
Kendaraan beroda empat yang menebas habis sebuah takdir terbuka salah satu pintunya. Mobil yang digunakan sebagai off-road pada era ke 80an ini termasuk ke dalam salah satu benda terlangka yang pastinya diburu oleh banyak orang di dunia.
Desain yang cenderung mengotak, lampu bagian depan lingkaran cembung sempurna dan bagian belakang yang lebih cenderung berbentuk balok. Ban serep untuk jaga-jaga jika salah satu karet ban mengalami kerusakan masih terpasang pada bagian belakang dibandingkan berada di dalam.
"Te-terima kasih... su-sudah..." Seorang gadis remaja yang menginjakkan kakinya di atas tanah luar dari penyapnya dalam kendaraan langsung terjatuh pingsan. Ketidaksadaran dirinya diakibatkan oleh faktor tertentu yang tak diketahui oleh keduanya.
Perempuan...!? Reinu terkejut tersangkut otaknya di saat bereaksi secara langsung terhadap seorang pengemudi.
Keduanya menghampirinya. Reinu sempat tak asing melihat tinggi badannya, apalagi pola dan warna rambutnya. Tapi ia tak berani mencerminkan reaksi kepadanya terlebih dahulu. Karena ingin memastikan dengan persentase sebanyak 100% bahwa seorang gadis yang sedang berada di hadapannya adalah anak itu.
"...seragam SMA, kita?" ucap Ayako. Ia langsung saja bisa menebak baju yang ternyata adalah seragam SMA perempuan dari Akademi Majishi.
Reinu menyentuh telapak tangannya pada rambut bagian belakang. Alon-alon memutar kepalanya sedikit demi sedikit. Emi...?—"Emi!?" Reinu terdorong ke belakang akan kejutan terhadap seorang gadis yang dikenalnya.
"Ha...? siapa... Reinu? kenapa kamu di sini?" Emi belum dapat melihat pantulan cahaya yang masuk ke dalam pupil secara jelas. Iris mata masih bekerja sekuat tenaga untuk menyesuaikan terang gelapnya cahaya. Ia bisa memastikan orang yang menggerakkan kepalanya adalah teman sekelasnya dengan hanya menyesuaikan suara Reinu sebelumnya dan sekarang.
Ia belum sadar kalau Ayako juga hadir. Bentuk wajah yang belum berbentuk dari pandangannya, ia hanya dapat menyimpulkan bahwa anak yang ia pandangnya adalah salah satu murid akademi karena bentuk dan warna seragam yang terlihat jelas.
"Ini, siapa...?"
"Ayako. Maaf kalau misalkan kita meninggalkanmu sendiri... lagian..."
"Ayako ternyata ikut denganmu..."
"Ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa mengendarai mobil? Bukannya usiamu hanya dibolehkan, sepeda?"
"Heh!? A-a-a-a anu. Ini bukan seperti yang kalian pikirkan oke!?" Seketika Emi bangkit sempurna dari ketidaksadarannya. Ia menjauhi dirinya dari kedua anak yang berada di depan mata.
Hanya reaksi heran, Ayako berbisik, "Haah... dia tiba-tiba bangkit."
"Yap... ternyata dia berbohong," jawab Ayako.
"Hey, Hey! Aku bisa mendengar kalian berdua!"
"Emi... kita bicarakan masalah ini nanti."—Ayako mendirikan tubuhnya seperti semula—"Sekarang, apa kamu bisa mengantar kita berdua?" tanyanya.
"Mengantar? Bisa sih... memang mau ke mana kalian?"
"Tempat rebahannya, Reinu."
"Maksudmu rumahnya? Ternyata tujuan kita sama—"
"Emi. Jangan-jangan, arah jalanmu sama...?"
"Aku juga berpikir sama..." Emi menundukkan pandangannya mengarah kedua telapak tangan yang menyilang di atas paha.
"Yaudah."—Reinu kembali berdiri—"Kalau begitu, apa sekarang boleh kita ikut denganmu? Lagian diriku malas untuk berjalan lagi..."
Wajah Emi tiba-tiba berubah drastis. Tampak capek melihat manusia yang ringkih. "Reinu. Jangan bilang kau memang mengharapkan bantuan jalan," responsnya.
"Eh!? Aku gak seburuk itu!"
"Kalau begitu, mengapa ekspresimu seperti melihat harta karun?"
"Eh? A... anu... gini-gini. Kau melihat Ayako bukan? Dia sembuh total!"
"Terus, apa hubungannya?"
"Yaa... ada hubungannya lah—"
"Jadi, apakah kalian jadi ikut denganku?"
"Pertanyaanku saat ini, apakah kau bisa mematahkan gasmu?" Kata-kata Ayako seperti sebuah tantangan bagi Emi. Begitu juga pikiran Ayako yang terlebih dahulu memang ingin menantang sang sopir untuk mematahkan tancapan gasnya sampai tujuan.
Untuk mobil kuno berjenis off-road memang tak semestinya digunakan untuk berbalapan bersama angin di atas jalan beraspal. Tujuannya hanya digunakan untuk beradu dengan gravitasi bumi.
Ban karet super tebal yang tebalnya melebihi velg bertujuan untuk memberikan proteksi tambahan untuk sang badan. Teksturnya juga cenderung kasar, membuatnya bisa beratraksi di atas lumpur maupun di atas tanah yang halus. Tak lupa lagi suspensinya yang dibuat khusus untuk memantulkan kendaraan serta memudahkan roda untuk melintas di atas medan yang pastinya alami tak karuan.
"Serahkan saja semua kendalinya kepadaku," jawab gadis itu. Ia kembali memasuki kendaraannya pada bagian kanan yang sekaligus menjadi alat pengendali.
