Removed

Removed
Chapter 3 Part 5



"Reinu."—Haruka mengambil posisi yang tepat—"Ini perintah dari pihak akademi, semoga kamu tidak menolak dan membantahnya." Ia mengangkat papan berisikan kertas-kertas penting yang akan disampaikan kepada beberapa murid tertentu.


"..." simak Reinu dengan pandangan menghadap bawah.


"Dirimu diperintahkan untuk memindahkan barangmu dari rumah sementara yang kamu sewa selama ini ke tempat yang aman."


"Tempat aman? Maksud—"


"Asrama. Seharusnya kau tahu akademi ini memiliki asrama bukan? Gedung tinggi penuh kaca yang terbelah menjadi dua di atas tanah area fasilitas. Memang menurutku sendiri gedung itu terlalu mewah untuk ditinggali anak SMA. Tapi cocok untuk ditempati murid-murid yang belum memiliki rumah tetap."


"Rumah tetap? Bukan, apa maksud senior mengapa hanya asrama tempat aman!?" Detak jantungnya semakin berdetak kencang, rambut-rambut kulit saling berdiri, pompaan aliran darah semakin deras.


"Memang mengapa? Bangunannya sudah bertahan puluhan tahun sih... tak hanya bangunan itu saja yang dijamin keamanannya. Seluruh bangunan yang dibangun di atas tanah akademi semuanya sudah memiliki sertifikat ketahanan militer—"


"Bukan itu...! tentang... mengapa senior bilang kalau tempat yang kutinggali saat ini tidak aman!?"


"Ha? memang diriku mengatakan itu?"


"Sirat, Haruka... dia memaksudkan kata yang tersirat di dalam kata-katamu," jawab Haru yang menatap wajah sang bawahan yang selalu menghabiskan lawan apa pun yang menghalangi jalannya.


"Maksudmu samar? aku lupa diriku sedang berhadapan dengan sang jenius..." Haruka menyesali kata-kata yang sudah terlanjur ia katakan—kalimat yang diucapkannya sama persis dengan sontekan yang diberikan.


"Ah... jangan-jangan kamu selama ini masih menjadi budak kertas..."


"Terserahlah."—Haruka meletakkan papannya di atas meja lalu memanaskan tenggorokan dengan dahaknya—"Maaf soal tadi. Kami mendengar sebuah berita dari pemerintah pusat bahwa ada... sebuah kotak kardus...?"


"...isinya peledak. Lebih tepatnya, C4 jadul." Haru melanjutkan kalimatnya dengan suara seperti sehabis bangun dari ranjang.


"Ngapain mereka buang-buang waktu untuk memakai trik zaman kakek-nenek kita?"


"Mungkin mereka menarget seo, rang?" Haru merasakan sesuatu yang aneh dan janggal melalui instingnya. "Ada yang memiliki keinginan untuk menyalakan siaran TV?" Keadaan fisiknya tiba-tiba kembali seperti semula namun ada campuran sensasi getaran yang hanya dirasakan olehnya.


"Ke-ketua...!? a-ada apa!?"


"Aku merasakan sesuatu... yang pastinya sesuatu itu adalah kegagalan kita yang pertama."


"Ke-gagalan...?"


Haru tiba-tiba mengangkat badan dari kursi secara kasar—kursinya terdorong mulus ke belakang. "Pokoknya, TVnya!" perintahnya.


"Si-siap!!" respons salah satu anggota OSIS sembari mengaktifkan TV via aplikasi yang terdaftar di dalam ponselnya.


TV...? Observasi Reinu terhadap lingkungan tidak hanya sampai pada warga dan benda-benda unik yang hanya ada di ruang OSIS. Melainkan ia juga mengobservasi benda yang sering hadir di mana-mana. Tapi ada salah satu benda yang absen. Memang ada TV? pikirnya yang mencoba memindai kedua kalinya pada setiap sudut ruangan. Tak ada tanda apa pun yang berhubungan dengan TV. Perangkat hologram pun yang biasanya masih tampak berbentuk stik besi tebal dengan LED titik-titik tak terlihat sama sekali selain yang ada di atas meja sang ketua yang hanya dipakai jika memerlukan komunikasi.


Apa mungkin hologramnya dari... Tanpa disangka tiba-tiba pencahayaan ruangan meredup diselangi oleh garis persegi virtual berjumlah 5 keluar dari tengah ruangan lalu membesar dan kembali mengecil di saat persegi tersebut mencapai langit-langit—itu adalah salah satu dari sistem hologram zaman baru, di mana tampilan hologram bisa bebas terpasang di mana pun tanpa adanya batasan selama berada di area ruangan yang dipindai.


