Removed

Removed
Curiga



Setelah aku benar-benar sembuh dari demam dan kembali bersekolah, aku dan Kaito baru menyadari ketidakhadiran Shouta.


"Hmm.. Apa dia juga sakit ya?" gumam Kaito, nampak sedang berpikir.


"Mungkinkah Shouta-kun terjangkit flu dan demam sepertiku sebelumnya?" ucapku, mulai khawatir.


Akhirnya, kami mendatangi Maeda sensei sepulang sekolah.


"Ah, Yamanaka-kun? Entahlah. Sekolah tidak mendapatkan kabar dari pihaknya. Jadi, dia akan dianggap absen selama beberapa hari ini. Bagaimana jika Fujisawa-chan dan Doujima-kun mampir ke rumahnya? Tunggu sebentar, sensei akan mencarikan alamatnya." ujar Maeda sensei.


Kami pun menyetujui saran Maeda sensei. Seketika menerima alamat rumah Shouta, Kaito tiba-tiba terkejut, lalu terdiam selama beberapa saat.


"Ng? Kamu kenapa, Kaito-kun?" tanyaku spontan.


"Eh, aku tidak apa-apa. Yuk, berangkat." balasnya.


Di depan kediaman Yamanaka..


TING TONG


Tanpa ragu, aku menekan bel di dekat pintu masuk. Lalu, seorang wanita muncul dan menanyakan tentang kami.


"Kami adalah teman-teman Shouta-kun. Beberapa hari ini, kami mengkhawatirkan Shouta-kun yang tidak masuk sekolah." jawabku apa adanya.


"Ah, begitu. Shouta-kun memang sedang sakit." kata wanita itu.


"Apakah Anda adalah ibunda Shouta?" tanya Kaito, tanpa berbasa-basi.


"Benar. Silahkan masuk." kata wanita itu ramah.


Pastinya, luas rumah Shouta biasa saja jika dibandingkan dengan rumah keluarga Doujima. Namun, rumah itu cukup asri karena ditanami tumbuh-tumbuhan hijau dan nampak cukup terawat.


Sejujurnya, ini adalah pertama kalinya bagiku mengunjungi rumah seorang teman. Walau akan terasa lebih canggung lagi, aku bahkan belum pernah berkunjung ke rumah Kaito.


"K-Kaito-kun? Kaede-chan?"


Seketika memasuki rumah itu dan tiba di kamar Shouta, pemuda itu langsung terbangun dari ranjang dan berusaha menyapa kami.


"Tenang. Istirahat saja." kata Kaito, langsung menyuruh Shouta berbaring kembali.


"Uwaa.. Aku tidak menyangka kalian akan berkunjung kemari. Aku senang sekali." ucapnya jujur dan terharu.


"Hehe. Shouta-kun, sebenarnya kamu sakit apa?" tanyaku, karena mulai penasaran.


GLEK


"A-aku baik-baik saja!" jawabnya panik dan nampak malu.


"Eh.. Lalu, mengapa kamu tidak masuk sekolah?" tanyaku lagi.


"Itu.."


"Jangan-jangan, kamu terkena penyakit yang memalukan?" sindir Kaito iseng.


"Eh... Te-teganya kamu, Kaito-kun!" seru Shouta, semakin terlihat gugup dan terdesak.


"Hentikan, Kaito-kun." geramku.


"Jangan memarahinya, Kaede-chan. Sebenarnya, aku memang memalukan.. Beberapa hari sebelumnya, karena sendirian di rumah aku mencoba-coba untuk memasak.. Jadi, aku.." kata Shouta.


"Keracunan makanan?" sahut Kaito.


"Kaito-kun!" bentakku.


Kaito malah tertawa-tawa. Meski dia tidak memiliki maksud negatif, terkadang aku merasa kesal melihat sikapnya yang iseng.


"Benar..." jawab Shouta malu, dengan wajah yang sedikit tertunduk.


Aku pun menyentuh pundak Shouta, lalu mencoba untuk menghiburnya.


"Itu sama sekali tidak memalukan. Shouta-kun mengagumkan karena telah berusaha mandiri, tanpa kehadiran orang dewasa." pujiku tulus.


"Kaede-chan.. Kamu memang seperti malaikat." ucapnya, sangat terharu.


"Huh." geram Kaito, lalu membuang muka.


Entah mengapa, hari ini Kaito bersikap sedikit kekanakan.


"Aku pulang saja." kata Kaito tiba-tiba.


"Eh.." responku spontan.


"Nampaknya, Kaede akan merasa lebih nyaman tanpaku di tempat ini. Hubungi aku, jika Shouta berbuat aneh kepadamu." tambahnya, seraya beranjak pergi.


"Kaito-kun.." ucapku pelan dan kebingungan.


Aku dan Shouta hanya bengong hingga pintu kamar Shouta ditutup dan Kaito benar-benar telah pergi.


"Kaede-chan.. Maafkan aku." ucap Shouta khawatir.


"Tidak, ini bukan salahmu. Hari ini, aku benar-benar tidak memahami Kaito-kun. Sikapnya menyebalkan sekali!" gerutuku.


