Removed

Removed
Libur Panjang



Karena libur musim panas kali ini cukup panjang, aku dan ayahku jadi bisa menghabiskan lebih banyak waktu berdua.


"Kaede, bagaimana jika kita pergi ke museum atau akuarium kesukaanmu?" ajak ayah.


"Sungguh?"


Tentunya, aku sangat senang. Sudah lama sekali kami tidak menghabiskan waktu berharga sebagai ayah dan anak secara santai dan bukan bekerja.


"Haha. Nampaknya, kau senang sekali. Kaede memang belum berubah semenjak kecil." kata ayahku dengan tatapan hangat.


"Eh, tidak begitu. Tentu saja aku banyak berubah. Lagipula, sekarang aku sama sekali tidak manis." ujarku apa adanya.


"Itu kan hanya pemikiran Kaede. Belum tentu orang lain akan beranggapan seperti itu. Lagipula, Kaito-kun sepertinya sangat menyukaimu." tutur ayahku.


DEG


"T-tidak juga." balasku gugup.


"Mana ada dua orang berpacaran yang tidak begitu?"


"Otousan.." ucapku pelan.


"Ya, Kaede?"


"Apakah dulu otousan dan okaasan (\=ayah dan ibu) juga pernah merasakan hal semacam ini sebagai pasangan?" tanyaku penasaran.


"Yang seperti apa, Kaede?" ayahku balas bertanya.


"Umm.. Seperti saat kalian bergandengan tangan dan berkencan." kataku, dengan sedikit kikuk.


"Oh. Maksudmu, berdebar? Jadi, kau juga merasakannya ketika bersama dengan Kaito-kun?"


DEG


Tentu saja, ayahku akan langsung paham. Lagipula, dia orang dewasa yang berpengalaman.


Melihat wajahku yang merona dan tidak dapat mengucapkan apapun, ayah hanya tersenyum lembut dan melanjutkan perkataannya.


"Perasaan seperti itu normal. Sebaliknya, ayah akan khawatir jika kamu tidak memiliki debaran semacam itu pada lawan jenis." kata ayahku santai.


"Hah? Tentu saja. Aku masih normal, otousan!" jawabku cepat.


"Namun, kamu harus selalu berhati-hati dengan perasaanmu. Anak laki-laki berbeda dengan seorang gadis, walau seusiamu. Mereka tidak memakai perasaan belaka, melainkan juga keinginan muda yang sesat. Beberapa dari mereka memang masih polos, tapi ada juga yang tidak. Untungnya, Kaito-kun bukan tipe anak yang seperti itu."


Aku hanya terdiam dan menyimak perkataan ayahku selama beberapa saat. Lalu, aku membuka mulut untuk bertanya lagi.


"Mengapa ayah begitu yakin kepada Kaito-kun?"


"Ah, itu.. Benar juga. Ayah belum menceritakan apapun kepadamu tentang keluarga Doujima." balas ayahku.


Dalam sekejap, aku menjadi penasaran dan menatap ayahku dengan antusias.


Ayahku tersenyum lagi, lalu mulai berbicara.


"Dulu sekali, saat ayah masih SD, Fukuoka masih belum semaju sekarang. Setiap hari, ayah akan membantu kakek dan nenekmu bekerja di sawah dan ladang perkebunan. Bahkan, kakek dan nenek hampir saja menyerah akan pendidikan ayah. Mereka ingin ayah meneruskan usaha mereka, karena dianggap lebih produktif. Begitulah pemikiran orang pada zaman itu. Namun, semenjak kedatangan keluarga Doujima yang baru pertama kalinya menginjakkan kaki di kampung halaman kita, seluruh penduduk desa seolah diperkenalkan pada tren perkotaan. Karena keluarga Doujima sangat sering bolak balik Tokyo-Fukuoka, akhirnya mereka membeli tanah dan membangun rumah di kampung kita. Saat itu, putra dari keluarga Doujima yang bernama Ren mulai bersekolah di SD yang sama dengan ayah. Dia benar-benar terlihat keren dan modis, sangat berbeda dari ayah dan anak-anak SD yang lain." kata ayahku, seperti bernostalgia.


Aku langsung dapat membayangkan sosok ayahku saat masih sekecil itu. Lalu, aku menatap ayahku lagi, seolah memintanya meneruskan cerita itu.


"Haha. Kamu masih penasaran rupanya. Baiklah. Jadi, saat itu ayah dan teman-teman SD yang lain sempat salah paham kepada Ren. Menurut kami, anak itu sangat sombong dan hanya ingin pamer karena lebih suka menyendiri. Benar-benar khas pemikiran anak desa, bukan? Akhirnya, sikap kami berubah setelah suatu kejadian." jelas ayahku.


"Kejadian apa, otousan?" ucapku, semakin tertarik pada kisah ayahku.


