Sweet Pills

Sweet Pills
Bab 8. It Burning Red!



Burgundy, scarlet, maroon. Bukankah semua itu warna yang sama?


Taylor Swift memberi pesan lewat liriknya bahwa orang yang sedang jatuh cinta akan mengubah semua hal di sekitarnya menjadi satu warna yang sama, senada dengan degup hatinya.


The burgundy on my t-shirt when you splash your wine into me and how the bloods runs into my cheeks so scarlet, it was maroon.


Warna anggur yang jelas-jelas merah-ungu, berubah seutuhnya menjadi merah hati ketika meresap pada kain putih. Warna darah yang merah-segar, juga berubah seutuhnya menjadi merah hati ketika muncul di permukaan pipi.


Ya, pada akhirnya semua warna itu menjadi merah hati, maroon.


...∞...


Niki tengah duduk di kursinya sambil berusaha membuka bungkus roti yang Ia bawa dari kost. Jarinya tak berdaya, Ia buka bungkus itu dengan gigi kelincinya.


Langkah Xabil langsung terhenti ketika memasuki aula, dilihatnya Niki sedang berkutat dengan sebungkus roti. Ia langsung terhibur oleh tingkah gadis itu. Keduanya pun bersua lewat senyum dan alis.


“Terbuka!” pekik Niki di kursi.


Roti manis itu cukup untuk mengganjal lambungnya yang harus terisi setiap pagi. Belum selesai Ia mengunyah gigitan pertama, Pak Tua yang menyebalkan kemarin tiba-tiba muncul di hadapannya.


“Makan apa kamu?”


“Roti, Pak.” jawab Niki sambil menelan roti.


“Sudah bagi-bagi lah sama kawan yang lain?”


Rotinya tak jadi digigit, mulutnya menganga beku. Ia mengurungkan gigitan kedua. Diperhatikan baik-baik, aula masih sangat sepi. Hanya ada enam orang, dirinya, Xabil, dan empat peserta dari jurusan lain. Ia kemudian menawari rotinya,


“Bapak mau?”


“Kamu ini, bisa-bisanya makan sendirian nggak menawari temannya. Itukan pelajaran paling dasar tentang etika. Kalau ada orang lain, ya ditawari juga. Egois.”


“Anu, Pak. Tadi sudah nawari saya, kok.” sahut Xabil spontan di kursi. Senang mendengarnya, Niki merasa terselamatkan, telinganya pun aman dari celoteh lanjutan Pak Tua itu.


Egois, huh? Tiba-tiba roti manisnya berubah hambar, giginya tak lagi mengunyah, dan lidahnya mati rasa.


“Maaf, Bil.” ujarnya ke Xabil saat Si Pak Tua sudah pergi menjauh darinya.


“Bukan maksudku nggak berba-“


“Nggak papa.” potong Xabil. “Lagian, roti segitu kan memang cukup buat ngganjal satu lambung aja.”


Syukurlah, Xabil cepat tanggap dengan situasi. Niki lalu tersenyum ke arahnya, dan lanjut sarapan pagi.


Lambat laun, aula mulai berisik. Beberapa peserta sudah duduk di kursinya.


Ada sosok bayangan yang tiba-tiba menyita perhatian mereka, Niki lalu ikut menoleh. Seorang lelaki berjalan masuk melalui pintu B, di belakang Xabil.


Deg


Deg


Sejak kapan, kepala botak lebih mempesona daripada senyum Kim Taehyung yang menawan?


Kaos merah tua, celana training merah tua, dan sepatu merah. Tuan Wijaya berjalan dengan tegapnya menuju singgasana, kursi nomor dua belas.


That red guy make her blood runs into her cheeks, and it turns maroon.


Sudah saling bicara pun, keduanya masih tampak tak peduli. Tidak ada sapa yang terlontar. Niki tertunduk malu, sedangkan Wijaya kembali ke mode paginya, dingin.


...∞...


