
My baby's fit like a daydream, walking with his head down, I'm the one he's walking to.
So call it what you want. Call me what you want to...
"Niki Keita?"
Ucap lelaki bersuara manly, suara yang tak asing di telinga Niki. Ia berjalan menatap lantai, mendekat ke tempat Niki berdiri, menyebut nama sang gadis, sambil membelakangi kain latar berwarna merah.
"Niki...?" panggilnya sekali lagi.
Ia memposisikan diri sedikit ke tengah, ingin menggeser patung bernyawa yang menghalangi sesi fotonya.
Tangannya memberi kode 'minggir', tapi gadis itu masih diam membatu, tidak bergerak sama sekali.
Wijaya kemudian tersenyum, lelaki itu bahkan numpang bercermin melalui lensa hitam pekat yang tak berkedip. Jernih sekali, High Definition.
Untuk pertama kalinya, Niki menunjukkan ekspresi terpukau tanpa sensor. Senyumnya bahkan mengembang, memalukan. Wijaya harus menahan tawanya, Ia tidak ingin Niki sadar bahwa dirinya sedang terlena.
Cekrek
Suara shutter handphone Marzuki menyadarkan Niki. Matanya mengerjap berkali-kali. Ditatapnya, Wijaya yang sedang meringis di depan iris matanya.
How stupid!
Meski sempat tersendat, untunglah Ia cepat tanggap. Tanpa banyak tanya, Niki segera menyingkir, memberi Wijaya posisi tepat di tengah kamera.
Dua detektif amatir itu berulang kali mengulum senyum menahan momen memalukan Niki. Terlalu bar-bar! Hanya satu hal yang mereka syukuri, air liurnya tidak ikut menetes.
"Bukan kelihatan lagi itu namanya. Memperlihatkan!" teriak Antony heboh yang secepat kilat langsung dibungkam Safira.
Di tengah kerusuhan itu, handphone mereka bergetar bersamaan. Bukan, handphone semua peserta desain saling bersahutan.
"Marzuki ngirim sesuatu tuh di grup." ucap Safira sambil menekan pesan gambar yang dikirim ke grup desain.
"Ni..ki.. Niki!"
Safira buru-buru menghampiri Niki yang berkeliling mengamati barang-barang berdebu di dalam gudang. Gadis itu tak peduli dengan handphone di kantong bajunya, Ia masih berusaha menenangkan diri, menghentikan rona malu yang tak kunjung reda di kedua pipinya.
Aduh, jangan kesini dulu. batinnya saat Safira datang.
"Marzuki bikin ulah lagi noh!"
Lelaki yang disebut-sebut itu masih tertawa terpingkal-pingkal di awang pintu gudang.
Ia bahkan memamerkan perbuatan lancangnya itu, dengan bangga, ke depan Ryan dan Gregor. Rupanya, kedua bujang lapuk itu menyukai perbuatan Marzuki. Mereka ikut tertawa bersamanya.
Ada dua foto yang dikirim, foto Niki yang tengah grogi, dan fotonya yang mematung di depan Wijaya.
Tapi, di dalam foto itu tidak ada Wijaya. Hanya wajah Niki yang sedang terkesima secara terang-terangan. Benar-benar memalukan!
"Before after bagus nih, wuahahaha!" ejek mereka bertiga.
Niki jengkel di sudut, di depan sepeda ontel jadul yang tertutup kain putih. Safira pun marah, Ia tidak tahan dengan kelakuan Marzuki.
"Resek banget jadi orang! Nggak ngerti aib apa?!"
Gawat. Safira nekat menghampiri ketiga lelaki itu seorang diri, demi membela Niki. Kalau saja Wijaya tidak menahan tangannya, wajah Marzuki sudah pasti kena tamparan keras yang membekas.
Safira lalu melotot ke arah Wijaya. Kenapa ditahan segala sih?!
Antony dan Laras menariknya mundur. Antony juga menarik Wijaya dari sana. Ia sadar, tangan lelaki tampan itu mengepal juga barusan.
"Lebay! Di hape Laras kan juga ada foto aibnya, kenapa nggak marahin Laras sekalian?!"
"Lu sadar nggak sih, lu itu cowok!" sahut Laras sambil menjauh dari sana.
"Ya terus kenapa?! Nggak boleh?" sahut Marzuki kesal.
"Ngapain nyimpen aib cewek, bangsat!" sambar Safira dari kejauhan.
Ryan dan Gregor lalu menunduk sejenak, berusaha berhenti tertawa dan memahami situasi. Meski keseruan itu cocok untuk mereka, rupanya hal seperti ini disebut lancang di zaman sekarang.
"Aduh Zuki, jangan diulangi lagi. Hapus ya." Ryan menegur dan menepuk bahunya.
Langkahnya melenggang santai tanpa rasa bersalah ke arah Niki. Bukan untuk minta maaf, melainkan mengajak gadis itu berbicara hal yang tidak penting.
"Kamu ngekost kan berarti disini? Di jalan apa?"
Siapa yang mau diajak basa basi? Hei orang tua, yang Niki perlukan sekarang hanya ketenangan. Timing anda tidak tepat.
"Udah, nggak usah dibawa serius gitu. Dia itu cuma bercanda. Pengen akrab aja, lagian kalo ketawa kan kamunya jadi lebih rileks. Toh, berhasil kan fotomu tadi?"
"Safira! Kamu bawa charger nggak?" jawab Niki di tempat, mengabaikan Ryan.
Perempuan itu lalu meninggalkan Ryan dan pergi menemui Safira, Mita, Laras, serta yang lainnya.
Mungkin benar, bagi beberapa orang, keisengan Marzuki hanya perkara sepele. Tapi, tidak untuk orang yang paham manner. Tidak ada yang lucu saat orang sedang grogi. Menertawakan mereka agar lebih rileks? Salah besar!
