Sweet Pills

Sweet Pills
Bab 4. First Impression



Gemericik air membangunkan Niki di waktu subuh. Bukan karena derasnya, namun, ini pertama kali baginya. Dibangunkan oleh suara air sungai setenang ini.


“Baju training, done. Keperluan mandi, done. Setelan hitam putih, done. Alat makan, done.”


Niki sudah memeriksa isi ranselnya tiga kali. Pelatihan kerja ini mengawali agenda dengan acara orientasi peserta pelatihan di gedung utama selama tiga hari dua malam, menginap.


Jauh dari ekspektasi Niki, Ia pikir yang namanya pelatihan kerja tinggal datang, duduk, diajarin, dites, lulus, dapat sertifikat, kelar.


Ia hanya ingin segera menyentuh komputer dan belajar mengoperasikan corel atau adobe. Tidak lagi mengandalkan canva di handphone ungu.


Motor merahnya dipanasi, sepatu abu-abu Ia kenakan, talinya Ia ikat kencang. Isi di dalam tasnya Ia periksa sekali lagi setelah kamarnya terkunci. Ia selipkan beberapa roti di dalamnya, jaga-jaga kalau kelaparan dan tidak tersedia makanan yang cukup disana.


Mentari muncul di ufuk timur. Sinarnya menyorot plat motor beat merah yang bergerak memutari bundaran simpang kota, lalu berbelok ke kanan.


Pohon-pohon besar menyapa, daun-daun kecil berguguran mengiringi Niki menuju gapura kantor pelatihan. Senyumnya merekah di sepanjang lintasan jalan menuju gedung utama.


Dua orang perempuan nampak berbincang ria disana, Laras dan kawannya dari jurusan lain. Keduanya melihat Niki yang tengah kebingungan mencari lahan parkir kosong.


Semua tempat naung telah penuh, kecuali, di bawah pohon ketapang depan gedung utama. Ia pun memarkirkan motor legend-nya disana.


“Sini..!” sapa Laras sambil melambaikan tangan ke arahnya.


Laras pun semangat pagi itu karena peserta nomor tiga memilih untuk mengundurkan diri.


“Wah, disini sejuk banget, ya.” ucap Niki mengawali percakapan.


Laras mengernyitkan dahi, ‘disini’ maksudnya itu, berarti dia adalah pendatang di kota ini, pikirnya.


“Kamu dari mana?” tanya Laras penasaran.


“Lintang Alih. Namaku, Niki.”


Mendengar itu, kawan yang satunya langsung memotong, “Sama! Aku dari sana juga. Kenalin, aku Debby.” sahutnya sambil menjabat tangannya.


“Jurusan desain grafis juga?” tanya Niki.


“Bukan, tata rias. Nih, Laras desain grafis.”


Laras pun segera menjabat tangan Niki. Tawanya hampir lepas karena senyum Niki yang terlalu lebar. Keceriaan di wajahnya membuat Laras yakin, Niki akan mudah akrab dengan siapapun ke depannya.


“Kamu baru lulus SMA, ya?” Debby menerka.


Niki pun menggeleng, senyumnya miring, “Aku kuliah semester akhir.”


“Serius?” keduanya membelalak. Pasalnya wajah Niki nampak seperti siswi SMA gabut yang mencari kesibukan di masa pandemi. Tidak nampak tua sama sekali, baby face.


“Kita seumuran, dong!” pekik Debby. Laras kemudian menepuk pundaknya, “Tuaan kita setahun, woy.”. Hening, canggung, ketiganya bingung harus membahas apa. Debby kemudian berputar menatap Laras.


“Mana yang namanya Wijaya? Aku penasaran banget, nih.” bisiknya.


“Sshtt, belum datang.”


Mereka berdua membiarkan Niki diam mematung. Merasa diabaikan, Niki mengedarkan pandangannya menyusuri gedung dua lantai itu hingga menatap langit. Mentari sedang menyorotnya secara langsung.


