Removed

Removed
Klub Bercocok Tanam



Mulai hari ini, liburan musim panas telah berakhir dan aku harus mengikuti pelajaran sekolah hingga sebelum Natal dan tahun baru.


"Kaede-chan. Kamu harus memilih satu kegiatan klub. Mulai semester depan, kegiatan klub akan dinilai dan mempengaruhi nilai kelulusan." ucap Maeda sensei, guru wali kelasku.


"Ah, saya.." kataku pelan dan kesulitan membuat alasan.


"Tidak apa-apa. Santai saja, Kaede. Berikan form ini kepada Ibu setelah kamu mengisinya." kata guru itu dengan sabar, lalu berjalan meninggalkan ruang kelas.


Aku hanya menatap kosong pada kertas form pendaftaran kegiatan klub sekolah yang baru saja dibagikan oleh Maeda sensei.


Sebenarnya, satu-satunya dari sekian banyak kegiatan klub sepulang sekolah yang cocok untukku sudah pasti bercocok tanam. Apalagi, bulan Oktober akan segera tiba.


Pada bulan itu, para murid akan menggila karena festival besar Halloween. Dan sebelum bisa melangsungkan acara yang paling dinantikan itu, klub bercocok tanam diharapkan mampu menumbuhkan setidaknya 10 bibit kabocha (\=labu Jepang) dalam waktu 2 sampai 3 minggu.


Meskipun terdengar sulit dan merepotkan, mungkin saja aku adalah satu-satunya gadis di sekolah yang mengetahui cara anti-gagal untuk menanam dan memanen kabocha. Seharusnya, itu menyenangkan.


Sayang sekali, kali ini aku berubah pikiran. Mengapa? Itu karena tidak akan ada seorang pun yang tertarik untuk bergabung dalam klub dan membantuku, seperti yang pernah terjadi saat aku SMP.


Aku juga bukan orang yang menyukai Halloween. Jadi, untuk apa aku berkorban sebanyak itu demi kesenangan orang lain?


"Kaede."


Tiba-tiba, suara itu memanggilku.


"Kaito-kun.." ucapku, seketika menengadahkan wajah.


"Kamu sudah memilih kegiatan klub?" tanyanya tanpa berbasa-basi.


"Ehm.. Aku tidak tahu." jawabku apa adanya.


"Tidak tahu? Bukankah Kaede suka bercocok tanam?" kata Kaito heran.


Entah mengapa pemuda ini begitu penasaran, padahal sudah mengetahui tentang hobi sederhanaku itu.


"Pff-- Kalian dengar? Sesuai rumor yang beredar, Kaede memang seorang gadis petani miskin! Bagaimana mungkin orang sepertinya mampu bersekolah di SMA yang sama dengan kita?" bisik seorang siswi.


"Hahaha. Kamu tidak tahu? Itu kan satu-satunya kelebihan gadis aneh itu!" balas beberapa orang temannya, sambil tertawa-tawa mengejek.


Suara bisikan mereka sedikit terlalu keras, seolah sengaja diperdengarkan kepadaku.


Aku hanya tertunduk kecewa dan merasa malu, karena ucapan mereka tidak ada salahnya.


BRAKK


Namun, Kaito langsung maju dan mendobrak meja bangku gadis yang memulai obrolan sinis tersebut.


"Diam kalian. Dasar gadis-gadis busuk. Apakah kalian tidak tahu cara untuk bersikap sebagai teman sekelas?" sindir Kaito, dengan tatapan dingin dan mencekam.


GLEK


"M-memangnya, dia pacarmu? Mana mungkin orang sepopuler Doujima-kun mau--" gadis itu masih membela diri.


"Kubilang diam!!" sentak Kaito marah.


Gadis itu dan juga teman-teman usilnya langsung terdiam ketakutan.


"Jika kalian berani meremehkan atau merundung Kaede lagi, aku takkan segan memberi kalian pelajaran yang akan kalian sesali seumur hidup." ancam Kaito dengan berbisik, sambil memasang tatapan mengerikan.


"Hii.." pekik para gadis itu, lalu mereka pun tidak berkutik lagi.


Tak lama kemudian, Kaito kembali mendekatiku.


"Kaede?"


DEG


Mendadak, wajah Kaito nampak terluka seketika melihatku meneteskan air mata.


"Kaede.. Kamu tidak apa-apa?" ucapnya lembut dan begitu perhatian.


"Aku tidak apa-apa. Jangan berbicara denganku.. Kaito-kun seharusnya berteman dengan teman sekelas yang lain... Aku--" kataku malu dan sedikit gemetar, sambil terus menahan isakanku.


GYUTT


"Bodoh. Jangan berkata seperti itu!" sanggahnya secepat kilat.


Lagi-lagi, aku dikejutkan oleh tindakan Kaito. Mengapa..? Mengapa dia memelukku?


