Sweet Pills

Sweet Pills
Bab 13. Seragam Baru



Selepas makan siang, mereka segera pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah dhuhur. Jalan bersamaan, namun tidak beriringan. Laki-laki berjalan duluan di depan, sementara para wanita mengekor di belakang.


Dan seperti biasa, Wijaya meletakkan sepatu merah itu di tengah tangga masjid. Niki yang sudah hapal lokasi favorit si red guy, segera menempatkan sepatunya di tepi kiri tangga masjid, lagi-lagi sebelahan dengan sepatu Safira.


“Niki, buruan! Siapa cepat, dia dapat!” Safira langsung berlari menuju tempat wudhu.


“Pokoknya harus dapat yang kembang pink!” Sahut Niki yang tertinggal.


Lokasi wudhu pria dan wanita pas sebelahan. Hanya berbatas dinding tanpa pintu, para wanita bisa leluasa mengintip jemaah pria yang tengah berwudhu. Tentu saja, Wijaya adalah bintang utamanya.


Lelaki tampan itu benar-benar tampan luar dalam. Semua peserta desain grafis hapal dengan kebiasaannya, yaitu pergi terlebih dahulu meninggalkan kelas agar tidak diintip kaum hawa selama wudhu.


Namun sayangnya, kali ini Ia terpaksa berwudhu secepat mungkin. Sudah begitu, isi pikirannya masih penuh oleh mimpi Niki yang abu-abu.


Belum habis pembahasan mimpi misterius itu, tiba-tiba Ibu Marissa datang di tengah-tengah diskusi, membawakan tiga keresek besar berisikan kain hitam, ungu, dan kuning ke ruang kelas. Sesuatu yang akan mereka coba setelah sholat dhuhur.


...∞...


"Ada yang dapat daster, nih!" celetuk Abigail dari kursinya, di kanan Wijaya. Ejekannya barusan merambat lurus ke telinga Niki yang sedang membuka satu hem kuning berukuran XXL.


"Orang-orangan sawah kah? Hahahaha!!" lanjutnya lagi, memang disengaja karena saking lucunya ekspresi jengkel Niki, yang nampak tidak ikhlas oleh sisa seragam yang tersedia.


"Ugh..." Niki langsung merajuk kembali ke mejanya.


Namun, selangkah lagi menuju meja, Wijaya dengan sengaja menghadangnya. Tepat di depan kursi yang akan Ia duduki.


Tangan kanannya bersandar menopang badan. Tangan kirinya ke saku celana. Tatapan tajam mengitimidasi - bukan - lebih tepatnya, memprovokasi Niki agar tambah kesal.


Rasa penasaran itu tak terbendung lagi. Ia ingin menebak, apakah benar twin flames nya selama ini adalah gadis kerdil yang sedang menatapnya dengan tatapan menyebalkan?


“Sebahuku aja nggak nyampe.” celetuknya santai, spontan, dan sarkas.


“Barusan kamu ngatain aku kerdil?!” sahut Niki di tempat.


“Kecilin, sin-"


“Diem lu manekin!"


Mata Wijaya sedikit membelalak tidak percaya. Untuk pertama kalinya, sebuah julukan berhasil membuatnya jengkel. Dipikir-pikir lagi, julukan manekin memang cocok untuknya. Tinggi, putih, dan nggak banyak bicara.


"Kalau mau, aku bisa bantu kecilin seragammu" Wijaya segera kembali dan membuka resleting tas bagian depan. Tangannya sedang mencari sesuatu.


Namun Niki sudah tidak mau peduli. Ia langsung melipat tangan di atas meja dan menyembunyikan wajahnya.


Tiba-tiba, sebuah tangan menyentuh bahu kiri dan kanan Niki. Seutas meteran kain ditarik dari ujung ke ujung.


"Ngapain barusan?!" Niki terkejut.


"Kalo mau dikecilin ya harus diukur dulu. Diem." jawab Wijaya sambil menarik lengan baju Niki untuk berdiri.


"Ih, siapa juga yang setuju. Mending kita tukeran seragam. Kamu tadi ngambil XL kan, sini tuker sam-"


"Diam. Jangan banyak gerak."


Mau tidak mau, Niki diam mematung, membelakangi Wijaya, membiarkan lelaki dingin itu mengukur panjang lengannya setelah selesai mengukur bahu.


Lalu tiba-tiba, Wijaya melingkarkan tangannya ke pinggang Niki. Spontan saja, si minion berisik ini risih sejadi-jadinya.


"Aagrh! Nggak usah!"


"Diam kataku."


"Nggak usa-" terlanjur, Niki hanya bisa pasrah.


Wijaya terlalu mendominasi, Ia tidak berani berkutik.


"Balik badan."


"Apalagi sekarang?!"


"Ngukur lingkar dada." tanpa pikir panjang, Wijaya lupa kalau Ia sedang berurusan dengan Niki. Perempuan misterius yang akhir-akhir ini memenuhi isi kepalanya. Seharusnya, bantuannya ini tidak sia-sia kalau saja Ia lebih berhati-hati dalam berbicara.


"NO!!" Niki langsung menginjak telapak kakinya dan pergi keluar kelas.


Bodoh! Wijaya kesal bukan main. Gagal sudah usahanya untuk menarik Niki mendekat.


...∞...


Seragam yang dibagi ada tiga jenis, satu kemeja hitam yang pas dengan ukuran Niki, satu kaos lengan panjang ungu yang satu nomor lebih besar dari badan Niki, dan satu lagi seragam kuning yang tiga kali lipat lebih besar dari badan mungilnya.


