
Different soul with different nightmare.
Hening pukul dua, menuju tiga. Tak terbendung lagi kesunyian yang menyapa Niki kembali dalam mimpinya.
Ia berada di sebuah lorong gelap tak berujung, suara Niki bergaung, di tengah laju kendaraan yang tak terarah, membawanya entah kemana.
Ia berpegangan pada jaket jeans pengendara itu dengan kedua tangannya. “Kita mau kemana?!”
Si pengendara tidak menjawab, Ia hanya fokus mengemudi hingga mereka sampai di depan sebuah kaca raksasa. Bayangan Niki terpantul disana, mengenakan blouse putih gading selutut.
Sesuatu menariknya mundur untuk duduk. Bukan kursi, bukan juga sofa, melainkan pangkuan seseorang yang tak pernah Niki tahu rupanya.
Suaranya berdesir, “Gimana, seru nggak?” begitu lekat ke telinga Niki sampai-sampai bulu kuduk pun ikut merinding.
Mimpi yang sama terulang tiga kali, itu artinya, episode keenam bukanlah yang terakhir!
Saat akan bangkit, beranjak dari orang itu, tangannya bersandar pada permukaan empuk berwarna merah. Kemudian, lelaki itu menarik lengannya, mengajaknya keluar menuju rumah kayu.
“Hosh.. hosh.. hosh..” Ia terbangun. “Lagi? Episode baru lagi..” tangannya pun segera mencari Sweet Pills. Ia menuliskan satu kalimat dengan ukuran lebih besar di bagian atas lembaran kosong.
“Episode Tujuh: Dipangku Si Mas.” sorot matanya sedikit jijik ketika Ia baca ulang tulisannya itu. “Pangku?”
Rumah hantu?
Biang lala?
Gedung desain grafis?
Bios..kop?
Pikiran Niki berusaha memecahkan misteri baru, yaitu lokasi yang dimaksud mimpinya malam ini, perdana, di kost Bu Husna. “Bahkan sudah pindah kasur pun, tetap disamperin Si Mas, haah..”
...∞...
Hening pukul dua, menuju tiga. Seseorang tengah terjaga akibat kalimat yang baru Ia baca dari buku biru yang tergeletak di atas meja kayu.
“Setiap daun punya cerita yang berbeda. Tapi daun takdir, akan menghantarkan kepingan peristiwa saat bertemu dengan Twin Flames.”
Ia membaca satu paragraf dari Bab Tujuh: Twin Flames is The Ultimate Level of Soulmates, halaman 365.
“Ini bukan syirik, ini bukan syirik, ini bukan syirik.” rucaunya sambil menggaruk kepala tak berambut.
Wijaya. Ia berdiri menghadap kasur, berkacak pinggang, menatap langit-langit kamarnya, sambil menghembuskan napas berat.
Kepalanya menggeleng berkali-kali. Bukan semata-mata ingin mengembalikan kesadaran, melainkan agar pikiran negatifnya barusan, hilang secepatnya.
Pikiran yang membuatnya ragu untuk meneruskan keisengan gilanya sejak setahun yang lalu, untuk menemukan Twin Flames sesuai instruksi buku biru.
Buku yang terbuka di atas meja belajarnya, setebal lima jari yang dirapatkan, panjang dua puluh senti, dengan lukisan siluet sepasang kekasih saling bergandengan tangan.
Ia mendapatkan buku ini sebagai hadiah karena telah membantu seorang kakek tua dari kejaran rentenir di dekat gudang sembako, lokasi kerjanya dulu.
“Setahun sudah, dan semuanya beneran terjadi. Masa sih nyerah gara-gara Niki?” Ia masih gelisah.
Saat ini Ia sedang berpikir bagaimana cara agar Niki mau bicara. Kalau benar Niki orangnya – Si Twin Flames itu – maka, mata bulat yang kerap Ia tatap ketika beradu pandang dengan si gadis navy, adalah bukti bahwa Niki terkejut oleh kehadirannya.
...∞...
Seorang gadis berjalan pelan menuju pagar hijau belakang rumah biru. Menepis angin, menahan dingin. Pikirannya yang keruh, perlahan kembali jernih ketika suara air sungai sampai ke telinganya.
Mata berkantung, hidung tersumbat, wajah pucat, dan telapak tangan berkerut, dingin pun Ia tahan demi melupakan sejenak mimpi Dipangku Si Mas barusan.
“Wijaya? Si Mas?” matanya mengerjap antara menahan kantuk dan terbuai angin sejuk sebelum matahari terbit. “Padahal, pas kesini kehujanan sepanjang jalan, kenapa baru sekarang kambuhnya?” rengeknya, “Haah…” kepalanya langsung menengadah menatap langit tak berawan agar ingusnya tidak mengalir sederas air sungai.
“Kalau dipikir-pikir, mereka memang benar. Kali ini memang kelewat jauh, apa yang aku kejar sampai pindah kost begini? Ini kan cuma pelatihan satu bulan.” dahinya mengernyit, “Rasanya seperti, ada yang menarikku untuk ke kota ini. Sesuatu yang sangat ingin kutemui.”
Matanya menerawang tiang listrik di perumahan penduduk seberang sungai. Pintalan kabel listrik itu melilit acak, menjuntai panjang sampai ke tiang berikutnya. Rumit, membingungkan orang yang ingin memperbaikinya agar lebih rapi. Ditambah, keselamatan juga terancam kalau sampai salah sentuh.
Seperti isi pikirannya sekarang. “Bagaimana caraku agar bisa normal kembali? Oh Tuhan, aku takut setengah mati!”