Laras sudah menduga sejak kemarin siang, kegiatan pagi ini pasti membabu di pagi buta. Dua orang tentara masuk ke aula tanpa diiringi komandannya. Seisi aula diberi tugas untuk mengumpulkan sampah ke dalam kantong yang berbeda, lalu diletakkan di dekat gerbang gapura kantor pelatihan.


“Perhatian! Seluruhnya buat barisan!” perintah salah satu Tentara ke peserta pelatihan.


Mereka langsung menurut, berbaris rapi secara acak. Saking acaknya, tidak peduli lagi laki-laki dan perempuan campur baur, Tentara itu lalu geleng-geleng melihat kenyataan ini.


Niki melirik ke kanan, matanya membelalak! Sepatu merah dan celana merah berdiri tepat di sebelahnya. Samar-samar, situasi pun perlahan mulai jelas. Suasana pagi ini memang terasa tidak asing.


Gawat.


Déjà vu.


Ia sadar, sangat sadar. Mimpi episode pertama, Sepatu Merah, Siapa Tuanmu? sedang berlangsung, nyata pagi ini.


Gugup bukan main. Jantungnya benar-benar berdebar kencang, apakah mimpi Si Mas itu, sebuah petunjuk?


“Barisan laki-laki dan perempuan dipisah!” pinta Si Tentara lagi. Semua orang termasuk Niki dan Wijaya langsung bubar dan berbaris ke belakang peserta lain, sesuai gender. Perempuan di sebelah kiri, laki-laki di sebelah kanan.


Yang terjadi, maka terjadilah.


Ia melihat sepatu merah di sebelah kanan, berdiri sejajar dengannya. Lalu, penasaran dengan rupa, Ia mendongak perlahan. Pinggang yang lebih kecil dari bahu, dada yang bidang, badan yang tegap, bahkan bayangannya saja tampan. Ia terus mendongak, leher lelaki itu jenjang. Dan ketika sampai pada wajah, ternyata… dia adalah Wijaya.


Ternyata, dugaannya salah. Bukan jalan santai, tapi kegiatan lari pagi di hari kedua pelatihan kerja.


Peluit ditiup memekakkan telinga, menyadarkan Niki agar mulai berlari. Ia pun bersebelahan dengan Wijaya. Suasana yang sangat menggelitik, membuatnya meringis sendiri.


Huh, takdir memang suka melucu.


Selang lima belas menit, barisan mulai tak terarah. Banyak peserta terengah-engah dan memilih untuk berhenti sejenak. Sebagian lagi tetap konsisten berlari sampai garis finish.


Wijaya juga tidak kelihatan lagi. Tanpa Niki sadari, dirinya mencari-cari lelaki dingin yang enggan Ia sapa sejak pagi tadi. Lalu, Ia berhenti di depan pohon ketapang  dekat sepeda motornya parkir.


Langkahnya perlahan mulai melambat. Lirik kanan, lirik kiri, Ia masih mencari keberadaan Wijaya. Tiba-tiba, seekor kunang-kunang berpendar hijau bertengger di bahu kirinya, membuatnya melotot tak percaya. Bukankah ini terlalu pagi?


Saking terkejutnya, mulutnya menganga tak bersuara. Kunang-kunang itu terbang lagi, menjauh ke belakang, dan hinggap ke punggung pria berkaos merah.


Punggung yang membelakangi sinar matahari, sangat lebar, seakan satu kalimat muat diukir disana. Pria itu berbalik, kemudian menghadap ke arah Niki.


“Ayo, bareng.” ucap Wijaya sambil mengulurkan tangan kanannya.


Semua yang terjadi sama persis!


“Aaaaaa…!!” Niki merinding hebat, jatuh terduduk ke tanah. Bukannya heran, Wijaya malah tersenyum miring lalu tertawa kecil!


Lagi-lagi, mata itu menyorot Niki penuh misteri. Seringai tipis di sudut bibirnya semakin membuat ngeri. Seakan, Wijaya sudah menunggu hal ini terjadi, sesuai perkiraannya.


