
Musim gugur, 5 November 2017.
Sedari pagi, aku menunggu sesuatu. Namun, aku langsung kecewa karena tidak mendapatkannya dari seseorang.
"Kaito-kun. Kamu tidak pulang?" tanyaku pada orang tersebut, sepulang sekolah.
"Ah.. Maaf, Kaede. Hari ini, kamu pulang sendiri saja ya." katanya, tanpa menatapku.
Dalam sekejap, jawaban Kaito membuat hatiku menciut.
Tanpa membalas ucapannya, aku hanya berlalu meninggalkan tempat itu.
"Kaede?" gumamnya heran.
Aku pun berjalan lesu hingga tiba di rumahku.
"Kaede! Selamat ulang tahun yang ke-16! Otousan sangat menyayangimu!" sambut Kakeru, seketika melihatku.
Tentunya, ayahku selalu mengingat hari seperti ini. Walau tidak sempat mengucapkannya pagi-pagi setelah kami bangun tidur, saat ini ayahku memberikan kejutan berupa ornamen, kartu ucapan, dan sebuah boneka beruang mungil kesukaanku yang telah dipersiapkannya.
"Uh.. Terima kasih, otousan." isakku.
"Kaede.. Kamu kenapa, Nak?" ucapnya, lalu membelai puncak kepalaku.
"Otousan.. Apa anak laki-laki memang secuek itu? Mengapa Kaito-kun tidak mengingat hari ini..?" kataku apa adanya.
"Apa?! Benarkah itu?" ucap ayahku terperanjat.
Tiba-tiba, ayahku menekan-nekan tombol telepon rumah dan menghubungi seseorang.
"Halo, bisakah saya berbicara dengan Doujima?"
DEG
"Otousan..!" seruku panik.
"Tidak apa-apa, Kaede." sanggahnya.
Orang di sisi lain itu pun menjawab.
"Maaf. Sebelum itu, bolehkah saya mengetahui siapa yang sedang menelepon?"
"Saya Fujisawa Kakeru. Kenalan Doujima." kata ayahku mantap.
"Ehm.. Maaf menyela. Anda adalah kenalan dari Tuan Besar atau Tuan Muda?" tanya orang itu lagi.
"Hah?"
Dalam beberapa detik, ayahku akhirnya berhasil mencerna ucapan orang asing tersebut.
"Tuan Besar dan Tuan Muda kalian, dua-duanya." balas ayahku, dengan semakin meyakinkan.
"Baik. Jadi, saat ini Anda hendak berbicara dengan Tuan yang mana?"
"Kaito Doujima."
Beberapa saat kemudian..
"Halo, otou-sama?" ucap Kaito.
"KAITOOO-KUN!!" seru ayahku tiba-tiba.
"Ya, otou-sama?" balas Kaito, sedikit terkejut.
"Mengapa kau melupakan putriku?" geram ayahku.
"Eh.. Apa maksud--"
Walau tak nampak, wajah Kaito saat itu langsung memucat.
"Ampuni aku, otou-sama! Aku akan mampir ke rumah kalian sekarang juga!" ujar Kaito.
"Baiklah."
Ayahku pun menutup telepon.
Sementara itu, aku masih bersikap malu dan gelisah.
"Tenanglah, Kaede. Pasti Kaito-kun akan berusaha untuk memperbaiki kesalahannya, hingga Kaede merasa lebih baik." hibur ayahku.
"Tidak, bukan begitu.. Aku hanya ingin dia mengucapkannya.. Itu saja akan membuat Kaede senang." ucapku jujur.
"Kaede.."
Tiba-tiba, ayah merangkulku dengan salah satu lengannya.
"Kamu tidak boleh terlalu bersedih karena seseorang yang kamu sayangi. Jagalah dirimu sendiri."
"Otousan.."
Entah mengapa, nasihatnya membuatku sedikit sedih. Selama ini, ayahku pasti telah bersusah payah menjalani hidup tanpa kehadiran ibuku.
DRRTT
Tiba-tiba, HP ku bergetar.
"Ah, ada sms." ucapku pelan.
"Shouta-kun.. Hihi.. Dia baik juga." ucapku terharu.
Tak lama kemudian..
"Kaede. Nampaknya, Kaito-kun telah tiba." ucap ayahku.
"Ah, ya.."
Aku pun beranjak turun ke lantai dasar untuk menemuinya.
"Kaede!" serunya, terlihat panik dan cukup lelah.
"Kai--"
GYUTT
"Maafkan aku, Kaede. Aku benar-benar bersalah padamu. Padahal, sejak beberapa hari lalu aku terlalu bersemangat menantikan hari ulang tahunmu.." katanya sendu.
"Tidak apa-apa, Kaito-kun. Aku senang kamu datang kemari." ucapku, cukup bahagia.
"Kaede.."
Belum sempat menatap wajahnya kembali, Kaito telah mengecup bibirku dengan lembut.
