Sweet Pills

Sweet Pills
Bab 16. Nirmana



Mimpi adalah bunga tidur. Mau seindah apapun itu, senangnya hanya sesaat. Meski begitu, perasaan sesaat itu saja cukup untuk membuat debaran di dada.


Tidak masalah selama bunga yang satu ini mekar satu kali. Beda cerita kalau sampai tiga kali. Mitos yang berserakan meyakini bahwa mimpi yang berulang tiga kali akan menjadi kenyataan. Sudah lelah di gelap malam, ditambah lagi letih di pagi hari. Gila rasanya.


Yang terjadi maka terjadilah.


Semua peserta desain sudah mengambil kursinya masing-masing. Dari enam belas yang tersedia, hanya satu kursi di depan AC yang tersisa kosong dan tentu saja, Niki, satu-satunya peserta yang belum duduk itu terpaksa duduk di sana.


Setahun yang lalu, di alam mimpi Niki, Ia berada di dalam ruangan putih yang penuh dengan orang berlalu lalang. Ia bersama orang-orang itu mengenakan baju hitam.


Awalnya, Niki berpikir bahwa mimpinya itu tentang pemakaman, namun ketika sebuah komputer muncul dan wanita bertubuh besar duduk di sebelahnya, Ia berubah pikiran.


Mimpinya adalah Ia seorang pekerja yang sedang merampungkan beberapa tugas.


Laki-laki yang berada di sekitarnya kerap mengganggunya, kecuali satu laki-laki yang duduk di paling depan barisan di sebelah kanan. Laki-laki tinggi dengan bahu lebar. Laki-laki itu menoleh ke belakang, ke arah Niki, namun lagi-lagi wajahnya tidak terlihat.


Beberapa percakapan yang Ia dengar menggambarkan bahwa lelaki itu juga ikut bercanda bersama karyawan lain. Entahlah, mimpi itu terasa nyata, padahal dirinya di tahun lalu tidak sedang mengikuti apapun. Hanya seorang mahasiswa pengangguran di rumah.


Kini, Ia duduk di kursi paling depan berhadapan dengan AC ruangan. Ia melengoskan napas, lega sedikit, karena laki-laki yang mirip dengan Si Mas itu duduk di sebelah kanannya, bukan di depan arah kanan. Lagi-lagi, laki-laki itu adalah Wijaya.


"Tugas kalian selanjutnya menggambar!" teriak Pak Budi dari arah belakang sambil berjalan masuk ke depan proyektor.


Beliau membawa beberapa lembar kertas A3 dengan gambar berwarna-warni. Salah satu gambaran itu beliau tunjukkan ke peserta desain.


Sebuah abstrak yang berwarna kuning dan hitam. Unik sekali. Bentuk kotak-kotak yang membentuk sebuah terowongan.


"Apa yang kalian lihat?" tanya Pak Budi


Xabil menjawab "Abstrak, Pak."


Niki tidak mau kalah "Abstrak tapi mirip terowongan."


Pak Budi lalu memperjelas "Benar, ini abstrak. Tapi, bukan sembarang abstrak. Kalau abstrak itu gambaran acak-acakan yang punya nilai estetika. Kalau ini namanya Nirmana."


"Nirwana?" tanya Gregor mengonfirmasi pelafalannya. Wajar saja, Ia duduk di paling belakang, sudah begitu, sebangku dengan Marzuki pula.


"Nir-ma-na." eja Pak Budi satu-satu.


Antony pun bertanya "Apa bedanya sama abstrak, Pak?"


"Nirmana itu pola yang berulang dan memiliki tujuan. Seperti ini contohnya. Ada satu titik yang dituju, makanya mirip terowongan. Memberi kesan 3D. Ada permainan gelap terang disini, dan juga permainan perspektif, sudut pandang. Gambarnya jadi hidup."


Niki menelan ludah, terakhir kali Ia menggambar saat di bangku SMA, itupun sebuah gambar daun yang sederhana dengan nilai C. Ia tidak terlalu lihai menggambar dengan tangan.


