Removed

Removed
Tentang Masa Depan



Pernahkah kamu merasa takut pada hal yang bersifat stagnan?


Ketika seseorang menginginkan suatu kemajuan atau perubahan dalam hidupnya, ia akan memerlukan lebih dari sekedar usaha.


Motivasi, ketekunan, kegagalan, keberhasilan, evaluasi, resolusi.. Semua itu harus dilalui hingga usaha seseorang dikatakan benar-benar telah bertumbuh.


Begitu berhenti berusaha, dunia orang itu akan mulai runtuh. Mau tidak mau, ia akan terus berlari mengejar kesuksesan besar yang masih jauh di depan matanya.


...****************...


Saat ini, setiap murid SMA Shima diberi tugas oleh guru wali kelas mereka untuk menulis ringkasan mengenai harapan dan impian di tahun baru, serta di masa depan.


Aku pun mulai mendengar beragam keluhan yang diucapkan oleh anak-anak kelas 1-A.


"Karena kita teman sekelas saat ini, bukankah sebaiknya kita terus dekat hingga beranjak dewasa? Pernahkah kalian memikirkannya?" ucap Mai, sang ketua kelas yang cepat mengambil alih setelah Maeda sensei meminta izin pribadi untuk meninggalkan ruang kelas.


"Eh.. membosankan sekali." sahut Satoshi Ando, salah seorang teman sekelas.


"Ando-kun, sebaiknya kamu menuliskan ringkasanmu dengan baik." kata Mai tegas.


"Cerewet sekali. Memangnya kau siapa? Kau hanyalah seorang gadis berkaca mata dengan wajah yang biasa saja! Apa yang dapat kau banggakan dari dirimu, Mai Hayashi?" ejek Satoshi, diikuti oleh respon serupa dari beberapa teman sekelas lelaki yang lain.


Awalnya, Mai mampu mengatasi berbagai macam protes tersebut. Sayangnya, ia mulai gelisah seketika sebagian dari para teman perempuan di kelas itu turut mengejeknya.


"Setelah dipikirkan, perkataan Satoshi benar juga. Siapa yang mau dipimpin oleh seorang anak biasa sepertinya?" ucap Akiko, gadis yang sebelumnya bersikap cukup ramah kepada Mai.


"Akiko-chan.." gumam Mai, mulai gemetar dan tidak percaya diri.


Melihat keadaan yang terus seperti ini, akhirnya aku tidak tahan lagi.


"Mai-chan." ucapku.


Namun, suaraku yang kecil tentunya tidak sampai ke pendengaran gadis itu.


"Mai Hayashi!" panggil Kaito, dengan cepat menjadi asistenku.


Mai pun menoleh ke arah kami dengan wajah yang memucat.


Karena ragu akan volume suaraku sendiri, beberapa detik kemudian aku berjalan mendekati Mai dan memberikan secarik kertas kecil kepadanya.


Kamu pasti bisa, Mai-chan!


Benar. Aku menuliskan sesuatu pada kertas itu.


"Fujisawa.." gumamnya terpana.


Akhirnya, gadis itu mampu menguasai diri dan dalam sekejap membuat teman-teman sekelas menjadi patuh dengan sikapnya yang terkenal cukup garang.


Untungnya, kesalahpahaman di antara Mai dan kami sebelumnya pun lenyap. Kami bahkan saling meminta maaf.


Beberapa jam kemudian..


"Kaede. Mengapa kau berbicara dengan Mai tadi?" tanya Kaito blak-blakan, saat kami berjalan berdua sepulang sekolah.


"Ah.. Bukan apa-apa. Aku hanya merasa kasihan padanya. Bagaimanapun juga, Mai adalah teman sekelas kita. Menurutku, tidak ada satu pun anak yang layak diperlakukan secara tidak adil." balasku.


"Ehmm, begitu. Kaede memang yang terbaik." puji Kaito tanpa ragu.


"Apanya yang terbaik? Bukankah aku yang paling dianggap remeh di kelas kita?" kataku apa adanya.


"Hah? Tidak semua anak menganggapmu begitu, Kaede. Contohnya, aku dan Shouta. Bukankah kami sangat menghargaimu?" ujar Kaito.


"Benar juga, hihi. Namun, aku bukanlah seorang gadis yang kuat atau mampu memimpin orang lain seperti Mai-chan." kataku sambil meringis.


"Tentu saja kamu berbeda. Menurutku, Kaede adalah Kaede." jawab Kaito.


"Eh.. Apa maksudmu, Kaito-kun?" tanyaku heran.


