
Morning light is coming.
Sorot mentari menyusuri dataran rendah di sebuah kota kecil yang melintang di garis khatulistiwa.
Berkasnya memancar, menyebar ke seluruh permukaan yang luas hingga ke lubang-lubang kecil.
Ada yang menembus lubang dedaunan, ada yang menembus lubang kunci di gagang pintu. Sebagian lagi membias dalam genangan air di depan gedung dua lantai, bahkan ada yang berusaha menembus dinding putihnya.
Sayangnya, berkas itu tak memiliki kekuatan untuk mendobrak dinding. Ia memantul kembali, menyebar sinar ke arah seseorang bersepatu merah yang melangkah tegas menuju gedung itu.
Sebenarnya, apa yang mau semesta siarkan pagi ini?
...∞...
The leaf fell down.
Daun ketapang yang lebar telah termakan usia. Begitu kuning, penuh bercak, layu, dan tua. Tangkainya tak lagi tahan bergantung pada cabang pohon besar di depan gedung dua lantai berdinding putih.
Ia memilih jatuh, lalu memasrahkan hidup, mengikuti arus angin yang tenang, mengetuk sebuah pintu kaca.
Namun sayangnya – tanpa sengaja – sepatu merah menginjaknya tanpa iba.
Wassalam. Terima kasih sudah bertahan hingga akhir, wahai daun ketapang tua. Akhirmu itu menjadi awal bagi dua orang asing yang akan memenuhi gelak tawa dunia dalam satu bulan ke depan.
Antara seorang pria bersepatu merah, dengan seorang gadis yang sedang duduk membungkuk di ruang tunggu. Bersandar pada dinding putih tebal yang tak tertembus sinar mentari.
Apa yang membuatnya begitu tak peduli pada kabar duka dari daun ketapang tua di pagi hari?
...∞...
"Enchanted!” teriaknya heboh dan histeris, mengejutkan semua orang, termasuk tuan bersepatu merah yang baru masuk.
Pagi hari itu, untunglah tidak ada peserta wawancara yang punya penyakit jantung. Tatapan sinis sudah cukup mengutuknya tanpa suara.
Gadis cuek ini sedang menikmati waktu tunggu sambil menebak kuis lirik lagu Taylor Swift di youtube. Dari total tiga puluh kuis, Ia berhasil menebak dua puluh delapan penggalan lirik dengan tepat, memang swifties sejati.
Sang pria bersepatu merah langsung menelisik ruangan lantai satu, mencari sumber kebisingan dengan mata sipitnya.
Ternyata, seorang gadis berbaju navy dan berkacamata sedang sibuk melotot pada telepon genggam berwarna ungu yang tak asing baginya.
”Mirip punyaku.” bisiknya pelan.
“Hah? Apa Jay?” sahut kawannya yang baru muncul dari belakang.
“…Nggak ada, lupakan.”
Ia menggelengkan kepala, menganggap momen di detik itu sebagai kebetulan belaka.
Meski begitu, matanya menatap lama gadis yang kini duduk berseberangan dengannya. Ia mengingatnya karena yakin, gadis itu tidak akan lolos wawancara.
Apakah Ia tidak paham?
Pakaian formal itu harus hitam putih – seperti yang kini sedang dikenakannya – bukan baju navy.
Kemeja putih yang sangat rapi, yang menampakkan garis bekas setrikaan dan celana hitam licin dengan ikat pinggang sewarna yang pas dengan proporsi kaki jenjangnya.
Ia lalu tersenyum tenang di pagi itu, setidaknya ada satu pesaing yang Ia tebak akan gugur.
Matanya kini sudah cukup menatap gadis tadi, mengedarkan sorot ke sudut lain, ke arah kanan. Seorang perempuan yang duduk tepat di sebelahnya membuat eye contact tanpa sengaja.
Ia sadar, Ia tampan meski sebagian wajahnya tetutup masker.
