
Tak terasa, musim panas telah benar-benar berakhir dan musim gugur telah tiba.
Sebentar lagi, festival Halloween yang disukai oleh semua murid akan diadakan selama seharian penuh di dalam hingga halaman luar sekolah.
Saat ini, para murid mulai nampak sibuk memikirkan dan mempersiapkan kostum, kejutan, stan penjualan makanan, serta berbagai macam hadiah untuk pengunjung, sesuai tema Halloween untuk kelas masing-masing. Bahkan, semua anak menjadi lebih bersemangat lagi, karena sekolah mengizinkan keluarga murid untuk berkunjung dalam kegiatan tersebut.
Seharusnya, saat ini semua anak berada di ruang kelas sambil memutar otak. Berbeda denganku dan Kaito. Kami malah berada di dalam ruangan rapat klub bercocok tanam dan hendak bersiap untuk memanen kabocha yang telah kami tumbuhkan selama 2 minggu terakhir.
"Kamu sudah siap, Kaito-kun?" tanyaku penasaran, karena aku telah sekian lama menunggu Kaito berganti pakaian klub.
"Sebentar lagi, Kaede!" sahut Kaito, masih mengendap di dalam ruangan ganti pria.
Aku pun hanya duduk diam di bangku rapat dan mulai merasa tidak sabar.
Sebenarnya, ketakutanku di saat seperti ini hanya satu. Tak lain adalah para teman sekelas yang akan segera menagih hasil jerih payah klub bercocok tanam!
"Kaito-kun, cepatlah sedikit!" seruku lagi.
BRAAKK
Belum sempat mengalihkan pikiran, pintu ruangan rapat dibuka keras secara mendadak oleh sekelompok anak penagih itu.
"Fujisawa! Kau tidak sedang kabur dari tanggung jawab, bukan? Kelas kita membutuhkan setidaknya 3 buah kabocha untuk keseluruhan acara. Padahal, kamulah yang memutuskan untuk mengikuti kegiatan klub ini seorang diri. Tidakkah kamu terlalu santai?" ucap Mai, salah seorang dari beberapa gadis di kelas 1-A yang tidak pernah menyukaiku.
Seketika membuka mulut, gadis seperti Mai akan terus menceramahi dan menekanku hingga aku benar-benar tak berdaya. Sepertinya, hal itu selalu memuaskannya.
"Berisik."
Tiba-tiba, Kaito memunculkan diri dengan tatapan garang.
GLEK
"D-Doujima-kun? Mengapa kau bisa berada di dalam ruangan ini?" kata Mai, seraya berjalan mundur dan nampak takut.
Benar juga. Tidak ada seorang pun dari teman sekelas kami yang mengetahui bahwa Kaito merupakan anggota klub bercocok tanam, karena kami telah bersepakat untuk merahasiakannya.
Menurutku, akan sangat merepotkan jika para gadis lain berpura-pura ingin bergabung dalam klub ini demi mencari kesempatan untuk mendekati Kaito.
Sedangkan, Kaito hanya memikirkan waktu kami. Dia tidak ingin diganggu oleh siapapun saat bersamaku.
"Kau sendiri? Apakah ketua kelas boleh merendahkan teman sekelasnya? Kau benar-benar tidak berguna, Mai Hayashi! Ya kan, Kaede?" bela Kaito, seperti biasa.
"Eh.. Maaf. Aku bahkan tidak menyadari bahwa gadis itu adalah ketua kelas kita." balasku apa adanya.
"Pff- Kau dengar itu, Mai? Lebih baik kau tidak mengganggu kami lagi." tegas Kaito, dengan semakin mantap.
"Tapi, aku hanya bertugas untuk mengambil kabocha.. Kalian memang pasangan yang menyebalkan!" sentak Mai, setelah berucap sangat pelan dan sedikit gemetar.
Mai pun meninggalkan kami, diikuti oleh teman-teman yang tadinya datang bersama dengan gadis itu.
"Akhirnya, kita berdua lagi. Bagaimana dengan kaos ini, Kaede?" kata Kaito, beberapa detik setelah kepergian mereka.
"Eh.."
Saat itu juga, aku tersadar dan wajahku mulai merona.
"Ini adalah kaos klub bercocok tanam yang dibuat khusus untukku dan Kaede. Kau suka?" ujar Kaito, semakin memperjelas maksudnya.
...----------------...
...Kaito ♥ Kaede...
...🍀 Shima High School's Botanical Club 🍀...
...----------------...
Tulisan yang dibuat dengan rapi pada kaos itu memang membuatku sedikit terharu, namun aku juga harus menyampaikan maksudku yang lain kepada Kaito.
