Sweet Pills

Sweet Pills
Bab 15. Jaminan Masa Depan



Manusia itu luas, samudera dalam setetes darah. Makhluk yang diberi akal dan rasa, mampu berpikir logis sekaligus menilai sesuatu secara subjektif. Dua hal yang diperlukan untuk menguasai ilmu seni, keseimbangan antara nilai guna dan estetika.


Mungkin hari ini Ia lebih menyukai ilmu alam yang sudah pasti, yang konkret di kenyataan, dan jelas terbukti. Berbeda dengan seni yang buram pemaknaannya karena selera yang berbeda-beda. Tapi bukan berarti, pecinta ilmu alam membenci ilmu seni.


Seperti Niki, seorang mahasiswa ilmu kimia murni yang hari ini sedang antusias membuat logo usaha kulinernya sendiri.


Sesampainya Ia di kost, tangannya segera mengambil kertas dan pensil. Ia mulai menarik garis lengkung membentuk sebuah lingkaran kecil.


"Kata Pak Budi, logo itu harus sesimpel mungkin dan autentik." ujarnya di depan meja, mengulang ucapan Pak Budi di kelas.


Lama Ia berpikir lalu menggambar. Berpikir lagi, menggambar lagi. Beberapa coretan yang menutupi desainnya tak terhitung lagi jumlahnya, hingga memenuhi kertas putih itu, dan logonya belum jadi juga.


Ternyata desain itu tidak mudah, khususnya logo. Antara terlalu banyak ide dan bingung mau menerapkan yang mana, atau terlalu banyak syarat tuntutan agar sempurna. Padahal, kesempurnaan itu akan tercapai seiring waktu. Harusnya, Ia teruskan saja logo yang Ia desain tadi di kelas.


Namun karena Pak Budi terus berkomentar bahwa logonya bukanlah sebuah logo, melainkan hanya sebuah desain kemasan, semangat desainnya seketika luntur.


Terkadang, hal yang membuat seseorang berhenti berkarya adalah kritikan orang lain. Pandangan mereka terhadap karya kita yang tidak sesuai dengan standarnya menjadikan kita enggan untuk meneruskan karya itu sampai selesai. Ada rasa malu yang menahan tangan untuk kembali menggambar, ada jutaan ragu di kepala untuk menghentikan ide itu bermunculan.


Memang benar, seorang desainer itu membuat karya untuk ditujukan kepada konsumen, yaitu penikmat estetika. Apalagi kalau seni kita diuangkan. Yang diutamakan jelas keinginan klien. Dan hubungan jasa satu ini sangat bergantung pada kecocokan selera satu sama lain.


Niki mengeluh. Bahkan kliennya meragukan dirinya sendiri. Penat Ia berprasangka, Ia pun menepi sejenak ke sudut kasur dan mengambil handphone ungunya.


Beberapa notifikasi muncul di layar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal Ia baca.


"Hai Niki. Aku Brian dari Otomotif. Salken. Save WA aku ya." ejanya dari notif.


Bola matanya berputar, enggan sekali Ia membuka aplikasi chat hijau satu itu. Seramah-ramahnya Ia ketika disapa, tetap saja risih itu muncul saat dihadapkan pada situasi ini. Menurutnya, nomor WA itu privasi. Dan hanya diperlukan saat situasi urgent.


Semakin dewasa Ia, semakin enggan untuk basa basi. Semua chat perkenalan itu bisa Ia tebak ujungnya. Ngumpul bareng di cafe dengan alasan mempererat silaturahim. "Basi."


Sebuah notifikasi kembali muncul. Kali ini berasal dari grup desain. Tanpa pikir panjang Ia langsung menekan pesannya.


"Besok pagi diminta seluruh peserta desain untuk sosialisasi singkat tentang kemnaker di ruangan Pak Dodi, direktur pelatihan kerja."


Lalu Gregor membalas pesan itu, "Pakaian besok apa, bu?"


Tanpa menunggu lama, Ibu Marisa membalas "Pakaian hitam seperti hari ini."


"Akh! Nggak cakep! Masa rapat pake baju kayak dicakar kucing begini?" Niki menggerutu di atas kasur.


Malam menyapa. Niki sedang membersihkan benang-benang rontok yang menempel di bajunya. Harap-harap, Ia akan lebih rapi dan layak untuk diskusi bersama orang penting besok.


Agenda dadakan di pagi hari membuat mereka tetap mengenakan seragam hitam lagi dan pergi menemui direktur pelatihan kerja di ruang rapat.


Mereka akan berdiskusi panjang lebar seputar dunia kerja dan adab sebagai calon anak magang. Kantor yang mereka tuju berada di gedung utama, di dalam ruangan yang bernama camelia.


"Permisi?" ucap Ryan memberi salam dibalik pintu yang masih tertutup.


Tak lama kemudian terdengar sahutan laki-laki dari dalam ruangan itu. Derap langkah mengikuti suara tadi semakin dekat ke pintu, lalu muncul wajah bapak-bapak berkacamata dengan nametag kecil di dada kirinya, Dodi Mulyawan.


"Ayo, silahkan masuk. Duduk, duduk. Rapat kita nggak lama, soalnya saya juga buru-buru."


Niki duduk bersebelahan dengan Antony. Matanya menelisik posisi duduk peserta desain yang lain.


Satu wanita yang duduk diapit oleh Wijaya dan Xabil itu membuatnya penasaran. Pasalnya, Ia tidak muncul beberapa hari yang lalu. Terakhir kali Ia melihatnya hanya saat diskusi aula untuk presentasi per jurusan, mbak-mbak full make up.