DEG DEG DEG
"Kaito-kun.."
"Selamat ulang tahun yang ke-16, Kaede-ku yang manis dan paling kucintai. Ini untukmu." ucap Kaito, dengan senyuman tampan dan khasnya.
"Eh, ini.." kataku terpana.
"Benar. Ini untuk Kaede. Lihat. Bukankah aku telah mempersiapkannya dengan baik? Mengapa Kaede meragukan cintaku?" katanya, menggodaku.
Saat ini, aku tidak tahu harus berkata apa kepada Kaito. Ia memberiku sebuah set kalung dan cincin emas murni yang bertuliskan namaku.
"Hm? Kenapa kamu diam saja--"
"Terima kasih." ucapku akhirnya, dengan sedikit gemetar dan malu, karena tidak dapat menahan air mataku.
"Kaede.. Manisnya kamu!"
Kaito tertawa kecil sambil memelukku dengan sayang. Tidak, mungkin terlalu erat hingga aku nyaris kesulitan bernafas.
Namun, bukan semata karena hadiah tersebut, saat ini aku sangat bersyukur atas kehadiran Kaito dan hanya dapat membiarkan diriku terpesona oleh setiap kejutan yang diberikan olehnya.
Selain itu, kami tertawa serempak karena kue ulang tahun yang kemudian dibawakan oleh Shouta datang secara bersamaan dengan kue ulang tahun dari ayahku.
Hari yang semula biasa itu pun berubah menjadi sangat spesial dan mengharukan bagiku.
...****************...
Sekitar 48 jam sebelum hari ulang tahunku, tepatnya setelah aku dan Kaito berkunjung ke rumah Shouta yang telah sakit selama 3 hari berturut-turut..
"Kaito-sama!" seru Yama, butler senior yang dipercaya untuk melayani Kaito.
"Ck. Abaikan saja aku!" geram Kaito, sambil terus berjalan cepat.
Yama Kinoshita memang seorang pria paruh baya, namun ia masih terlihat gagah dan seperti 10 tahun lebih muda dari usianya. Bahkan, ia masih mampu mengimbangi kecepatan langkah Kaito.
"Anda hendak pergi kemana, Kaito-sama? Tuan Besar telah menunggu Anda." ucap Yama, seketika berhasil menghentikan Sang Tuan Muda.
"Hah.. Baiklah." desah Kaito pasrah.
Tanpa diduga oleh siapapun, sebenarnya Kaito adalah seorang pemuda tersibuk yang tidak dapat dibandingkan denganku ataupun anak-anak SMA Shima yang lain. Wajar saja, segala bentuk tanggung jawab dan tuntutan diberikan kepadanya sebagai calon penerus keluarga konglomerat Doujima.
Meski hari ulang tahunnya sendiri sudah dekat, ia masih harus memikirkan hal-hal lain yang lebih mendesak. Dan tentunya, ia masih mengutamakan hari ulang tahunku.
"Yama-chi menyebalkan sekali. Apa boleh buat.. Padahal, aku sangat ingin membelikan hadiah terbaik untuk Kaede." geramnya.
Yama hanya terdiam dan mengamati gerak-gerik Kaito sambil merapat pada engsel pintu, setelah menuntunnya ke dalam sebuah ruangan di rumah keluarga Doujima yang mirip istana megah tersebut.
Setelah berpikir sejenak, Yama mendekati Kaito.
"Kaito-sama. Apakah ada sesuatu yang ingin Anda berikan atau sampaikan kepada Nona itu?" tanyanya langsung.
"Hmm.. Kau tahu rupanya. Benar. Dia adalah kekasihku, namanya Kaede Fujisawa. Manis bukan?" ucap Kaito, seraya menunjukkan foto wallpaper HP nya kepada Yama.
"Kaito-sama.. Kapan Anda mengambil foto berpasangan seperti ini?" ucap Yama, terperangah.
"Kok reaksimu malah begitu? Tentu saja, saat tidak ada kamu. Dasar pengganggu." sindir Kaito, setengah bercanda.
"Kaito-sama.. Tidakkah ini--" ucap Yama, nampak khawatir.
"Ah, aku lapar! Apakah masih lama?" sanggah Kaito.
"Saya mendengar dari Hibiki-san bahwa Tuan Besar akan segera tiba dalam 10 menit. Namun, Kaito-sama.. Ucapan Anda tadi--" jawab Yama.
"Baiklah! Aku akan tidur dulu. Bangunkan aku ketika otou-sama hampir tiba di ruangan ini." sanggah Kaito lagi.
"Baik."
Entah apa yang dipikirkan oleh Kaito dan apa yang terjadi selanjutnya. Namun, setelah bertemu dengan sang ayah, sepertinya Kaito menjadi sedikit tertekan dan kurang dapat memfokuskan diri.
- Bersambung -