
Hai langit, ada kabar apa untuk jumat besok?
Senja tadi ada makhluk yang kesal luar biasa. Di sepanjang jalan pulangnya, Ia terus menerus menyumpahi satu nama laki-laki. Empat kali Ia bermain, empat kali pula gadis itu kalah.
Seperti dibully habis-habisan oleh lelaki yang setiap hari selalu menemani perjalanan pulangnya. Si pengendara motor ducati merah bernama Dzulfikar, si pemilik sepatu merah, Tuan Wijaya.
"Wijaya...!" teriak Niki di pinggir pagar hijau.
Luar biasa nyaring, lebih bising daripada suara gergaji kayu. Anak-anak yang tengah bermain di sungai turut meniru apa yang Ia lakukan, mereka menambah efek gaung agar Niki sedikit terhibur.
"Sabar, kaaak..!" teriak si bocah.
"Thank youu..!" jawab Niki yang berhasil dihibur emosinya.
Ia lalu melihat bukit mandulang, meneropong lokasi itu menggunakan lensa minusnya. Sangat tidak berguna.
"Siapa juga yang bikin tambak patin di bukit, tolol."
Niki pun kembali ke kamar setelah melihat rona merah jambu di langit. Emosinya sudah cukup tersalurkan sebagian. Pemandangan alam memang satu-satunya hal terbaik untuk relaksasi setelah penat menjalani hari.
Kau lihat kan, langit? Gadis ini punya kebiasaan buruk yaitu hanya mengingat keburukan orang lain. Ia bahkan lupa kalau pagi ini Ia sempat berterima kasih ke Wijaya yang telah mengingatkannya untuk membawa buku tabungan.
Mungkin ada julukan yang pas untuk Wijaya baginya, mood maker.
Kompleks, senang dan kesalnya disebabkan lelaki ini. Semoga saja, Ia cepat sadar bahwa sebenarnya Ia memang sudah terikat batin dengan Wijaya.
Bulan, tolong bantu dia untuk bicara ke Wijaya secepatnya. Tentang mimpi yang Ia dapatkan, tentang rahasia yang kau ketahui. Kau kan sahabatnya di malam hari setelah Sweet Pills, kau tahu betul apa yang Ia alami di alam yang lain. Kau pun tahu apa yang Wijaya alami di kamarnya sekarang.
Namun sayangnya, baru jam tujuh, langit sudah gemuruh. Tidak ada bintang yang muncul. Dan awan hujan menutupi mata bulan untuk menyinari malam. Ternyata, bulan belum bisa membantu malam ini.
Kota ini berselimut hujan semalaman. Gunturnya bersahutan, kilat menyambar berkali-kali. Siapapun yang tengah tertidur pasti terbangun.
Untuk pertama kalinya, Niki kedinginan di dalam kamar seorang diri. Yang bisa Ia lakukan hanya mengoleskan minyak angin dan menutup pusatnya dengan selembar koyok agar tetap hangat.
Daya tahan tubuhnya rendah, Niki sangat mudah terserang flu. Malam ini saja, sudah tujuh kali Ia bersin. Berlembar-lembar tisu memenuhi bak sampah kecil di dalam kamarnya. Dan air matanya pun mulai menetes.
"Ma.. kangen.."
Ia memeluk guling seerat mungkin. Menggulung dirinya di dalam selimut sekencang mungkin. Namun masih belum bisa menggantikan kehangatan pelukan dari seorang ibu yang Ia rindukan. Dan kini, Ia pun mulai menangis sampai terlelap.
Paginya, Ia terbangun buru-buru. Mencari cermin untuk berkaca. Daaaan....
Taraaa.. makjreng!
Kedua matanya bengkak merah, sangat sembab. Batang hidungnya merah dan tersumbat. Keluarlah suara parau yang menjengkelkan untuk di dengar oleh kedua telinganya. Tapi mau gimana lagi, Ia harus bergegas menuju kantor pelatihan.
Jumat ini, pertama kalinya Ia mengenakan baju olahraga ungu yang kebesaran satu nomor itu. Bukan masalah besar, karena pagi ini cukup dingin. Baju kedodorannya bisa menghangatkan Niki seharian.
