Sweet Pills

Sweet Pills
Bab 10. Interogasi Terbuka



Setibanya di kost, Niki heboh bukan main. Kakinya berhentakan, meninggalkan jejak dari kaos kakinya yang kotor. “Sweet Pills! It’s crazy! It really is!”


Ia meraih buku sampul cokelat di rak paling atas, kemudian membuka halaman per halaman, mencari tulisannya tentang episode pertama bertemu Si Mas.


“Hah! Bahkan bulannya sama, Maret!” jarinya menggigil, “Insane!”


Masih menggigil, apalagi ketika Ia ingat, ada kunang-kunang menangkring di bahunya, “Mana ada kunang-kunang di pagi hari?!” Ia langsung melepas kerudung dan mengacak-acak rambut.


Seketika diam. Otaknya kali ini berputar mencari sumber masalah. Masa sih, semesta pelakunya? Ngawur! “Are you joking? Malaikat mana yang tertawa sekarang? Ketawa aja, nggak papa! Sweet Pills nggak mungkin bicara, cuma kalian yang menyaksikanku selama ini!”


Akalnya benar-benar hilang kendali, sudah diteror tiap malam, sekarang malah terjadi nyata di depan mata. Memangnya boleh senyata ini?


“Bukannya sembuh, tambah gila yang ada! Akh!” Ia hampir melompat ke kasur, sebelum kemudian berhasil sadar, badannya bau.


Andai kamar mandinya dilengkapi shower, kepalanya mungkin bisa lebih dingin. Tapi, hanya ada gayung yang menuang air secara manual sekarang. Syukurnya, ada suara gemericik air di sungai belakang, untung sekali. Penatnya pun menguap. Kini, baik roh dan raganya sudah bisa dikatakan normal.


Ia mengambil pulpen dan membuka Sweet Pills, mencari halaman kosong.


Beneran ada! Nyata! Namanya Wijaya. Entah memang dia orangnya, atau cuma kebetulan. Tapi, kejadian kemarin terlalu persis kalau dibilang kebetulan. Kunang-kunang di pagi hari, aku bahkan masih nggak percaya.


Yang lebih menakutkan lagi, dia tersenyum pas aku kaget karena Ia mengulurkan tangan! Persis Si Mas! Apa jangan-jangan, memang beneran dia?


Sweet Pills, tolong. Tolong aku sekali lagi, doakan aku agar tetap normal.


...∞...


Jumat pagi minggu ini, diawali rintik manja dari langit. Selain matahari, ada awan mendung yang mengiringi Niki menuju pertemuan perdananya bersama instruktur desain grafis.


Seorang bapak-bapak tua berjalan ke arah pintu kaca dan mengeluarkan belasan kunci hingga pintu itu terbuka. Beliau memimpin langkah di depan, diikuti oleh empat belas peserta desain grafis di belakang. “Bapaknya masih nganter anaknya sekolah. Kalian tunggu aja dulu disini.”


“Iya, Pak. Terima kasih.” jawab Xabil sopan dan menutup pintu ketika bapak tadi sudah pergi.


Wijaya langsung mengambil alih remote AC. Ia setel di dua puluh enam derajat. Setelah itu, Ia memperhatikan seisi ruang kelas mereka. Letak per barang, posisi kursi, dan tentunya Niki.


Perempuan itu memilih tempat duduk paling pojok seberang pintu masuk, dekat jendela. Dilihatnya, kursi yang berhadapan dengan Niki kosong. Ia pun segera meletakkan tasnya disana.


Melihat Niki tiba-tiba menggosok-gosok lengannya, Ia atur ulang suhu ruang menjadi dua puluh sembilan derajat.


“Jay, turunin lagi. Panas.” keluh Antony.


“Hujan, dingin.” sahut Wijaya singkat seperti biasa.


Antony kemudian melirik Safira, mereka cekikikan gemas. Apalagi, saat Wijaya berjalan menuju kursinya yang berhadapan dengan Niki. Tambah gemas nggak karuan.


Derap langkah tegas bersahutan dari tangga, suaranya semakin dekat hingga berhenti di depan pintu kaca ruang kelas. Orang itu masuk, “Maaf, tadi jalanan macet. Ada banjir di daerah sekolah anak saya.”


Seluruh peserta desain memandang serius ke arahnya, orang asing yang nampaknya tidak asing. Gregor baru ingat, lelaki ini yang pernah duduk bersama mereka saat malam pertama masa orientasi.


“Perkenalkan, saya instruktur Budi. Lulusan IDB, dan ini kedua kalinya saya mengajar desain grafis. Basic saya sebenarnya, multimedia. Yah… sebelas dua belas lah sama desain, malah lebih rumit multimedia.”


Perkenalan ini terdengar remeh di telinga Niki, apalagi ketika Pak Budi menekankan kata malah lebih rumit multimedia. Lagaknya. sudah seperti orang pro saja. Semoga memang pro.


“Ini. Daftar hadir kalian wajib diisi tiap pelatihan.”


Kemudian beliau membuka halaman paling belakang dari tiga lembar kertas itu.


“Antony Michael Balley!” panggilnya tiba-tiba. Antony pun mengangkat tangan pelan-pelan. Apa yang terjadi?


"Berapa bersaudara kamu?"


"Hah?!" celetuk Niki tanpa sengaja. Kali ini tidak hanya peserta desain yang terkejut, Pak Budi ikut terkejut di atas meja kayu.


Bukankah itu privasi? Bahkan tidak ada hubungannya sama sekali dengan desain grafis. lagi-lagi Niki mengkritik Pak Budi dalam pikirannya.


Meski begitu, Antony tetap menjawab dengan jelas. "Lima, Pak."


"Hmm... kamu anak ke berapa?"


"Bungsu."