"Tugas kalian menggambar nirmana di kertas A4. Saya beri waktu sampai senin minggu depan." titahnya lalu menghilang.


Para peserta masih duduk diam di kursi barunya. Niki sebangku dengan Laras. Ia melihat ke belakang, ada Safira dan Vanny. Lalu di belakangnya ada Xabil dan Antony, dan kursi paling belakang ditempati Mita dan Kiki.


Sedangkan di jejeran kursi sebelah kanan, Wijaya dan Abigail duduk di paling depan. Dua orang yang diduga paling lihai ini sebangku. Di belakangnya ada Ryan dan mbak-mbak full make up. Di bangku ketiga, diduduki oleh duo pendiam, Finn dan Rayhan. Kursi paling belakang dihuni oleh Gregor dan Marzuki.


Semuanya tidak sama. Aku duduk di depan, bukan di baris kedua. Aman. Gumam Niki di tempat.


Ia diselimuti rasa khawatir antara percaya tidak percaya. Ia menatap Wijaya penuh selidik.


Dan Wijaya menyadarinya, ekor mata lelaki tampan itu memahami apa yang sedang terjadi, namun Ia tidak menatap balik dan memilih fokus bermain dengan komputer yang ada di hadapannya.


Pak Budi kemudian mengetuk pintu kaca kelas baru itu lagi "Belum ada yang mulai nggambar?" celinguknya.


"Kertasnya nggak ada pak." sahut Antony nyaring.


"Di ruangan sebelah. Di bawah printer. Per orang satu lembar. Oke, saya pergi dulu." lalu kembali menghilang.


Para peserta desain mulai fokus menentukan nirmana apa yang akan mereka gambar. Handphone mereka aktif mencari contoh nirmana yang paling sederhana.


Xabil, Antony, Abigail, Vanny, dan Safira sudah mendapatkan ide. Mereka segera pergi ke kelas sebelah untuk mengambil kertas A4.


"Eh, ikut!" Niki berteriak ke arah Safira.


"Yaudah deh, kerjain di sana aja." sahut Vanny mengajaknya.


Mentok, Niki tidak tahu akan membuat apa. Semua hal yang Ia cari di handphonenya hanya membuat pikirannya semakin ruwet.


Bingung mau membuat yang mana karena tangannya itu tidak pintar menggambar garis dengan rapi.


Berbeda dengannya, Vanny sangat santai mengerjakan tugas kedua ini. Rasanya baru lima menit Ia selesai menggambar kerangka tipis di atas kertas A4 miliknya, tiba-tiba, dengan berani Ia tebalkan garisan itu menggunakan spidol hitam. Sama sekali tidak takut tergores atau cemot.


"Van, lu udah biasa nggambar ya?" tanya Niki penasaran dengan kelihaiannya.


Mita menyerobot dari belakang "Udah dibilangin, ni anak ketiduran di meja."


"Haha, iya sih mbak. Interviewnya kelamaan. Nggak penting lagi. Enak turu."


Mita menatap Niki, Ia tahu, Niki juga cemas dengan tugas kedua ini, sama sepertinya. Keduanya lalu keluar dan berdiri lemas di depan jendela gedung lantai dua.


Melihat kemampuan peserta lain, membuat dua orang ini merasa jauh tertinggal. Insecure.


"Nik, kamu nggambar apa rencananya?"


"Belum tahu. Kayaknya nanti pas pulang aja deh. Lebih nyaman mikir konsep kalo suasana tenang."


"Iya, sama. Aku juga." jawab Mita ragu-ragu.


Ia lalu menelisik Niki yang tiba-tiba termenung di depan jendela kaca. Keyakinannya memastikan bahwa sebenarnya, Niki sedang membuat konsep itu sekarang.


Menjadi yang terlambat sendirian itu sangat tidak menyenangkan. Mita segera masuk, meninggalkan Niki di luar dan mengambil secarik kertas A4.


