
Rejeki itu ditarik, dan takdir itu dikejar. Rejeki tidak datang sendiri tanpa usaha, dan tidak ada yang bisa lari dari takdir.
Kalimat pembuka di awal bab satu buku biru di atas meja Wijaya. Kebetulan, cocok sekali dengan keadaan yang Ia alami. Salah satu alasan mengapa Ia terus ketagihan membaca buku itu.
Selama tiga bulan Ia mulai berkecimpung dengan dunia kerja, bermodalkan ijazah SMA, Ia nekat mendaftar sebagai admin gudang di sebuah kantor penyedia barang sembako.
Pekerjaan itu seharusnya santai dan cocok untuk orang yang ulet sepertinya. Mendapatkan bonus juga perkara yang mudah, mengingat kekuatan fisik yang Ia miliki cukup mendukung. Namun, perlakuan yang Ia terima di lapangan malah membuatnya sering mengeluh setiap malam.
Ia sebagai pekerja termuda di sana, diperlakukan semena-mena oleh karyawan yang lain. Banyak yang harus Ia kerjakan di luar dari jobdesk yang Ia terima.
Karena sadar usia, Ia tidak mungkin menolak apalagi para karyawan itu terus-terusan berkata "Kalo masih muda kan enak ya, fisiknya masih oke, masih gesit." atau "Makasih banyak ya bantuanmu hari ini. Aku pulang duluan, isteri sudah nunggu soalnya."
Dua bulan pertama masih bisa Ia jalani tanpa keluhan. Tapi yang namanya manusia, kebanyakan adalah makhluk yang sangat memerlukan bantuan orang lain. Terutama, yang sudah berusia.
Kekesalannya memuncak ketika orang yang kerap meminta bantuannya itu tiba-tiba naik ke posisi manager gudang dan sering menyebut namanya di antara karyawan yang lain.
Seakan, Wijaya adalah tangan kanannya. Jangankan terima kasih, apalagi bonus lembur. Karena air setitik, rusak susu sebelanga. Ia malah dicaci karena satu kesalahan yang membuat manager itu harus menerima makian atasan.
'Sebenarnya kenapa aku berusaha bertahan sekeras ini? Banyak pekerjaan lain di luar sana, bukan?'
Setiap malam, renungannya selalu sama, dan dengan jawaban yang sama, Ia berusaha bertahan pada realita dunia kerja 'Tapi belum tentu di terima. Zaman sekarang, ijazah SMA udah nggak berguna.'
Semua itu sirna oleh kalimat yang Ia baca di buku biru. Rejeki itu ditarik, bukan dikejar. Kalau ditarik, maka Ia akan menghampiri orang yang tepat dengan keahlian yang sesuai porsinya.
Tak lama, Ia mengajukan surat pengunduran diri dan fokus pada skill desain busana yang sudah Ia miliki.
...∞...
Niki lanjut membaca buku itu di tempat, meski harus berdiri tegak. Setidaknya, tiga lembar pertama sudah cukup sebagai salam perkenalan mereka berdua. Antara Niki dengan buku metafisika yang super misterius.
‘Layaknya kawan lama, sesama roh yang pernah kenal di alam sebelumnya juga saling mencari ketika di dunia. Insting itu muncul karena hakikatnya manusia tidak terima dengan rasa sepi. Menjalani dunia dengan kehampaan, seperti membuka lembaran buku cerita untuk dibacakan ke diri sendiri berulang kali.’
Pikirannya tambah berkecamuk, belum selesai perkara kebetulan kemarin, memorinya didesak lagi oleh kalimat misterius dengan makna implisit.
‘Ingatkah kamu kisah Adam dan Hawa? Ketika Adam berharap untuk memiliki teman agar tidak kesepian, lalu Hawa hadir untuknya.’
“Takdir?” bagai petunjuk baru, seketika Niki membelalak di tempat. Petunjuk itu berkembang menjadi pernyataan, ‘tidak ada yang kebetulan di dunia ini.’