"Rupanya, Ren Doujima adalah anak yang sangat cerdas dan berpengertian tinggi. Anak itu tidak segan-segan menolong Haruhi dan beberapa anak perempuan yang lain, saat mereka dirundung oleh anak-anak SMP."


"Bibi Haruhi yang menjual buah-buahan?" ucapku terpana.


"Oh. Kau sudah bertemu dengannya? Benar. Ayah mengenal hampir semua orang yang seangkatan dengan ayah dan tumbuh besar di kampung ini. Dulunya, Haruhi adalah gadis yang lumayan bandel dan berani. Dia suka sekali bertengkar dan berbuat onar demi hal-hal kecil yang diinginkannya." jelas ayahku.


"Eh?! Tidak mungkin.." kataku terperangah.


"Haha. Kau pasti tidak menduganya kan, Kaede? Namun, saat itu Haruhi benar-benar sulit dihadapi. Dia bahkan menantang sekumpulan anak laki-laki SMP."


"Kaede. Kita teruskan cerita ini nanti saja ya. Bukankah kamu ingin pergi bersama ayah?" kata ayahku sambil meringis.


"Ah, iya." jawabku, langsung tersadar.


Ayah pun menyudahi ceritanya, lalu mengajakku berangkat.


...****************...


Dalam perjalanan menggunakan bus Nishitetsu menuju museum Hakata Machiya yang kebetulan sepi, aku dan ayahku tertidur pulas di tempat duduk.


Untungnya, kami sempat berbicara dengan seorang nenek yang mau berbaik hati membangunkan kami sebelum tiba di tempat tujuan.


"Ah, akhirnya kita sampai." ucap ayahku, seraya menguap dan merentangkan tangan.


Museum Hakata Machiya memang terkenal di Fukuoka karena nuansa tradisionalnya yang sangat kental. Ciri khas utamanya adalah rumah-rumah pada zaman Meiji dan Taisho, sehingga siapapun yang melewatinya akan seolah dibawa pada masa itu.


Selain menuju museum tersebut, bus Nishitetsu sebenarnya memiliki rute pemberhentian yang cukup banyak dan merupakan salah satu bus utama yang sering digunakan oleh penduduk Fukuoka.


Dengan gesit, aku mengaktifkan kamera HPku, lalu berfoto sampai puas bersama ayahku.


Setelah itu, kami menikmati makan siang berupa ramen yang sangat lezat, yang kini dikenal di seluruh dunia sebagai Hakata Ramen.


"Ah, perut sudah kenyang. Sekarang kita mau kemana, Kaede?" kata ayahku, nampak sangat puas.


"Hmm.. Bagaimana dengan Marine World? " jawabku tanpa berpikir.


"Haha. Baik, baik. Kamu memang suka sekali pada akuarium semenjak kecil, putriku yang unik." respon ayahku patuh.


Kali ini, aku bersemangat untuk melihat ikan hiu yang menurutku paling unik sedunia. Katanya, spesies ikan hiu itu telah hampir punah dan tidak ada duanya di dunia. Namanya Megamouth Shark.


Walaupun cukup sulit untuk menyebutkan nama itu dengan kemampuan bahasa inggrisku yang terbatas, aku tetap berminat untuk mengunggah fotonya dalam akun sosial mediaku.


Dalam hitungan detik, tiba-tiba seseorang menyukai postinganku. Orang itu bahkan mulai membagikan dan melakukan re-posting yang ditujukan kepada beberapa pengguna akun yang lain. Berkatnya, orang-orang asing mulai berkomentar dan turut menyukai unggahan sederhanaku itu.


"Siapa orang ini?" gumamku penasaran.


Aku terkejut seketika melihat nama pengguna orang misterius itu.


"D-Doujima..?" ucapku, sedikit curiga.


Doujima321 : Keren sekali. Apa kamu bersenang-senang, Kaede?


GLEK


Aku pun yakin seketika membaca komentar dadakan tersebut. Tanpa sadar, aku malah menekan tombol 'suka' atas bantuan remeh yang diberikannya.


"Iseng sekali. Kaito-kun memang kurang kerjaan." ejekku pelan dan sedikit tersipu.


Entah mengapa, aku cukup senang mendapatkan respon virtual dari pemuda itu.


Di sisi lain, saat itu Kaito juga sedang menatap layar HPnya.


"Suka? Kaede memang manis. Kalau begitu, aku harus mengirimkan lebih banyak dukungan."


Doujima321 : ♡Nikmati waktumu, sayang.♡


DEG


"B-bodoh!" seruku keras, sehingga membuat ayahku menoleh dengan cepat.


"Kamu kenapa, Kaede?" tanya ayahku kebingungan dan terkejut, sambil memegangi dadanya.


"Eh.. Bukan apa-apa. Maaf, otousan." kataku malu dan merasa bersalah.


Ayah hanya mendesah, lalu tertawa kecil kepadaku.


- Bersambung -