Sweet Pills

Sweet Pills
Bab 6. Chipmunks!



Bisik-bisik berdecit di dalam kamar mandi pria. Beberapa lelaki sedang berghibah, saling mencicit, menentukan siapa yang tercantik di antara peserta pelatihan. Sebutlah mereka si cowok A, B, C dan D.


“Cewek tata rias cakep-cakep dah.” ucap cowok A, kedua diantaranya mengangguk, namun cowok B menyanggah, “Tapi, cewek yang di kelas desain itu manis tau. Niki kalo nggak salah, namanya.”


Si cowok C menimpali, “Iya sih, anaknya heboh bener. Terus, mukanya itu kayak ga pake bedak. Tadi pas ngasi kotak makan ke anak desain, kebetulan dia berdiri di sebelahku. Beuh, pipinya mulus asli, nggak ada serbuk bedaknya. Bening natural.”


“Tapi,” kali ini si cowok A kembali mencicit. “Cewek tata busana yang pendiam itu cantik juga. Hidungnya mancung kecil gitu, seleraku banget.”. Cowok D pun menyahut, “Namanya Vira. Iya, Vira.” Ia terdiam, senyumnya mengembang, setannya muncul.


“Eh, bentar lagi kan adzan dhuhur. Mereka pada sholat ke masjid tuh… pada lepas kaus kaki, kan?”


Bertepatan adzan berkumandang, mereka segera mempercepat langkah ke masjid. Tanpa sengaja, si cowok D menabrak bahu Wijaya di jalan. Lelaki dingin itu tidak menggubrisnya sama sekali, memahaminya yang terburu-buru melaksanakan ibadah, sama seperti dirinya.


Sedetik kemudian, Ia memperhatikan gelagat mereka. Keempat curut itu tengah menunggu para perempuan yang sedang melepas sepatu di tangga masjid. Wijaya memperhatikan mereka dari kejauhan. Beberapa sepatu perempuan yang sudah melangkah masuk diambil keempat curut itu satu per satu.


Ada yang nggak beres.


Ia lalu mempercepat langkahnya dan segera duduk di tangga masjid. Seraya melepas sepatu merahnya, Ia menguping percakapan mereka yang sedang bergerombol di sekitar sepatu abu-abu. Sepatu itu Ia kenali. Milik peserta yang berisik menahan bosan pagi tadi, Niki.


Seakan tahu apa yang direncanakan otak pria, secepat kilat Wijaya beranjak dan menghadang mereka.


Lelaki jangkung ini menunduk menatap si keempat curut. Tanpa sepatah kata, hanya mata. Ia memberi isyarat agar mereka kembalikan sepatu itu segera. Namun, keempatnya tidak ada yang memahaminya atau, pura-pura tidak peka.


Ia lalu mengambil paksa sepatu Niki dari genggaman tangan cowok curut itu, si cowok D.


‘Jangan berani-berani mengganggunya.’


Sorot matanya mengancam tajam, sampai-sampai para curut itu merasa terintimidasi. Keempatnya lalu kalang kabut dan langsung bubar dari pandangannya. Sepatu abu-abu itu kemudian Ia letakkan di sebelah sepatunya, di tengah tangga masjid.


...∞...


Dhuhur berjamaah selesai ditunaikan. Safira dan Niki berjalan sambil bercanda menuju tangga masjid, ingin memasang sepatunya masing-masing.


“Eh es krim mangga kan asam, tetap aja enakan cok- Nik?” Safira langsung diam menyadari tidak ada lawan bicaranya lagi di samping. Niki tertinggal. Bukan, lebih tepatnya, langkahnya tak berani mendekat. Safira menyadarinya, sepatu Niki tidak ada. Hilang kemana?


Niki yang sudah menyadari keberadaan sepatu abunya masih diam di tempat. Sepatu itu berada di sebelah sepatu merah yang telah bertuan.


Yang terjadi, maka terjadilah.


Langit berawan, hari tak lagi terik, semilir angin berhembus pelan. Di tengah suasana siang yang tenang, ada seseorang sedang duduk dengan gagahnya di tangga masjid sembari mengobrol dengan Xabil dan Abigail. Seseorang yang sejak pagi, Niki hindari.