Di waktu yang sama, lampu sorot lain mengikuti sebuah motor ducati merah yang mendekat ke area gedung utama.


Bruum.. Motor itu digas cukup keras hingga menyita perhatian penghuni setempat. Si pengendara memantau area parkir namun tidak menemukan lahan yang luas untuk motor besarnya parkir, kecuali, di bawah pohon ketapang.


Ada motor beat merah disana sebagai contohnya, parkir ilegal. Kebetulan juga, Ia masih ingat motor itu milik gadis bernama Niki Keita, Si Gadis Baju Navy.


“Itu anaknya.” Laras menaikkan alisnya.


Peserta yang berkumpul langsung berbisik-bisik. Niki pun ikut penasaran, karena situasi seakan meminta agar lelaki misterius itu segera melepas helmnya.


Dan momen yang mereka tunggu pun tiba. Lelaki itu melepas helmnya.


Kepala kecil, mata sipit, hidung mancung, bibir segaris. Badan tinggi, kulit putih, dan satu hal yang paling menarik darinya, bahunya tegap dan lebar. Secara keseluruhan, Ia memang yang paling tampan di antara lelaki yang sudah hadir.


“Mata emang nggak bisa bohong.” Accidentally!


Celetuk konyol Niki membuyarkan kaum hawa yang sedang terkesima. Ditambah, lelaki itu mendengarnya!


Hampir saja, terjadi kontak mata antara Niki dan Si pengendara tampan, kalau Ia tidak segera menundukkan kepala. Memalukan. Perlahan, Niki melirik ke arah Laras dan Debby, keduanya cekikikan melihat respon jujur Niki barusan, benar-benar memalukan!


“Niki.. Niki.. Bisa-bisanya, hahaha.” Debby menepuk pundaknya berkali-kali, satu tangannya menahan perut yang mulai terasa mulas karena tawa yang tak kunjung berhenti.


“Malu-maluin anjir.” timpal Laras.


Mendengar nama Niki disebut, Wijaya langsung melirik ke arah tiga perempuan yang heboh macam orang kesurupan. Sayangnya, yang bernama Niki membelakanginya.


“Desain grafis masuk melalui pintu B. Langsung duduk di kursi sesuai nomor urutnya.”


Mereka bergegas menuju aula. Tanpa sadar, kaum hawa ini berjalan pelan di belakang Wijaya, termasuk Laras dan Debby yang meninggalkan Niki di belakang.


“Nomor sebelas, ya?” Niki bergumam pelan. Tiba-tiba dari arah belakang, seorang wanita gemuk merangkul pundaknya secepat kilat. “Kamu desain juga, kan? Aku lihat mukamu pas wawancara.”


Niki mengangguk kebingungan, “I-iya. Kamu nomor berapa?”


“Enam belas! Paling terakhir. Kenalin, Mita.” jawabnya sambil mengulurkan tangan.


“Niki Keita.”


“Niki, bareng yuk!” sambung Mita lagi tanpa melepas rangkulannya sepanjang jalan menuju pintu B.


Sesampainya di depan pintu B, ada empat kursi berbaris vertikal di depan Niki, dari nomor sembilan sampai dua belas. Tiga kursi sudah diduduki oleh laki-laki, dan satu kursi kosong nomor sebelas itu, miliknya.


Ia masih mengantri mengisi daftar hadir. Matanya memperhatikan beberapa peserta desain dari meja terdepan – yang diduduki laki-laki muda – sampai ke peserta yang berada di sekitar kursinya. Ia kemudian membeku, berdiri diam tanpa kedip, malah membelalak.


Pengendara ducati itu peserta nomor dua belas?! Sebelahan?! Mampus!


Niki melengos sangat berat. Karbon dioksida yang terkumpul di dalam paru-parunya, dihembuskan cukup lama, sampai-sampai tangannya bergetar hebat kala menanda tangani daftar hadir.


