
Suara pintu tergeser dua empat kali. Suara geseran di kali kedua dan ketiganya terdengar singkat dan alun-alun. Sepertinya ada makhluk penghirup oksigen yang masuk ke dalam kelas F.
"Reinu...? mengapa ada ketua OSIS di sini? dan... mengapa bangkunya—" Ternyata Ayako yang kembali memasuki kelas sehabis mendatangi klub yang diikutinya. Ia sangat kebingungan terhadap bangku deretannya yang tersusun zig-zag.
"Salahkan semua ini ke dia," jawab Reinu. Kepalanya yang awalnya sedikit mengangkat untuk melihat sosok yang masuk kembali tidur di lantai putih suci.
"Jadi, mengapa senior ada di sini...?"
"Mereka memintaku ke sana tanpa satu pun alasan terdengar. Berarti tidak penting bukan?"
"Bukan berarti tidak penting." Ayako mengistirahatkan kedua kakinya dengan duduk di atas meja yang berada tepat di atas kaki Reinu sembari mengalirkan cairan air mineral ke dalam leher. "Butuh teman?" katanya.
"Teman...?" tanya balik Reinu yang kebingungan terhadap ajakan dadakan kawannya.
"Sepertimu," jawabnya sembari memutar erat penutup botol air mineral sampai terdengar jelas oleh kuping.
"Kau dipanggil juga...?" Bagian badan bagian atas perut Reinu seketika terbangun dari tidur paksanya. Kedua bola mata mengkilap menatap sesosok penyelamat hidup.
"Re-Reinu..." Tanpa sepengetahuan keduanya, tidur gadis yang dari tadi tertidur di atas perut terganggu. Kepala sang putri tidur ini tergulung mengarah ke paha bagian kanan Reinu.
Eh? Mengapa, di-dia ma-malah tidur...? Pahanya keri. Salah satu bagian badan Reinu yang rentan dengan kegelian selain leher bagian belakang.
"Jadi, bagaimana jawabanmu?" tanya kembalinya.
"Oh ok kalau begitu..." Reinu menerimanya dengan hati emas. Rasanya malah nyaman jika ada teman yang menemani ke suatu lokasi yang belum pernah disentuh sekali pun.
"Bagaimana... bagaimana nasib Emi...?"
"E-Emi? Oh... mungkin aku—"
"Letakkan saja kepalanya di atas meja" Ayako berdiri mempersilahkan Reinu untuk mengangkat gadis ini secara lemah lembut. Tapi ada suatu masalah yang dialami oleh temannya ini.
Tidak kuat. Untuk otot-otot Reinu yang saat ini tidaklah cukup untuk mengangkat seorang remaja meskipun dalam berat yang di bawah rata-rata anak SMA. Ayako sempat kesal kepada Reinu yang fisiknya jauh lebih lemah darinya yang jarang membuang energi kehidupannya untuk berolah raga. Selama pengalaman sekolah di tingkat sebelumnya pun sering sekali tak mengikuti olah raga karena alasan tertentu.
Karena kelemahannya yang lebih parah darinya dan bisa-bisa usaha kerasnya untuk memindahkan gadis itu berujung masalah. Ayako tidak segan untuk menyumbangkan sedikit tenaga kepada temannya.
...niatnya menyumbang sedikit. Tapi malah menyumbang seluruhnya.
Reinu hanya bertingkah mengangkat dengan kedua tangannya. Namun, tak ada sedikit dorongan ke atas yang dirasakan oleh indra perasa Ayako. Jadi percuma saja Reinu membantunya, kalau tak ada tenaga sama sekali. Ia hanya membuang-buang waktu karena menghambat Ayako untuk berpindah langkah. Tapi yang penting ia menerima peminta bantuan.
Secara bergradasi langkah demi langkah, pemindahan gadis yang tertidur lelap tanpa alasan yang jelas ini dipindahkan ke bangku yang dikuasai oleh Ayako saat waktu pelajaran berlangsung.
Meskipun terlihat mudah untuk mengangkat seorang perempuan SMA, kemudahan yang dikira itu tak dirasakan bagi kedua lelaki ini. Halangan-halangan meja yang berantakan akibat perkelahian antar dua pihak membuat pergerakan keduanya sangat terbatas. Jika dipindahkan terlebih dahulu ke tempat asalnya, suara misterius yang dihasilkan oleh gesekan atau tekanan antar dua bidang akan terdengar secara jelas.
Di saat meletaknya di atas kursi pun keduanya sempat was-was karena terdengar suatu suara samar dari Emi. Pastinya akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan jika Emi terbangun tepat di saat Reinu dan Ayako baru saja menidurkan di atas kursi dengan kepala yang berada di atas meja.
"Jadi, sudah?" tanya Reinu dengan tingkat nada yang sulit dicerna oleh telinga Ayako.
"Apa kau ingin melakukan sesuatu kepadanya...?" Raup wajah Ayako tiba-tiba berubah sembari membenarkan kacamata yang merosot ke ujung hidung.
"E-eh...!? aku bukan seperti yang kau bayangkan!" Tubuh Reinu seketika terangkat tegak dari duduknya di atas meja, kedua telapak tangannya yang menutup bagian depan wajahnya seakan-akan malu.
Udara berlari kecil dari dalam mulut Ayako. "Kalau begitu, ayo." Ayako membalikkan badannya dengan kedua tangannya di dalam saku celana.
"Ayo...?"—jari telunjuk dan ibu jari menjepit dagu seolah-olah Reinu bingung tujuan jalannya—"ke mana?"
"Apa kau pura-pura lupa?" Ayako membalikkan pertanyaan kepadanya.
"...tidak?" Kepala dimiringkan sedikit untuk memberikan sebuah kepercayaan kepada Ayako kalau otaknya sudah menghapus salah satu isi dari memorinya.
Ah... anak ini... Kekesalan dan emosi yang seakan-akan terkumpul di dalam jiwanya. Dinding kesabarannya runtuh membuatnya ingin memberikan sebuah pelajaran kepada teman yang belum dianggap benar-benar teman ini.
...Ayako menggenggam seragam Reinu erat-erat tanpa adanya lubang pelolosan. Gaya tariknya berbanding jauh di atas gaya yang dihasilkan Reinu. Sol sepatu yang bertujuan untuk menahan gaya gesek tak berlaku sama sekali. Apa pun bagian sol karet yang memiliki guna berbeda-beda tetap tak bisa menahan gaya tariknya. Satu-satunya yang bisa dilakukan Reinu hanya terdiam dan menuruti arah jalannya.