
Selain pelajaran sekolah dan rutinitas yang cukup membosankan, saat ini musim gugur telah benar-benar memperlihatkan keindahannya.
Daun-daun maple yang berjatuhan dan memenuhi Fukuoka hampir setiap saat mengingatkan Kaito padaku, sang kekasih.
"Saat ini, Kaede-ku sedang apa ya? Dia lebih cantik daripada daun-daun ini." gumamnya seorang diri, sambil memandang ke luar jendela kamarnya.
Hari ini, pelajaran sekolah akan dimulai pada pukul 9 pagi guna memberi waktu kepada murid-murid untuk beristirahat setelah festival Halloween dan lain sebagainya.
Wajar saja. Sebagian dari para murid SMA Shima telah mengidap flu akibat cuaca yang semakin dingin dan kebanyakan belajar sebelum pekan UTS.
Sementara itu, aku malah memanfaatkan waktu sebelum berangkat ke sekolah dengan membantu ayahku bekerja.
"Kaede, kamu tidak perlu bekerja terus. Otousan akan baik-baik saja. Jangan sampai terlambat berangkat ke sekolah ya, Nak." ucap Kakeru.
"Hehe. Tidak apa-apa, otousan. Lagipula-- achoo!"
Belum sepenuhnya menjawab, aku tiba-tiba bersin dan sedikit terbatuk-batuk.
"Kaede. Lihat, sepertinya kamu sakit. Hidungmu memerah.. Walaupun menggemaskan, kamu tidak boleh pergi ke sekolah hari ini!" tegas Kakeru.
"Eh.. Mengapa begitu? Kaede baik-baik sa-- achoo!"
Tanpa dapat berdalih lagi, ayah membawaku masuk dan langsung menyuruhku beristirahat di dalam kamar.
"Uh.. Padahal, aku benar-benar baik-baik saja." ucapku, sedikit merajuk.
Namun, kepalaku mulai pusing dan berputar.
"Ah... Lebih baik aku menurut saja." kataku, lalu berganti pakaian, kemudian langsung berbaring sambil mendekam di dalam selimut.
Ternyata, aku memang kedinginan. Benarkah aku sakit?
Entah mengapa, aku merasa sedikit kesepian.
DEG
"Apa aku memikirkan Kaito-kun lagi..?" gumamku, dengan wajah yang semakin merona.
Tak lama kemudian, pintu dibuka dan ayahku masuk dengan membawa segelas minuman hangat yang telah dibuatkannya.
"Kaede.. Kamu benar-benar demam. Tidak bisa dibiarkan, otousan harus membawamu ke rumah sakit." kata ayahku.
"Ah, tidak perlu, otousan. Bukankah ibu selalu meletakkan obat pereda demam di dalam laci--"
Mendadak, aku menghentikan ucapanku sendiri dan tersadar.
"Kaede... Jadi, selama ini kamu telah meminum obat itu saat demam? Bukankah semua obat itu seharusnya sudah kadaluarsa? Ayah bersalah padamu!" seru ayahku, tiba-tiba dipenuhi perasaan gagal.
"Otousan.. Bukan begitu.." ucapku pelan.
Ayahku hampir saja menangis, aku pun dengan cepat menyentuh tangannya yang baru saja diletakkan olehnya di sisi ranjang sambil menenggelamkan wajah.
"Kaede.. Anakku yang malang."
Bicaranya pun semakin melantur. Aku harus bagaimana?
"Otousan. Aku akan baik-baik saja, jangan khawatir. Mengapa aku takut? Padahal, aku memiliki otousan yang sangat memperhatikanku." bujukku.
Mendengar ucapanku, ayahku tidak jadi bersedih dan langsung bersemangat kembali.
"Baiklah. Karena Kaede mempercayaiku, otousan berjanji untuk selalu menjadi sosok yang dapat diandalkan! Hidup, ultraman keluarga Fujisawa!" ujarnya mantap, bahkan berpose aneh.
Aku hanya tertawa melihat sikap dan semangat ayahku yang berlebihan. Seolah, dia tidak pernah lelah ataupun jatuh sakit. Dia memang selalu menganggapku sebagai putri kecilnya.
...****************...
Beberapa saat kemudian, di sekolah..
"Apa?! Kaede tidak masuk sekolah karena demam?" seru Kaito di ruang guru, setelah mendengar tentang kabar tersebut.
"Benar. Ayahnya baru saja menelepon. Namun, kamu tidak seharusnya berteriak seperti itu, Doujima-kun! Saat ini juga masih terlalu pagi. Tunggulah di suatu tempat hingga kelas dimulai." tegur Maeda sensei, karena mulai diperhatikan oleh para guru lain.
"Maafkan saya, Maeda sensei." kata Kaito sopan, lalu berjalan perlahan meninggalkan ruang guru.
Mau tidak mau, Kaito menuruti ucapan Maeda sensei dan akhirnya membaringkan diri di atas rerumputan pada pekarangan belakang sekolah yang dekat dengan sungai dan hutan kecil.
"Padahal, aku sudah bangun pagi dan berangkat ke sekolah lebih awal agar dapat berjumpa dengan Kaede secepat mungkin. Pasti dia akan disuruh membereskan semua hasil panen klub bercocok tanam kemarin lalu, sebelum pergantian musim." gumam Kaito seorang diri.
Mengapa rasanya sangat hampa?