[ Welcome to Free Experience. Loading... ]


Tampilan utama yang ditunjukkan oleh sang hologram berteknologi khusus serta mahal. Entah apa kata "Free Experience" itu mengartikan sesuatu atau hanya nama brand dari produknya.


Namun, hal konyol yang membuat otak kesal adalah tampilan itu sendiri. Mengapa tampilan Loading masih saja terjadi pada produk teknologi berbasis sistem operasi ( OS ) zaman modern seperti ini?


Memang teknologi yang sedang berada di depan mata Reinu ini termasuk dalam kategori baru. Tapi sudah semestinya hal ini adalah tanggung jawab para insinyur untuk menghilangkan kata yang membuat otak miring setiap melihatnya.


"Mengapa mereka mencabut hologram lama kita dah?" protes Haru. Sepertinya ia sudah capek melihat iklan "Loading" lewat di depan matanya setiap hanya ingin menyalakan TV. Lebih kesalnya lagi, perangkat yang sudah terpasang pada tembok dilepas dan digantikan oleh yang sekarang—tempelannya masih membekas pada dinding-dinding yang dipasangkan.


Haruka ikut kesal, namun ia tetap mengikhlaskan masalah ini karena inovasinya memang bisa dibilang baru. "Mungkin tak ingin kita ketinggalan zaman," katanya yang pastinya berusaha untuk menyadarkan atasannya terhadap perkembangan zaman yang sekilas seperti lampu sorot yang menyoroti langit tak terbatas.


"Tapi tipe lama langsung merosot ke TV-Nya!"


"Nanti juga ke depannya bakal seperti itu."


"Ke depan? Maksudmu... di saat kita lulus!?"


Perdebatan kecil-kecilan hanya soal protes terhadap perangkat baru muncul tak terasa sudah berjalan selama 20 detik bersamaan dengan berakhirnya tampilan yang paling dibenci dari sebuah teknologi berbasis OS—20 detik itu sangat lama untuk zaman serba modern ini.


—Hey anak-anak, apa kalian ingin berma...


"Heh... apa-apaan ini? Mengapa ada siaran anak kecil di jam sebegini?"


"Mungkin untuk mereka yang absen sekolah?"


"Ah... ada-ada saja." Kursi hitam kembali ditarik dan didudukinya. Rasa lega ia hempaskan dari jiwa terdalam. Apa yang aku mau lakukan tadi ya...? Haru berusaha untuk menemukan riwayat dari loker ingatan.


"...Ketua? siaran...?" tanya anak lain selaku yang menyalakan TV.


"Siaran? Apa yang kamu ma— eh!? Pokoknya berita!"


"Apa pun, itu."


"Si-siap!" Gadis pemegang remote televisi mengatur frekuensi siarannya satu demi satu sampai menemukan perusahaan yang sedang menyiarkan sebuah berita misterius yang dimaksud Haru.


Ibu jarinya menyentuh tombol satu semi satu. Kecepatan pengiriman perintah sinyal dari ponsel sampai perangkat hampir saja tak terlihat delay sama sekali. Sementara itu, setiap siaran yang terlewat singkat begitu saja tetap terlihat jelas.


...sudah puluhan channel terlewat. Tidak ada satu pun perusahaan penyiar yang menyiarkan sebuah berita hari ini.


Apa yang dipikirkan gadis ini tiba-tiba ingin mencari informasi lewat televisi? Bukannya bisa dilakukan melalui internet? Reinu berpikir keras tentang perempuan yang memiliki status teratas ini. Apa Haru ingin menunjukkan sesuatu penting kepadanya?


Cukup aneh rasanya jika melihat seorang manusia yang mundur zaman. TV yang seharusnya menjadi media hiburan kini telah digantikan secara menyeluruh oleh pihak penyedia streaming. Sementara itu, pihak penyedia siaran televisi hanya menayangkan hiburan untuk anak seumur SMP dan bawahnya.


Untuk penulis berita dan penyiar berita pada zaman ini lebih memilih media internet dibandingkan TV dan radio—video streaming sebagai pengganti TV dan media podcast sebagai pengganti radio.


Koneksi antar pusat kepada penonton pun sudah tidak perlu diragukan lagi. Hampir tidak ada sedikit pun delay. Sebenarnya zaman saat ini tak perlu lagi yang namanya siaran televisi berbasis frekuensi yang dapat membuang harta kekayaan.