Justru seseorang merasa direndahkan. Dan lagi, penyebab rileksnya bukan karena kalian berdua!
"Kemarin ngerekam, sekarang moto diam-diam. Nggak bisa dibiarkan! Kamu jangan diam aja! Kalo jengkel bilang dong!" bentak Safira.
Emosinya reda, Niki berusaha memaafkan Marzuki asal fotonya segera dihapus.
Ia pun menemui lelaki itu, yang kini sedang bersantai dengan sebatang rokok. Asapnya mengepul di awang pintu, menahan langkah Niki yang hendak bicara lebih dekat. Ia benci asap.
"Hapus fotoku. Bercanda emang nggak dilarang. Asalkan, nggak mempermalukan orang."
Niki kemudian meneruskan langkahnya menuju kelas diikuti Safira, Mita, Laras, Kiki, dan Vanny.
Selama tiga puluh menit sesi foto di gudang, rupanya Pak Budi tengah menunggu mereka kembali sambil bolak-balik membuka dua aplikasi. Adobe Illustrator (AI) dan sebuah video tutorial.
"Lama juga ya kalian foto. Saya sempat selesai menilai nirmana kalian semua. Aduh..." keluhnya tanpa melirik siapapun.
Nirmana yang dikumpulkan di kelas sebelah, sudah berada di genggaman beliau. Lembaran abstrak itu lalu dipantau satu-satu sampai habis, dan tidak ada sedikit pun ekspresi terkesan dari raut Pak Budi.
"Saya nyuruh bikin nirmana, bukan ilusi optik! Niki Keita?!"
Sepertinya, senin yang mengesalkan kembali menyapa Niki. Rasanya, hanya satu senin yang Ia suka, yaitu senin minggu lalu, saat Wijaya menemaninya menambal ban.
"Itu sudah maksimal, pak."
"Ckckck, ya udahlah. Mau gimana lagi, aku udah terlanjur pusing juga."
Enam belas lembar nirmana itu lalu beliau simpan di dalam laci meja, tepat di bawah proyektor, satu lokasi dengan tugas pertama mereka, desain brief.
"Semuanya silahkan buka AI di komputernya masing-masing."
Titah beliau segera dijalankan penuh semangat. Akhirnya, kegiatan inti yang ditunggu-tunggu terlaksana hari ini.
"Login wifi nya pakai yang ini. Passwordnya sudah saya tulis juga dibawahnya." ucap Pak Budi sambil mengetuk-ngetuk papan tulis beroda di belakang kursi beliau, menutupi layar proyektor.
Setelah sepuluh menit, beliau lalu menggeser papan putih itu ke kiri. Muncul lah tampilan AI yang sedari tadi diotak-atik Pak Budi sambil menunggu mereka datang.
"Kita nggak pake Corel, karena pixelnya kalah sama AI. Walaupun kebanyakan, komputer kantor-kantor magang di sini kuatnya cuma Corel. Tapi, kalo bisa AI, corel mah gampang."
Beliau lanjut menjelaskan semua tools dan beberapa shortcut yang akan membantu proses belajar lebih cepat.
Setidaknya, memotong gambar, menduplikat, dan memasukkan warna ke dalam teks yang sudah di ubah ke objek sudah bisa mereka lakukan di percobaan pertama ini.
FIfty fifty, perbandingan peserta yang cepat paham dan masih gagap teknologi. Rata-rata, semua orang secara kebetulan duduk dengan partner yang tepat. Tapi, satu meja paling depan di barisan kanan itu seperti sedang beradu desain perdana mereka.
Abigail menggambar kartun patrick, sedangkan Wijaya menggambar kartun tuan crab. Belum berakhir, mereka lanjut ke babak kedua dengan tema, kartun DC. Wijaya, si penggemar batman itu menggambar kepala manusia bertopeng hitam, sedangkan Abigail menggambar robin yang lengkap dengan setelan merah, kuning, hijau.
Duo ambis itu menarik perhatian seluruh peserta desain. Kebetulan, mereka mengambil posisi yang pas untuk dijadikan panutan.
"Ada pertanyaan?" tanya Pak Budi tiba-tiba.
"Tidak ada pak." jawab mereka serentak sambil melirik meja depan.
"Oke, saya sudah masukkan bahan untuk kalian pelajari. Ada dua puluh tiga tutorial dan wajib kalian buat semuanya. Selesaikan dalam dua minggu, kirim ke google class yang barusan saya buat."
Terus gunanya instruktur ngapain?
"Pak, kalau nggak ngumpul kenapa?" tanya Antony mendadak.
Pak Budi kembali berbalik, "Saya anggap kalian tidak kompeten." jawab beliau singkat di awang pintu, lalu keluar kelas.
Tertekan seketika. Ucapan Pak Budi mempercepat tangan mereka membuka video tutorial pertama. Sebuah gambar speedometer yang dibuat dari nol.
Beberapa orang bahkan mendownload font agar speedometernya semirip mungkin dengan video tutorial. Tak terkecuali si perfeksionis Wijaya.
Niki seketika merasa tertinggal jauh. Wijaya, lelaki yang kini duduk di arah depan kanannya terlihat tidak kaku sama sekali. Tangannya lihai bermain dengan tools AI yang masih asing baginya.
Selama ini, hanya microsoft yang tak asing bagi mahasiswa semester akhir itu. Software yang dirancang khusus untuk menulis mampu dikuasainya. Tapi untuk AI, ia benar-benar buta.
Hanya satu hal yang bisa dilakukan agar Ia bisa mengejar ketertinggalan. Menjadikan Wijaya sebagai target. Apa yang sudah Wijaya selesaikan, harus mampu diselesaikannya juga.