Sweet Pills

Sweet Pills
Bab 18. UNO!



Pantang menyerah sebelum waktunya.


Percakapan perdana mereka di depan bintang dan bulan malam itu tidak mempan. Bukannya semakin dekat, keduanya justru lebih canggung. Ditambah lagi tragedi kunang-kunang yang diluar nalar itu sungguh membuat frustasi.


Wijaya belum menyerah. Banyak cara yang belum Ia coba. Dan tragedi motor mogok itu sudah cukup baginya untuk menepis jarak, akibat ucapan frontal yang mempermalukan dirinya sendiri. Tentu saja Ia harus tetap terlihat tenang, meski Ia tahu Niki sudah berpikir yang bukan-bukan.


Lingkar dada? Mesum sekali.


Tapi apa? Jelas-jelas Niki tidak menggubris apapun tentangnya, tentang bantuan yang Ia tawarkan, tentang tumpangan bersama Dzulfikar. Seakan hilang, tidak terjadi apa-apa. Benar-benar menyebalkan!


Selesai makan siang Ia duduk melantai. Tangannya membawa kartu UNO dan seketika beberapa orang berkumpul di sekitarnya.


Niki hanya duduk di kursi, bersandar pada sandaran besi sambil memperhatikan tangan Wijaya membagikan kartu itu ke seluruh pemain yang duduk di lantai.


"Jay, kelebihan. Totalnya cuma sembilan. Ini buat siapa?" tanya Antony kebingungan.


"Kukira Niki ikut main." Ia menjawab sambil melirik Niki di kursi.


Tentu saja wanita jaim itu terkejut. Apa yang Ia ketahui tentang UNO? Nihil!


Situasi itu mendesaknya turun, ikut duduk melingkar bersama yang lain. Ia lalu mengambil posisi di antara Antony dan Vanny.


Matanya jelalatan melirik kartu Vanny dan Antony. Ia gugup karena ini pertama kali baginya. Kartu-kartu ini harus diapakan?


"Jelasin dulu, ini gimana cara mainnya?!" Niki ngedumel di tempat.


"Ini lho mbak, pokoknya keluarin aja kartunya antara sama warna atau sama angka. Terus kalau ada pemain yang kartunya sisa satu, teriakin Uno!, gitu." Vanny menjelaskan aturan secara singkat kepadanya.


Permainan pun dimulai.


"Uno!" teriak Niki tiba-tiba.


Spontan semua yang duduk di sana menoleh ke arahnya. Wajah polos tanpa rasa bersalah itu benar-benar mengesalkan, Ia santai-santai saja dan menunggu seseorang untuk memulai permainan.


"Ambil kartu!" teriak semua pemain serempak.


Bukannya mengeluarkan kartu, Ia malah dipaksa mengambil satu kartu lagi. Ia kebingungan. Sungguh, tampang bodohnya tersingkap siang ini.


"Kenapa?!"


"Kalo salah ya situ harus ambil satu kartu lagi, hahahahaha!"


Terpantau, Wijaya sedang menahan tawa di tempat. Wanita satu ini benar-benar konyol. Seenaknya berbicara tanpa tahu resiko.


Semuanya serempak menertawakan kekonyolan Niki. Ia hanya bisa diam membisu menahan malu dan bertahan dalam permainan yang disebut Uno!


Wijaya membuka satu kartu paling atas dari tumpukan kartu sisa. Sebuah kartu kuning berangka lima.


Putaran dimulai dari Ryan lalu ke arah kanan. Ryan mengeluarkan kartunya yang sama-sama berwarna kuning nomor delapan.


Tiba-tiba Safira mengeluarkan kartu hijau dengan angka delapan. Niki perlahan memahami cara main Uno dari putaran pertama.


Beberapa kali Ia mendapatkan kartu reverse namun segera dibalas oleh Abigail. Hingga keduanya menyisakan dua kartu di tangan mereka.


"Wah! Hampir habis!" teriak Niki kegirangan.


"Mbak! Jangan dikasih tahu! Aduuuuh!" teriak Vanny di sebelahnya.


