkali-kali menghadap ke Niki sambil menopang dagu dengan lengan kanannya, menunggu Niki menyapa.


Namun, sepertinya ada batu kali besar yang menggantung di telinga kanan Niki. Kepalanya lebih ringan menoleh ke kiri, ke arah peserta nomor sepuluh yang bahkan jauh lebih pendiam dari Si dingin Wijaya. Malunya belum hilang, dan Wijaya mengerti akan hal itu.


There’s a little smirk hiding inside his mask.


Musik dinyalakan, Ibu rambut singa meminta seluruh peserta untuk berdiri dan bernyanyi bersama-sama, sambil bertepuk tangan mengikuti tempo.


Akhirnya, Niki menoleh juga meski hanya sekilas, secepat rambat cahaya yang masih menyoroti mereka melalui segala sisi yang terbuka, jendela dan pintu aula.


Pertama kalinya mereka berdiri bersebelahan dan Niki benar-benar serendah itu. Sepundaknya pun tidak sampai. Karena hal ini pula, kesadaran Niki membuatnya menganga, diam-diam ekor matanya melirik Wijaya meski hanya sebatas jakun.


There’s a wide gaping mouth hiding inside her mask.


Banyak peserta yang sudah hapal, seisi aula pun kompak menyanyikan hymne. Cukup dengan lipsinc, Niki aman dari Pak Tua yang sedang mondar-mandir mengincar peserta yang tidak ikut bernyanyi.


“Beri tepuk tangan untuk kita semua!” seru Ibu rambut singa seusai bernyanyi.


Master of ceremony lanjut membacakan rundown. ”Kegiatan selanjutnya yaitu pemberian kartu peserta sebagai simbolisme pelaksanaan pelatihan kerja selama satu bulan ke depan. Kepada lima orang perwakilan jurusan harap maju ke depan.”


Laras sebagai perwakilan jurusan desain grafis, maju ke depan. Dari ujung kiri hingga ke ujung kanan, berdiri perwakilan dari jurusan Tata Busana, Tata Rias, Desain Grafis, Teknik Listrik, dan Otomotif. Setelah ketua pelaksana mengalungi para perwakilan jurusan, barulah seluruh peserta boleh mengenakan kartunya.


Niki melengoskan napas lega setelahnya, mengira kegiatan pembukaan ini akhirnya berakhir. Sampai lima detik kemudian, tiga orang tentara masuk ke dalam aula.


“Perhatian!” bentakan Si Komandan berhasil merebut perhatian seisi aula.


“Seluruh peserta harap mengenakan pakaian olahraga dan berkumpul jam dua di lapangan. Langsung buat barisan per jurusan. Mengerti?!”


Sayup-sayup mereka menjawab, masih kebingungan. “Mengerti?!” beliau membentak sekali lagi.


“Siap mengerti!”


Kelima gadis desain grafis belanja keluar kantor, mereka menyeberang jalan besar menuju minimarket merah.


“Saf, es krim cokelat tiga, mangga tiga, yang cup satu.” titah Mita, langsung disahut Safira, “Siap, ndan.”


“Panas banget lagi, masa sih dijemur siang-siang gini?” Kiki mengeluh seraya memilih keripik kentang bersama Mita.


“Tenang aja, entar kan dapat makanan gratis sebulan, sertifikat BNSP, dan yang jelas, uang insentif, hehe. Terima aja, udah.”


Sementara itu, tim es krim yang selesai berbelanja menunggu mereka di luar toko. Tangan Niki langsung mencomot satu es krim mangga sebelum benar-benar mencair. “Kenapa nginap ya, bukannya covid gini harus bikin jarak dulu.” pungkasnya sambil membuka bungkus es krim.


“Buat poin plus di sertifikat kali, jadi nilai keaktifan.” jawab Safira.


Laras langsung menyanggah tidak setuju, “Mana ada dinilai, yang iya nya buat sapu-sapu gedung. Lihat tuh, lapangan belakang kotornya minta ampun. Jamin deh, besok pagi pasti jadi jongos.”


