
Mentari sembunyi di balik bulan, bukan berarti sorot lampu itu berhenti bersinar. Ia tetap menyorot panggung dengan cahaya remang, senyap gelap mendekap malam.
Bahkan, Ia tidak sendiri. Angkasa ramai bertabur matahari lain yang letaknya lebih jauh, mungkin berada di luar galaksi bima sakti. Bintang-bintang itu berkelip gemerlap dalam selimut langit malam.
Saling bersahutan satu sama lain.
Wijaya beranjak dari posisi duduknya menuju lantai satu, mencari Niki. Lelaki itu kemudian menangkap seorang gadis yang sedang menatap langit.
Niki menengadah melihat langit malam, pikirannya larut dalam jutaan pertanyaan, sebanyak bintang yang bertaburan.
Padahal, ada ribuan cahaya di langit, kenapa hanya berharap pada sorot lampu matahari? Mereka sama-sama bintang, bukan? Hanya berbeda jarak, dan kebetulan, matahari adalah bintang yang paling dekat dengan bumi.
Memang benar ya, pandangan manusia itu terbatas.
Manusia itu makhluk yang sederhana. Semua sinar itu bernama bintang karena bentuknya nampak sama saja. Paling, hanya segelintir yang mengenali mereka, para astronom. Orang-orang spesial yang memiliki wawasan luas, suka bertualang, mencarikan teman untuk matahari. Kemudian, menemukan perbedaan antara bintang satu dan yang lain.
Wijaya menyapanya, “Nampak kecil ya, padahal aslinya besar.”
Jantungnya kembali berdegup. Lagi-lagi, matanya membulat penuh tanda tanya. Bagaimana bisa, Wijaya berkata demikian, persis seperti apa yang Ia pikirkan. Padahal, bulan juga ada disana.
Wijaya pun tersenyum miring, sama herannya. Bagaimana bisa, gadis ini selalu menatapnya dengan mata bulat begitu? Padahal, Ia hanya ingin mengajaknya bicara.
“Padahal setiap senja, ada Venus. Bahkan, kalau ke pantai, ada Venus, Mars, matahari, dan bulan muncul bersamaan.” Wijaya tiba-tiba membagi informasi tentang langit kepadanya.
“Kalau malam begini, hanya ada dua hal yang aku tahu, bulan dan bintang.” imbuhnya.
Niki masih diam tak bergeming, seraya Wijaya mendekat hingga mereka sama-sama menatap langit dari balik jendela lantai satu gedung desain grafis.
“Ada dua bintang yang aku tahu. Yang terang di ujung sana,” tunjuknya ke langit. “Dan satu lagi di sana, dekat bulan.” Ia menunjuk ke arah lain, bulan, tempat matahari diam-diam menyoroti keduanya, sambil bersembunyi.
“Apa namanya?” Niki pun tertarik, Ia menunggu Wijaya melanjutkan lagi ucapannya.
“Ini bulan Maret, yang paling terang itu namanya Aldebaran.”
“Darimana kau tau?”
“Karena itu bintangku, baru muncul di bulan Maret sampai Mei nanti. Bintang khusus Taurus.”
Hangat sekali. Niki tersenyum, menanggapi pengetahuan luas Wijaya yang dengan senang hati berbagi ilmu astronomi dengannya.
“Lalu, satu lagi namanya apa?”
“Hmmm… Kejora mungkin? Punya Lesti?”
Kedua orang itu pun tertawa. Mata Niki menyipit, melengkung mirip bulan sabit. Senyum Wijaya pun turut terukir, melengkung indah. Sangat manis dan langka.
Dingin dan manis, manusia es krim! Bukan, eskimo! benaknya. Sedangkan pikirannya sedang menyimpan situasi yang amat langka ke dalam memori khusus tentang lelaki dingin si peserta nomor dua belas, Wijaya.
Lelaki dingin ini berubah hangat di malam hari. Ada apa sebenarnya? tanya Niki kemudian, benaknya penasaran.
“Ayo masuk ke kelas. Bapaknya sudah datang.” ajak Wijaya.
