
Suara jangkrik menemani malam Wijaya di kamarnya seorang diri. Buku biru yang telah Ia tamatkan kembali Ia buka. Setiap bab Ia baca sekilas, sekali lagi, hanya untuk memastikan tidak ada tahapan yang tertinggal.
Ia kembali membaca kalimat berstabilo kuning dari awal sampai akhir.
"Tahap satu, tenangkan diri. Dampaknya meningkatkan kepekaan panca indera."
"Tahap dua, doa di sepertiga malam. Dampaknya sebuah petunjuk langsung melalui mimpi ke twin flame anda."
"Lalu, tahap ketiga mengulangi tahap sebelumnya secara rutin. Pribadi anda jauh lebih peka hanya dengan bahasa mata, hal ini berguna untuk menemukan twin flame itu."
"Keempat, injak daun gugur tanpa sengaja."
Sebelum akhirnya lanjut membaca lagi, Ia meringis mengingat kekonyolannya dulu. "Hah, dari semua tahapan, yang satu ini paling tidak bisa kupahami. Udah gila aku, mau-maunya nyari daun gugur buat diinjak."
"Mungkin, karena sebelum-sebelumnya aku sengaja menemukannya, dan satu-satunya daun yang tidak sengaja itu pas di depan gedung wawancara. Hmm, masuk akal."
Orangnya Niki, kan? Penggalan cerita buram yang melintas waktu itu memang Niki! Ada cewek baju biru dan wajahnya mirip denganku. Kalau memang Ia bermimpi tentangku, kenapa tidak mengatakannya langsung, segera?
Hah... gimana caranya agar dia mau bercerita?
"Kelima, tenangkan pikiran untuk menjelajah alam mimpi."
Benar juga! Mimpi-mimpi aneh yang masuk ke kepalaku semenjak wawancara pelatihan kerja. Nggak bisa kupahami sama sekali, tentang kunang-kunang di pagi hari...
Tapi beneran kejadian!
"Akh! Sejak kapan aku percaya dengan buku jadul ini?" bentaknya lalu menutup buku biru itu dengan paksa.
Semakin Ia berpikir, semakin Ia pusing sendiri. Ia lupa bahwa yang perlu dilakukannya sekarang hanya tahap nomor enam, menebak orang tersebut tanpa ragu. Jika benar, maka orang itu akan bermimpi lagi tentangnya.
Petunjuk yang datang ke mimpi Niki terakhir kali adalah hasil tebakan Wijaya yang yakin sepenuhnya bahwa Niki lah orangnya.
Dua orang ini benar-benar harus saling bicara.
Matahari pagi di hari kamis lebih terang dari rabu kemarin. Begitu pula dengan seragam pelatihan yang dikenakan Niki, hari ini adalah jadwal tayang si seragam kuning kedodoran.
Padahal, Safira sudah mengecilkan ukurannya agar tidak terlalu besar, tapi baju itu akan tambah rusak jika ukurannya diubah lebih kecil. Ya, intinya, ibunya tidak ada waktu untuk mempermak seluruh bagian baju Niki.
Uang di dalam dompetnya sisa sepuluh ribu. Sebelum berangkat ke kantor pelatihan, Niki mampir sebentar ke atm cabang terdekat.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, tapi dari informasi grup desain yang Ia baca, belum ada manusia sama sekali di sana. Hebat, mereka kompak untuk datang terlambat.
Ia memasukkan kartu dan menekan pin rahasia, yang jelas bukan tanggal lahirnya. Cukup lama Ia berdiri menunggu atm itu memproses penarikannya, tapi sial sekali, tidak ada uang yang keluar, habis.
Hari ini, kejengkelan juga muncul di awal harinya, seperti selasa dan rabu kemarin. Ia melanjutkan perjalanan menuju kantor pelatihan dengan raut merajuk seperti hari kemarin. Dan untuk pertama kalinya, tidak ada motor selain motor merah miliknya di sana.
"Hari ini libur nasional apa gimana?!" gerutunya kesal.
Kakinya melenggang dengan malas menaiki anak tangga menuju ruangan kelas yang baru. Ia kemudian meletakkan tasnya di meja paling depan, berhadapan dengan AC.
"Bosan... Nggak ada pegangan, baju kedodoran, akh! Menyebalkan!"
