Sweet Pills

Sweet Pills
Bab 23. Brownies Farewell



Pintu kaca kelas desain diketuk berkali-kali. Namun, tidak ada orang yang mau membalikkan badan sekedar membukakan pintu. Semuanya sedang fokus menatap komputer.


Mereka gugup, takut kalau tugas itu tidak rampung sesuai tenggat waktu. Perlahan, satu per satu tutorial selesai dikerjakan. Setidaknya, mereka berhasil merampungkan tiga tutorial hari ini.


Tok tok tok.


Gregor dan Marzuki pun tidak mendengar, telinga mereka disumpal ear buds dan alunan lagu favoritnya masing-masing. Malahan, Wijaya yang jauh di depan, sadar oleh ketukan pintu orang itu, yang tak lain adalah Xabil! "Fokus amat?" sapanya.


Sontak seisi ruangan menoleh ke belakang. "Xabil! Katanya besok baru ke kelas?!" teriak Antony seraya menghampirinya.


"Ehehe, surprise!" sahutnya lagi dengan senyuman lebar. Sayangnya, mimik mereka biasa saja, tidak ada yang terkejut sesuai ekspektasinya.


Xabil kembali mengatur diri, mengikuti kondisi teman-temannya yang tiba-tiba serius. Ia berjalan santai menuju kursi di sebelah Antony. "Lho, kursiku jadi di depan AC?"


"Iya, hehe. Aku nggak tahan di depan AC." jawab Niki yang masih fokus merampungkan tutorial ke enam. Benar-benar rumit tugas satu ini.


Xabil memperhatikannya. Meski pertanyaannya dijawab, Niki tidak melihat ke arahnya sama sekali. Sedikit mengecewakan, pasalnya ada sesuatu yang ingin Ia berikan ke gadis jenaka ini.


"Niki, aku ada sesuatu buat kamu." ucapnya tiba-tiba. Tidak hanya Niki yang menoleh, bahkan satu ruangan menunggu pemberiannya.


Satu kotak brownies cokelat, Ia serahkan ke tangan Niki. Gadis itu tidak langsung menerima, Ia sempat bingung. Normalnya, kalau memang mau memberi ke seseorang, harusnya ke ketua kelas saja sebagai perwakilan. Bukan kepadanya.


Apakah ini untuk personal atau publik? Niki takut salah paham. Ia pun menerimanya dengan ragu-ragu dan berkata, "Wah! Tau aja anak kost kurang asupan gula. Makasih ya!"


"Haha, kali ini jangan lupa berbagi ya sama yang lain." sahut Xabil sekaligus mengingatkannya akan kejadian roti pagi di aula.


Keduanya lalu tertawa. Seluruh manusia di sana sampai keliru memahami mereka.


"Ihiy! Ada sesuatu nih kayaknya!" celetuk Mita dari belakang. Namun, Niki dan Xabil tidak peduli. Mereka berdua biasa saja, karena memang tidak ada hal sejenis itu dalam urusan brownies ini.


Kecuali satu orang yang mendadak banyak tanya ke Antony. "Mereka berdua emang sedekat itu ya?" tanya Ryan.


Antony menggeleng "Kurang tahu juga sih bang. Tapi, kalopun jadi Xabil, saya juga mau ngasih sesuatu ke Niki. Secara, dia kan anak kost. Beda dari kita semua yang emang asli dari sini."


"Marzuki juga bukan asli sini." bantah Ryan.


"Eh?" Antony seketika kehabisan jawaban. "Nah, kurang tahu sih, bang. Kayaknya ada sesuatu deh antara Niki sama Xabil." ikut mengiyakan pernyataan Ryan.


Lelaki tua ini tiba-tiba berdiri ke dekat Niki. Tangan kirinya bersandar menopang badannya yang kurus. "Buat Pak Budi, gak ada?"


Mendengar itu Antony langsung menyalakan kode 'pantau' ke Safira. Keduanya saling melempar senyum untuk fokus memperhatikan apa yang akan terjadi.


"Ada dong. Nih, mau saya kasih." jawab Xabil cepat sambil mengeluarkan satu kotak brownies lagi dari dalam tasnya.


"Xabil memang the best! Pas banget jam makan siang. Ayok, ke kelas sebelah! Bentar lagi catheringnya datang." celetuk Niki tiba-tiba sambil berdiri dan meminta Ryan menyingkir.


Sementara Xabil mengantar brownies ke meja Pak Budi, Niki mengajak mereka semua untuk mengikutinya. Ia lalu memotong kue itu menjadi potongan yang lebih kecil agar mudah ditelan.


Mereka menikmati brownies gratis ini sambil menatapnya curiga. "Niki, cerita!" pinta Mita tiba-tiba.


Niki paham, Ia pun menceritakan kejadian roti hambarnya yang ditegur frontal oleh Pak Tua. Tapi, fakta itu tak cukup untuk menghentikan tatapan curiga padanya. Malahan, mereka semakin menyipitkan mata, tambah curiga.


"Masa cuma gara-gara itu? Jangan pura-pura nggak tahu, deh. Kamu pasti sadar kan?" seringai tipis merekah dari wajah Mita.


"Enggak! Udahlah. Ini kan rejeki. Dimakan aja bareng-bareng."


Wijaya, Rayhan dan Finn tidak ikut ke kelas sebelah. Selesai merampungkan tutorial ke enam, Wijaya langsung beranjak menuju masjid. Di belakangnya ada Ryan yang mengikuti. Lelaki itu kemudian mengajaknya berbincang di sepanjang jalan menuju masjid.


"Niki tadi ngajak ke kelas sebelah buat makan browniesnya bareng-bareng." tuturnya lagi.