Xabil dan Abigail melihat Niki dengan tatapan aneh. Gelagatnya seperti akan menjinakkan bom waktu, sangat hati-hati mendekati Wijaya.


Tangan kanannya berusaha menjangkau sepatu abu-abu dari jarak sejauh mungkin. Ia tarik perlahan dari sebelah kanan tuan sepatu merah itu.


Sialnya, mata mereka malah bertemu.


Wijaya melihat kedua pasang bola mata yang dua kali lebih besar dari matanya. Ia tahu, tatapan itu bukan sedang kagum, heran. Benar, Niki heran dengannya.


Mata Wijaya lebih kecil kalau diperhatikan sedekat ini. Untungnya, sorot mata itu terbantu tulang alis yang menonjol tajam.


Memberi kesan manly pada wajahnya yang mirip... “Chipmunks.”


Accidentally, twice!


Xabil, Abigail, dan Safira terdiam mendengarnya, “Ch-chipmunks?” tanya Xabil sekali lagi. Memastikan bahwa pendengarannya tidak rusak.


“Buahahaha!” Safira langsung tertawa lebar sampai menular ke Abigail. Keduanya cekikikan menahan perut yang mulai mulas dengan kedua tangan.


Si pelontar chipmunks itu langsung melarikan diri, meninggalkan mereka jauh di belakang setelah selesai mengenakan sepatu abunya. ‘Sial.’


Memalukan. “Lihat nggak, mukanya langsung merah! Hahahaha!” celetuk Abigail melangkahkan kakinya yang terhoyong-hoyong, Safira tambah geli meresponnya. Sedangkan Xabil hanya tertawa sekadarnya, ketika dilihatnya Wijaya yang dingin itu berusaha menahan tawa sambil tertunduk.


Hari ini, meskipun belum ada obrolan antara mereka berdua, tingkah Niki sudah membuatnya terhibur berkali-kali.


Apa yang akan terjadi kalau kami bicara berdua?


Bagai kuda lepas dari pingitan. Kalau Niki memilih menghindar, maka seseorang akan memilih untuk mengejar.


Waktu menunjukkan pukul dua. Semua peserta pelatihan sedang duduk manis di dalam aula menunggu hujan reda. Padahal, setengah jam yang lalu, cuaca sedang sejuk-sejuknya. Tiga orang tentara pun ikut bernaung di dalam aula bersama mereka.


Seorang tentara tiba-tiba berdiri memberikan arahan. “Karena di luar sedang hujan, kegiatan kita lakukan di dalam aula. Semuanya silahkan berkumpul membuat lingkaran diskusi per jurusan.”


Tentara itu lalu menjelaskan kegiatan yang akan mereka lakukan, yaitu presentasi perkenalan atau promosi antar jurusan. Benar-benar mirip ospek prodi semasa kuliah.


Aula seketika menggema, ricuh dalam lima kelompok besar. Mereka diberi waktu berdiskusi sampai jam tiga sore. “Sebelum itu, silahkan pilih ketua kelasnya dulu.” lanjut Pak Tentara lagi.


Spontan banyak manusia tanpa kepala di tengah-tengah peserta desain. Bagai kura-kura yang bertemu predatornya, para jantan itu menyembunyikan kepala ke meja, kecuali dua orang, Xabil dan Wijaya.


“Xabil, gas!” teriak Niki, perempuan ini bahkan mengabaikan kandidat lain di sebelah kanannya.


Xabil menggaruk kepalanya segan, “Hehehe, jangan lah. Sebaiknya yang jadi ketua itu, yang tertua.” jawabnya merendah.


Mendengar itu, Gregor berbalik badan menatap lelaki bercelana jeans yang duduk di belakangnya. Dari gaya berpakaiannya saja, ketahuan sekali bahwa dia sepuh disini. “Abang aja, lah.”


Lelaki itu tidak peduli dan langsung membuang muka. Niki langsung membelalak, Ia mengenalinya! Si lelaki renta, saingannya saat wawancara!


Wijaya ikut terpaku ke depan, pandangannya curiga menatap lelaki tanpa nama itu.