Ia mengikuti rute peta dari handphone-nya. Sampai di bundaran simpang kota, ambil jalan lurus, lalu… “Duh, gawat!”
Kota ini terlalu cantik, fokusnya tersita oleh pemandangan bukit yang memeluk seisi kota, sampai-sampai Niki tidak sadar dirinya tersesat, melenceng jauh dari arahan peta. Harusnya, Ia berdiri di tengah-tengah hiruk pikuk pedagang kaki lima sekarang, bukannya di tengah padang rumput dan genangan air.
“Sial, baliknya lewat mana?”
...∞...
Kota cantik berselubung kabut pagi hingga jam enam. Wijaya menarik selimutnya erat, karena kantuknya belum hilang. Sebelum kemudian, Ibunya memanggil. Matanya langsung membelalak, siap tidak siap, ada jobdesk sabtu yang telah menanti. “Ah! Kesiangan!”
Usai terburu-buru sembahyang subuh, Ia kembali menatap buku biru dan membuka halaman enam puluh tiga, tulisan cetak miring, dengan pena yang ketebalannya tidak rata.
‘Semoea doa pasti diidjabah. Tapi, lebih baik saat sepertiga malam, karena lebih cepat terkhaboel.’
Kalimat itu berhasil mempengaruhinya lagi dan lagi. Setiap hari, Ia bermunajat. Doa-doa yang mengepul di kamarnya melesat cepat ke langit, dipilin tipis ke gulungan benang merah yang jarumnya langsung menancap pada tujuan yang diinginkan.
“Aku tidak peduli, mau twin flames atau bukan, aku hanya ingin kehidupanku menjadi lebih baik. Harapanku yang sempat pupus muncul lagi hari ini. Kalau bisa, setiap hari.”
“Wijaya! Cepetan!” sekali lagi Ibunya memanggil.
Ceklek
Aroma daging mengepul, memenuhi seisi rumah nomor tiga dari kanan Jalan Cemara. Wijaya mengambil tiga piring keramik dan tiga sendok dari rak aluminium sebelah kulkas. “Ma, kalo udah gantian. Mau bikin pancake pisang.”
“Lagi?” Ibunya berdecak, anak bujangnya itu gemar sekali dengan olahan pisang. Akhir-akhir ini, pancake pisang adalah cemilan yang kerap Ia temui di atas meja makan.
Wijaya mengambil parang yang bersandar di dinding belakang rumah. Lengannya menggenggam mantap, mengarahkan parang itu ke satu tandan pisang yang bergelantung di pohon sebelah kiri, dekat pagar kayu belakang rumah.
“Matang lah itu?!” teriak Ibunya dari dapur. “Matang! Pas buat pancake!” sahutnya balik. Ibunya hanya menggeleng dari kaca dapur, mengintip Wijaya sambil tersenyum.
“Mama!” tiba-tiba adik perempuannya berteriak, “Ini buku apa? Di atas meja abang!” buku biru itu dijunjungnya tinggi-tinggi sambil berkeliling di sekitar ibunya.
“Itu punya abangmu. Izin dulu, Adel.” ucapan Sang Ibu lewat begitu saja, Si adik langsung lari ke belakang rumah menemui abangnya, “Bang! Ini apa?”
“Adel! Kembalikan ke tempatnya!”
“Wlee~ “ adeknya menolak, “Mama! Abang punya buku aneh!”
“Adelia!” terlambat, tangan Wijaya tidak berhasil menjangkau buku itu dari tangan si adek. Ibunya lebih cepat, dan terlanjur penasaran.
“Twin flames? Buku apa ini, Jaya?”
...∞...
Menuju tengah hari, Niki berhasil tiba di destinasi terakhir, yakni destinasi favoritnya, toko buku. Kakinya melenggang santai, berputar di antara rak satu dan rak lain. Menari di atas ubin toko yang baru buka dan baru dipel.
Dari sekian banyak buku yang dipajang, sebuah buku sampul cokelat berhasil menarik perhatiannya. “Berbicara dengan Teman Lama. Bagus nih.”
Buku yang kebetulan tidak tersegel rapi, perlahan Ia rusak lebih parah plastik beningnya. Namun, isinya sama sekali berbeda dari dugaan.
Buku ini tidak menceritakan tentang cara membuka topik obrolan bersama kawan, melainkan tentang kehidupan sesama roh manusia.
‘Roh diciptakan lebih awal dari pada raga. Setiap insan sudah memiliki kenalannya masing-masing saat masih di alam roh. Ketika mereka memutuskan untuk lahir di dunia, beberapa penggalan kisah hidup terlintas dengan cepat di jiwanya, pertanda mereka akan hidup di sebuah jasad manusia.’
“Wah! Menarik!”
Bagi alumni jurusan sains sepertinya, buku yang membahas sisi lain alam semesta adalah hal baru yang patut diketahui lebih dalam.
Selama ini, Niki mengenalnya sebagai ilmu metafisika, ilmu yang menjelaskan tentang eksistensi makhluk hidup dan tak hidup, ruang dan waktu, serta relasi antar keduanya.
Namun agaknya, buku yang sedang Ia nikmati itu khusus menceritakan tentang unsur metafisik yang dimiliki manusia. Ruh, jiwa, akal, dan kalbu. Buku ini membahas sedalam mungkin bagaimana sesama roh bisa saling mengenal jauh sebelum raga mereka bertemu.
Ia kemudian melirik harga yang tertera di sampul belakang buku, “Dua ratus tujuh puluh lima ribu?!” niatnya langsung urung. Dompetnya menangis, memang sedang tipis. Mungkin, bukan rejekinya untuk memiliki buku itu sekarang.
Namun, Niki terlanjur penasaran.