Akhirnya, aku menghabiskan beberapa saat di rumah Shouta dan sempat berbicara dengan ibunda Shouta yang bernama Akemi, serta adik perempuannya yang bernama Aoi.


Sementara itu, Kaito telah sampai dan berdiam di dalam rumahnya.


"Ukh.. Aku malah jadi bersikap seperti itu kepada Kaede. Tapi, benarkah Shouta adalah anak dari Kouji Yamanaka? Ah, sial! Padahal, sebentar lagi hari ulang tahun Kaede!" desah Kaito, dengan perasaan gelisah dan kesal.


...****************...


Beberapa tahun lalu, saat Kaito masih duduk di bangku SD..


"Eh?! Benarkah seleksi untuk kepala pelayan baru keluarga Doujima adalah hari ini?" seru seorang laki-laki, yang kira-kira berusia awal 40 tahun.


"Benar. Kamu tidak tahu, Kouji-san?" jawab seorang teman yang sebaya dengannya.


"Yama-san memang selalu siap dan tanggap. Kurasa, takkan ada yang mampu menandingimu." jawab Kouji.


"Ah, bicara apa kau? Bukankah kamu dikenal sebagai pelayan yang paling setia bagi keluarga Doujima selama ini?" balas Yama.


"Ehm.. Itu karena aku telah lebih lama menjadi pelayan. Dan kamu dikenal sebagai Kinoshita Yama, pelayan terkuat dan serba bisa. Lagipula, kamu juga tampan. Pasti, semua orang akan memilihmu dari sekian banyak kandidat." ujar Kouji.


Saat itu, Kaito yang baru pulang dari sekolah kebetulan mendengarkan pembicaraan kedua orang tersebut.


"Huh. Nampaknya, mereka kurang menghargai posisi dan semua yang telah diberikan oleh keluarga Doujima." geram Kaito seorang diri.


"Jangan bersikap lemah seperti itu! Seharusnya, kau lebih serius berjuang! Bukankah Kouji-san sangat menghormati dan mengagumi Tuan Besar dan Tuan Muda?" sentak Yama tiba-tiba.


"Eh.." Kaito pun terpana.


"Itu benar. Namun.. Kurasa, kali ini aku takkan mampu melayani mereka lagi." jawabnya, nampak serius dan sedikit lesu.


"Apa..? Mengapa, Kouji-san?" desak Yama.


"Maaf. Aku tidak dapat mengatakannya padamu, Yama-san. Sesuai rekomendasi dari Tuan Besar, aku tetap akan berpartisipasi. Namun, aku akan segera mengundurkan diri setelah gagal dalam seleksi."


Entah apa maksud dari kedua orang lelaki dewasa tersebut, semenjak hari itu Kaito tidak pernah melihat seorang bernama Kouji dalam lingkungan keluarganya lagi, serta hanya menganggapnya sebagai seorang pria yang kurang kompeten.


Tak lama setelah orang itu mengundurkan diri, mulai terdengar rumor-rumor aneh yang berkata bahwa Kouji tergabung dalam sebuah organisasi terlarang yang sangat berbahaya dan misterius. Sebuah perkumpulan orang-orang jahat yang tidak segan membunuh dan merugikan orang lain melalui ancaman fisik atau teror tertentu.


Apalagi, sekitar dua tahun kemudian, Kouji Yamanaka dinyatakan telah meninggal dunia dengan alasan yang tidak diketahui oleh siapapun.


Perlukah Kaito mempedulikan hal semacam itu? Akankah ia mencurigai keluarga Yamanaka yang telah cukup lama saling mengenal dengan keluarga besarnya sendiri?


Yang terpenting dari semua itu dan terlepas dari yang nampak, apakah Shouta Yamanaka adalah seorang pemuda yang berbahaya?


"Tidak. Tidak mungkin! Shouta bukan orang yang seperti itu.." gumam Kaito, masih bergumul dalam pikirannya saat ini.


Tanpa dapat bersabar lagi, Kaito langsung menghubungiku.


"Halo?"


"Kaede! Kau baik-baik saja, bukan? Kamu dimana sekarang?"


Ucapan Kaito terdengar menyentak, alih-alih bertanya dengan baik.


"Aku baik-baik saja di rumah saat ini. Ada apa denganmu, Kaito-kun? Hari ini, kamu aneh dan ajaib sekali." kataku, sambil menggerutu.


"Haha.. Aku hanya khawatir. Maafkan aku, Kaede."


"Huh. Ya sudah. Kalau begitu, kamu harus membuatku tertawa lagi." ucapku, masih mengambek.


"Kamu manis sekali, Kaede." ucap Kaito, sambil tertawa kecil.


DEG


"A-apa tidak ada hal lain yang ingin kau katakan kepadaku?" tanyaku, mulai tersipu.


"Aku mencintaimu, Kaede."


"Uh.." ucapku malu dan tanpa sadar.


"Uh? Kenapa? Kamu tidak suka?" tanya Kaito, bingung dan tidak sabaran.


"Aku suka.. Aku juga.. suka pada Kaito-kun yang menyebalkan."


Dengan perasaan kami yang selalu serupa, nampaknya kisah remaja yang bagaikan mimpi ini akan mampu bertahan hingga selamanya.


- Bersambung -