
Apa yang matahari lakukan sekarang, selain sembunyi di balik bulan? Seperti Niki yang berusaha sembunyi dari fakta bahwa Si Mas adalah Wijaya.
Layaknya seorang wanita cerdas, Niki mengutamakan logika daripada rasa. Sudah dua minggu ini, otaknya selalu menganggap sepatu merah Wijaya hanya kebetulan belaka, meskipun hatinya mengiyakan kenyataan dan yakin sepenuhnya Wijaya lah Si Mas itu.
Kesehatannya telah kembali. Beberapa tips dari Mita dan Safira dilakoninya seperti, banyak makan buah dan minum yang anget-anget, tips sehat andalan untuk segala macam penyakit.
Malam senin sebelumnya, Ibu Marisa mengumumkan bahwa mereka akan mengambil pas foto di sebuah gudang, yang terletak di depan ruang kelas teknik listrik. Desain grafis dijadwalkan setelah jurusan tata rias.
Angin sepoi-sepoi mengalun di sepanjang perjalanannya menuju kantor pelatihan. Niki bersenandung, menyanyikan lagu Cruel Summer di balik masker. Bahkan bahunya ikut menari di atas motor.
Dilihatnya belum ada Dzulfikar di lahan parkir, tepatnya di bawah pohon ketapang, tempat langganan beat merahnya parkir, sekaligus tempat Dzulfikar parkir juga. Kini, motor legend itu menguasai wilayah di bawah pohon lebih leluasa.
Tapi, milik siapa motor cungkring ini? Yang parkir di sebelah kiri motor Abigail. Seingat Niki, tidak ada peserta desain yang mengendarai motor seperti ini.
Abaikan saja lah, Niki sedang tidak mood untuk overthinking sekarang. Lebih baik, Ia segera ke kelas dan touch up wajahnya sebelum sesi foto dimulai.
Hujan lebat yang mengguyur dua hari kemarin bukan turun tanpa sebab. Karenanya, bintang tak bisa ikut menerangi malam bersama matahari yang sembunyi di balik bulan. Sampai-sampai, lampu sorot itu meredup sekarang.
Sang surya lupa memberi kode bahwa takdir akan terjadi beruntun hari ini untuk Niki dan Wijaya.
Ia pikir, posisi duduk yang Ia setujui kemarin jumat hanya bersifat sementara. Ia pikir, teman-teman desain menolongnya khusus hari jumat saja, dan seharusnya, senin ini Ia masih duduk di depan AC.
Ternyata tidak. Kebijakan itu bersifat permanen. Di meja paling depan ada Antony, sedangkan kursi kosong di depan AC itu milik Xabil yang masih belum hadir.
Di barisan kedua, ada Vanny yang duduk menepi ke dinding, tempatnya berbaring kemarin. Dan di sebelahnya ada kursi kosong yang Ia tebak akan menjadi singgasana barunya.
Ia enggan masuk, Ia masih menatap kursi lain, siapa tahu ada yang kosong dan benar! Satu kursi kosong di sebelah Ryan!
Tapi, aneh rasanya kalau harus duduk sebangku dengan laki-laki.
Lama Ia berdiri di depan pintu kaca, sampai tidak menyadari ada Wijaya yang menunggunya agar cepat masuk ke dalam kelas.
"Udah sembuh?" bisiknya tiba-tiba, dekat ke telinga Niki dari belakang.
Deg
Niki seketika jantungan.
Ia menoleh ke belakang sambil bergegas masuk untuk memberi jalan. Wijaya, lelaki itu langsung duduk di kursinya, di sebelah Abigail.
Dengan sangat terpaksa, Ia pun duduk di kursi yang telah ditakdirkan untuknya. Bangku kedua barisan kiri, bersebelahan dengan wanita bertubuh besar yang tak lain dan tak bukan adalah, Vanny.
Andai Niki bisa keluar dari rohnya sebentar saja, Ia ingin berteriak ke langit sekarang juga.
Kalian sengaja atau gimana?!
Tapi, nasi telah menjadi bubur. Terima kasih banyak mimpi, setidaknya berkat kemunculan Si Mas, Niki mulai membuka hatinya sekarang.
Tidakkah Ia sadar, akhir-akhir ini emosinya jauh lebih kompleks. Marah, sedih, jengkel, senang, bahkan untuk pertama kalinya, jantungnya berdegup!
Hatinya sudah tidak kosong!
"Niki, bawa make up kan?" tanya Laras dari kursinya.
"Bentar."
Ia mengeluarkan lipcream dan bedak dari dalam tempat pensilnya. Para wanita itu dengan pede nya, touch up di kelas. Tak peduli lagi dengan perhatian para jantan yang ingin mengumpat di tempat.
"Niki, sisirin rambutku dong." pinta Mita.
"Ih, tanganmu kok lembut banget! Kamu nyisir nggak sih? Nggak ada rasanya." protesnya kemudian.
Niki langsung protes balik, "Rapi, kok."
Vanny dan Safira saling memuji eyeliner satu sama lain. Sedangkan Niki dan Laras saling memuji warna lipcream coral yang mereka pakai. Pokoknya, hasil foto mereka harus cantik!
Semua peserta desain sudah keluar dari kelas. Mereka menunggu giliran di depan parkiran gedung desain grafis.
Para peserta jurusan tata rias melintas. Beberapa dari perempuan itu memperlambat langkahnya sambil menatap Wijaya, Antony, bahkan Marzuki dan Rayhan.