“Menurutku, kurang bijak meminta yang tertua menjadi ketua. Lebih baik, yang masih gesit aja. Xabil misalnya, atau Wijaya.” elaknya.


“Merepotkan.” sahut Wijaya singkat dan dingin. Ia mengintip nama yang tertera di mejanya, Ryan Aldi.


Safira geregetan, “Elah.. cowoknya pada cupu gini. Apa perlu nyewa cowok jurusan sebelah?” Seluruh mata ikut melaser punggung Ryan. Ia tersudut, “Ya udah.”


“Oke, masing-masing memberikan sarannya ya, jangan lupa perkenalan. Minta dipanggil apa selama pelatihan nanti. Hitung-hitung, biar tambah akrab.” titah Ryan lalu mengambil secarik kertas dan pulpen.


Niki menatap Ryan selama mantan saingannya itu sedang memperkenalkan diri. Sampai-sampai, Ryan ikut menatapnya balik. Si gadis patin ini lalu tersenyum, tapi Ryan enggan membalas.


Dia lupa sama aku? gerutu Niki dalam hati.


Wijaya duduk di sebelah kanan Niki. Tentu saja, kesempatan diskusi ini harus bisa menjadi alasannya untuk berbincang dengan Niki.


Lelaki itu menunduk sejajar dengan telinga Niki yang bersembunyi di balik kerudung hitamnya. Sudah begitu, Niki masih enggan menoleh. Ia takut, mereka kembali bertatapan.


Mulutnya itu, belum bisa sinkron dengan otak. Terlalu banyak celetuk konyolnya hari ini, dan korbannya adalah Wijaya. Mau se-memalukan apa lagi?


“Hei.” sapa Wijaya pelan dan tidak direspon.


Telunjuk kanan si pria mengetuk meja putih Niki berkali-kali. Tetap saja, Niki pura-pura tidak mendengar.


Gadis pemalu ini sok sibuk bertukar pendapat dengan Mita, Abigail, dan Safira.


Geregetan. Emosinya memuncak. Kalau saja Niki mengabaikannya lagi sebelum detik itu, Wijaya pasti sudah mengangkat kursinya agar Ia teriak.


“Hei, Niki Keita.”


“Iya? Ada ap-“


Accidentally. Hidung mancungnya mencolek pelan pipi Niki.


What an accident. Tiga orang spontan menutup mulutnya, berusaha menahan kata ‘cie’ keluar bersuara karena kejadian itu murni ketidak sengajaan.


Abigail, Mita, dan Safira. Bahkan si pendiam Rayhan dan Finn. Kelima peserta sontak mundur membentur penyangga kursi.


Niki bahkan menarik kepalanya mundur, sudah pasti. Tapi Wijaya masih tetap pada posisinya, Ia malah menyamakan maniknya agar tetap sejajar dengan Niki yang kini sudah memperhatikannya. Tanpa kedip.


Deg


Deg


“Gawat!” pekik Niki dalam hati.


“Menurutku, desain itu skill yang paling bagus untuk dikuasai sekarang. Nggak perlu ruang kerja khusus, yang penting ada laptop. Mulai dari desain undangan, cover buku, bahkan menggambar komik seperti webtoon, luas banget. Intinya, skill yang-“ Wijaya terus nyerocos ke telinga Niki yang terlanjur diambil alih jantung.


Hanya detak jantungnya yang terdengar, bahkan perutnya ikut bereaksi, mulas. Entah sejak kapan sistem peredaraan darah bisa sinkron dengan sistem pencernaan.


“Kayaknya aku salah makan.” Again! three times!


Lagi-lagi, responnya nggak nyambung sama sekali. Wijaya sadar, Niki gugup kalau mendadak seperti ini.


Tanpa aba-aba, terlalu tiba-tiba malah! Meskipun matanya masih menatap Niki, setidaknya badannya kembali tegap di kursi.


“Niki Keita.”


“Niki Keita?”


“Halo?? Mbak? Masih napas?” Ryan memanggilnya.


Mata Niki mengerjap berkali-kali, kesadarannya kembali berfungsi menyesuaikan situasi diskusi. Lagi-lagi, Wijaya meringis dibuatnya. tangannya bersedekap sambil tersenyum gemas menatap Niki. We will talk later.