Handphonenya bergetar, notifikasi bank muncul di atas layar hape ungu itu. Niki terkejut, ada riwayat penarikan dan saldonya kini berkurang drastis! Matanya melotot tidak terima, atm tadi tidak mengeluarkan secarik kertas apapun!
Badmood. Uangnya hilang!
Ia pun segera mengambil tasnya keluar dari kelas dengan langkah terburu-buru. Pagi ini semua hal tidak menyenangkan untuk Niki. Kekesalannya memuncak, apalagi perkara uang memang sangat sensitif
Saat akan membuka pintu kaca, sebuah tangan juga ikut menarik pintu itu dari arah berlawanan, Wijaya di depan matanya.
Dari sekian banyak peserta yang belum datang, kenapa harus Wijaya?
"Mau kemana? Kenapa buru-buru?"
"Uangku hilang!"
"Hah! Kok bisa? Sudah lapor ke satpam bank?"
Tuh kan, lagi-lagi Wijaya mengatakan hal yang mengejutkan. Niki tidak mengatakan apapun tentang bank, bisa saja kan uang hilang di jalan, atau saat dipinjam teman, atau arisan.
Lelaki cenayang ini sejenak menenangkan Niki di tempat. Pikirannya menyusun kembali apa saja yang akan Ia lakukan di kantor cabang bank yang akan Ia tuju.
"Belum, ini mau kesana."
"Yakin, bisa sendiri? Buku tabunganmu jangan lupa dibawa."
Ah, benar juga. Makasih, Jay. Niki mengangguk merespon Wijaya. Ia langsung lanjut melangkah pergi.
"Tunggu!"
Niki menoleh, laki-laki itu, apakah Ia akan mengerjainya lagi hari ini? Tolong, jangan buat emosinya tambah parah, sekarang bukan saatnya!
"Nanti kembali kesini lagi, kan?"
Apa katanya barusan? Ia menunggu?
Niki mengangguk lagi, kali ini anggukannya lebih pelan, bahkan emosinya seketika reda, hilang begitu saja.
Sedangkan Niki masih mematung.
Kembalikan kesadaranmu, Niki! Ingat, uang adalah segalanya! Lelaki tampan itu hanya perangkap, kalau tidak segera kau urus, uangmu akan benar-benar musnah!
Kesadarannya kembali, begitu pula dengan moodnya. Ia tersenyum menuju motor yang terparkir di sebelah motor ducati merah.
Bukannya buru-buru ke bank, Ia mengendarai motor penuh kehati-hatian. Bahkan Ia mengalah kepada pengendara lain yang buru-buru mengantar anaknya ke sekolah!
Matahari yang terik, terasa hangat baginya. Ia pun tiba di depan bank cabang lalu menemui satpam dengan riang gembira.
"Permisi, pak!" sapanya ramah.
Pak satpam yang ingin menyeruput secangkir kopi menoleh. Seorang anak remaja yang ceria memanggilnya dengan sapaan terhangat yang Ia terima.
Bapak satpam itu pun membalas sapaan Niki dengan sahutan yang menyenangkan juga.
"Iya dek, ada apa?"
"Saya mau melaporkan bahwa hari ini saya melakukan penarikan di atm yang paling ujung kanan di situ. Tapi, uangnya nggak keluar. Parahnya lagi, saldo saya berkurang. Saya nggak terima."
"Wah, baiklah dek. Tunggu sebentar ya. Saya laporkan dulu kendala adek."
"Baik, pak!"
Percakapan mereka seperti sedang syuting iklan transaksi bank muamalah bersama nasabah terbaik yang akan mendapatkan bonus potongan bunga.
Niki berdiri di dekat pintu masuk, mengenakan pakaian kuning, dan senyum hangat ke seluruh penjuru penghuni ruang tunggu.
Bahkan, jemari teller bank di sana juga terhenti sejenak ketika menghitung jumlah uang yang disodorkan nasabah, saking terhiburnya dengan wajah Niki bak patung kucing toko yang melambai-lambai di depan kaca.
"Dek, ini. Ada telepon dari pusat. Adek bisa pake hape ini dulu untuk dilaporkan langsung."
Niki menerima sebuah handphone kecil berwarna hitam. Terdengar suara mbak-mbak yang memanggil namanya dari seberang. Ia lalu menjelaskan rinci riwayat penarikannya. Kemudian, diminta untuk menunggu sebentar.