Sesampainya di parkiran, kesialannya sudah dimulai. Wijaya juga baru turun dari motornya. Dan kali ini kesempatan Niki untuk parkir sejauh mungkin dari Dzulfikar.
Bukannya segera naik tangga, Wijaya malah menunggu Niki sambil memegangi helmnya. Padahal Niki ingin menghindar seharian, terutama dari dia. Apa yang akan terjadi kalau Wijaya melihat rupa zombienya? Pasti dibully habis-habisan.
Sepelan apapun jalannya, Wijaya masih berdiri di sana. Pasrah, akhirnya mereka meletakkan helm bersamaan dan tentu saja, sebelahan.
Niki lalu mempercepat langkahnya ke tangga. Wijaya sih santai saja, kaki jenjangnya tidak perlu susah susah melangkah secepat Niki. Ia tetap bisa mengimbangi Niki menuju kelas.
Niki berusaha mendorong pintu kaca kelas, namun ternyata tenaganya tidak ada. Ia benar-benar lemah kalau sedang flu. Wijaya yang super peka pun mendorong pintu itu dengan satu tangan dari belakang Niki. Mereka masuk bersamaan.
Masih nggak mau peduli? Wah, perempuan satu ini benar-benar ahli bikin darah tinggi.
"Hei..!" tegur Wijaya sekali, namun tidak dihiraukan Niki.
"Niki..! Sombong banget jadi orang." kedua kalinya Ia bicara dan terpaksa menarik kerah Niki dari belakang.
Gadis itu spontan berputar di tempat, wajahnya pun dilihat Wijaya.
"Aku lagi nggak mood." jawab Niki dengan suara paraunya.
Wijaya tidak menjawab. Ia diam saja. Setelah meletakkan tasnya, lelaki itu segera menaikkan suhu ruang dan keluar.
Xabil tidak datang hari ini. Katanya, sedang sakit. Safira membaca pesan itu di kursi Xabil yang bersebelahan dengan Antony. Keduanya diam saja saat melihat Wijaya yang tiba-tiba keluar kelas setelah berbicara dengan Niki.
Dan rupanya, wajah Niki yang mereka lihat sudah menjelaskan segalanya. Ia sedang sakit.
"Niki, mau tuker tempat kah? Kamu sama Laras mundur sebangku. Aku sama Vanny juga mundur sebangku." ujar Safira.
Mendengar itu, tiba-tiba Antony berontak. "Lha, aku gimana?"
Laras langsung menyahut "Situ kan cowok, ya duduk ke depan lah. Sini kita tukeran."
"Gak asik mainnya bawa bawa gender." protes Antony tapi tetap mengikuti keinginan mayoritas, haha.
"Lha, lu ngapain ke sini?" tanya Safira karena tiba-tiba Laras duduk di tempat Vanny.
Entah apa yang terjadi, mungkin Laras jenuh sebangku dengan Niki atau malah terganggu karena kakinya yang tidak bisa diam.
Niki yang tak bertenaga itu hanya bisa menuruti mereka semua. Ia pun duduk di baris kedua yang jauh lebih hangat, pojok dinding.
"Aku ke kelas sebelah ya. Ruangannya nggak kunyalakan AC." ucapnya lalu menuju mantan kelasnya.
Seharian ini, Niki hanya diam tak melakukan apapun. Ia hanya mengantar raga ke kantor pelatihan agar tidak dikatakan absen. Mita, Kiki, Safira, Laras, dan Vanny duduk di sekitarnya sampai adzan dhuhur tiba.
Tiba-tiba perasaan itu muncul. Insting wanitanya menyala. Sesuatu sedang terjadi di dalam organ tubuhnya. Sesuatu yang mengurungkan langkahnya ke masjid.
Alih-alih menuju tangga, Ia membiarkan Safira dan Vanny berjalan duluan ke masjid. Ia mampir ke toilet lantai dua dan benar. Tamu bulanannya tiba. Ia pun kembali ke kelas dengan langkah malas.
