Sweet Pills

Sweet Pills
Bab 14. Desain Brief



Paket lampu LED super canggih akhirnya tiba. Lampu baru itu Ia atur berwarna biru dengan kelip hijau yang menenangkan.


Wijaya segera menikmati nuansa baru di kamarnya, Ia berbaring menatap langit-langit. Hari ini seperti berlalu terlalu cepat. Tiba-tiba malam, padahal senja bersinar jingga setengah jam yang lalu.


Handphone ungunya berdering di atas meja kayu, di sebelah buku biru jadul itu. Puluhan chat dari grup khusus peserta desain masuk beruntun.


"Ada apa kok tiba-tiba rame?"


Laras membagikan screenshot chat dari grup jurusan tata rias. Wijaya menjadi trending topic di sana bersama dengan empat lelaki jurusan desain yang lain, Xabil, Antony, Marzuki si anak baru, bahkan si pendiam Rayhan.


Laras. | Uhuy, cowok desain banyak fansnya nih.


Ryan. | Enaknya jadi anak muda


Rayhan. | Kok aku disebut juga?


Xabil. | Gas! New reborn One Direction, wkwk.


Antony. | Ah, baru seminggu sudah heboh gini. Apalagi sebulan ya.


Safira. | @Antony Muka lu entar dipajang noh di depan ruang tata rias.


Niki. | @Laras share loc cuy.


Safira. | @Niki mau ngapain anda?


Niki. | Ngeringin baju


"Haha, udah dibilangin nggak percaya. Dah lah."


Baju baru itu memiliki bahan yang sedikit kasar karena pengerjaannya borongan. Benangnya tidak mungkin halus, pasti langsung berhamburan di awal pencucian.


Seharusnya, Niki turuti saja saran Wijaya tadi sore. Sampai subuh pun, Ia masih disibukkan dengan seragam hitam yang akan Ia kenakan. Serat benangnya banyak yang lepas. Enggan, namun Ia harus mengenakannya.


"Niki!" teriak Laras di depan kost.


Setelah kejadian naas yang menimpa motornya kemarin, malam itu Ia pergi ke rumah Laras naik ojek online. Dan pagi ini, Laras dengan senang hati menawari tumpangan untuknya.


"Bajuku nggak cakep!" sapanya ke Laras.


Laras mengangguk, bajunya juga ludes seperti milik Niki. Kedua perempuan itu memasang raut cemberut sepanjang jalan. Bahkan pagi yang terang tiba-tiba mendung kalau melihat rupa mereka berdua.


"Seapes-apesnya aku, lebih apes lagi Niki. Udah motornya di bengkel, semalam nyasar ke kuburan, bajunya kayak dicakar kucing, dan pagi tadi di dekat parkiran, anak teknik listrik tiba-tiba minta nomor WA nya." ungkap Laras di dalam kelas.


Hanya tiga orang yang tertawa merespon ghibah paginya, yaitu Mita, Safira, dan Abigail.


Pintu diketuk. Bayangan laki-laki tinggi berdiri cukup lama di sana. Abigail menyapa Wijaya yang baru datang, lalu kembali nimbrung dengan para gadis membahas keapesan Niki lagi.


"Minta nomor WA? Aduh, ada yang populer ternyata." ujarnya.


"Terus, lu kasih, Nik?" tanya Safira.


Niki menggebrak meja "Nggak lah!"


"Hahaha. Cuma mau kenal aja masa nggak boleh sih, Nik? Padahal biasanya friendly, suka nyapa duluan. Giliran nomornya diminta, pelit banget." kata Mita.


"Orang kayak gitu dikasi hati minta jantung! Males berurusan sama mereka. Mending turu, iyakan Sap?" tapi tidak direspon Safira. Ia membalas perbuatan Niki yang mengabaikannya kemarin, hahaha.


Abigail lalu menggubris hal lain yang ingin Ia tanyakan tapi sempat lupa sesaat. "Terus, nanti kamu pulangnya diantar sama Laras?"


"Nggak. Motorku udah bisa diambil kok."


"Oh iya, Kemarin pulangnya gimana?" tiba-tiba Laras bertanya.


Ragu-ragu memenuhi wajahnya. Kalau jujur, bisa bisa mereka salah paham. Lebih baik diam.


Sayang sekali, padahal Wijaya sudah siap mendengar respon positif yang Ia tunggu-tunggu. Ia duduk diam di kursinya dengan telinga lebar yang siap mendengar jawaban Niki.


Namun, tidak ada yang tahu bahwa Wijaya yang membantunya kemarin.


"Y-ya gi-gitu." jawabnya terbata-bata.


"Pake gojek?" tanya Mita sekaligus memberikan alibi yang pas.


"Iya, hehe." jawabnya lagi sambil mengotak-atik alat tulis di meja kayu yang tidak ada hubungannya sama sekali.


Dia enggan mengatakannya? gerutu Wijaya dalam hati.


Satu per satu peserta datang mengenakan seragam baru berwarna hitam. Marzuki, si anak baru itu, duduk di paling ujung barisan Niki, berhadapan dengan Xabil, dekat pintu kaca.


Sejak kemarin senin Ia sering mampir ke meja Niki dan mengajaknya berkenalan. Tapi, Niki yang hobi menebak karakter orang secara diam-diam itu, menolak untuk dekat dengannya.


Sifat narsisnya terang-terangan, dan firasatnya mengatakan, Marzuki adalah tipe yang merepotkan.


"Kita belajar bikin desain brief. Kalian bisa ambil buku itu, yang di dekat mesin sablon."


Masing-masing orang dapat satu. Beliau lanjut memberikan instruksi "Yak! Silahkan buka halaman 10. Coba dibaca, Xabil."