"Saya tunggu disini apa boleh keluar, pak"
"Oh iya, kalo buru-buru langsung aja. Nanti ada notifikasi ke aplikasi e-bankingnya adek. Check aja sekitar 10 menit lagi."
"Wah, cepat juga. Terima kasih banyak ya, pak! Have a nice day!"
"Hep e nais dei juga!"
Begitulah hari kamis manis yang Niki lewati. Mungkin awalnya memang mendung seperti hari kemarin. Namun, bertemu dengan Wijaya memberikan perbedaan yang berarti.
Walaupun sekedar 'sapa', keceriaan Niki yang sembunyi kembali muncul ke permukaan. Karena perlakuan kecil dari Wijaya, urusannya dengan bank menjadi lancar.
Nirmana. Pola yang berulang, sebuah abstrak yang masih berulang kali menekan beberapa orang untuk segera merampungkan tugasnya. Stuck. Tersisa lima orang yang belum memulai apa-apa.
Marzuki bisa sangat dipahami kalau belum selesai, kerjaannya hanya pansos sejak kemarin.
Niki, anak sains ini seperti terjun ke lautan tanpa pelampung. Ia tidak mengerti apapun tentang seni rupa.
Mita sudah membuat konsepnya, namun tangannya sulit untuk diajak kerja sama. Menggambar memang sesulit itu, tidak cukup hanya dengan menonton tutorial.
Sisilia, mbak-mbak full make up itu bernama Sisilia. Beliau baru menunjukkan dirinya hari ini, katanya menggambar adalah passionnya. Mungkin, tiga menit lagi nirmananya bisa dikumpul.
Dan satu orang yang paling mengejutkan mereka semua, padahal tangannya sangat enteng menggambar desain gaun malam, Wijaya.
Berapa kali Ia menggambar garis, lalu dihapus. Gambar lagi, dihapus lagi. Begitu terus. Abigail dan Ryan sampai berkali-kali menepuk bahunya dan berkata "Udahlah, nggak ada yang sempurna. Idemu tadi udah bagus, lanjutkan aja biar cepet selesai."
Tapi, telinga lebarnya yang super peka itu seperti disumpal kesempurnaan. Ucapan dua orang tadi tidak mempan. Ia dan Niki seperti dua orang yang sedang lomba menciptakan seni yang paling sempurna. Punggung mereka berhadapan, Niki jauh di barisan kiri, Wijaya jauh di seberangnya, di barisan kanan.
Penasaran dengan gambaran Niki, Ryan dan Abigail lalu menghampirinya. Setelah mereka lihat, keduanya saling melempar pandangan. Kode rahasia dijalankan, begitu mereka kembali ke tempat Wijaya, mata mereka semakin melotot.
"Kok bisa sama?" begitulah kira-kira bahasa mata mereka.
Dua orang ini mondar-mandir tanpa lelah. Terus-terusan membandingkan nirmana milik Niki dan Wijaya yang tanpa sengaja, sama.
Sebuah kristal segi enam yang disusun rapi memenuhi kertas A4.
Antony tiba-tiba menghampiri Wijaya.
"Lha, kok sama kayak punyaku?"
Mendengar itu Wijaya segera menghapus dan mengulang lagi. Dua orang tadi kembali melihat nirmana milik Antony di atas meja kayu. Benar, bagaimana bisa tiga orang ini sepemikiran?!
Bedanya, Anton menggunakan tiga warna, Wijaya menerapkan konsep gelap terang, sedangkan Niki yang memiliki sentuhan halus dan tipis, memberi kesan nirmana miliknya seperti sebuah ilusi optik. Siapapun yang melihatnya seketika pusing! Seperti menatap rumus asam-basa!
"Sudah!" teriak Niki dan Wijaya bersamaan. Wijaya menoleh ke belakang, sedangkan Niki tetap diam di tempat.
Ia mendengar langkah kaki mendekat ke meja kayu di belakangnya, firasatnya yakin sekali mengatakan bahwa langkah itu milik Wijaya.
Spontan tangannya membalikkan kertas A4, menutupi nirmananya agar tidak ada komentar negatif yang Ia dengar.
Hah, lagi-lagi Ia menghindar.