Removed

Removed
Arti Berpacaran



"Kau sedang apa?"


Ayahku bertanya-tanya sambil mengamatiku dan Kaito yang baru saja menyatakan perasaannya padaku secara mendadak.


"Ah, salam kenal. Nama saya Kaito Doujima. Otou-sama." (\=panggilan paling sopan untuk ayah)


"Otou-sama? Memangnya, apa hubunganmu dengan putriku?" balas ayahku, jelas-jelas keberatan.


"Saya adalah pacar Kaede." jawab Kaito tenang dan tanpa terbeban.


"Apa katamu?"


Tentu saja, ayahku nampak terkejut.


"Itu tidak benar! Aku--" jelasku panik.


"Sayangnya, Kaede belum terbiasa dengan hubungan kami. Tapi, otou-sama dapat mempercayakan Kaede kepada saya. Sebenarnya, ini juga pertama kalinya bagi saya berpacaran." sanggah Kaito dengan sikap meyakinkan.


"Begitu. Hahaha. Boleh juga kau, Kaede! Tak kusangka, hari ini akan tiba. Aku senang sekali!"


Hah?


Aku terpaku mendengar reaksi ayahku.


"Kalau begitu, tolong jagalah putriku, anak muda." kata ayahku.


"Baik, otou-sama."


Apa? Tunggu..


"Kaede, hari ini kamu tidak perlu bekerja. Bermainlah saja bersama Kaito-kun."


Tunggu!


"Wah.. Sungguh, otou-sama?" ucap Kaito girang.


"Tentu. Lagipula, aku mengenal ayahmu. Bukankah kau putra dari Ren Doujima? Setahuku, hanya keluarganya yang bermarga Doujima di wilayah ini. Dia sahabat lamaku!" kata ayahku ramah.


Kaito nampak semakin senang dan bersemangat, hingga matanya berbinar.


"Uwaa.. Anda benar-benar hebat, otou-sama. Ternyata, ada juga orang yang mengenal ayahku. Sungguh tak terduga!" ucap pemuda itu.


"Tentu saja. Walaupun keluarga kalian baru saja berpindah ke Fukuoka sekitar beberapa pekan lalu, aku langsung mengenali ayahmu!" jelas ayah.


Begitulah. Mereka dengan cepat menjadi akrab.


GREP


"Ayo kita pergi, Kaede." ajak Kaito, seraya menggandeng tanganku.


"Eh.." ucapku bengong.


Sialnya, Kaito berhasil membawaku pergi.


Tak kusangka, ayah akan dengan mudahnya mempercayai anak muda seperti Kaito, selain putrinya sendiri.


Apakah Kaito memang bisa dipercaya?


"Kaede. Apa kau suka semangka?"


Pertanyaan Kaito langsung memecahkan lamunanku.


"Suka.." jawabku apa adanya.


"Baiklah. Ayo kita beli beberapa."


"Beberapa? Memangnya, siapa yang akan mampu menghabiskan semuanya?" tanyaku heran.


"Hm? Tentu saja, kita berdua." kata Kaito dengan senyuman lugu.


"Apa? Itu tidak mungkin! Kau mau beli berapa buah?" tanyaku lagi, untuk memastikan.


"3 atau 4 buah. Hmm.. Bagaimana jika 5 buah?" jawabnya, semakin melantur.


"Kau mau apa dengan semangka sebanyak itu?"


Aku menatap Kaito dengan jutek. Ternyata, dia adalah seorang pemuda yang sangat konyol!


"Aku hanya ingin bermain tutup mata sambil memukul buah semangka bersama Kaede. Kau tidak suka?"


"Eh.." gumamku, dengan wajah sedikit merona.


Rupanya begitu. Dia benar-benar ingin menghabiskan waktu bersamaku.


Ya sudahlah. Karena ayahku mempercayainya, kurasa aku akan memberinya kesempatan.


Kami pun tiba di toko yang menjual buah-buahan.


"Silahkan melihat-lihat.. Eh, bukankah kamu Kaede-chan? Wah, sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Ternyata, kau sudah sebesar dan secantik ini!" kata bibi penjual buah.


"Anda mengenal saya..?" tanyaku, sedikit terkejut.


"Tentu saja! Aku adalah teman sekelas ayahmu semenjak SD. Namaku Haruhi Tachibana, lalu ini anakku, Momoe." balas wanita itu, lalu memperkenalkan seorang anak kecil yang manis kepada kami.


"Halo. Salam kenal, Momoe-chan." ucap Kaito, mendahuluiku.


"Kalian sedang mencari buah apa?" tanya Haruhi.


"Semangka, saya mau 5 buah." jawab Kaito.


"Wah, kamu bersemangat sekali. Baiklah. Sebagai hadiah karena baru pertama kali berkunjung kemari, bibi akan memberi kalian 6 buah semangka."