Semua orang menatapnya dari awal masuk, kecuali Si Gadis Baju Navy yang kembali ditatapnya, lagi.
Satpam ruangan memanggil nama salah satu peserta yang menunggu di ruang tunggu.
“Niki Keita.”
Gadis swifties itu lalu berdiri. Si pemilik nama pun segera beranjak dari kursi dan mematikan handphone realme lima pro berwarna ungu miliknya.
Segera, Ia masukkan benda itu ke dalam tas selempang hitam, lalu berdiri, dan melangkah.
Tak tuk tak tuk. Ia berjalan cepat bukan terburu-buru, namun memang begitu, jalannya cepat.
Semua peserta spontan menatapnya sinis, kembali mengutuknya dalam diam hanya karena suara langkah kaki yang berisik, kecuali Si Tuan Sepatu Merah.
Ia berdeham di balik masker, menahan senyum dan tawa karena cara jalan yang lucu dari kaki pendek itu.
Langkah kaki dari suara sepatu hitam dengan heels lima senti begitu nyaring terdengar, membuyarkan fokus dua orang yang tengah berkenalan dari seberang pintu masuk.
Tak hanya suara sepatu, penampilannya itu terlalu menarik perhatian.
Ia mengenakan midi dress navy favoritnya yang dipadukan dengan celana putih nan elegan. Di bagian kepala, ada kain hitam ringan untuk menutupi rambutnya. Penampilan signature dari seorang Niki Keita.
Namun, untuk sebuah wawancara pelatihan kerja, seyogyanya mengenakan setelan hitam putih, bukan?
Dua kursi untuk dua orang calon peserta pelatihan kerja. Satu kursi kosong di sebelah kiri tersedia untuk Niki.
Satunya lagi sudah diisi oleh laki-laki tua bertubuh kurus yang sempat teralihkan fokusnya tadi.
Lelaki itupun kembali menatap lurus pewawancara muda, Ibu Yuni namanya, salah satu pegawai dari dinas industri provinsi yang ahli di bidang desain grafis.
“Baik, saya akan menanyakan tiga pertanyaan dalam wawancara pagi ini. Dilihat dari jawaban kalian, sepertinya kalian berdua memang sangat ingin menguasai desain, ya.”
Hening sejenak, sekitar lima detik.
Belum ada yang merespon. Beliau lalu membaca cepat resume milik Niki dan laki-laki di sebelahnya, yang dari tadi tidak disebut namanya. Membuat Niki penasaran, membuat otaknya malah menebak-nebak nama laki-laki itu.
Dan tak lagi fokus pada sesi wawancara yang sedang dihadapinya.
“Menurut kalian…” kalimat Bu Yuni berhasil menyita fokus Niki. Ia sedikit terperanjat di kursi. Ketahuan sekali, fokusnya gampang teralihkan. Bu Yuni melanjutkan, “Desain grafis ini keahlian sepenting apa?”
Kepala Niki spontan maju, badannya pun turut bergerak ke depan, menjauh dari sandaran kursi yang cukup empuk. Ia begitu antusias menjawab pertanyaan beliau.
“Sangat penting, bu.” Ia menarik napas sebentar, lalu mengatur senyum untuk meningkatkan kepercayaan diri. ”Berhubung saya punya usaha pribadi di bidang kuliner, yang bisa dibilang belum terlalu besar dan belum punya karyawan, jadi saya perlu keahlian ini untuk desain logo, kemasan, dan feed sosial media.”
“Baik, kalau kamu?” tanya Bu Yuni kemudian ke laki-laki renta di kursi satunya.
“Saya mau daftar kerja, bu. Perusahaan cat lagi buka lowongan, katanya, perlu karyawan yang bisa desain katalog. Jadi, saya berminat untuk mengikuti pelatihan ini.” jawabnya dengan tenang, santai, bahkan bisa dibilang, tak ada semangat.