Niki menganga. Rupanya, sekedar untuk mengajaknya kembali ke kelas. Wijaya tidak langsung mengatakannya begitu saja. Malah, mengajaknya berbincang dulu, seperti membujuk tanpa harus menyuruh menggunakan titah. He is a gentleman.
...∞...
Wijaya memimpin langkah di depan Niki. Keduanya menaiki tangga menuju kelas di ujung koridor lantai dua. Wijaya mendorong pintu kaca dan menahannya dengan satu lengan menunggu Niki melangkah masuk.
“Lama banget.” sapa seorang laki-laki asing yang tengah duduk bersama peserta desain grafis
“Patin!” teriak Xabil.
“Sini!” pintanya agar Niki mendekat. Mereka sedang bermain kartu UNO. Tadinya, Wijaya mau memainkan kartu itu bersama-sama. Nyatanya, Niki tidak paham aturan mainnya.
“Elah, percuma lu, Jay.” pungkas Abigail sambil membagikan kartu. “Ya udah, kalian atur aja malam ini mau ngapain, saya permisi dulu.” ucap lelaki asing tadi dan langsung keluar kelas.
“Tadi itu siapa bang?” tanya Niki ke Ryan, si ketua kelas yang Ia kira sudah kenal dengan semua orang di jurusan desain. “Ya mana saya tahu.” sahut Ryan enteng.
“Udah Bil, udah. Awas kesurupan lu, ketawa ngakak gitu.” tegur Mita. Xabil tiba-tiba menutup mulutnya dengan kedua tangan, memperagakan bagaimana perempuan tertawa dengan gelagat yang dibuat-buat. “Lebay!”
“Terus aku ngapain, nonton doang?” rengek Niki.
Kiki menarik tangannya memisahkan diri, “Sini, kita bahas seputar diet aja.”. Niki mengangguk semangat, ide bagus. Dirinya memang baru saja berhasil menurunkan berat badan sebanyak dua belas kilogram sejak tahun lalu.
Stress, tekanan dan tuntutan, keadaan yang kurang bersahabat, ditambah tanpa dukungan finansial. Ia tiba-tiba membengkak saking banyaknya keluh kesah yang Ia telan sendiri. Berat badannya naik hingga di angka enam puluh dua, obesitas ringan untuk tinggi badannya yang pas-pasan.
Proses diet yang Ia jalani benar-benar berat. Pagi, olahraga empat puluh menit. Siang, yoga. Sore, keliling komplek. Rutinitas selama empat bulan itu syukurnya, membuahkan hasil, benar-benar efektif. Beratnya pun stabil di angka lima puluh kilo sekarang, dan semakin turun karena Ia memaksakan diri sesibuk mungkin.
Kalau saja Ia tidak menurunkan berat badan, mungkin Wijaya tidak akan tersenyum hangat kepadanya seperti lima belas menit yang lalu. Bahkan bisa jadi, Laras tidak akan menyapanya ‘sini!’ pagi itu.
Beauty privilege is real. Secerdas apapun seseorang, poin utamanya tetap penampilan.
Niki diam-diam melirik Wijaya yang sedang bersenda gurau bersama peserta yang lain. Ternyata, dia jauh lebih hangat di malam hari. Bertolak belakang dengan dirinya saat pagi hari, sifatnya benar-benar dingin.
Niki kemudian meringis, mengingat lagi kejadian yang telah lewat satu hari ini. Mulai dari hymne membosankan, es krim di siang hari, presentasi jurusan, dan makan siang bersama di lantai aula.
Pertama kalinya bagi Niki bisa seakur dan sedekat ini dengan orang asing. Pertemanannya dengan para peserta desain grafis malah lebih rakat daripada kawan kampus seangkatannya.
Benar kata orang. Terkadang, menjadi benar-benar asing adalah kesempatan langka untuk memanjakan diri menjadi pribadi yang berbeda.
Stepping out of your comfort zone.