"Aku darah tinggi. Nggak bisa makan makanan yang terlalu manis." jawab Wijaya datar dan segera melepas sepatunya meninggalkan Ryan sendirian di depan tangga masjid.


Niki mengintip dua lelaki itu dari jendela lantai dua yang langsung menghadap ke masjid. Ia masih memikirkan Wijaya. Apa yang akan Ia lakukan untuk memancingnya mau ke bazar besok, saat pembukaan festival ramadhan?


Adzan dhuhur memanggil peserta desain untuk segera turun. Langkah mereka bersahutan, berebut jalan agar duluan sampai. Niki, Laras, Mita, dan Kiki ditinggal di ruang kelas yang luas. Keempatnya lalu berbincang banyak hal tentang semua yang telah terjadi.


"Kalian nyadar nggak sih, Niki banyak penggemar?" lagi-lagi Mita membahas topik yang sama. "Niki, pilih yang mana? Kamu jomblo kan?" imbuhnya.


Laras ikut bertanya "Pernah pacaran nggak?" Niki menggeleng. Ketiga pasang mata itu membulat tidak percaya. "Bohong!" sahut mereka kompak.


"Ya.. pernah.. cuma tiga bulan doang. Emang itu bisa dianggap pacaran?"


"Ya iyalah. Spill!" mereka membuka telinga lebar-lebar. Menunggu kata pertama yang Ia lontarkan.


Niki pernah tidak cantik jelita. Ia pernah dipandang sebelah mata. Meski begitu, ternyata ada yang menyukainya, namanya Berry. Teman SMA yang tiba-tiba mengaku suka padanya tahun lalu.


Berry kemudian menyatakan cinta secara langsung padanya, lewat kertas yang terselip di dalam bungkus silverqueen. Malam itu, untuk pertama kalinya, Niki ditembak langsung oleh pria yang tidak Ia duga.


Pasalnya, Ia tak pernah menyukai siapapun. Ia merasa cukup kalau ada yang naksir dengannya, tapi untuk diajak berkencan? Ia pikir akan merepotkan untuknya.


Dan suatu hari yang sial bagi Berry, Niki memutuskan hubungan mereka dengan alasan nggak deg degan.


"Buahahahaha! Nggak deg-degan katamu?! Serius?" Mita hilang kendali. Ketawanya menular ke Laras dan Kiki.


"Serius. Apalagi coba? Dibilang nggak cocok, ternyata ada jawabannya. Katanya 'Ya namanya baru pertama, nggak ada yang langsung cocok!' "


"Terus kubalas 'kita nggak sama. kamu itu beda denganku.' Ada lagi jawabannya 'ya iyalah, mamamu sama mamaku aja beda. Menggabungkan dua kepala itu nggak mudah. Jangan memutus hubungan sepihak gini! "


"Terus, terakhir dia bilang "belajar dewasa!" Lalu, telponnya mati."


Niki nyerocos lancar. Ia ingat betul kejadian itu, yang membuat sahabatnya marah hebat. Mau Oxel atau Mila, keduanya menegur kesalahan Niki yang nggak bisa dewasa.


"Tapi kalau memang nggak ada rasa susah sih. Mending putus." sahut Laras. Kiki pun menyanggah "Ya tapi nggak gitu juga. Apalagi lewat telepon. Dia aja nembak langsung lho."


Mita masih mengatur napasnya yang agak tersengal. Ia terbatuk agar tenggorokannya kembali normal. "Kamu nggak pernah naksir orang?" tiba-tiba saja, pertanyaan itu membuat Niki langsung diam.


Berpikir keras tentang pengalaman cintanya yang bertepuk sebelah tangan saat masih remaja, kepada seorang adik kelas pemain badminton. Dan penolakan yang kejam itu, membuatnya enggan menyukai orang lagi, sampai sekarang.


"Pernah, tapi langsung ditolak di tempat. Langsung kandas, bikin trauma."


Mita seketika diam, raut wajah Niki tiba-tiba muram. Ia serius mengatakan 'trauma' nya barusan. "Nggak papa Niki. Nggak semua cowok kayak adek kelas itu kok. Kalo kamu mau coba lagi, ya nggak ada salahnya. Perasaan itu harus dikatakan. Jangan dipendam." seakan tahu bahwa Niki memang menyukai seseorang tapi enggan mengungkapkan.


Raut wajahnya semakin rumit. Sulit sekali baginya mengiyakan ucapan Mita. Pengalaman ditolak itu tidak pernah Ia lupakan. Karena itulah, Ia enggan berurusan dengan yang namanya perasaan. Yang menjadi fokusnya hanya karir, karir, dan karir. titik.


Karena semua hal lebih lancar kalau didukung finansial.


Lama Ia menimbang-nimbang, memikirkan berbagai rencana untuk besok. Mengajak Wijaya ke bazar. Bukan untuk menyatakan cinta pastinya, tapi untuk memastikan sekali lagi bahwa Si Mas adalah Wijaya.


Dan juga, kalau semua berjalan lancar, Ia ingin mendengar pendapat lelaki itu tentang mimpi anehnya.


Kesempatan ini pun hanya sekali, bulan ini saja, selama mereka pelatihan disini. Setelah itu, tak ada lagi urusannya dengan Wijaya, kemungkinan besar, mereka semua kembali asing, fokus menata rencana karir masing-masing.


Kenangan manis yang mungkin sulit untuk dilupakan. Niki bahkan merasa enggan meninggalkan kota ini kelak. Namun, suatu saat pasti begitu, berakhir. Hari-harinya kembali normal seperti sedia kala. Seperti brownies itu yang perlahan tapi pasti, habis tak tersisa.