Removed

Removed
Pernyataan Cinta



Namaku Kaede Fujisawa. Aku adalah seorang siswi kelas 1 SMA yang penyendiri dan tidak memiliki kelebihan yang menonjol.


Rambutku lurus panjang dan berwarna pirang kecoklatan, cocok dengan namaku yang secara umum berarti maple.


Hidungku tidak terlalu mancung, tinggi badanku biasa saja, kulitku lumayan putih. Namun, semua itu tidak membuatku semakin percaya diri ataupun semakin negatif terhadap segala situasi yang kuhadapi.


Aku menerima diriku apa adanya. Fakta bahwa aku terlahir dalam keluarga yang sederhana secara ekonomi juga semakin membuatku nampak sangat biasa.


Orang-orang memanggilku 'putri sayuran', karena aku selalu bergelut dengan sayur mayur, serta memiliki hobi bercocok tanam.


Di sekolah pun tentunya nilaiku juga biasa saja. Sudahlah, aku telah lama menyerah untuk menjadi gadis populer.


Setiap kali aku berbicara dengan seseorang yang ingin menjadi temanku, pada akhirnya aku hanya akan membuat orang tersebut merasa bosan dan perlahan meninggalkanku secara halus atau terang-terangan.


Sudah kuputuskan, aku akan menjadi seorang gadis perawan untuk selamanya saja.


"Kaede, kamu tidak boleh berkata seperti itu!" seru Kakeru, ayahku, si tukang sayur, secara tiba-tiba.


Ayah memang mampu membaca pikiranku. Dia seperti memiliki suatu kemampuan supernatural atau cenayang khusus.


Tidak, aku hanya bercanda. Ayah hanya terlalu mengurusiku. Semenjak kami kehilangan ibu, ayahku selalu menjadikanku prioritas dalam hidupnya.


Aku juga menyayangi ayahku, tapi aku seringkali merasa kesal pada sifatnya yang terlalu ramah kepada semua orang.


Akibat perbuatan ayahku itu, ia memiliki terlalu banyak kenalan dan teman dari semua rentang usia. Mulai dari anak-anak, ibu rumah tangga, kakek atau nenek, hingga binatang liar yang kelaparan.


Setidaknya, aku jadi merasa tidak terlalu kesepian. Ayahku telah membuat semuanya berkumpul, bagaikan butiran nasi yang lengket.


Selain itu, dapat kuakui bahwa aku adalah anak yang payah dan cukup merepotkan.


Saat aku SMP, ayahku bekerja keras hingga mampu membelikanku sebuah sepeda untuk berangkat dan pulang sekolah secara aman dan mandiri. Namun, aku langsung menyerah dan trauma setelah terjatuh dari sepeda.


Benar. Rifleks dan kemampuan kinetisku terhadap kendaraan beroda sangat buruk.


"Tidak ada orang yang terlahir seperti itu! Kamu hanya seorang gadis penakut!" sahut ayahku.


Jika terus begini, aku akan terus bergantung kepada ayahku. Tidak, tidak boleh.


Aku harus bagaimana?


Beberapa hari kemudian, ketika sedang berpikir dengan setengah melamun pada saat liburan musim panas yang panjang, tiba-tiba seseorang muncul di hadapanku.


"Permisi."


Mendengar suara pelanggan, aku langsung beranjak dan bersiap untuk melayaninya.


"Ya, silahkan melihat-lihat." kataku dengan sopan dan seramah mungkin.


Namun, seperti biasa, suaraku terlalu kecil dan kurang jelas bagi siapapun itu. Hal ini merupakan salah satu tantangan yang cukup menggangguku secara pribadi.


"Apakah kamu punya semangka?" tanya orang itu kepadaku.


"Semangka..? Maaf, kami tidak menjual buah-buahan." jawabku apa adanya.


"Apa? Aku tidak dengar. Apa kamu bekerja seorang diri? Dimana orang tuamu?"


Pertanyaan itu terdengar seperti sebuah interogasi yang kubenci dan selalu kuhindari.


"Maaf, tadi saya berkata bahwa kami tidak menjual buah-buahan." kataku, dengan suara yang lebih keras.


"Hei, dengar ya. Karena aku laki-laki sejati dan kau hanyalah seorang gadis biasa, aku telah berbaik hati dan bersabar untuk berbicara denganmu. Jadi, jangan melakukan permainan bisu tuli dan cepat keluarkan semangkanya!"


DEG


Lelaki itu tiba-tiba menyentakku dengan kasar. Belum pernah aku mengalami hal semacam ini. Ayahku sedang pergi ke suatu tempat dan berjanji akan segera kembali, setelah aku menjaga toko selama beberapa saat dan urusan ayah telah selesai.


Sekarang, apa reaksi yang paling tepat untuk kulakukan?


"Maaf, Tuan. Sepertinya Anda sedikit mabuk."


Belum sempat berkata-kata, seorang lelaki lain telah muncul dan menjawab si lelaki pertama.


Tidak perlu berpikir secara rumit. Anggap saja, lelaki nomor 1 dan nomor 2.