Tapi... untuk apa Haru masih mencari berita di dalam siaran frekuensi? Jalan pikiran Reinu semakin memompa keras. Dia yang menjadi operatornya tak henti-henti menyentuh pengatur meski ia telah menembus di penghujung frekuensi siaran.


Apa yang dipikirkan ketua!? Haruka juga ikut menyambungkan koneksi pemikiran yang sama seperti Reinu. Ia seperti ingin menyadarkan sang ketua dengan mengganggu langkahnya tapi dalam keadaan panik seperti ini, sepertinya atasannya bisa-bisa kehilangan kesadarannya.


Ruangan yang seakan-akan sepi dan sunyi, terdengar hanya suara beberapa siaran yang singkat. Haru yang awalnya panik sendiri dan tiba-tiba memiliki keinginan mencari hal gaib di dalam televisi sekarang merasa hampa tak berdaya.


"Persis sama dugaanku... tapi mengapa ya...?" Kepalanya terjatuh di atas dua silangan lengan tangan. Memiringkan posisi kepala layaknya tertidur.


"Ha... Haru?"


"Ha...?" responsnya menoleh ke arah sang sekretaris.


"Bagaimana dengan 'kegagalan kita yang pertama' katamu itu?"


"Anggap saja sudah gagal Haruka..."


"Hah!? Mentang-mentang pertama kali merasakan kegagalan? Haru, bukannya itu terlalu meremehkan?"


Haru menegakkan kembali badannya seperti kertas yang tertiup angin. "Satu, lebih kecil dibandingkan dua, kan?"


"Haru! Meski kamu sampai saat ini masih tak memiliki satu kegagalan, tetap saja."


Sang ketua memutar kursi hitamnya membelakangi bawahannya. "Aku tahu itu," katanya sembari menyilangkan kedua tangan di depan dada.


"Tetap saja kau lengah," respons Haruka terhadap kata-katanya. Ia sangat kesal dengan kelakuan atasannya yang sering meremehkan sesuatu yang berada di hadapannya. Manusia yang berada jauh di atasnya pun sering ia anggap rendah.


[ Pintu sebelah kiri yang dimasuki Ayako dan salah satu anggota tiba-tiba terbuka kencang. ]


Suara yang dihasilkannya menggetarkan kedua telinga. Benda-benda yang berada di sekitarnya berpindah posisi sekian centimeter.


"Reinu!" teriak Ayako yang mendobrak pintu.


"...Ayako?"—Kenapa ia terlihat panik?


"Kau tahu soal bomnya kan?"


"Se-sedikit. Mengapa?"


"Seharusnya mengapa kau masih santai!?—benda itu ada di rumahmu!"


"Bagaimana kau tahu rumahku!?"


"Nanti aku jelaskan."—Ayako berlari ke arah Reinu—"Sekarang ikut aku, lagi." Dia menggenggam dan menarik kembali lengan kanan temannya.


"Kenapa kok dadakan seperti ini!?—" Lagi-lagi kakinya dipaksa untuk berjalan. Untuk kali ini, otot kakinya harus memompa lebih cepat dibandingkan tarikan tadi. Transisi antar kedua kaki sangat singkat seperti berlari di atas lantai treadmill dalam kecepatan maksimal.


Untung lorong-lorong sekolah yang dilewatinya sudah dalam keadaan sepi. Pada pukul sebegini, seharusnya aktivitas klub masih berjalan setengah jam lagi. Lebih untungnya lagi, sekolah terpisah jauh dari gedung klub yang berada di wilayah fasilitas sekunder.


"Haruka... apa kau pikir mereka akan baik-baik saja?"


"Jika pernyataannya Ayako benar. Diriku tak yakin."


"Yap."—Haru membebaskan dirinya dari jebakan kursi—"Waktunya kembali menjelajah!"


"Ha-Haru...?"


"Ini salah satu tugas kita yang dulu bukan?" Tampak Haru yang kembali ke arah jalan yang sebenarnya membuat sekretarisnya takjub. Selama tiga tahun, akademi tak disapa sama sekali oleh keburukan. Baik itu setiap individu maupun nama baik yang mencakup seluruhnya.


Tugas para OSIS yang waktu dulu yang juga ikut serta melindungi akademi dan masyarakatnya dari serangan jutaan masalah menjadi sepi dan sunyi jika tak ada kegelapan yang menghampiri. Meski begitu, tetap saja seluruh warga akademi masih mengharapkan kedamaian dibandingkan perselisihan.