"Kenapa, lagi libur?" tebak Mita yang dijawab Niki dengan anggukan.
Mita lalu mendekatinya. Ia menyentuh pundak gadis itu secara tiba-tiba tanpa mengetahui bahwa Niki manusia anti disentuh.
Niki terperanjat, membuat Mita terkejut di tempat.
"Jangan! Aku gelian."
"Lhaa, terus kalo lagi sakit gini gimana? Masa dibiarin?" sahut Mita.
"Olahraga aja yuk! Mumpung pake baju olahraga juga." ujar Laras memberi ide.
Keempat gadis ini setuju untuk senam SKJ di dalam ruang kelas yang luas. Sementara semua lelaki pergi ke masjid untuk sholat jumat, ada satu orang tengah asyik merekam mereka berempat dari luar pintu kaca.
Kiki menyadarinya, Marzuki tidak ikut ke masjid. Ia lalu menyuruh Niki dan yang lainnya untuk berhenti.
"Eh! Marzuki kayaknya ngerekam deh barusan."
Ketiganya kaget. Mata Niki berubah jengkel, Mita dan Laras pun sama sepertinya. Otak laki-laki satu itu tidak bisa dibiarkan. Feeling keempat perempuan ini menuntun mereka untuk mengejar Marzuki yang ternyata berada di kelas baru mereka.
"Mar!" teriak Niki dari pintu kaca.
Apa yang sedang mereka lihat?! Gregor pun tidak ke masjid! Ia sedang tertawa dengan Marzuki menonton sesuatu di hapenya.
"Hahahaha, dasar cewek desain freak semua. Masa tiba-tiba senam di kelas!" celetuk Marzuki dengan entengnya!
"Hapus!" Niki memaksa.
Ia segera mendekati Marzuki dan berusaha merebut hapenya. Tapi Marzuki masih saja keasyikan menikmati video hasil rekamannya itu. Sebenarnya siapa yang freak disini?!
"Santai Nik, gitu aja marah. Nih. Kuhapus." tuturnya enteng.
"Nih, udah kan? Kamu lihat sendiri kan? Gitu aja marah-marah." lanjutnya lagi!
Benar-benar kurang ajar.
"Susah ya ngobrol sama orang yang nggak paham privasi!" sindir Laras tegas sambil melenggang keluar dari kelas baru mereka.
Sepulangnya para lelaki dari masjid, suasana di dalam kelas sangat dingin. Selain karena hari mendung sejak tadi malam, matahari kelas itu juga tidak berenergi.
Mita membawa satu kotak rujak buah untuk dimakan bersama. Ia menawari Niki dan untunglah, Niki tidak manja minta disuapi.
"Kamu biasa minum obat apa kalo flu gini? Jangan di biarkan lho. Jaga-jaga harus punya stok obat demam di kost." tutur Mita khawatir.
"Tenang, ada aja warung bakso dekat kost." jawab Niki sambil mengunyah satu buah pepaya.
Mereka yang mendengarnya seketika menyahut Niki "Ooh, kepuhunan rupanya."
"Tau kepuhunan nggak?" tanya Antony menggodanya.
Niki pun menggelengkan kepala.
"Itu istilah untuk orang yang sakit karena nggak makan makanan yang Ia mau makan. Intinya, baru sembuh kalo makan makanan yang udah dia idam-idamkan." jelas Ryan.
Niki seketika memikirkan banyak makanan di kepalanya "Oh! kalo gitu, aku suka bakso yang ada dalemannya!"
Spontan mereka semua terbatuk. Daleman?!
"Daleman apaan? Jorok!" pekik Mita.
Niki pun menjelaskan "Itu lho, daging kecil-kecil yang agak alot tapi enak."
"Jeroan!" bentak Wijaya yang tengah duduk di kursi.
"Jauh banget daleman ke jeroan!" protes Gregor.
"Kan jero bahasa jawa. Aku nggak mungkin pake bahasa jawa disini. Jero kan artinya dalem, ya berarti daleman." jelas Niki penuh percaya diri.
"Pakek di translate..!"