Pak Dodi membuka layar laptopnya yang sudah disambungkan ke proyektor. Ia menampilkan situs kemnaker di sana.


"Jadi, sebelumnya saya mau bertanya dulu. Siapa disini yang sudah pernah bikin akun di situs ini?" tanya Pak Dodi.


Wijaya, Gregor, Ryan, dan Finn mengangkat tangan. Pak Dodi lalu melanjutkan.


Seperti teman-temannya yang lain, Niki berdiri dan memotret kertas itu. Setelahnya, Ia kembali duduk untuk mengisi data siapkerja di kemnaker.


Dua puluh menit berlalu, mereka mengisi data itu lebih lama dari dugaan Pak Dodi. Meski beberapa kendala telah beliau bantu, tetap saja situs itu bisa down seketika. Dan hal itu, cukup memakan waktu.


Setelah sekian menit berlalu, Pak Dodi mengajak para peserta ngobrol ringan perihal pekerjaan dan keluarga masa depan.


"Skill desain grafis itu cukup tinggi diminati dan juga lapangan pekerjaannya sangat luas di era sekarang. Jadi, kalian jangan merasa rugi ya, karena mengikuti pelatihan ini. Setelah satu bulan, kalian akan magang di beberapa instansi yang bekerja sama dengan kantor pelatihan. Salah satunya, ada dinas provinsi daerah."


Kata sambutan beliau ditanggapi dengan anggukan serentak tanda setuju. Bukan percakapan namanya kalau hanya satu orang yang bicara. Beliau lalu memancing mereka untuk berpendapat.


"Kalian semua tentu ingin punya keluarga kan?"


Gregor dan Ryan mengangguk semangat. Dua lansia itu adalah bujang lapuk yang tak kunjung menikah. Mereka berekspektasi tinggi, Pak Dodi akan memberikan petuah hebatnya pagi ini.


"Nah, yang ngangguknya paling banter pasti sudah mentok usia, kan? Gini ya. Pekerjaan di zaman sekarang itu banyak yang fleksibel. Nggak selalu mengandalkan pegawai negeri. Skill desain yang kalian miliki setelah ini juga bisa membuat kalian berpenghasilan. Kuncinya cuma satu, tekun."


Pernyataan itu sepenuhnya benar. Tidak ada peserta yang menyanggah. Namun, raut wajah mereka masih keberatan sebagian. Entahlah, ucapan beliau terlalu imajinatif bagi beberapa orang. Karena faktanya, pegawai negeri tetap profesi unggulan di mata mertua.


Salah satu yang setuju sepenuhnya dengan ucapan beliau adalah Niki. Wanita ambis yang gemar berkarir itu seratus persen setuju.


Menurutnya, memiliki usaha sendiri lebih menjamin daripada kerja di bawah tekanan atasan. Setidaknya, Ia yang punya kendali atas perusahaan yang Ia dirikan, seperti yang sedang berjalan saat ini, bisnis kuliner miliknya.


"Disini ada yang punya usaha mandiri?" tanya Pak Dodi kemudian.


Niki langsung mengangkat tangannya. Lalu, Pak Dodi tertarik untuk mendengar pendapatnya.


"Saya punya bisnis kuliner, Pak. Sudah jalan dua tahun. Awalnya cuma jualan kecil-kecilan sambil pelan-pelan ngumpulin modal. Soalnya, kuliner ini harus menang nama dulu. Harus diakui dulu sama pembeli. Jadi, nggak berani langsung punya kedai besar."


"Iya. Benar itu. Nggak ada yang namanya langsung besar. Semua itu perlu proses. Pelan-pelan ngumpulin modal, nanti upgrade lagi. Kalo kuliner mungkin bisa nambah menu baru, bukan begitu? Mbak.. siapa namanya tadi?"


"Niki, Pak."


"Iya, Niki. Tapi kok ambil desain grafis, bukan tata boga?"


"Udah pernah, Pak. Sekarang yang saya perlukan itu skill promosi. Makanya belajar desain."


"Wah, bagus itu. Bagus. Semoga lancar ya usahanya. Udah punya NPWP berarti?"


"Belum, pak."


"Segera diurus ya. Minggu depan, saya juga mengundang narasumber dari bagian industri untuk membahas perlindungan hak cipta produk umkm. Pembahasannya bakalan luas. Ada sertifikasi halal, bpom, banyak lagi."


Mata Niki berbinar-binar di kursi. Antony bisa melihat antusiasme Niki seperti yang pernah diceritakan Ryan saat mereka wawancara.


Badannya berdiri tegak bahkan semakin maju, tambah maju. Kalau bisa, kursi itu Ia angkat langsung ke depan Pak Dodi agar mereka berdua bisa diskusi empat mata.


Kegiatan sosialisasi yang sangat berkualitas bagi Niki. Namun tidak untuk yang lain. Setelah mereka kembali ke ruang kelas, Pak Budi langsung masuk dan duduk di singgasana.


"Kita pindah kelas."


"Hah??!!!" sahut beberapa peserta desain.


"Komputer di ruangan ini nggak ada AI nya kan? Kemarin pas kalian bikin desain brief pake word semua saya lihat."


"Iya, Pak." sahut mereka kompak.


"Makanya itu. Kita pake komputer di kelas sebelah. Specnya lebih kuat untuk dipasang AI."


Niki terdiam kaku. Kali ini, nalarnya dalam keadaan mati dan hanya firasatnya yang menyala. Otaknya sudah menancapkan kalimat "warning", takutnya kelas baru yang dimaksud itu sama seperti mimpi episode kedua. Ruang komputer.