Niki masih menatap jendela tanpa menyadari dirinya sedang termenung. Hingga akhirnya gerombolan anak teknik berjalan melintas ke arah gedung mereka di bawah sana.


Matanya lalu menengok ke bawah. Motor merahnya lagi-lagi berada di sebelah Dzulfikar.


Bibirnya mencibir, seolah-olah Dzulfikar mengejek motor legendnya di sana, sama seperti pemiliknya yang mendadak menyebalkan akhir-akhir ini.


"Niki, kenapa di luar?"


Suara lelaki memecah fokusnya. Ia membalikkan badan dengan segera, ada Ryan di sana. Belum sempat Niki menjawab, lelaki itu lanjut berjalan menuju toilet.


Ryan merapikan beberapa helai rambut tipisnya agar nampak lebih awet muda di depan cermin toilet.


Sepertinya, Ia satu-satunya peserta yang tidak memotong rambut sesuai instruksi, kepalanya tidak botak sama sekali. Dan Niki melihat itu saat Ia berjalan kembali dari toilet.


"Abang yang mau kerja jadi tukang cat itu kan?" celetuknya tiba-tiba di depan pintu kaca yang baru saja dibuka Ryan.


Kakinya berhenti sepersekian detik. "Tukang cat?" mana mau Ia dijuluki begitu. Ryan menoleh ke arah Niki yang masih tersenyum ramah menunggu jawaban.


Menjengkelkan. Wajah yang Niki tunjukkan itu sangat menjengkelkan, bujang lapuk ini anak teknik sipil tau, bukan paman cat!


Ryan lalu begitu saja, tidak menghiraukan perempuan random itu sama sekali.


Niki berdecak kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya kembali ke kursi paling ujung dekat jendela, sejengkel itu karena tidak direspon.


"Paman cat?!" cetus Mita di tempat.


Habis sudah. Tidak ada lagi wibawa Ryan sebagai ketua kelas sekarang, ternyata mereka mendengar ucapan Niki!


"Buahahahahaha!!"


"Beneran nih, ketua?!"


"Huahaha, ikut desain buat jadi paman cat, ternyata ketua kita sangat effort!"


Seringai Niki terpantul dari kaca jendela. Ia nampak puas dengan respon satu kelas yang mendengar apa yang Ia ucapkan.


"Cerita dong! Eh kayaknya kita perlu sharing kejadian pas wawancara nggak sih?" sahut Mita lagi. Perempuan satu ini memang sumbu penyulut topik di siang hari.


Cathering kebanggaan mereka telah datang. Lauk siang hari ini cukup memuaskan konsumen yang sudah kelaparan, kecuali Niki. Menunya adalah ayam bumbu merah, masakan khas kalimantan.


Walaupun warnanya merah, rasanya benar-benar manis. Tidak cocok untuk lidah sumatra-jawa Niki.


"Aku inget banget pas wawancara pokoknya, Safira duduk di sebelahku. Iya kan?" ucap Mita memulai pembahasan.


Semua orang mendengarkan ceritanya sambil membuka satu per satu bungkusan lauk cathering.


"Pisang lagi, pisang lagi. Bosen, ah. Nik, mau nggak?" ujar Safira menawari.


Dengan tangan terbuka, Niki menerima pisang itu penuh suka cita. Melihat respon Niki, membuat latah tangan peserta lain untuk memberikan pisangnya ke kotak makan Niki juga.


"Kalian nggak mau jadi anak sehat, apa gimana? Pisang itu bagus buat pencernaan tahu!" teriaknya mengkritik para peserta desain.


Dengan satu kalimat, mereka menjawab rengekan Niki bersamaan dengan kompak "Kamu kan anak kost!"


Niki sampai terbatuk saat akan menelan ayamnya. Ah, benar-benar menyenangkan. Rasanya, momen SMA dan kuliahnya yang membosankan dulu tergantikan oleh teman-teman desain grafis.