...∞...
Seorang wanita tengah duduk bersila di sofa merah sambil membaca sebuah buku misterius milik anak sulungnya yang sedang mencuci piring di wastafel.
“Rejeki itu ditarik, bukan dikejar.” ujarnya sambil menatap punggung Wijaya.
“Dari siapa ini, Nak?”
Wijaya tidak langsung menjawab. Suara ibunya terlalu sayup oleh pancuran air keran.
“Wijaya…”
“Ya? Mama manggil kah barusan?”
Tanpa jawaban, ibunya langsung mendekat dengan buku misterius itu di genggamannya.
“Jadi, daun mana yang nggak sengaja kamu injak, hm?”
Byurr
“Maaf, ma! Nggak sengaja.” Ia sampai terkejut. Tak sengaja, wajah cantik itu terkena cipratan air keran.
“Nggak kok, cuma iseng aja awalnya.” sahut Wijaya gugup dan kembali membilas sabun yang memenuhi piring di wastafel.
“Iseng kok distabilo. Bukunya sampe lecek juga.” bantah Sang Ibu.
“Hehe.. Itu dikasih sama kakek-kakek yang waktu itu. Yang pernah Jaya bantu.”
“Eh? Pas kamu kerja di gudang sembako itu?”
“Iya.”
“Sudah setahun ternyata. Terus?”
“Ya.. keterusan sampai sekarang, hehe.”
“Mama mau tau ceritanya. Selesai bilasin itu langsung ke baduk. Mama penasaran.”
...∞...
"Ah, gadis baju navy itu, seharusnya tidak lolos." decaknya di depan minimarket merah, di salah satu malam bersama Jeki.
"Itu lagi, itu lagi. Cewek baju biru tadi, emangnya kamu kenal?" tanya Jeki mendadak.
"Lupakan. Aku cuma ngelantur."
Jeki mengernyitkan dahi, temannya itu sedikit aneh belakangan ini. "Kirain kamu masih kekeh sama Bianca. Eh taunya udah sadar ya? Beda agama emang susah sih, tapi ya jangan orang asing juga yang lu incer."
"Udah lupakan. Bukan apa-apa."
Jeki tahu betul dengan Wijaya. Ia lalu mendekat memancarkan aura penasaran. "Cakep ya, Jay?"
Sambil menunggu jawaban Wijaya, Ia menenggak sebotol minuman teh soda.
Byurr
Teh sodanya malah tidak jadi tertelan, "Nggak ngomong lu! Cakep dong!"
Wijaya lalu menunduk, menatap meja kaca. Di dalam pikirannya terlintas wajah Niki yang tengah menenggak sebotol aqua.
Dari sekian banyak percobaan yang Ia lakukan untuk menemukan twin flame, baru kali ini instruksi dari buku itu benar-benar terjadi.
...∞...
“Buahahahaha..!” tawa ibunya menggelegar di baduk belakang rumah.
“Serius, Ma. Malah ketawa.”
“Mana sih fotonya? Masa semirip itu, Jeki sampe nggak jadi minum, hahaha..!”
Wijaya lalu pergi mengambil handphonenya di dalam kamar. Ia kembali teringat pertemuan pertamanya dengan Niki, si pemilik handphone ungu yang sama persis seperti miliknya.
Ia pun datang menghampiri ibunya yang masih lanjut membaca buku biru.
“Nggak ada fotonya.”
“Lha, terus ngapain bawa hape kesini?”
“Hapenya mirip punyaku.”
“Ah, mengada-ada kamu.”
Wijaya memutar bola matanya, “Kalau nggak percaya ya udah.”
Ibunya lalu memandangi wajah tampan sang anak sambil tersenyum teduh, “Mungkin ada sesuatu yang mau disampaikan semesta, karena setahu mama, nggak ada yang namanya kebetulan.”
