
Pupil yang menjadi salah satu anggota mata tak dapat beradaptasi dengan cahaya secara kilat. Apalagi manusia yang berada di dalam kegelapan memasuki ruangan dengan sinar yang langsung menembak mata tanpa adanya transisi antar ruang—membuka pintu dengan melemahkan diri.
Meskipun penglihatan masih dalam proses penyesuaian pada cahaya, anggota tubuh lainnya seperti telinga pastinya masih berfungsi sepenuhnya.
"Oh... selamat datang, Reinu dan...." Sambutan kurang meriah dari sang ketua dari organisasi yang dikata-kata sebuah organisasi paling penting yang dapat mempengaruhi setiap sekolah mana pun itu jika kinerja anggotanya sangat aktif dan akurat.
Haruka yang berdiri di sampingnya mengingatkan kembali nama yang dilupakannya, "...Ayako, Ayako Takumi."
Ah, dia melupakan Ayako, pikir Reinu yang sedikit menahan tawa serta kesal. Sedikit lucu jika mendengar seorang yang melupakan nama orang yang diundang. Namun kekesalan tidak lupa dicampur di dalam kelucuan itu. Hati kesal rasanya jika nama dari orang yang diundangnya tercoret dari ingatan seorang yang mengundang mereka ke suatu tempat.
"Oh Ayako. Maaf ya... aku lupa namamu. Lagian aku harus menghafal ratusan murid," kata sang Haru bersamaan dengan mendorong badan bagian atas mendekati meja kantor di depannya lalu meletakkan pipi di atas telapak tangan yang berdiri di atas meja.
"Ti-tidak... lagian ada murid lain yang sama," respons Ayako terhadap pernyataan berupa alasan yang dibuat Haru untuk menenangkannya.
"Senang kamu memaafkanku, A, ya, ko. Ngomong-ngomong, di mana gadis itu?" Haru membelokkan pembicaraan kembali ke Reinu.
"Gadis? Maksudnya Emi...?"
"Ya, ya. Kalian berdua tadinya sedang menikmati masa remaja bersama dia bukan?"
"Eh...!?" Tingkat derajat kekesalan Reinu semakin menanjak. Haru yang santai di atas kursi kantoran belum tahu apa-apa tentang hubungan antara Reinu dan Emi. Cinta pandangan pertama di saat hari pertama masuk sekolah rasanya tidak mungkin didapatkan dengan mudah. Harus memiliki tenaga ekstra untuk mendapatkan seorang yang menjadi korban cintanya.
...sebaliknya itu mah hanya ada di drama-drama. Hanya fiksi belaka, meskipun terlihat nyata.
"Ayako. Boleh ikut aku?" Lagi-lagi, seorang anggota yang belum dikenal kembali muncul memanggil Ayako untuk datang ke ruang sebelah.
Jika diperhatikan ruangannya, terlihat ada dua pintu ekstra yang keduanya saling berseberangan. Modelnya lebih kecil dibandingkan pintu masuknya, namun bahan yang digunakan dirasa sama.
Di tengah ruangan tersedia bangku yang ditempati oleh seseorang yang telah menjadi seorang ketua organisasi—lebih tepatnya, sedikit mundur ke belakang mendekati jendela kaca yang lebarnya setara dengan jendela-jendela ruang kelas. Sepertinya meja besar itu tidak memiliki fungsi lain selain digunakan sebagai tempat kerja sang pemimpin.
Karena meja-meja lain juga tersedia di depannya dengan monitor yang berdiri di atasnya. Untuk perangkat komputernya sendiri, setiap gedung memiliki ruang server tempat tinggalnya sekumpulan komputer yang berada di bawah tanah. Besar ruangannya pun tergantung dengan besarnya setiap gedung—setiap gedung yang dibangun di atas tanah akademi memiliki servernya sendiri-sendiri termasuk wilayah fasilitas sekunder. Sementara itu, setiap server tersebut tersambung ke ruang rahasia yang sekaligus menjadi jantung dari Akademi Majishi.