Apakah dia perlu berbuat sejauh ini untukku?


DEG DEG DEG


"Kaito-kun.." ucapku lemah dan sangat malu.


"Aku menyukaimu, Kaede. Kamu tidak sendirian. Aku takkan membiarkanmu lagi." tegasnya kepadaku.


Ucapan itu.. Benarkah Kaito-kun yang telah mengucapkannya?


Belum pernah seorang pun mengatakan.. hal yang paling ingin kudengar selama ini.


Walau saat ini para murid sekelas bersikap cukup heboh akibat menonton adegan kami, aku dan Kaito tidak mampu mengalihkan pandangan dari satu sama lain.


"Dengar, kalian semua! Kaede Fujisawa adalah pacarku. Jadi, siapapun yang berani menghina atau merundungnya berarti menantangku, Kaito Doujima!" seru Kaito mendadak, setelah menampilkan senyuman singkat kepadaku.


"Hehe."


Lelaki itu malah tertawa ringan, seraya membelai rambutku yang cukup panjang.


Celaka.. Jantungku tidak berhenti berdebar.


Perasaan apa ini? Apa yang harus kulakukan?


Karena Kaito sedang kasmaran dan aku hanya terus berdebar, saat itu kami berdua sama sekali tidak menyadari adanya tatapan penuh kebencian yang diberikan oleh seseorang.


...****************...


"K-Kaito-kun? Mengapa kau datang ke tempat ini?" tanyaku kepada pemuda yang kini telah memegang sebuah sekop dan bergabung bersamaku di klub bercocok tanam.


"Yang benar saja! Kaede, kau tidak berpikir bahwa aku akan membiarkanmu bekerja keras seorang diri, bukan?" sahut Kaito, langsung mendesakku untuk mengaku.


"Maaf.." ucapku pelan.


Sejujurnya, aku memang tidak mengharapkan kehadiran Kaito di tempat kecil dan penuh tanah ini.


"Tidak apa-apa. Yang penting, mulai sekarang Kaede akan semakin memahami maksudku." balasnya riang.


"Kaito-kun.."


"Hm? Kau ingin berterima kasih lagi ya?" respon pemuda itu dengan cepat, seperti biasa.


"Kau sedang apa..?" tanyaku cemas, sambil menunjukkan jari ke arah tanah.


"Eh?"


Akhirnya, Kaito menyadari sesuatu.


"K-Kaede.. Maafkan aku!" katanya panik.


Baru saja bergabung, Kaito telah merusakkan sebuah tanaman yang baru saja kurawat dan kusirami dengan sekali injakan kaki kanannya.


Tadinya, aku berniat untuk menanam beberapa bunga kecil seorang diri, selain kabocha yang akan digunakan untuk acara sekolah.


Namun, saat ini aku merasakan sesuatu yang aneh dan berbeda.


"Kaito-kun.. Mengapa.. kamu bersikap sebaik ini padaku?" tanyaku tiba-tiba, dengan wajah merona seperti tomat.


"Hm? Lagi-lagi, Kaede belum menyadari perasaanku. Kau ingin aku berbuat apa, supaya kamu percaya?" gerutu Kaito.


DEG


"B-bukan begitu! Maksudku--" jawabku malu dan kewalahan.


"Boleh aku mencium Kaede?" sanggah Kaito, secara tidak terduga.


"Eh.."


"Boleh, Kaede?" ulang Kaito, semakin mendekat kepadaku.


DEG DEG DEG


"T-tunggu..!" ucapku tak berdaya dan sangat panik.


"Kaede."


BATTS


Tanpa sadar, aku langsung mendorong tubuh Kaito.


"Tunggu.. Kaito-kun.. Mengapa.. kamu menyukaiku?" ucapku akhirnya, dengan nafas terengah-engah.


Kaito terdiam dan tidak menjawab, lalu hanya mendesah.


Apa aku telah mengecewakannya..?


"Hmm.. Benar juga, kau pasti penasaran." ucapnya, beberapa detik kemudian.


"Kaito-kun.." gumamku pelan.


Apakah Kaito akan memberitahukan alasannya kepadaku?


"Kurasa, aku hanya menyukai Kaede. Apapun latar belakangnya, apakah itu lebih penting daripada ketulusanku padamu?"


Entah mengapa, jawaban pemuda itu selalu berhasil menyihirku.


"Kaito-- uhnn!"


Belum sempat berucap, pemuda itu telah menekankan bibirnya dengan lembut pada bibirku.


Aku pun kehilangan kata-kata dan hanya dapat membiarkan ciuman itu berlanjut.


Debaran. Kasmaran. Cinta. Apakah semua itu juga akan terjadi kepadaku? Apakah ini adalah permulaan dari setiap perubahan yang akan kualami saat bersama dengan Kaito?


- Bersambung -