Wijaya hanya diam. Ia tahu persis, ibunya pasti akan berkata demikian, mengingat bagaimana kisah orangtuanya dulu bertemu. Bukunya pun kembali ke pangkuannya, sedangkan sang Ibu kembali ke dalam rumah.
Angin yang seharusnya tak berhembus dan matahari yang seharusnya terik, semesta menaungi Wijaya dengan kepulan awan putih yang datang entah darimana.
Awan yang menutupi bayangan dirinya di bawah matahari siang. Awan yang seakan-akan mengepulkan banyak pertanyaan dari rasa penasarannya tentang twin flames. Tentang gadis bernama Niki, dan semua kebetulan yang terasa janggal, namun menyenangkan untuk dikenang kemudian.
...∞...
Hari senin siang, di dalam gedung desain grafis, para peserta desain yang sudah lengkap 16 orang berkumpul untuk makan bersama.
"Bil, kamu lulusan psikologi?" tanya Ryan sebelum melahap suapan nasi di tangannya.
"Iya, bang. Tapi ini lagi coba-coba ikut tes caba."
"Hah!" teriak Niki tiba-tiba.
Xabil tersenyum melihat respon Niki. "Gimana, mau coba jadi ibu-ibu baju pink, nggak?" godanya.
"Nggak ah. Katamu, kamu anak psikolog kan?”
Niki menaikkan sebelah alisnya. “Paham tafsir mimpi nggak?"
Mendengar itu, Wijaya seketika terbatuk.
Safira langsung memukul bahu Niki, "Nik, dia ahli psikologi, bukan cenayang."
Xabil mengernyitkan dahinya. Ia pun merespon dengan percaya diri. "Iya dong. Kenapa, mau konsul?"
Dengan cepat umpan palsu itu dimakan Niki, "Menurutmu, wajar nggak kalo orang dapat mimpi yang sama sampe berulang tiga kali?"
Tentu saja, Xabil menjawabnya sambil bercanda. "Hmm, nggak wajar sih. Bisa jadi itu pertanda mau terjadi sesuatu yang nggak pernah kamu kira sebelumnya. Malahan, bisa jadi itu adalah... petunjuk!"
Niki membelalak, meyakini keseriusan dari jawaban Xabil.
"Mimpi apaan emang?" tanya Safira nimbrung.
Niki malah terdiam. Lama sekali, tidak ada niat menjawab pertanyaan itu. Rasanya, tidak boleh ada yang tahu kecuali dirinya sendiri.
"Kalo udah kejadian, menurutmu aku harus gimana?" tanyanya kemudian.
"Cih, aku diabaikan." sahut Safira kesal.
"Haha, sabar Sapi'i. Satu-satu." celetuk Ryan.
Xabil langsung tertawa begitu nama Sapi'i disebut. "Cocok, Sapi'i. Oh iya, lanjut pertanyaan Niki lagi."
"Kalau udah kejadian, menurutku kamu banyak-banyakin berdoa. Emangnya, itu hal yang merugikan atau biasa aja, atau malah sebuah keuntungan?"
"Nggak tau juga. Kalo dibilang rugi sih nggak. Tapi ngeri."
"Menurutku sih, mimpi itu bunga tidur. Tapi, beberapa pasien yang punya trauma mendalam, kami menganggapnya sebagai informasi kesehatan mental pasien. Biar sembuh, kami bantu mereka untuk menghadapinya. Jadi, kami simulasikan, gitu.”
Dihadapi. Dari sekian banyak ucapan yang disampaikan Xabil, kata itu yang masuk ke dalam pikiran Niki.
Wijaya melihat ekspresi serius di wajah Niki sambil berusaha menahan senyumnya. Melihat Niki yang begitu kewalahan menghadapi mimpi yang Ia juga tidak tahu persis, membuatnya semakin ingin menarik Niki agar mau berbicara dengannya.