Tempatnya sangat rahasia. Tingkat kerahasiaannya bisa setara dengan rahasia negara ( tingkat A ). Hal itu dikarenakan isi data dari server itu tersimpan banyak data-data tentang sejarah akademi, sejarah siswa, dan riwayat-riwayat aktivitas penting selama Akademi Majishi bisa dibilang sangat baru sampai nanti kehancurannya.
Reinu yang hanya berdiri sudah bisa membayangkan di mana letak server di gedung fasilitas utamanya ( sekolah ). Dilihat dari kabel monitor yang tertancap pada repeater yang terpasang pada dinding dan lantai.
Tapi, apa gunanya yang ada di langit-langit? pikir Reinu mengobservasi seluruh bidang ruangan yang berbentuk balok.
"Reinu, ada apa?"
"Ah, tidak apa-apa." Pandangannya kembali lurus seperti semula.
"Mmhm...? Pikiranku merasa ada sesuatu yang membuatmu tak nyaman di sini."
"Senior tidak bisa membaca pikiran kan?"
"Haha! Penalaranmu sepertinya baik sekali. Apa kau ingin menjadi salah satu dari kami? sepertinya posisi sekretaris cocok untukmu." Haru menarik pembuka gelas kaleng berisikan perasan air jeruk lalu meminumnya.
"Apa senior mengundangku ke sini hanya menanyakan ketertarikanku? Maaf kalau diriku menolaknya—" jawab Reinu yang seketika mengubah atmosfer ruang. Seluruh penduduk yang sibuk beraktivitas di dalamnya terdiam tanpa pergerakan. Sang ketua tersedak air yang diminumnya saat kata-kata yang tak diharapkannya menusuk telinga.
"Ketua!? santai..." Haruka yang berada di sampingnya memukul-mukul halus tulang belakang sang atasan demi melancarkan sistem pencernaannya.
Setiap batuk yang terdengar, kekhawatiran bawahannya semakin meningkat.
"Ma-maaf..." Reinu ikut khawatir kepadanya.
"Seharusnya diriku yang meminta maaf kepadamu."—Haru menaikkan badannya seperti semula—"Kalau misalkan dirimu tidak memiliki keinginan menjadi salah satu dari kami. Mungkin kamu tertarik dengan klub?"
Apa lagi dah...—Pandangan Reinu menunduk—"Klub? Sepertinya tak ada yang mengesankan..."
"Reinu! apa dirimu yang malas atau memang kau memiliki rencana lain?" Sang sekretaris mengajukan sebuah pertanyaan yang biasanya sulit untuk dijawab oleh rata-rata murid yang menolak suatu permintaan.
Pertanyaan yang masuk memang terdengar sulit bagi Reinu juga. Tapi bagaimana jika keduanya adalah keinginannya? "Apa boleh menjawab keduanya?" jawabnya.
"Uh... apa boleh buat." Jawaban yang diucapkan Reinu memarakkan api di hati sang Haruka. Kesan ingin menghantam Reinu adalah salah satu isi dari paket keemosian.
Tapi ketuanya menarik seragamnya berlawanan arah jalannya. Menghentikannya dan memberikan peringatan untuk menahan ledakkan emosi dengan kepala yang bergoyang kanan kiri lalu menunduk melawan pandangan Haruka.
Karena bersabar termasuk permintaan sang atasan yang tak bisa dibantah, Haruka mengatup lubang iblis dari dalam dirinya. "Maaf..." katanya.
"Maaf ya soal sifat sekretarisku ini." Haru kembali menaikkan pandangannya sambil mengirimkan senyuman ke Reinu.
"Gak, gak apa kok. Lagian semua orang sifatnya beda-beda."
"Syukurlah..."
Haruka yang awalnya berapi-api, berubah sikap menjadi datar. "Kalau begitu, beritahu kami detailnya mengapa kau menolaknya."
"Tak berguna? Kau bisa lebih mudah untuk diintip oleh perusahaan atau universitas jika kau aktif di dalam sini."
"Aku tahu itu... tapi, diriku bisa-bisa jadi beban di sini."