Niki memperhatikan laki-laki itu dengan tatapan sinis. Bertolak belakang dengannya, laki-laki ini tidak menunjukkan setengah dari antusias yang dimilikinya.
Seperti terpaksa, pasrah, ‘kalau berhasil lolos syukur, kalau nggak ya legowo’. Mata Niki berbicara, ‘ck’. Kebiasaannya muncul lagi, menyepelehkan setiap orang yang menurutnya pantas untuk diremehkan. Apalagi, orang itu saingannya.
Niki lalu melirik Bu Yuni. Senyum tipis di sudut bibir wanita itu membuat Niki gugup seketika.
Dugaannya salah. Jangan-jangan jawaban saingannya itu lebih tepat. Itulah jawaban yang dicari-cari dalam pelatihan ini. Harus untuk kerja, bukan semata-mata untuk desain feed sosial media.
Ia gugup. Rasanya setitik keringat sudah berembun di pelipis kirinya. Seketika ruangan dingin itu terasa panas. Kepalanya mundur, bahkan badannya membungkuk. Ia melirik saingannya lalu mengikuti gaya santainya sedikit.
Di detik ini Ia merasa bahwa, antusias itu tanda ketidak dewasaan dirinya dalam dunia kerja, yang bisa jadi membuatnya tidak lolos dalam wawancara pelatihan kerja saat ini.
Mungkin, lelaki itu menganggap remeh wawancara ini. Namun bagi Niki, semua hal adalah kesempatan, dan kesempatan tidak datang dua kali.
Setiap detik harus maksimal, performa terbaik harus ditunjukkan. Karena tak ada yang tahu, siapa yang akan dipilih semesta sebagai main character dalam sebuah sesi hidup, manusia mana yang mendapat sorot lampu mentari pagi setiap harinya.
Sayangnya, pagi itu Niki malah bersandar pada dinding gedung yang tak tertembus berkas cahaya.
Entahlah, Ia merasa tidak akan lolos dalam wawancara ini.
“Menurutmu, desain grafis ini diperlukan untuk bidang apa saja?” pertanyaan kedua dilemparkan.
Saingan Niki tiba-tiba bersuara. Ia merebut semua jawaban yang masih Niki pikirkan, membuatnya tambah gugup dan bingung harus menjawab apa agar tidak disangka meniru. Sungguh licik, pikir Niki.
Akhirnya, pertanyaan ketiga dari Bu Yuni mengakhiri sesi wawancara mereka. “Kesibukannya apa sekarang?”
Tamat. Pertanyaan terakhir itu titik fatal untuk Niki. Kalau jujur, kemungkinan besar Ia tidak akan lolos karena masih kuliah semester akhir. Kalau bohong pasti ketahuan, karena tidak sulit membaca mimik yang tersirat di wajahnya. Semua orang mudah menebaknya, apalagi orang penting seperti Bu Yuni.
“Saya mahasiswa semester akhir, bu. Sisa skripsi.” Ia memilih jujur.
Ibu Yuni mengernyitkan dahi, “Lho, nggak masalah ikut pelatihan ini? Sebulan lho, dari jam delapan sampai jam empat sore. Setiap senin sampai jumat.”
Pasrah, hilang sudah semangat juangnya. “Bisa aja bu, soalnya nggak ada kuliah lagi.” jawabnya pelan.
Bu Yuni mengangguk-angguk saja, wajahnya nampak mempertimbangkan keseriusan Niki. Lalu, beliau menunggu jawaban dari calon peserta satunya.
Tanpa ragu-ragu, tetap membungkuk dan tunduk, Ia menjawab dengan jawaban yang terdengar jelas. “Saya nganggur, bu.”
Sudahlah, pengangguran pasti lebih diutamakan daripada mahasiswi tingkat akhir, pikirnya.
Wassalam, kesempatannya untuk menguasai kemampuan desain grafis seketika hilang detik itu juga.