"Wah, asyik!" seru Kaito puas.


Ramah sekali. Ternyata, orang-orang di sekitarku bisa bersikap sebaik ini. Apa selama ini hanya aku yang hidup menyendiri bagaikan manusia purba?


Kaito membawaku ke pantai dan hampir meletakkan semangka-semangka itu di atas pasir.


"Hmm.. Sepertinya, akan lebih baik jika ada alas untuk meletakkan semua buah semangka ini." gumam Kaito, seperti telah melewatkan sesuatu.


"Tentu saja. Setidaknya, kita membutuhkan ember kosong atau kain besar yang bersih." balasku, lalu mengeluarkan sebuntal kain dari dalam kantung celanaku.


Aku membuka dan membentangkan kain itu di atas pasir, lalu meletakkan satu buah semangka utuh yang kubawa di atasnya.


Benar juga. Kaito ternyata sangat kuat. Tadinya, dia berniat untuk membawakan semua kantung jaring berisi semangka itu seorang diri. Nampaknya, bantuan kecilku tidak ada pengaruhnya sama sekali.


Untungnya, aku selalu membawa sebuah kain bersih yang sebesar taplak meja makan dalam saku celanaku. Kain itu biasanya kugunakan untuk menutupi sayur-sayuran yang terkena terik matahari secara berlebihan pada saat musim panas. Selain itu, aku bahkan membawa dua lembar sapu tangan tipis yang sepertinya dapat digunakan untuk penutup mata dalam permainan. Bibi Haruhi juga meminjamkan sebuah tongkat sebagai alat pelengkap.


"Haha. Kau hebat, Kaede. Seperti doraemon!" puji Kaito.


"Ada-ada saja. Tapi, terima kasih." balasku, sedikit tersipu.


Akhirnya, kami bermain 'pukul semangka' dengan mata tertutup hingga puas.


Beberapa saat kemudian..


"Segarnya!" ucap Kaito, seketika kami menikmati buah semangka yang telah terbelah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.


"Iya, semangkanya enak sekali." gumamku, cukup senang.


"Kaede." panggil Kaito.


"Hm?"


"Kamu belepotan." kata Kaito, seraya menyentuhkan jarinya pada bibirku.


DEG DEG DEG


"A-apa yang kau lakukan, Kaito-kun?" ucapku terkesiap.


"Haha. Jangan takut begitu. Ini." Kaito malah tertawa kecil, lalu meletakkan sesuatu pada telapak tanganku.


"Biji semangka.." gumamku, semakin malu.


"Benar. Biji semangka itu tadinya menempel di dekat pipimu. Kau manis sekali, Kaede. Lebih imut daripada anak kecil."


Manis? Imut? Tidak, tidak mungkin. Mengapa Kaito-kun begitu tertarik padaku?


Wajahku tidak berhenti merona dan aku terus melahap setiap potongan semangka yang tersisa, saking gugupnya.


"Karena kita sudah melakukan kencan pertama kita, bagaimana jika suatu saat nanti kita berciuman?"


DEG


Ucapan Kaito mendadak membuat jantungku melompat.


"A-a-apa? T-tidak boleh! Tidak mau!" jawabku terbata-bata dan sangat malu.


"Hahaha. Aku hanya bercanda. Kaede-ku memang imut sekali."


Sepertinya, Kaito adalah seorang pemuda yang blak-blakan dan cukup menyenangkan.


Beginikah seharusnya pasangan muda yang dikatakan menggebu dan romantis itu?


Namun, aku dan Kaito belum saling mengenal dengan baik. Apakah hubungan dekat di antara lawan jenis selalu bermula dari hal semacam ini?


Walaupun saat ini perasaan kami berbeda, mungkinkah hubungan kami berkembang hingga benar-benar saling jatuh cinta?


Tanpa kusadari, debaran dan rasa penasaran mulai merasuki hatiku.


"Kaito-kun. Bolehkah aku mengenalmu dengan lebih baik lagi?" tanyaku, setelah menimbang-nimbang sejenak dan memberanikan diri.


PLUK


Kaito meletakkan tangannya yang besar dan sedikit berotot pada puncak kepalaku, lalu membalas ucapanku dengan tersenyum lembut.


"Tentu saja!"


Celaka.. Aku tidak dapat menghentikan debaran jantungku. Kurasa, hubungan romantis itu tidak sesederhana yang kubayangkan. Namun, seharusnya juga menyenangkan dan tidak begitu rumit.


"Terima kasih." kataku, membalas senyuman pemuda itu.


DEG


"Kaede.. Kau sangat manis. Tapi, aku akan bersabar." kata Kaito, tiba-tiba tersipu.


Entah apa maksudnya, kurasa kini aku dan Kaito telah resmi berpacaran.


- Bersambung -