What’s wrong with this guy?! rucau Niki dalam pikirannya, penuh tanda tanya.


Tidak ada hal lain yang Ia pikirkan, selain kenyataan yang dihadapinya sekarang.


Banyak saksi disana, mereka pun dengar teriakan Niki yang mengejutkan. Tapi, ketika Wijaya mendekat dan mengulurkan tangannya, langkah mereka berhenti tak jadi mendekat untuk membantu Niki berdiri.


Sesampainya di garis finish, Niki menghampiri peserta desain terseok-seok. Selain fisik, psikisnya pun lelah pagi ini.


“Kenapa kamu teriak?! Ada apa?!” Safira cemas sejadi-jadinya. Niki hanya menggeleng, “Hosh.. hosh..” masih sulit baginya untuk menjawab, “Ada kunang-kunang di bahuku.”


Mita mengernyitkan dahi, “Kunang-kunang? Di pagi hari?” Terdengar seperti omong kosong, Kiki saling beradu pandang dengan Laras. Sambil menjulurkan kakinya, Ia meyakinkan mereka lagi dengan anggukan berulang.


Sama seperti Niki, Wijaya juga ditanyai oleh peserta desain laki-laki. Dengan alasan yang sama persis – karena kunang-kunang – para pria itu menatapnya penuh selidik, tak ada yang percaya dengannya.


Wijaya melirik Niki dari kejauhan, perempuan itu masih dikelilingi peserta perempuan lain yang nampak mencemaskannya. Berbeda dengannya, Ia penasaran terhadap hal yang Niki pikirkan.


Sebenarnya, ada hal yang ingin Ia perjelas, namun tiba-tiba, gubrak! “Rayhan pingsan!”


Para pria langsung menggotong Rayhan masuk ke dalam aula. Wajah lelaki ini pucat, sangat pucat. Vira, peserta jurusan tata busana, turun tangan membantu Rayhan agar sadar kembali. Seketika, banyak perempuan berdatangan.


Peserta desain sampai menyingkir hingga keluar aula, kecuali Wijaya yang memang sudah duduk duluan di kursinya.


Melihat kursi kosong di sebelah Wijaya, seorang peserta dari tata busana menyerobot hendak duduk. Tapi, dengan cepat tangan Wijaya meletakkan kotak pensil di kursi Niki, membuat perempuan itu merasa terusir dan tertolak sekaligus.


Para peserta desain yang mencemaskan Rayhan, hanya bisa memantau dari jauh. Melihat postur tubuh Rayhan, mereka semua bisa menebak, lelaki itu jarang olahraga dan sering begadang. Yakin seratus persen, begadangnya itu untuk menyelesaikan pesanan kartun.


Xabil mengajak peserta desain berbincang di luar aula. Membahas banyak hal, bahkan meyinggung perkara roti manis Niki pagi tadi secara terplisit.


“Tau nggak, kenapa Rayhan pingsan?”


Kiki, Antony, Abigail, dan Gregor menggeleng.


“Paling, nggak sarapan.” sahut Safira enteng, dan tepat sasaran.


Niki yang mendengar itu langsung membuang muka.


Apalagi, Laras ikut menimpali, “Tapi kan, kita juga nggak ada yang sarapan. Berarti, dianya aja yang jarang olahraga.”


Xabil meringis tiba-tiba. Matanya langsung melirik Niki sampai mereka berdua beradu pandang. “Hmm, sarapan pake roti enak kali ya.”


Niki berdecak pelan, Xabil sedang menyinggungnya di tempat. Tapi, pikirannya sekarang tidak terfokus ke perkara roti tadi pagi, melainkan Wijaya. Hanya Wijaya.


Antony memergoki Niki kali ini, meski tanpa seringai seperti Wijaya, tatapan Niki sudah cukup menjelaskan situasi yang Ia alami. Yakin, something big will happen in a month later.