Kini, seragam kuning miliknya sudah Ia titipkan ke Safira untuk dijahitkan oleh ibunya, dan akan dibawakan besok selasa.


“Besok seragam hitam kan?” tanya Safira ke mereka semua di parkiran.


“He-em.” jawab Laras seadanya.


“Laras, numpang ngeringin yak. Takutnya nggak sempat kering kalo ngandalin angin malam doang.” ujar Niki meminta bantuan sebelum motornya dinyalakan.


"Emang sempat nyuci?" tanya Mita.


“Sempat aja sih. Satu lembar doang buat besok.”


"Iya. Ke tempatku aja. Nanti aku share loc, ya." jawab Laras ramah.


“Cih.” lagi-lagi Safira kesal. Dan lagi-lagi, Ryan melihatnya.


“Hahaha, sabar Sapi’i. Satu-satu.”


“Apanya yang satu-satu?! Jelas-jelas itu namanya PI LIH KA SIH!”


Seraya menyalakan motornya, Laras melihat Wijaya berjalan menuju motor ducati merahnya yang kebetulan lagi, parkir di sebelah beat merah milik Niki.


"Aku balik duluan ya."


"Aku duluan, bye!"


"Hati-hati yaa."


Niki pun sadar, tersisa Ia dan Wijaya di sana. Pikirannya kembali was was "Kenapa nggak pulang?"


"Gimana mau pulang, situ nggak minggir-minggir."


"Jalan di kananmu itu lho lebar, nggak sempit kayak matamu. Nggak perlu nyalahin beat ku segala, kali!"


"Dzulfikar lagi encok."


Niki tambah heran. Siapa pula Dzulfikar?


Wijaya menyadari bahwa kening Niki langsung mengerut. Ia pun menunjuk motornya dengan isyarat mata.


Ternyata, Dzulfikar itu ducati merah miliknya!


...∞...


Dahan pohon ketapang melambai pelan tertiup angin. Niki melaju pada kecepatan normal menuju pulang. Sepanjang jalan, motor ducati merah itu berada tepat di depannya. Ingin menyalip, tapi pikiran buruknya berkata jangan.


Bukannya Dzulfikar akan semakin berat kalau dikendarai lambat?


Saking geregetannya, Ia terperanjat di atas motor saat melintasi jalan dengan lubang besar yang seharusnya terlihat oleh kacamatanya.


Wijaya sempat melihat dari kaca spion. Ia pun memperlambat laju, seakan menunggu bersebelahan dengan Niki.


Dan motor mereka kini beriringan. "Check ban motormu!" teriak Wijaya.


Angin yang menerpa perjalanan pulang sedikit mengganggu pendengaran mereka berdua yang saling bersahutan di jalan.


"Kenapa?!" tanya Niki balik.


Lalu Wijaya memberi isyarat untuk menepi.


"Kenapa?" Niki membuka kaca helmnya.


"Kayaknya ketusuk paku. Lihat tuh!"


Dan benar. Angin ban menyembur deras keluar. Ada  sebuah paku besar menusuk ban motornya dan kini, Ia harus berhenti di bengkel terdekat, tentu saja Wijaya menemaninya.


"Bang, tolong tambal ban nya." Wijaya segera menemui tukang tambal ban di bengkel itu.


Niki hanya berdiri diam, kebingungan memposisikan diri di antara berember-ember oli dan kunci-kunci inggris yang terbengkalai.


"Sini." seru Wijaya.


Ia menepuk kursi kosong terdekat, dan Niki segera duduk manis di sebelahnya.


"Aku pengen pulang cepat. Mau nyuci seragam sebelum dipake besok."


"Ngapain dicuci segala?"


"Ya kan baju baru harus dicuci dulu sebelum dipake. Nggak tau aja bekas kena apa sebelumnya, kan."


"Nggak usah dicuci. Langsung pakai aja. Entar sabtu atau minggu baru cuci semuanya sekaligus."


Sayangnya, saran Wijaya tidak diindahkan Niki. Ia bersi keras ingin segera pulang dan mencuci seragam barunya, khususnya yang berwarna hitam.


"Aku mau pulang. Itu tambalannya masih lama?"


Wijaya pun kewalahan, "Ya udah, kuanter."


“Nggak usah. Aku mau nelpon ojek online. Kamu temenin aku sampai aku dijemput.”


“Udah. Nggak papa. Lagian, rumah kita searah.”


Niki terkejut. Tau darimana?


Wijaya pun beranjak dan berbicara sebentar ke abang bengkel. "Besok motormu udah bisa diambil." ucapnya ke Niki, dan direspon dengan anggukan singkat.


“Searah?” Niki bergumam pelan.


Dzulfikar masih menunggu punggungnya ditumpangi Niki. Gadis itu kebingungan harus menaikkan kaki yang mana duluan, mengingat, Ia tidak pernah naik motor besar seumur hidupnya.


"Kenapa lagi?" tanya Wijaya yang mulai kesal menunggu.


"Aku nggak pernah naik motor ginian."


Mendengar itu, spontan kepala Wijaya menoleh ke belakang.


"Besok aku sewain Alpard. Sekarang naik ini dulu. Mau cepat pulang, kan?"


Baru menangkringkan kaki kirinya di pijakan kiri, Ia sudah menyerah, "Tinggi banget, sih!"


"Kamunya kependekan. Bisa nggak? Perlu bantuan?"


"Nggak perlu!"


Perjalanan pulang di senin sore kali itu, dihiasi langit merah jambu bersemu jingga. Mungkin, kata maaf dari Wijaya belum sempat terucap namun, Niki benar-benar menikmati dirinya yang leluasa diterpa angin di jok belakang Dzulfikar.


One step closer.