"Ah... beban?"—Haru mendorong kedua kakinya yang meluncurkannya bersamaan kursi beroda yang ditumpanginya mendekati jendela—"Ngapain diriku menunjuk seorang beban? Lagian, seorang manusia yang dipilih sudah pasti dipercaya dan paling dibutuhkan. Jadi, mereka yang dipilih adalah kau, Reinu... berarti dirimu bukanlah beban. Mungkin bisa menjadi beban di organisasi lain, tapi... di sini... tidak."
"Aku tahu kalian membutuhkanku. Tapi memang kalian tahu siapa diriku!?"
"Ahh..." Haru menguap. "Sudah aku sangka kamu akan berkata itu. Mirip naskah film-film drama..." Suatu folder hijau yang tertidur di atas meja diraihnya. Membuka secara pelan-pelan, lalu menarikan jari-jari tangan tuk mengganti halaman kertas sampai menemukan salah satu halaman yang diinginkannya.
"...ini." Haru mendirikan dan menghadapkan salah satu kertas yang berisikan riwayat, sejarah, serta nilai-nilai yang diraihnya di saat ujian penerimaan. "Apa kamu pikir kami tak tahu siapa dirimu yang sebenarnya? Jangan pikir kamu bisa menjadi karakter pendiam dan malas di dalam ceritamu, Reinu."
"Haru! Bukannya kau seharusnya merahasiakan itu!?" bisik Haruka kepada ketuanya yang mengalami suatu kesalahan yang dapat menimbulkan masalah yang cukup besar.
"Apa boleh buat kalau ceritanya lain nama kembar, plus ka."
"Ketua, bukannya engkau sudah berjanji untuk tidak memanggil diriku dengan sebutan konyol itu!?"
Tawa serasa sulit untuk ditahan oleh Haru. "Haha...! iya-iya, maaf—"
"Ketua. Bagaimana riwayatku bisa tercatat? Bukannya—" Reinu sempat syok ketika memindai isi dari kertas yang berada di depan matanya meskipun jaraknya jauh.
"Orang tuamu. Ehem... Lebih tepatnya, pendampingmu. Sudah pasti semua sekolah diharuskan untuk menyatakan riwayat dan sejarah di saat pendaftaran."
Pendamping? Apa diriku memiliki pendamping? Jangan-jangan— Ingatan yang mengalir di dalam otak sang Reinu mulai terganggu. Ia memiliki rasa kecurigaan terhadap seseorang yang dirindukannya. Meskipun jauh dan semakin ingat di setiap langkahnya di negara asing yang di batasi oleh beberapa negara, ada kebencian yang selalu menetap di hatinya.
Hal-hal yang seharusnya dilupakan selalu dilubangi olehnya. Setiap kata yang ditulis di dalam lembaran kertas berisikan nilai tersebut, kebenciannya semakin mendaki. Rasa ingin menenggelamkan kapal memori yang dimiliki tentang dia muncul seketika. Tapi bagaimana bisa jika kapal itu sudah berlayar di tengah samudra sementara itu Reinu masih berada di atas tanah pelabuhan.
"Kami semua tak menyangka dirimu memiliki nilai teori yang mencetak sebuah sejarah. Dirimu, tak pantas untuk menjadi anak SMA," kata Haru mengagetkan gadis sekretaris yang dari tadi berdiri tak berguna di samping kirinya.
"Tak pantas...? maksudmu..." Haruka tiba-tiba memiliki pikiran yang sangat jauh.
"Sang dewa sihir, ilmuwan. Seharusnya engkau mendaftar pada sekolah jurusan dibandingkan sekolah yang berbasis akademik sihir. Selama ini, kamulah mungkin satu-satunya manusia yang meraih nilai sebesar ini."
"Ilmu, wan? Gak perlu keterlaluan, Senior... Cuman jumlah angka saja bisa seribut itu—"
"Reinu, apa kau tahu tentang soal-soal yang kami cantumkan?"
"Soal... ujian?"
"Kamu ternyata menganggapnya soal biasa ya..."
"Maksud, senior...?"
"Semua soal yang kamu anggap 'soal ujian' biasa itu rata-rata adalah soal yang memiliki tingkat kesulitan level A. Tak banyak murid atau calon murid yang gagal dapat menembus 75/100 nomor. Mungkin paling banyak... 30, dari.... 100..."