"Kaito-kun. Sebenarnya.."
GYUTT
Belum berkata-kata dengan benar, Kaito malah memelukku.
"Kau suka padaku, ya kan? Aku tahu kau akan berkata demikian! Kau memang manis, Kaede." katanya girang.
DEG DEG DEG
"Maaf, Kaito-kun.. Aku perlu mengatakan sesuatu yang lain." ucapku malu dan mulai pusing, karena kewalahan.
"Ah, maaf." respon Kaito, akhirnya melepaskan dekapan kencangnya.
"Uh.. Sebenarnya, ucapan Mai tidak sepenuhnya salah. Sedari tadi, aku menunggu Kaito-kun agar kita segera memanen kabocha sebelum besok dan memberikannya kepada teman-teman sekelas." jelasku.
"Hmm, bukankah festivalnya masih dua hari lagi?" balas Kaito santai.
"Begitu ya. Kaede memang gadis yang tulus dan baik hati." Kaito malah memujiku, dengan tatapan hangatnya.
DEG
"M-mengapa Kaito-kun malah berkata seperti itu?" ucapku malu.
"Habisnya, Kaede manis sekali."
Lagi-lagi, Kaito membuatku terdiam seribu bahasa. Aku pun hanya memalingkan wajahku yang memerah.
"Hehe."
Kaito tersenyum lagi.
Mengapa senyuman pemuda ini selalu membuatku terpesona dan berdebar tidak karuan?
PLUK
"Ayo, kita panen kabocha untuk kelas kita." ajaknya, seraya menyentuh lembut puncak kepalaku.
"Ya.." jawabku pelan.
Beberapa saat kemudian, kami telah berhasil memetik dan membawa 3 buah kabocha, sesuai permintaan kelas 1-A.
"Ah, terima kasih, Doujima-kun. Kukira, kami akan segera dikalahkan oleh kelas 1-B akibat persiapan kami yang kurang." ucap seorang murid lelaki kepada Kaito, seketika menerima kabocha dari tangan kami.
"Oi. Bilang terima kasih kepada pacarku juga, bodoh!" sahut Kaito dengan tatapan jutek.
"A-ah, iya. Terima kasih, Fujisawa-chan." kata anak itu patuh.
"Sama-sama." balasku ramah.
"Sudah, pergi sana! Jangan main mata dengan Kaede-ku!" bentak Kaito, tidak sabaran.
"Ehehe.." aku hanya meringis melihat sikap Kaito yang protektif dan berlebihan.
"Manisnya." gumam Kaito tiba-tiba.
"Eh.."
"Aku sangat menyukai Kaede." kata Kaito lagi, bahkan sampai menggodaku dengan kedipan matanya.
DEG DEG DEG
"Sudah. Ayo kita masuk ke ruang kelas." ucapku gugup.
Walau penuh gejolak dan permasalahan, sepertinya kami akan menikmati festival Halloween kali ini.
...****************...
Sepulang sekolah, aku langsung memberitahu ayahku.
Meski sibuk, seorang Kakeru Fujisawa akan menepati janjinya untuk menghadiri festival Halloween. Begitulah katanya.
Melihat sikapku yang ceria, ayahku pun tersenyum puas.
"Bersenang-senanglah, Kaede." katanya, khas seorang ayah.
"Ya, otousan." balasku, dengan senyuman terbaik yang jarang sekali kutampilkan.
"Kaori-chan. Nampaknya, anak kita telah bertumbuh besar." ucap ayahku, tiba-tiba terharu dan menyebutkan nama ibuku.
"Jangan berlebihan, otousan." kataku dengan tatapan garing.
"Hahaha. Kaede memang sangat serius. Sesekali, cobalah untuk tertawa seperti ayah." saran ayahku.
"Tidak mungkin." balasku singkat.
BLAM
Suasana pun hening, seketika aku masuk dan menutup pintu kamarku.
Ayahku masih saja berdiri di dekat sana, lalu mendesahkan nafas.
"Kamu pasti tidak ingin membahasnya. Maafkan otousan, Kaede." gumamnya pelan, sebelum berlalu.
Sementara itu, aku tengah berdiri dengan bersandar pada pintu.
"Okaasan.." ucapku dengan wajah tertunduk.
Ayahku benar. Sampai kapanpun, aku akan teringat pada almarhum ibuku. Walau sudah hampir 3 tahun berlalu, Kaori Fujisawa tetaplah seorang wanita yang membanggakan bagi keluarga kami.
- Bersambung -