Nampaknya, aku dan Kaito benar-benar tidak terpisahkan.
"Sudah kuputuskan. Aku juga akan bolos sekolah hari ini!" katanya, lalu beranjak dari tempat itu.
Dengan berhati-hati agar tidak ketahuan oleh siapapun seperti seorang penjahat, Kaito pun berhasil meninggalkan sekolah.
"Kaede.. Aku datang. Tunggulah." katanya, sambil bergegas.
Sekitar 20 menit kemudian, Kaito pun tiba di depan toko sayuran Fujisawa.
Tanpa ragu, ia berseru-seru meminta izin untuk memasuki rumah dan menemuiku.
"Hm.. Siapa itu?" gumam ayahku, seketika mendengar suara Kaito.
"Otou-sama! Kaede! Tolong izinkan aku masuk!" seru Kaito berulang kali.
"Oh. Ternyata memang kamu, Kaito-kun. Kau pasti mencemaskan Kaede. Masuk dan naiklah." kata Kakeru, setibanya di lantai dasar.
"Terima kasih, otou-sama!"
Tanpa menunda, Kaito bergegas menemuiku.
"Kaede! Kamu baik-baik sa--" ucapnya, seketika membuka pintu kamarku.
"K-Kaito-kun.." ucapku lemah dan sedikit terkejut.
"Kaede.. Kamu pucat sekali." katanya, lalu duduk di samping ranjangku dan menyentuh tanganku.
"Kaito-kun.. Beraninya kamu memasuki kamar seorang gadis tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu? Selain itu, kamu lupa menutup pintu." kataku, ingin sedikit menggodanya.
"Ah." responnya singkat, lalu beranjak dan menutup pintu kamarku.
Kaito memang selalu terang-terangan dan cukup tidak sabaran. Namun, aku sangat menyukai setiap ucapan dan tindakannya itu.
"Kaede. Aku membawakan sesuatu untukmu." ucap Kaito, langsung memecahkan lamunan singkatku.
"Eh.."
Aku terheran seketika melihat sesuatu yang dipegang, lalu disodorkan oleh pemuda itu kepadaku.
"Daun maple?" ucapku.
"Benar. Indah bukan? Tenang saja, aku sudah membersihkannya. Daun itu bernama sama denganmu, Kaede-ku yang tersayang."
DEG
"A-apa sih? Apa Kaito-kun berniat untuk menggoda orang yang sedang sakit?" kataku tersipu, sambil membuang muka.
"Hei. Lihat kemari, Kaede. Pangeranmu ada di sini!" pintanya, dengan sedikit memaksa.
"Ukh, jangan menyerukan hal-hal aneh seperti itu!" sahutku malu.
"Hehe. Habisnya, aku sangat merindukan Kaede. Belum satu jam aku tidak melihat Kaede di sekolah hari ini, namun rasanya aku telah terpisah dari Kaede selama setahun." kata Kaito lagi, entah bersungguh-sungguh atau hanya menggodaku.
"Terserahlah." jawabku kacau dan gugup.
"Kaede. Bukankah sebentar lagi kamu akan berulang tahun?"
DEG
Mendadak, suara satu orang lagi sangat mengejutkan kami berdua.
"O-otousan..!" ucapku terperangah.
"Aneh. Padahal, tadi aku menutup rapat pintu kamar Kaede." kata Kaito, sambil melirik entah kemana.
"Ehm, tidak tuh. Pintunya masih setengah terbuka." balas ayahku.
"Kaito-kun.." geramku.
Walau ayahku sudah cukup lama mengetahui dan menyetujui hubunganku dengan Kaito, tetap saja memalukan jika kami terpergok olehnya seperti ini!
"Hahaha. Sudahlah, Kaede. Katakanlah kepada Kaito-kun, supaya dia dapat mempersiapkan hadiah ulang tahun untuk kekasihnya." kata ayahku, masih saja menggoda kami.
"Kapan ulang tahun Kaede, otou-sama?"
Kaito malah menanggapinya dengan serius..
"5 November." balas ayahku.
"Eh?!" seru Kaito tiba-tiba.
"Kenapa, Kaito-kun?" tanyaku tidak mengerti dan penasaran.
"Ah, tidak. Bukan apa-apa. Aku hanya terkesima karena ulang tahun Kaede ternyata sangat dekat dengan ulang tahunku sendiri. Selain itu, bukankah nama depan kita berawal dengan abjad K dan memiliki jumlah huruf yang sama? Rasanya, sangat luar biasa!" ujar Kaito senang.
Rupanya, Kaito bahkan memperhatikan hal sekecil dan seremeh ini. Tanpa sadar, aku tersenyum dari lubuk hatiku.
"Kaito-kun. Kapan hari ulang tahunmu? Aku juga ingin mempersiapkan hadiah untukmu." kataku tulus.
"8 November. Hadiah ya.." jawabnya langsung.
Kaito terdiam sambil berpikir sejenak.
"Kalau begitu.. Menikahlah denganku, Kaede!"
DEG
"A-apa..? Bicara apa kamu, Kaito-kun--" kataku malu dan kalang kabut di hadapan ayahku dan Kaito.
"Hahahaha."
Ayahku pun tertawa renyah. Lagi-lagi, Kaito mengucapkan hal-hal yang belum sepantasnya. Tetap saja, dia selalu berhasil memenangkan hatiku dengan segala sikap konyol dan jujurnya.
- Bersambung -