"Kaede selalu memiliki pesona dan caramu sendiri. Tidak ada salahnya bersuara kecil dan terlihat lemah. Walau begitu, Kaede baik hati dan selalu mempedulikan kesusahan orang lain. Kuharap, Kaede menyadari bahwa kamu adalah gadis yang menginspirasiku." jelasnya.


"Kaito-kun.."


"Haha. Kau terharu? Wajahmu yang memerah itu manis sekali." kata Kaito, lagi-lagi memujiku.


"Ti-tidak kok. Aku hanya--"


"Hanya?" ulang Kaito, menggodaku.


Tanpa kusadari, Kaito telah mendekat kepadaku, lalu memelukku erat.


"Kaito-kun.. Mengapa kau suka sekali memelukku?" tanyaku spontan.


Ucapan Kaito membuat bibirku terkatup rapat, seolah kalah telak dalam berbicara dengan pemuda itu.


"Benar juga. Cuacanya dingin." gumamku, dengan wajah merona seperti apel.


"Tak terasa, sebentar lagi Natal akan tiba." ujar Kaito ceria.


"Kamu suka Natal, Kaito-kun?" tanyaku penasaran.


"Benar. Sebenarnya.. aku juga telah kehilangan ibuku semenjak kecil. Walau kedua orang tuaku sering melupakan hari ulang tahunku, dulu kami masih merayakan hari Natal bersama secara kebetulan. Kurasa, itu cukup ajaib. Ayahku hanya sibuk bekerja, sementara ibuku bertubuh lemah dan sakit-sakitan. Sama seperti Kaede, aku selalu merindukan ibuku. Jadi, aku sangat memahami perasaanmu."


Aku pun merasa sedih mendengar kisah masa lalu Kaito.


"Kaito-kun!" ucapku, seraya memeluk kekasihku.


"Haha. Maaf, Kaede. Aku jadi membuat suasana kita murung."


"Tidak, tidak apa-apa. Kaito-kun boleh menceritakan apa saja padaku. Aku ingin menjadi pemberi kekuatan bagi Kaito-kun." ucapku, dengan keberanian yang entah darimana.


"Kamu sudah selalu seperti itu, Kaede-ku yang manis." balas Kaito, tiba-tiba menampilkan senyuman yang sangat menawan.


DEG


Kali ini, sebuah dorongan membuatku cukup berani dan..


CHUU


Tanpa sadar, aku telah berjinjit dan dengan singkat mengecup bibir Kaito.


"Kaede.."


"M-maaf! Aku salah.. Seharusnya bukan di situ..!" seruku panik dan malu.


Namun, Kaito dengan cepat membalas ciumanku.


Kuharap, ciuman yang memikat hati itu akan terus mengikat kami.


Walau rintangan dapat saja terjadi di kemudian hari, akankah kami terus menghadapi semuanya bersama?


Saat itu, Yama Kinoshita, butler yang melayani keluarga Doujima, telah mengamati semuanya pada jarak beberapa meter.


"Kaito-sama dan Nona itu.. Benarkah hubungan mereka telah menjadi sedalam ini?" ucapnya terperangah.


DRRTT


Dengan sigap, Yama langsung mengecek sms yang masuk pada HPnya.


Tuan Besar telah menunggu Tuan Muda! Pastikan Kaito-sama tiba di rumah dalam waktu sesingkat mungkin! - Hibiki Furukawa


"Celaka.. Apa yang harus kulakukan?" kata Yama, yang baru pertama kalinya merasa bimbang selama melayani keluarga Doujima.


Beberapa saat setelah Yama membiarkan momen kebersamaan kami berlangsung, tiba-tiba cuaca di tempat itu menjadi sedikit terlalu dingin.


"Kaito-sama!" panggilnya.


Namun, seketika melihat Yama, Kaito langsung menarikku pergi.


"Ayo kabur, Kaede!"


Ucapannya membuatku tersipu, sekaligus kebingungan.


"Ada apa, Kaito-kun? Kita mau kemana?" tanyaku.


"Entahlah. Ke antah berantah, mungkin." guraunya.


Meski jawaban Kaito begitu aneh, aku hanya tertawa kecil dan mengikutinya.


"Apa kamu akan selalu bersamaku, Kaede?" tanya Kaito, saat kami masih berlari.


"Eh.."


"Apa jawabanmu, sayang?"


DEG


"I-iya.." responku akhirnya.


Entah apakah ungkapan itu merupakan janji masa depan di antaraku dan Kaito, kami takkan pernah melupakannya.


- Bersambung -