Si goblok... Niki Keita, kalau heboh dalam Uno, kau hanya akan membunuh dirimu sendiri dalam kekalahan berulang kali.


Mereka belum menjelaskan apapun padanya tentang satu kartu kosong yang tidak memiliki aturan apapun. Satu kartu khusus yang aturannya dibuat saat permainan dijalankan.


Wijaya dan Abigail pun sepakat untuk menulis aturan baru seenak jidat. "Boleh tukar kartu dengan pemain manapun."


Aturan bangsat.


Dan pemegang kartu itu tak lain dan tak bukan adalah Wijaya. Sumpah, putaran ini seperti sudah direncanakan.


Gilirannya pun tiba. Tanpa aba-aba Ia keluarkan kartu bangsat itu lalu melihat ke arah Niki.


Kali ini tatapannya jauh lebih menyebalkan dari hari-hari sebelumnya. Seakan muncul tanduk lucifer di ujung kepalanya. Licik.


"Aku mau bertukar dengan kartu Niki."


Lagi, wajah bodoh itu tersingkap lagi.


Di tangan Wijaya ada lima kartu. Dan Niki ogah-ogahan menyerahkan kartunya ke lelaki jahanam satu itu. Namun, aturan tetaplah aturan. Harus dijalankan.


Wajah tidak ikhlasnya menatap Wijaya penuh kebencian. Ia ditindas habis-habisan.


Memang, menjadi menyebalkan jauh lebih ampuh untuk mendekatinya. Walaupun harus menatap mata bulat penuh benci dan hidung peseknya yang kembang kempis, tidak apa-apa.


Permainan masih berlangsung di antara empat orang. Wijaya, Ryan, Vanny, dan Niki.


"Woohoo! Punya Vanny udah kayak colour model RGB." teriak Niki histeris.


"Mbaaaak!!"


Gadis ini benar-benar tidak tahu terima kasih. Vanny pun membalasnya dengan kartu unggulan dalam permainan ini, plus empat.


"Tambah lagi!"


Ryan berhasil keluar, Vanny juga berhasil. Tersisa Niki dan Wijaya.


Di tangan Niki masih ada tujuh kartu lagi. Walaupun Ia dapat dua kartu cantik, tapi apa gunanya kalau semangat kalahnya lebih mendominasi.


Kini giliran Wijaya. Ia harus cepat mengatakan Uno sebelum keduluan lelaki jahanam ini.


Kartu plus empat keluar!


"Uno!" teriak mereka berdua bersamaan.


"Wijaya duluan!" sahut yang lain, seakan sepakat untuk membuat Niki kalah.


Niki memang seseru itu untuk dikerjai, naif sekali gadis malang satu ini.


Giliran Niki mengeluarkan kartunya. Ia memilih untuk mengeluarkan kartu cantik, yaitu empat warna yang bebas pilih. Setidaknya ada harapan.


"Mau warna apa?" tanya Wijaya kemudian.


Hanya tersisa satu kartu yang tidak diketahui Niki. Seluruh pemirsa hening menunggu keputusan Niki. Lama sekali Ia menimbang-nimbang, membuat mereka semakin penasaran dengan keputusannya.


Perbandingannya satu banding empat.


Niki pun memutuskan untuk memilih warna yang selama ini jarang dilihatnya di putaran terakhir.


"Hijau!"


Cocok. Satu ruangan berbalik berusaha menyembunyikan ekspresinya dari Niki. Heran, kok bisa pas? Padahal kan satu banding empat!


Antony bergumam pelan ke mereka, "Kebetulan kah ini namanya?" dan mereka semua mengangguk perlahan. Anggap saja kebetulan.


"Yakin..?" tanya Wijaya menggoda.


"Yakin!" keyakinannya salah tempat.


Dan akhirnya, Wijaya mengeluarkan kartu hijau sekali bantingan. Ia segera berdiri bangkit dari sana, meregangkan kaki panjang yang telah tertekuk lama, melenggang keluar dari pintu kaca.


Haha, hijau.. hijau..