"Apa katamu?!" seru lelaki nomor 1.


"Anda pasti mabuk dan salah mengira toko ini menjual buah-buahan. Untuk menemukan buah semangka, silahkan berjalan lurus ke arah sana. Lalu, ambilah belokan ke kanan, maka anda akan menemukan toko penjual buah." ujar laki-laki nomor 2 dengan tenang dan berani.


Karena lelaki nomor 2 bertubuh cukup tinggi dan lebih besar daripada si nomor 1, akhirnya dia tidak melawan lagi dan hanya mengikuti arahan tersebut.


Aku sedikit terpana oleh tindakan pemuda itu. Tanpa menunda, aku mengucapkan terima kasih kepadanya.


"Ah, tidak. Aku hanya kebetulan lewat. Lalu, bukankah kau Fujisawa Kaede? Kita teman sekelas." ucap orang itu.


"Eh, benarkah?"


Jadi, kita seumuran.


"Sudah kuduga, kau takkan mengingatku. Boleh aku memanggilmu Kaede?" katanya lagi, sambil mendesah.


Sudah pasti aku harus bersikap ramah dan membalas kebaikannya tadi.


"Sungguh? Terima kasih, Kaede."


Pemuda itu terdengar senang, lalu aku mulai menatap wajahnya dengan benar.


Salah satu kebiasaan lamaku yang lain adalah selalu gugup dan tidak berani menatap mata seseorang yang mengajakku berbicara secara langsung, terutama kaum laki-laki.


Yah. Walaupun begitu, sifatku itu tidak pernah muncul ketika bersama dengan ayahku. Terkadang, aku malah melihatnya sebagai seorang badut, karena dia baik dan lucu sekali ketika melawak.


Kupikir kali ini pun sama saja. Menatap wajah seseorang yang telah bersikap baik padaku tidak ada buruknya sama sekali. Pasti orang itu akan berwajah sabar dan ramah. Namun, saat aku melihatnya..


DEG


Entah mengapa, jantungku sedikit berdebar. Aku tidak suka mengakuinya.. Akan tetapi, belum pernah aku melihat seorang pemuda yang setampan anak ini.


Rambutnya yang berwarna kecoklatan dan sedikit gelap, matanya yang berwarna hazel dan sedikit tajam, hidungnya yang mancung, suaranya yang lumayan dalam untuk anak laki-laki seusianya, serta tubuhnya yang tinggi dan entah darimana menyalurkan aroma kopi yang kuat.


Dalam sekejap, aku dapat menyimpulkan semua itu dengan sekali melihat.


"Kaede? Wajahmu memerah."


DEG


Lagi-lagi, aku terkejut.


"Eh.." ucapku semakin berdebar.


Pemuda yang tidak kukenal ini mendadak mendekatkan wajahnya padaku.


"Apa kau sakit karena pengaruh cuaca panas?" tanyanya.


"Ti-tidak. Aku tidak apa-apa." jawabku, seraya membuang muka.


"Sudah kuduga. Suara Kaede memang manis." puji pemuda itu secara tak terduga.


Apa?


DEG DEG DEG


"Me-mengapa kamu mendekatkan diri kepadaku?" tanyaku dengan suara sekeras mungkin, sebagai tanda perlindungan diri.


"Hm? Sudah pasti karena aku ingin mendengar suara Kaede dengan lebih jelas."


Aneh sekali. Perkataan macam apa itu?


Mengapa dia membuatku terlihat lemah dan bodoh seperti ini? Jangan-jangan, dia sengaja..


"Siapa.. namamu?"


Heh?


Bukannya menghindar secara alami, aku malah mengucapkan sesuatu yang nekat kepada pemuda itu.


Pemuda itu terdiam selama beberapa detik. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya. Untungnya, dia sedikit menjaga jaraknya kembali, sehingga secara otomatis membiarkanku bernafas tenang.


"Kaito Doujima. Ingat itu, Kaede."


Jawaban pemuda itu terdengar seperti sebuah perintah.


"Jangan sampai kau lupa. Atau, aku akan memberimu hukuman yang setimpal."


GLEK


Dia baru saja.. mengancamku? Siapa dia sebenarnya? Seorang preman?


"Karena aku suka Kaede."


"Eh..?"


Oh tidak. Jantungku benar-benar malang. Kalimat terakhir pemuda itu membuat perasaanku menjadi aneh.


"Maaf. Aku tidak tahan lagi. Akhirnya, aku dapat berbicara berdua saja dengan Kaede. Sebaiknya, kamu tidak salah paham. Aku telah mengamati Kaede semenjak baru pertama kali masuk SMA dan menjadi penasaran padamu. Kaede pasti belum punya pacar, tapi kamu manis sekali." ujar Kaito selancar air.


DEG DEG DEG


Hentikan, hentikan!


"Kaede."


Sebelum sempat mendorong tubuh Kaito menjauh, suara itu langsung menyelamatkanku.


Untung saja. Ayah memang selalu muncul di saat yang paling tepat.


- Bersambung -