Satu hal yang sempat terlupa. Hal memalukan yang Ia katakan tiga kali ke Wijaya, saat pagi, saat siang, dan menjelang sore. Terutama, kejadian di tangga masjid yang tiba-tiba membuatnya membelalak.
“Sepatu merah?!” celetuknya tiba-tiba, mengejutkan satu ruangan. Sampai-sampai Kiki menjauh darinya, bahkan Mita sudah berpikir yang bukan-bukan, kesurupan kah?
Ah sial! Kenapa baru sadar?! lontarnya dalam hati. Kedua tangannya berada di kepala, berulang kali ingin mengacak-acak rambutnya yang tertutup kerudung. Dahinya mengernyit habis menatap Wijaya yang juga sedang menatap ke arahnya.
Tinggi, leher jenjang, pinggang yang lebih kecil dari bahunya yang lebar dan terlebih, yang paling krusial. Sepatunya merah!
Si mas itu, maksudnya Wijaya…?
Otaknya mulai menemukan kemiripan antara Si Mas dan Wijaya, sibuk bercocoklogi ria. Parahnya, Wijaya tersenyum dengan tatapan misterius, lurus ke Niki.
Antony – yang duduk di samping Wijaya – memperhatikan perubahan mimik wajahnya barusan. Ia pun membandingkan dengan tatapan peserta lain ke Niki – gadis yang hobi berteriak tiba-tiba itu – tapi, tidak ada yang memberi seringai aneh seperti Wijaya.
Ada apa dengan mereka berdua? batinnya, yang kemudian akan mejadi cikal bakal misi khususnya bersama Safira.
Wijaya, lelaki asing yang tak sengaja mendengar celetuk konyolnya sebanyak tiga kali. Bukannya menghindar atau ilfeel, lelaki ini justru mengajaknya bicara selama diskusi.
Wijaya, lelaki asing yang benar-benar dingin. Manusia eskimo yang suka menjawab dengan satu atau dua kata. Namun barusan, lelaki itu malah berbagi ilmu astronomi kepadanya, sambil tersenyum manis.
Wijaya, lelaki asing bersepatu merah. Hal penting yang baru Niki sadari dan mulai menghantui dirinya malam ini. Matanya enggan terpejam, kalah dengan hati yang masih ingin terjaga.
Perutnya tiba-tiba saja mulas, tiga kali Ia mondar-mandir ke toilet yang terletak di sebelah kanan pintu masuk gedung utama, tempat para peserta perempuan istirahat selama kegiatan orientasi.
Kebetulan, cewek jurusan tata rias menyimpan banyak buah-buahan untuk kegiatan malam ini. Mereka lalu mengajak peserta laki-laki agar mampir ke gedung utama. Salah satu dari mereka mengirimkan pesan dan langsung direspon histeris oleh kaum adam.
“Ish! orang mau tidur juga.” gerutu Safira.
“Eh, Niki kemana?” Laras menyadari Niki tidak ada di kasurnya. “Kayaknya masih di toilet tuh anak, kebanyakan makan patin, sih.” sahut Safira. “Guys! Kerudungnya disini.” Kiki menggenggam kerudung hitam yang menjuntai di ujung kasur Niki.
Keempat sekawan itu lalu bergegas mengantarkan kerudung Niki ke toilet. Tiga pintu digedor, untunglah ada sahutan di pintu ketiga. Namun, Niki malah keluar dari pintu pertama.
Ia memandangi keempat kawannya dengan tatapan heran, sementara raut wajah mereka menatap Niki ketakutan. “Aaaaaa...!!”
Bertepatan dengan itu, beberapa lelaki sudah menginjakkan kaki di awang pintu, seketika mereka berbalik dan lari terbirit-birit.
“Gedung utama berhantu! Ada teriakan sama bayangan cewek rambut hitam baju putih panjang di jendela! Sumpah, ngeri!”
Antony, si pecinta misi uji nyali mengernyit tidak percaya, sekaligus tertarik untuk mencoba sendiri besok malam. Ia lalu mengajak para cowok desain, termasuk Wijaya yang berusaha memejamkan matanya, good night.