Serius? Udah kayak anak SMA aja. Tiba-tiba ospek, tiba-tiba siswa baru, sekarang minta dibacakan dengan lantang? Wah, pelatihan kerja atau relife kehidupan sekolah sih sebenarnya? Niki lagi-lagi ngedumel dalam hati.


"Desain adalah bentuk penerapan dari seni rupa. Sebuah proses menciptakan karya yang memiliki nilai estetika dan nilai guna. Sedangkan grafis adal-"


"Cukup. Marzuki, lanjutkan."


Haha, suasana itu menggelitik Niki, hampir saja tawanya lepas di kursi.


"Eh, halaman berapa tadi ya?"


Benar bukan? Dugaan Niki tepat. Baru kesempatan pertama sudah langsung ketahuan. Sebaiknya, Ia tidak terlalu dekat dengan Marzuki ke depannya.


Selesai mereka membaca teori, Pak Budi menunjukan selembar kertas yang memiliki template penuh warna. Beberapa kalimat yang tertera di sana adalah nama produk, identitas klien, color theme, detail desain, logo, dan cta.


Desain brief adalah sebuah kertas berisi kesepakatan desain yang diinginkan klien agar produknya laku lebih cepat. Seorang klien bebas meminta desain apapun, bisa berupa flyer, poster, atau hanya sekedar logo khas produk yang mereka tawarkan.


Niki mengangguk-angguk di meja, semua ini adalah hal baru baginya. Tentu saja, setiap hal baru punya sisi menariknya tersendiri. Ia kelewat semangat hari ini.


Tugas perdana mereka adalah membuat desain brief. Klien bebas dan jenis desain yang disepakati juga bebas.


Niki tidak perlu pikir panjang, Ia langsung menunjuk dirinya sendiri sebagai klien dan desainer. Seorang klien wirausahawan di bidang kuliner menginginkan desain logo untuk produk makanannya.


Tidak hanya Niki, Wijaya juga semangat di mejanya. Ia adalah seorang tailor yang ingin membuat sebuah stan bazar untuk promosi hasil desain busananya.


Begitu pula peserta lain. Tugas perdana itu segera mereka kerjakan hari itu juga. Pak Budi membiarkan mereka berkreasi bebas di kelas sampai jam latihan selesai, yaitu pukul tiga sore.


Istirahat dhuhur pun hanya 15 menit setelah jam makan siang. Antusiasme di dalam ruangan dingin itu menghangatkan atmosfer.


Menghembuskan napas yang memburu, meneteskan keringat dari pelipis, bahkan Mita sudah berkali-kali memijat leher belakangnya dengan ujung pensil.


Beberapa orang mulai menyalakan komputer dan menggarap konsepnya. Xabil, Antony, Gregor dan Abigail selesai duluan. Lalu Wijaya dan Vanny menyusul.


Sisanya masih berkutat menyusun konsep agar tidak menyamai mereka yang sudah mengumpulkan tugas duluan.


Sebenarnya, Niki sudah selesai, namun idenya yang berhamburan itu terlalu mubazir kalau tidak diaplikasikan.


Desain brief miliknya malah terlalu ramai dengan warna senada di setiap ujung kertas. Cantik, tapi terkesan tidak rapi.


Abigail datang dari belakang. "Desain brief itu harus nyaman dibaca klien." ujarnya berkomentar.


Niki menoleh ke belakang, lalu mengangkat kertasnya agar Abigail bisa memberi masukan lebih banyak.


"Di sudut ini nggak perlu diberi hiasan. Mending tempel gambar produk makanannya di bawah identitas klien kalo memang mau mengisi kertas biar nggak kosong."


"Whoah! Thank you!" jawabnya semangat dan segera mengulang tanpa keluhan.


Sedangkan di meja Wijaya, semua wanita bergumul ke belakangnya. Kali ini mereka tidak terkesima dengan rupa yang tampan, melainkan desain busana yang Ia gambar secara langsung.


Kurang dari dua menit, dua desain gaun malam tergambar dengan garis yang tegas dan cantik.


"Siapa sih yang ngatain kamu amatir? Pengen kujitak." celetuk Laras di belakangnya.


"Amatir?" tanya Safira kemudian.


Laras pun dengan bangganya menceritakan ulang kisah yang Wijaya bagi selama wawancara.


Ia membuat lelaki dingin itu terdiam kaku, tangannya jadi ragu untuk menggambar satu desain gaun lagi. "Kamu ingat semua itu?"


Laras mengangguk "Iyalah. Kamunya oversharing gitu, aku sampe nggak tau mau jawab apa."


"Haha, maaf. Lain kali aku akan lebih diam." jawabnya.


"Bukannya sekarang udah pendiam banget? Kayaknya baru ini deh kamu ketawa bareng kami, selain ngobrol sama Niki." Mita menyahutnya dengan fakta.


Segera saja si pemilik nama yang disebut itu berbalik. Tapi, Ia tidak menggubris apapun yang Mita katakan. Ia menunjukkan ke semua orang bahwa desain briefnya telah selesai.


"Cakep kan, cakep kan!! Fiks sih seratus ini mah!"


"Komisiku jangan lupa ya, 80-20" sahut Abigail di kursi.


Niki mengiyakan "Gampang..!"


Karya pertamanya itu pun Ia print dua kali untuk disimpannya selembar. Desain brief perdana miliknya Ia pandangi cukup lama. Memang, sifat overproud Niki agaknya menjengkelkan di mata peserta lain. Tapi, begitulah Niki.


Seorang gadis ambis pecinta karir yang sedang fokus mengikuti pelatihan desain grafis.