
Hai? Ketahuan ya...
Banyak hal yang belum kusampaikan, banyak hal yang belum kuberi tahu, tapi kita terlanjur asing.
Aku pun pasrah, sama sepertimu. Mau gimana lagi, kita kan sebatas kenalan satu bulan. Tapi jujur, mengenalmu itu di luar ekspektasiku tentang kota ini.
Lama aku berandai agar bisa tinggal disini. Dan terwujud. Aku beneran disini.
Besar harapan bisa ketemu lagi, tapi kalaupun terjadi, mungkin sekedar senyum sekilas lalu pergi.
Aku menyukaimu sejak sebelum aku bertemu denganmu. Mimpiku itu beneran, tiga kali berulang. Dan semuanya mengarah ke kamu.
Aku sering mendambakan sosok Si Mas dan itu juga yang menjadi alasanku jomblo berkepanjangan. Standarku tinggi, mana mungkin ada.
Teman-temanku juga bilang nggak mungkin. Nggak ada yang seperti itu. Tak lupa mereka juga menyuruhku berkaca. "Kalaupun ada, memangnya dia mau denganmu?" mereka mengingatkan.
Dari situlah, aku berjuang ingin kurus. Harus cantik! Fisikku harus terawat, agar otakku yang cemerlang benar-benar cemerlang di antara gadis lain yang mengagumimu juga.
Mana kutahu, ternyata tipe idealku nyata! Bahkan kejadiannya sama persis, semuanya. Kaget nggak?
Mungkin semesta hanya ingin ini terjadi sebagai bukti bahwa mimpi itu bisa nyata, dan nggak ada yang mustahil kalau kau berharap. Singkatnya, jangan putus asa.
Benar saja. Aku tidak pernah putus asa. Banyak cara agar kisah yang kebetulan itu bisa terus dikenang dan tak tergeletak sia-sia.
Maka, cerita ini ada. Dan aku authornya.
Semua andai kutuangkan disini, semua pesan yang hanya sembunyi dalam diary kutulis disini. Senang rasanya, bisa mewujudkan salah satu mimpiku sebagai penulis, dan hebatnya lagi, cerita perdana yang dikontrak ini, tentangmu.
Namun, seindah-indahnya cerita karanganku, masih jauh lebih indah realita yang kujalani. Karena authornya adalah Pencipta Alam Semesta. Yang menciptakanku, tanganku, hatiku, pikiranku, dan dirimu tentunya.
Mengingat Tuhanku, membuat niatku kembali urung untuk jujur. Takutnya, kalau aku yang berencana, akan berujung gagal yang sama seperti sebelumnya. Hatiku juga sering takut, apakah tulisanku ini tak berarti apa-apa selain hiburan semata?
Mungkin aku akan menghapusnya andai tawaran kontrak itu tak menawariku duluan. Cukup simpan saja kenangan itu, dan perlahan lupakan.
Yang terjadi maka terjadilah.
Sekarang sudah terlanjur mencapai enam ribu pembaca, bahkan sudah ada subscriber. Bahkan ada yang suka dengan cerita Niki dan mereka turut menyukai peranmu dalam cerita ini.
Tak mungkin berhenti.
Kau perlu tahu, aku tak pernah menyia-nyiakan apapun pemberian orang, kebaikannya, tawaran mereka yang ikhlas, meski awalnya karena penasaran. Tak apa. Aku bisa mengerti. Karena aku sendiri, penasaran denganmu. Apakah kau akan mengajakku ke tempat itu atau sekedar mimpi?
Nyatanya beneran terjadi. Aku nggak habis pikir. Dan tiketnya masih kusimpan.
Memang benar, aku pernah pacaran. Tapi kalau kau tanya "Apakah kau pernah jatuh cinta?" maka jawabanku tidak pernah, sampai aku bertemu denganmu.
Sayangnya, itu semua sudah berakhir. Karena kulihat caramu menyapa pun sudah sangat dingin.
Betapa beruntung wanita yang mendapatkan perhatianmu selanjutnya, setelah aku. Semoga Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan sepertiku.
Terima kasih.
Selamat tinggal.