Niki mengangguk separuh terkekeh. Benar, Laras sangat realistis. Pasalnya, sudah sering terjadi di setiap pelaksanaan orientasi. Entah zaman sekolah atau kuliah, kegiatan utamanya pasti bersih-bersih. Namanya juga masa pengenalan, sampah gedung pun harus dikenal juga.


Mereka kembali ke aula membawa sekresek makanan yang mencuri perhatian peserta lain, tepatnya, para lelaki desain grafis.


“Belanja segala, bentar lagi lho catheringnya datang.” tegur Gregor, peserta nomor empat.


“Biasa, cewek.” sahut Abigail enteng.


Benar saja, sebuah pick up putih memasuki area parkir di depan gedung utama. Seseorang keluar dari kursi kemudi menuju baknya. Berbungkus-bungkus cathering siap dibagikan ke semua peserta pelatihan.


“Baunya enak nih, kayaknya ikan.” tebak Abigail.


Mita sontak kecewa, “Yah, kok ikan… nggak suka.”


“Sini,” sahut Niki cepat, “Buat aku aja.” tangannya menengadah.


Safira langsung mencubit pipinya, “Ingat pipi, euy. Udah bengkak itu lho.” dan diikuti Laras sambil menyentil pipi tembemnya yang satu lagi.


Makanan sudah di tangan, Niki dan Mita segera melipat kursinya dan menepikannya ke dinding. Keduanya lalu duduk melantai berhadapan. Diikuti oleh tiga perempuan lain, Safira, Kiki, dan Laras.


Tak terduga, para lelaki desain pun ikut turun dan duduk. Lingkaran itu semakin lebar. Mereka makan bersama di lantai aula.


Tak terkecuali Wijaya yang sudah makan duluan di kursinya. Ia segera turun dan mengambil posisi di sebelah Niki.


“Jay, ikannya apa?” tanya Gregor ramah, yang kemudian disahutnya cepat di tempat, “Buka sendiri.” singkat.


Niki tidak sabar membuka kotak makan, dan benar kata Abigail. Terlebih, itu adalah ikan favortinya. “Patin!”


Kedua kalinya, mereka terkejut oleh histeria Niki. Excitement-nya mengundang Mita untuk memberi lauknya secara sukarela. “Nih.” Ia memberikan daging patinnya ke kotak makan Niki.


“Nih.” tambah Laras, plus pisang.


“Nih.” bahkan Kiki pun sama.


“Widih, Niki hari pertama sudah dapat satu ekor patin.” celetuk Gregor menggodanya.


“Rejeki anak kost, bang.” sahut Niki spontan, menikmati lauk siang itu.


“Panggil patin aja mulai hari ini. Enak aja ngatain biksu tadi pagi.” tebas Xabil yang duduk di seberang Niki.


Niki tambah menjadi, “Dendam, pak?” ejeknya.


“Oh.. gitu, oke. Patin!” Xabil melotot. Bahkan Abigail menimpali, “Kita ikat aja di tiang, terus tinggal di bawah pohon ketapang depan gedung.”


“Ide bagus, My friend...!”


“My friend…!”


Jam makan siang di hari pertama. Bisa dibilang, mereka terlalu akrab untuk sebuah kesan pertama.


Seperti acara silaturahim alumni SMA, kawan lama yang bertemu kembali. Hangat, tidak ada yang canggung meskipun lelaki sedingin Wijaya turut bergabung dalam lingkaran. Mereka semua membuat Niki merasa diterima di kota asing ini. Jauh dari kata sendiri.


Dari semua jurusan, hanya desain grafis yang terdiri dari dua gender. Teknik listrik dan otomotif semuanya peserta laki-laki. Sedangkan tata busana dan tata rias seluruhnya peserta perempuan. Banyak yang iri melihat keakraban jurusan yang satu ini, terlebih, si patin dan si tampan ada disana, Niki dan Wijaya.