“Nggak sarapan kamu?! Masih muda kok gemetaran.” celetuk Pak Tua yang menjaga daftar hadir peserta pelatihan.


Ia mengekeh canggung. Beberapa peserta yang mendengar menertawakannya, salah satunya, peserta desain nomor tiga belas, yang duduk paling dekat dengan meja daftar hadir.


“Hei, kamu yang baju navy waktu wawancara kan?”


Niki spontan melirik nama peserta laki-laki itu, yang tertera jelas di samping nomor meja. Abigail.


“Hehe, iya.” Ia menunduk malu. Dengan sangat keberatan, Ia berjalan malas menuju kursinya sendiri.


Tasnya diletakkan perlahan, matanya menemukan kursi kosong nomor lima belas di sebelah Mita. Dengan cepat, Ia langsung duduk disana.


“Lho, kamu nomor lima belas?” Mita kebingungan. “Tapi, disini namanya Safira.” lanjutnya kemudian.


“Sebelas.” sahut Niki pelan. “Aku mau duduk disini sebentaaar… aja.” Ia memelas.


“Kenapa? Sana, nanti yang duduk disini salah paham, lho.”


Niki masih memelas, “Bentar aja, kok..”


Suara tawar-menawar dua orang itu cukup nyaring terdengar hingga beberapa peserta menoleh kebelakang, salah satunya peserta nomor sembilan. “Kamu yang teriak enchanted itu kan? Pasti swifties.”


Niki reflek kaget, ternyata ada swifties lain, pikirnya. “Kamu swifties juga?!” sahutnya semangat.


“Bukan – bukan, aku nggak terlalu hapal lagunya selain yang satu itu.” dengan cepat Ia menyanggah, “Kenalin, aku Xabil dari Lintang Alih.” tuturnya ramah.


“Sama!” lagi-lagi Niki menyahut penuh semangat. “Aku dari sana juga, Niki Keita.”


Mata Niki memperhatikan Xabil dari ujung kaki sampai ujung kepala. Dahinya mengernyit habis menyadari potongan botaknya yang tidak rata. Laki-laki ini punya pitak di kanan.


Masalahnya bukan itu saja, sekalinya melihat ke peserta laki-laki yang lain, ternyata sama. Satu aula botak.


“Peserta laki-laki wajib potongan SK 1 ya, kok pada jadi biksu semua.” celetuk ngasal pun ceplos seenaknya dari mulut si gadis swifties.


“Buahahaha..!” Mita ngakak brutal di tempat. “Niki.. baru hari pertama udah ngejek.”


Siapa sangka, suara Niki terdengar sampai ke peserta otomotif yang duduk di belakang.


“Siapa yang ngatain biksu barusan?!” suaranya lantang, dan seisi aula langsung menatap Niki serempak. Benar-benar memalukan.


Lesson are learned.


Pelajaran penting bagi pemilik suara toa seperti Niki. Ia harus belajar cara mengecilkan volume suara kalau mau ceplos seenak jidat lagi.


Sebentar saja, kursi nomor lima belas dikerumuni beberapa peserta yang ingin berkenalan satu sama lain. Niki melengos lega, apa jadinya kalau Ia tiba-tiba dibully di hari pertama. Gadis ini sempat lupa, tak ada kenalannya sama sekali disini, dasar Niki.


Laras yang melihat kursi kosong di sebelah Wijaya langsung mendudukkan diri disitu. “Inget aku, nggak? Aku yang wawancara bareng kamu.”


“Oh, iya.” Jawab lelaki bermasker itu singkat dan,


Dingin.


Di sisi lain, seorang perempuan celingak celinguk di depan pintu B. Ia menanda tangani daftar hadir, nomor lima belas.


Matanya gelagapan mencari kursi. Ia melongo, ternyata kursinya dikerumuni beberapa peserta pelatihan yang sibuk berbincang dengan gadis asing yang tersenyum sumringah. Begitulah kesan pertama Niki Keita di mata Safira.