
Enchanted. Bukan lagi tentang kata onar gempar nan berisik dua puluh menit yang lalu, melainkan tentang kenyataan yang dialami sosok bersepatu merah setelah sadar dari lamunan sekilat.
Seberkas kejadian asing melintas di pikirannya, bertepatan saat kakinya menginjak daun ketapang tua.
Ia hampir roboh, tak sadarkan diri. Namun teriakan Niki berhasil menyadarkannya kembali.
Matanya menatap gadis berbaju navy. Ia meremehkan Niki awalnya. Sebelum kemudian sadar, Niki satu-satunya peserta yang mengenakan baju navy.
Berhasil? Aku berhasil menemukannya!
...∞...
Setahun yang lalu, seorang gadis mengalami kejadian aneh di dunia lain, alam bawah sadar. Niki Keita, Ia mengira dirinya tidak waras, tersenyum dan tertawa sendiri setiap Si Mas mekar di salah satu bunga tidurnya.
Seorang lelaki yang diburamkan semesta rupanya. Bertubuh tinggi dengan bahu yang lebar. Dada bidang dan leher jenjang, kerap menemuinya di beberapa mimpi kembar tiga.
Lelaki yang Ia juluki Si Mas adalah kejanggalan yang Ia sadari penuh misteri.
Awalnya Ia abai, namun tiba-tiba di mimpi lain mereka kembali bertemu. Dengan pola yang sama, berulang sampai tiga kali di malam-malam tertentu.
Dan mimpi pertama tentang sosok misterius itu, ketika Ia sedang mengikuti acara jalan santai.
Dua orang lelaki sibuk bergumul di sebelah kanannya dalam sebuah barisan. Lelaki yang lebih pendek meminta untuk bertukar tempat dengan lelaki yang jauh lebih tinggi di barisan depan. Mereka pun bertukar, dan sosok jangkung ini mengenakan sepatu merah.
Niki melirik ke kanan sebentar. Penasaran dengan rupa, Ia pun mendongak perlahan menyusuri proporsi sempurna lelaki itu.
Pinggang yang lebih kecil dari bahu, dada yang sangat bidang, postur tegap, bahkan bayangannya saja tampan.
Ia lalu meneruskan hingga ke lehernya, sangat jenjang. Ia terus melihat ke atas, cukup panjang untuk mendongak karena tinggi Niki hanya sebahunya.
Ketika mencapai wajah, tiba-tiba sekelebat asap memburamkan wajahnya. Ah, hampir saja.
Tak berhenti sampai disana, peluit ditiup.
Mereka semua mulai jalan santai, dan Niki masih bersebelahan dengan Si Mas.
Mereka lari santai bersamaan. Dengan langkah kompak, Niki kembali penasaran.
Namun lagi-lagi, gagal. Kali ini, tali sepatu Si Mas lepas. Dua kali, Ia kecewa lagi.
Harap-harap Si Mas kembali muncul, Ia dikejutkan oleh seekor kunang-kunang berpendar hijau yang tak sengaja hinggap di bahu kirinya. Tak lama, kunang-kunang mungil itu terbang ke bahu lelaki yang sedang lari santai di depan Niki.
Si Sepatu Merah! Si Mas muncul lagi!
Harapannya tak jadi sirna. Namun tetap saja, ketika Ia akan menyingkap wajah misterius itu, Si Mas mengulurkan tangan kanan dan berkata “Ayok, bareng.”
“Lagi! Mimpi itu lagi!” Ia terbangun, membentak dinding kost di tengah sepinya hari, di waktu subuh menjelang pagi.
...∞...
Di suatu sore yang tenang, Niki pergi menemani dua kawan kampusnya – Oxel dan Mila – untuk membeli perlengkapan bucket ke berbagai toko alat tulis.
Di salah satu toko yang Ia kunjungi, matanya tidak sengaja melihat sebuah buku berjilid roll hitam yang tebal bertengger di muka estalase toko.
Sampul cokelatnya ditimpali lukisan bunga, menghiasi setiap sudut buku. Kertasnya tebal tanpa garis, berwarna putih gading. Buku yang sederhana, tapi membuat Niki terkesima.
“Kak, buku ini satu.” ujarnya di kasir.
“Empat puluh enam ribu, kak.” jawab penjaga kasir toko itu. Tanpa mengeluh, Ia langsung mengeluarkan uang lima puluh ribu dan menerima angsulan empat ribu.
“Mau ngelukis, mbak?” celetuk Oxel yang antri di belakangnya.
Niki menggeleng, “Nggak, bukunya cantik aja.”
Semua keperluan bucket sudah lengkap. Mereka bergegas mengerjakannya di kost Oxel. Niki tidak ikut merangkai, tangannya tak selihai Oxel dan Mila kalau urusan tata menata. Ia disana untuk memotret hasilnya saja lalu diunggah ke akun sosial media. Sembari menunggu, Ia menulis pembukuan keuangan usaha mereka bersama.
Niki masih mengingat mimpinya. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, menatap lantai dan langit-langit berkali-kali. Tak pernah Ia ceritakan ke siapapun, namun semakin dipendam, semakin membuatnya penasaran.
Buntu, Ia pun bertanya ke dua orang sahabatnya.
“Guys, kalian pernah mimpi yang sama sampai berulang tiga kali, nggak?”
Mendengar pertanyaan random Niki, Mila merespon enteng, “Boro-boro diulang, ingat aja nggak.”