Pandangan Ayako menoleh sedikit ke Reinu, memberikan pesan singkat tanpa kata bahwa mereka berdua akan mencapai tujuan lebih singkat dengan kendaraan sang Emi.
Meski, Reinu sampai sekarang curiga dan tidak terlalu yakin kalau gadis yang lebih cenderung naif ini dapat mengendalikan sebuah kendaraan berat dalam kecepatan yang diinginkan Ayako.
Apalagi kendaraan yang akan ditumpanginya sangat kuno dan pastinya rapuh. Meski fisik dan dalamannya terlihat terawat. Tetap saja kalah jauh dengan spesifikasi mobil zaman sekarang.
"Ayo, Ayako..." Ayako duduk pada bagian samping sang sopir.
Pada awalnya, Reinu memang ingin memotong waktu. Namun, pikirannya langsung berubah ketika mendengarkan tantangan yang diterima.
Reinu pun memiliki perasaan tidak enak pula jika menolaknya. Apalagi waktu yang dibutuhkan bisa dibilang sangat singkat, dan hanya dapat dicapai jika dibantu oleh kendaraan bertenaga mesin.
Bagaimana pun alasannya, ia harus menerimanya. Diputuskan ia duduk tepat di belakang sang Ayako—lebih tepatnya samping kiri bagian belakang.
Uh...? Pintunya sulit. Genggaman pintu yang tebalnya hampir setara dengan telapak tangannya. Memberikan grip lebih. Memudahkannya untuk membuka pintu yang berkilo-kilo beratnya. Bisa-bisa di setiap membuka dan menutup pintu mobil setara dengan berlatih fisik setiap hari.
Di saat tubuh bagian bawah menumpu kursi, pantulan dari bantalan-bantalan yang semestinya empuk, tak terlalu terasa. Tidak serasa kendaraan zaman sekarang. Keempukannya pun malahan lebih nyaman bantalan motor yang ada sekarang dibandingkan mobil kuno ini. Entah lebih baik atau lebih cenderung ke buruk jika kursi solid dipasangkan pada mobil yang ditujukan untuk berguncang.
Palingan keuntungannya hanya pada faktor durabilitas yang tinggi. Tak bisa ke bayang bahwa benda ini berhadapan secara langsung dengan sihir. Meski sihir yang digunakan Ayako untuk menahan laju jalan belum diketahui, tetap saja aura yang dikeluarkannya membangunkan setiap individu rambut kulit.
Emi yang telah menunggu beberapa menit di dalamnya, akhirnya dapat memutar tuas putar yang dimasukkan dengan kunci. Cara jadul yang berada di bawah era tombol. Di mana hari-hari begini, rata-rata alat yang ditenagai mesin telah dipenuhi dengan wireless. Kendaraan bermotor pun tidak kalah jauh. Mobil dan motor dapat dinyalakan hanya dengan satu sentuhan jari pada layar ponsel.
Kalau dibayangkan, memang terasa tidak aman. Namun sampai saat ini, belum ada satu pun kasus pencurian yang menimpa salah satu pengendara di Negara Jepang. Palingan kasus-kasus itu pernah terdengar di negara lain.
Tapi dapat dipastikan kalau di dunia ini pasti ada yang namanya kasus kejahatan. Entah berapa banyak jumlah atau berapa banyak jenis kejahatan di luar sana. Secara pasti tidak ada yang namanya wilayah aman di dalam alam semesta ini.
Emi sekaligus sang pengendara mengeklik sabuk pengamannya. Lalu ia berteriak, "Seatbelt, On! Apa kalian siap? Kita akan menggulingkan masa lalu kita!"
Lagi-lagi perumpamaan...? kau telah membuang 2 detik... Antara kesal dan gemas, Reinu tak bisa membedakan keduanya di setiap ia memperhatikan perilaku temannya yang satu ini. Satu-satunya yang ia tahu hanya sikap kekanak-kanakan yang dimiliki oleh Emi—sedikit konyol, tapi sangat menjengkelkan.
...heh? sabuk pengaman apaan ini...!? Dirinya asing dengan sabuk pengaman yang dipasangkan pada setiap kursi. Berbentuk V lebar yang diputarbalikkan 90 derajat. Sabuknya pun ada di kedua sisi, di mana jika dipasangkan akan membentuk huruf X.
Reinu belum mengetahui cara pemakaiannya yang benar. Yang ia tahu hanya tingkat keamanannya yang keterlaluan untuk digunakan pada medan yang mulus.
Jalan raya bermaterial aspal sudah terbebas dari kekasaran. Namun, tantangan yang Emi terima, ada kemungkinan akan mencetak sejarah baru.
Pegas gas ia injak seperti menginjak bersamaan dengan berpindahnya gigi. Ya, manual. Betapa sulitnya mengoperasikan kendaraan bermotor zaman sang kakek. Tapi di balik itu, terdapat hal yang positif yaitu perjuangan.
Kemungkinan pada zaman mobil ini diciptakan, banyak manusia yang tak kenal yang namanya malas. Mereka semua tetap berusaha meskipun mendapatkan gaji yang hanya bisa dibuang untuk kebutuhan selama setengah bulan.
Menderita? Iya, memang. Tapi tak seperti sekarang, rata-rata manusia layaknya mayat hidup. Karena telah memiliki sebuah hantu pencetak uang virtual. Meski masih ada beberapa perusahaan atau toko yang masih memanfaatkan tenaga manusia.
Teknologi virtual yang merambat menjadi realitas terlihat meyakinkan. Apalagi semua itu dapat memudahkan manusia mendapatkan waktu lebih untuk berinteraksi bersama keluarganya.
Tak ada jalan lagi untuk bebas dari janji. Lagian hampir semua pekerjaan sudah dikerjakan sepenuhnya oleh mesin bukan?