Terdengar teriakan frustasi Niki dari dalam kelas, membuatnya tertawa di setiap pijakan anak tangga menuju masjid seorang diri.


Sudah ke berapa kalinya kebetulan antara mereka terjadi? Belum genap dua minggu mengenal Niki, rasanya seperti sudah berteman lama dengannya. Senang bisa membuat gadis naif itu kesal sampai segitunya, menggemaskan.


Selesai membereskan kartu, peserta lain bersama-sama menuju masjid untuk menunaikan ibadah dhuhur.


Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan lelaki dari jurusan otomotif, ada Brian di antara mereka, lelaki yang pernah mengirim pesan kenalan kepada Niki.


"Niki.." sapanya pelan.


Untungnya kedengaran. Niki pun menoleh dan tersenyum sambil menunduk. Harus tetap sopan meski enggan.


Sesampainya di tangga masjid, Ia buru-buru melepas sepatu dan kaos kaki, lalu berlari menuju pintu masuk jemaah wanita. Safira mengejarnya dari belakang.


Mereka sedang berebut mukenah merah muda dengan motif bunga di depan pintu lemari. Satu-satunya mukenah layak pakai di masjid ini.


Vanny sih santai-santai saja, Ia selalu sedia mukenah dari rumah. Ia hanya perlu meletakkan miliknya di sebelah mukenah mereka, lalu pergi mengambil wudhu.


Semua jemaah sudah siap menunggu qomat. Para wanita sudah selesai mengerjakan ibadah sunnah. Niki duduk di tengah-tengah Vanny dan Safira menggunakan mukenah pink bunga-bunga.


Tiba-tiba angin berhembus kencang sampai masuk ke dalam masjid, mengangkat tinggi tirai penghalang antara jemaah pria dan wanita, membuka tabir antara mereka berdua, tanpa sengaja.


Ternyata, Wijaya duduk tepat di depan Niki. Gadis itu lalu menunduk. Dan Wijaya segera berdiri keluar mengambil batu besar untuk mengganjal tirai.


Bahkan di dalam masjid, dalam keadaan menunggu qomat, setan sempat-sempatnya mengganggu fokus dua orang ini. Cobaan yang cukup berat, istighfar.. istighfar.


Sudah jelas mereka memang bertemu untuk sesuatu yang lebih besar, bukan sekedar kebetulan! Bahkan masjid pun mendukung!


Seusai ibadah, para wanita masih duduk di dalam masjid, menunggu para lelaki listrik selesai mengenakan sepatu lalu pergi.


Safira dan Vanny mengintip situasi di tangga masjid. Para lelaki jurusan teknik listrik itu belum juga menyingkir.


Dilihatnya, ada Xabil dan Abigail berjalan menuju tangga, Safira pun bergegas mengikuti keduanya dari belakang. Setidaknya kalau ada mereka, para wanita ini pasti aman.


Niki dan Vanny turut mengekor di belakang Safira. Sesampainya di tangga masjid, mereka berlima memasang sepatu bersamaan.


Seorang lelaki memanggil nama Niki tiba-tiba, kali ini dari jurusan teknik listrik. Semua yang ada di sana mendengarnya, namun mereka memilih diam. Tidak ada yang menggubris.


Xabil dengan cepat mengalihkan situasi agar para wanita ini merasa aman. Ia mengajak ketiganya mengobrol santai dan sebisa mungkin menunjukkan keseruan yang membuat lelaki itu bungkam.


"Gede amat, nomor berapa sepatumu?" ejek Xabil ke Niki.


"39."


"Hah? Seukuran kakiku!" celetuk Abigail.


Wijaya datang bersama Antony dan Ryan. Mereka bertiga cepat memahami keadaan, lalu turut nimbrung sambil mengelilingi para wanita itu agar tidak nampak dari pandangan para lelaki genit.


Dan untuk pertama kalinya, Niki sangat merasa dilindungi. Pertama kali Ia berurusan dengan laki-laki yang benar-benar gentle di kota ini, mereka semua berjalan di depan, tidak ada yang di belakang. Sebisa mungkin menjadi perisai agar para wanita ini selalu aman selama mereka berada di sisinya.