"Orang tua kerja apa?"


"Sudah meninggal, Pak."


Kelas yang sudah sunyi, menjadi lebih sunyi. Gemericik air di daun sampai terdengar ke telinga Niki. Ia lalu membuang muka sebalnya ke arah jendela. Dasar nggak tahu privasi.


"Oh begitu. Dua-duanya?" lagi?


Antony hanya mengangguk di kursi. Oh God, punish him now! "Terus, tinggal dengan siapa kamu sekarang?"


"Saya ngekost, Pak."


"Ngekost? Biaya hidup sendiri? Dari apa?"


Sudahlah. Beberapa peserta mulai mengalihkan pikiran mereka masing-masing. Rasanya, perkenalan ini tak patut untuk didengar. Niki hanya duduk diam di kursinya, lalu tersihir oleh suasana pagi yang sejuk. Matanya tiba-tiba mengantuk dan Ia pun terlelap.


Selama Ia tertidur, seorang peserta baru masuk ke kelas mereka. Perempuan tinggi besar itu langsung memperkenalkan namanya dan alasan mengapa Ia tidak mengikuti kegiatan orientasi ke Pak Budi.


Cukup lama Ia diinterogasi sambil berdiri. "Vanny, duduk aja di sebelah Safira." titah Pak Budi padanya.


"Kita sempat terhenti ya tadi, tiba-tiba ke nomor dua. Terakhir tadi siapa?"


"Rayhan, Pak. Nomor 10."


"Oke, kalau begitu selanjutnya Niki Keita."


Laras menepuk-nepuk bahu Niki. "Psstt.. Psstt.." Untung, Niki terbangun. Melihat muka bantal Niki, Pak Budi lalu memulai interogasi itu dengan sedikit candaan.


"Niki Keita. Ni-Ke. Naiki... Kamu yang punya brand Nike?"


Niki yang mendengar namanya dijadikan bahan ejekan itu, hanya mengangguk berkali-kali. Mengiyakan beliau agar interogasi itu segera berakhir.


"Disini kamu tulis tempat lahirmu di Anoe Itam. Dimana ini?"


"Bapak pernah belajar geografi?"


Senyum Pak Budi berubah kecut, "Pernah."


"Bapak tau Pulau We ada dimana?"


Semakin jengkel, pertanyaan Niki seakan sedang menguji pengetahuan beliau. "Ada di Aceh."


"Nah iya, saya lahir di sana."


"Tinggal ngomong Aceh aja, ribet banget. Mama atau bapak yang dari Aceh?" tanya beliau lagi dengan intonasi yang semakin tinggi.


"Mama."


"Berarti bapak orang asli sini?"


"Bukan, Jawa."


Raut wajah Pak Budi seketika datar. Beliau menarik napas panjang-panjang lalu menghembuskannya perlahan. Kesabaran beliau sedang diuji.


"Jauh sekali merantau kesini. Di jalan apa rumahmu?"


"Di Sungai Selatan, Pak."


Kali ini Pak Budi menyukai jawabannya. "Oh, iya. Tau saya.", sebelum kemudian beliau mengintip kembali alamat yang ditulis Niki di kertas data identitas. "Tapi kok, kamu tulis alamatmu disini Jalan Jaya Wijaya, dimana ini?"


"Itu sesuai KTP, domisili saya Kalimantan Tengah."


Habis sudah kesabaran Pak Budi, "Orang mana sih kamu ini!" bentak beliau tertekan dengan sahutan Niki. Meski jengkel pun, interogasi Niki belum berakhir.


"Emangnya bapakmu kerja apa?" sebegitu pentingnya kah karir orangtua peserta pelatihan desain seperti kami?


"Pelayaran." jawab Niki malas.


"Oh pantas. Nelayan atau bajak laut?" balas beliau, tapi tidak Niki hiraukan.


"Udahlah, pusing aku." beliau geleng-geleng. Interogasi Niki pun berakhir.


“Selanjutnya, Wijaya Bayuaji.” Beliau menelisik seisi ruangan, kemudian berputar membalik badan.


"Saya, Pak." jawab Wijaya.


"Oh, berhadapan rupanya." beliau kembali melirik Niki dan Wijaya bergantian. "Muka kalian kok sama?"


Dan satu kelas pun dengan latahnya, meniru apa yang dilakukan Pak Budi barusan.


Benar, wajah Niki dan Wijaya memang sedikit mirip.


Hanya saja, Niki lebih bulat karena pipi tembemnya, dan Wijaya jauh lebih tirus dengan hidung mancungnya.


Mata mereka sama-sama hitam pekat dan sangat jernih, namun milik Niki lebih besar dua kali lipat dari mata Wijaya yang mirip chipmunks.


"Jodoh!" celetuk Mita di kursi.


Dasar, Mita. Sumbu korek satu ini mudah sekali mempengaruhi orang lain, satu kelas kemudian bersahutan seperti kawanan uwak-uwak lepas dari kandang.


"Ehem! Ehem!" Gregor heboh sendiri di kursinya. Padahal, ada tiga orang tua di antara peserta desain, tapi kalau suasana jadi begini, rasanya umur itu hanyalah angka. Tidak ada yang dewasa sama sekali di antara mereka.


Hal seperti ini bisa terjadi lagi rupanya setelah lulus SMA. Niki tidak habis pikir.


Menanggapi itu, Wijaya spontan berkata "Saya campuran juga, Jawa-Banjar."


Niki lalu melotot, dia nggak keberatan sama sekali?


Berbeda dengan Wijaya, Niki tersipu malu di kursi dan menyembunyikan wajah dibalik meja. Ia pun mengabaikan wawancara Wijaya dan kembali memejamkan mata, di tengah-tengah ruang kelas yang masih berisik.