Tuduhan yang bagus. Ucapan Oxel menjadi awal mula Niki menuliskan mimpinya yang berulang tiga kali di buku baru itu. Dan cerita perdana di lembar pertama buku itu adalah, “Sepatu Merah, Siapa Tuanmu?”
...∞...
Ceklek
Perempuan berbaju navy keluar dari ruangan wawancara sambil tertunduk, wajahnya murung, karena harapannya baru saja musnah oleh lelaki renta yang melewatinya begitu saja, tanpa sapa.
Ada yang menanti dirinya di ruang tunggu. Tuan bersepatu merah langsung semangat, kepalanya mengekor kemana pun Niki melangkah.
Selama duduk menunggu dipanggil, berapa kali Ia eye contact dengan para wanita di ruangan itu.
Tatapan yang sudah tertebak, penasaran dengan wajah di balik masker.
Bahkan beberapa pria menatapnya sinis, menganggap di detik itu, mereka sedang bersaing menjadi yang tertampan.
Suasana yang cukup memuakkan baginya sirna seketika karena Niki akhirnya muncul lagi. Matanya menyipit, mencoba membaca kalimat yang digumamkan Niki sambil berjalan cepat menuju pintu kaca, “Ha – us Ba – nget.”
“Larasati.” satpam gedung kembali memanggil peserta berikutnya.
Wanita yang duduk di sebelah tuan bersepatu merah langsung berdiri dan berjalan menuju sumber suara, “Duluan.” sapanya sopan.
Sayang sekali, tanpa teralihkan sedikit pun, tuan tampan ini masih memperhatikan Niki yang kini menenggak sebotol air mineral di depan motor beat merah.
Melihat caranya minum sambil berbincang dengan kawannya, menjadi hiburan tersendiri hingga Ia tidak mendengar bahwa namanya juga dipanggil.
“Kok sama..” batinnya, saat melihat wajah Niki, dan sadar bahwa motor besarnya yang berwarna merah bersebelahan dengan beat merah itu. “Bahkan warna motor pun sama.” gumamnya pelan.
“Jay..” kawannya menepuk pelan bahunya namun tidak direspon.
Heran, apa yang membuat lelaki sipit ini tersenyum sendiri, benaknya.
“Jay!” bentaknya lagi tapi nihil, masih tidak direspon.
Satpam ruangan yang berulang kali memanggil namanya sampai repot-repot berjalan mendekat, tatkala kawannya itu berulang kali menunjuk dirinya ke arah satpam.
Si satpam pun mendekat ke sampingnya.
“Tuan Wijaya Bayuaji.”
Ia tersentak, “Oh! I-iya, pak.”
“Sadar juga. Sono, cepetan.” kawannya mendengus sebal, sebelum akhirnya ditinggal sendirian.
Ruang wawancara yang kecil untuk badan setinggi Wijaya. Perempuan bernama Laras melihatnya masuk dengan mata penuh binar.
Bu Yuni pun menebak, Laras jatuh hati padanya. Tapi, kalau diperhatikan baik-baik, Bu Yuni sendiri juga sependapat, siapapun yang melihat Wijaya pasti langsung suka.
Lelaki itu pun melepas maskernya.
“Disini kamu nulis dua, desain grafis dan tata busana. Kamu mau pilih yang mana? Wawancaranya barengan lho.” ujar Bu Yuni ke Wijaya.
“Saya sudah putuskan untuk ikut desain grafis. Di gedung tata busana nggak ada cowoknya tadi saya lihat. Jadi, mending disini aja. Lumayan banyak peserta laki-laki yang daftar.”
Bu Yuni mengangguk, memahami maksudnya. Lalu, beliau menunggu jawaban Laras. “Saya nganggur, bu. Saya ikut pelatihan ini untuk mengisi waktu luang, itung-itung, nambah softskill juga.”
Bu Yuni kembali manggut-manggut, “Hmm… nganggur, ya.”
Wawancara mereka berlangsung cukup lama karena Wijaya menjawab semua pertanyaan itu dengan sangat detail seperti, alasannya memilih desain dan tata busana sekaligus, karena Ia punya usaha tailor di rumah.
Ia berminat untuk merealisasikan hasil desain busananya, dan kelak, dipajang di butik pribadinya. Ia bahkan sudah menyiapkan merk bajunya. Cukup mirip seperti Niki, Ia ingin mempromosikan produknya secara mandiri.
Ia bahkan menceritakan pengalaman kerjanya dan mendapat pelajaran hidup bahwa sertifikat keahlian sangat penting dimiliki agar orang tidak semata-mata melihatnya sebagai seorang amatiran, meskipun kemampuan yang dimilikinya bisa dikatakan selevel expert.
Walaupun wawancara itu didominasi oleh Wijaya, Laras tidak keberatan sama sekali. Pikirannya menangkap semua ucapan Wijaya dan menyimpannya sebagai informasi tentang lelaki itu. Ia sangat berharap, lelaki tampan ini lolos bersama dengannya.
Lima hari setelah wawancara telah berlalu, pengumuman yang dinanti-nanti calon peserta pelatihan pun tiba.
Sayang sekali, Laras tidak lolos dan masuk dalam daftar tunggu, waiting list. Malam itu, Ia berharap ada satu atau dua orang yang mengundurkan diri karena dilihatnya, nama lelaki itu lolos di nomor urut dua belas, dibawah nama Niki Keita.