Debby, kenalan Niki dari tata rias, mendekat dan menyapanya serta Laras. Tiba-tiba saja, perempuan ini menunjukkan kedekatannya dengan jurusan desain grafis di hadapan teman-teman sejurusannya.
Ia juga melihat gerak-gerik Niki yang berulang kali mendekat ke Mita dan kawan-kawan, namun Ryan terus menerus memanggilnya tanpa alasan yang jelas.
Lelaki tua itu tiba-tiba menanyakan hal yang tidak penting, sebatas untuk membuat Niki mendekat lagi.
Sedangkan Wijaya seperti biasa, mode paginya aktif. Diam, tenang dan dingin seperti manekin. Manekin yang diam-diam mengamati Niki dan Ryan.
"Desain grafis!" teriak seseorang dari luar gudang.
Mereka jalan bersamaan. Dan sesampainya di depan gudang. Niki dibuat terkejut lagi.
Untuk kedua kalinya, Ia berharap rohnya bisa keluar sebentar untuk berteriak ke langit.
Katanya gudang, kenapa ada lapangan bulu tangkis?!
Deja vu
Mimpi ketiga, lapangan bulutangkis.
Siapa yang dapat mengira bahwa lapangan tanpa net itu ternyata gudang pelatihan kerja?!
Ingatannya kembali dibuat flashback. Awal mula mimpi ketiga itu adalah Niki berdiri di sebuah ruangan yang atapnya sangat tinggi, mirip sebuah gor. Lalu, di bawah atap itu ada lapangan bulutangkis yang tidak terpasang tali netnya.
Niki di dalam mimpinya tidak melakukan apa-apa. Kecuali bersandar pada kain merah dan menatap orang-orang yang tengah memperhatikannya.
Awalnya, Ia yakin mimpinya adalah dia seorang pemain bulutangkis terkenal yang sedang dipotret, karena ada kamera dan para manusia yang tertawa bahagia. Tapi anehnya, tawa itu membuatnya malu lalu tertunduk.
Si Mas kembali muncul. Laki-laki itu berdiri di sebelah kiri dan ikut menatapnya. Dan ketika Ia tertunduk malu, Si Mas adalah satu-satunya orang yang peka dan pindah ke belakang kameramen.
Lelaki impian Niki hanya memperhatikan sesi pemotretannya dari balik kamera yang menyorot wajah Niki. Dan karena itu, kepercayaan dirinya pun perlahan kembali.
Mimpi ketiga adalah mimpi favoritnya. Emosinya ikut bermain dan ketika Ia terbangun, itu adalah pertama kali Ia menyukai pertemuannya dengan Si Mas.
Dan untuk pertama kalinya, Ia berharap Si Mas itu nyata.
Sweet Pills mendengarkan semua cerita yang menyenangkan itu. Sahabatnya yang satu ini ingat betul betapa senangnya Niki selama curhat tentang mimpi ketiga.
"Kau tahu Sweet Pills, Si Mas adalah lelaki yang baik dan sangat perhatian. Dari sekian banyak orang, hanya dia yang berbalik seperti itu. Seakan Ia tahu, aku ini gugup sekali saat mau dipotret. Keren banget kan kalo beneran ada lelaki kayak dia?! Dan siapa tahu, aku jadi atlet beneran nanti."
Ucapannya menjadi nyata. Yang terjadi, maka terjadilah.
Untuk pertama kalinya, ada lokasi pas foto terbuka seperti ini. Tidak di dalam ruang tertutup, melainkan di dalam gudang yang pengap dan panas.
Setiap peserta desain itu dapat giliran, Ryan, Antony, Gregor, Mita, Safira, dan Marzuki mengolok-olok mereka untuk membuyarkan fokus. Sudah seperti anak kecil saja.
Peluh Niki perlahan menetes, lalu disekanya. Ia berusaha tenang berulang kali. Berdiri sendiri dan diperhatikan banyak mata. Siapapun pasti grogi.
Lalu, tibalah saatnya.
"Sebelas! Niki Keita!" teriak si fotografer.
"Tangannya rileks aja." titahnya lagi.
Niki pun maunya begitu, namun tangannya bergetar hebat. Ryan secara terang-terangan mengetawainya di tempat bersama Marzuki yang tiba-tiba memotret Niki menggunakan hapenya.
Sudah grogi, kini Ia dibuat kesal. Ekspresinya sekarang tidak boleh dipotret. Tolong, beri Ia waktu tambahan.
Wijaya yang sedari tadi mengaktifkan mode pagi, hanya berdiri bersedekap melihat peserta lain selama sesi pemotretan. Ia sangat peka. Lelaki itu segera mundur dua langkah lalu berjalan mendekat ke fotografer.
Ia bahkan mengarahkan si fotografer untuk mengambil wajah Niki sedikit ke kiri agar pas tengah. Tak sedikit pun matanya melihat Niki yang tengah grogi.
Alam sedang membuktikan ke Niki bahwa Wijaya lah orangnya.
Niki tersadar, perasaan yang Ia alami di mimpi benar-benar nyata sekarang. Groginya hilang, tangannya tak lagi gemetar, entah kemana suara tawaan Ryan dan Marzuki itu menghilang, yang menjadi fokusnya kini hanya satu orang, Wijaya.
Terima kasih.
"Nah, yak! Bagus. Pertahankan senyumnya ya. Satu.. dua.."
Pas fotonya berhasil.