Level A? Eh, benarkah? Reinu tak percaya sama sekali terhadap pernyataan yang diucapkan sang ketua OSIS. Soal-soal ujian yang dikerjakannya selama eliminasi manusia memang tak mudah bagi murid biasa, tapi bagi otak Reinu, berbeda lagi. Semua soal bisa dikerjakan olehnya dengan mudah tanpa menggunakan lebih dari 20% kinerja otak.
...ia merasa, soal yang dikerjakan hanya soal dengan kesulitan level C—tingkat ke 4 dari bawah. Tidak sulit, tidak juga mudah Melainkan, sangat mudah.
"...Reinu? Apa kau mendengarkan?"
"Eh, Ah... etto... Ya. Telingaku selalu terbuka lebar."
"Aku anggap kau mendengarkan..."—kedua telapak tangan disilangkan di atas meja—"Ada sesuatu yang harus kamu tahu. Meskipun kamu menolak untuk mengikuti jejak kami, kau tetap selalu kami pantau dari kejauhan. Semoga saja, tidak ada satu pun orang yang berani mendekatimu. Apalagi, sihirmu yang... Le— kurang kuat pas— uh... mungkin dirimu akan mengalami suatu kesulitan. Tapi, kami selalu merahasiakan jumlah nilai yang didapatkan oleh murid-murid di sini. Kecuali—"
"Haru...!" seru Haruka. Menghentikan kata-kata yang ingin dikatakan Haru kepada sang lelaki yang di hadapannya.
Haru menyimak seruannya dengan mengganti kata-katanya. "Ah... Kecuali kamu sendiri yang membuat lubang pada embernya..."
Memang harus pakai perumpamaan ya... Ngomong-ngomong, aku tidak yakin kalau gadis ini benar-benar mengatakan hal itu, pikir Reinu.
"...Memang kau sulit juga ya ternyata. Aku kira kamu orangnya mudah untuk dibujuk. Haha... Ah... ternyata pikiranku memantulkan realitas sesungguhnya." ucap sang ketua dengan tawa kecil yang sengaja dibuat untuk menerima realitas yang didapatkannya. Meski harus menerima takdir pedih tanpa sepengetahuan apa yang harus dilakukan selanjutnya, Haru menyerahkan kenyataannya kepada Sang Penentu Takdir.
Fisiknya kini melemah, kinerja pikiran yang semestinya selalu bekerja seakan-akan sedang dalam proses restorasi. Ubun-ubun yang ditahan oleh tangan kanan di atas meja kayu menandakan sebuah pemikiran besar terhadap diri sendiri maupun diri orang lain yang sedang dihadapi.
Reinu adalah satu-satunya anak SMA yang menolak untuk mengikuti jejaknya melewati jalur dalam. Tak hanya itu, ia juga adalah orang pertama yang menolak kenyataan yang ia miliki saat ini. Dilahirkan dengan kemampuan proses otak yang melebihi banyaknya manusia yang telah menghirup udara di dalam lingkungan dunia.
Tapi, kelebihannya justru menjadi sebuah kekurangan baginya. Kelebihan yang dicari-cari oleh banyak orang malah menjadi batu bata yang berat bagi dirinya sendiri. Ia seperti tak tahu arah jalan cerita yang ia miliki. Tersesat di tengah samudra pada siang hari tanpa petunjuk arah dari sang bintang.
Keanehan-keanehan tak masuk akal yang selama ini tersimpan di dalam jati diri seorang lelaki bernama Reinu pertama kali ditemukan oleh gadis nomor satu sekaligus salah satu manusia yang mempengaruhi keadaan Akademi Majishi sampai satu tahun ke depan.
Seorang yang selama ini meraih piala kemenangan di setiap perdebatan di dalam maupun di luar lingkungan akademi kini terjatuh dari puncak.
Atmosfer ruang tiba-tiba sunyi dan sepi tanpa lagi terdengar suara-suara ketukan tarian jari di atas keyboard berbasis layar sentuh. Kecuali suara putaran angin dari jendela terpisah bagian atas yang terbuka mengibarkan kain jendela yang terikat.