Removed

Removed
Chapter 3 Part 7



Mengapa malah seperti ini...! Reinu melepas lengan temannya dari lehernya. Otot-otot kedua tangan dipompa sekuat tenaga untuk melempar Ayako sejauh 8 meter dari tempat asal.


Dada Ayako terhantam keras tepat di sudut trotoar yang menjorok ke atas. "Bodoh!" teriaknya. Mengapa anak bodoh ini tiba-tiba fisiknya menguat...!? tanyanya yang disimpan untuk dirinya sendiri.


Jika dipikir-pikir dari sisi orang yang tak terlibat ( jika ada ) mungkin bakal menganggap Reinu sebagai manusia terbodoh sejagat raya. Ia tak berlari atau menghindar secepat mungkin untuk mengurangi cedera. Malah berdiri seperti seorang pahlawan yang memiliki sihir penguat atau penghenti waktu.


Meskipun jika Reinu memilikinya, tetap saja hal itu tidak menghentikan sang sopir untuk mengerem paksa kendaraannya—bisa-bisa terjadi kepanikan yang dapat mendatangkan kecelakaan yang melibatkan fasilitas kota.


Kendaraan roda empat itu semakin mendekat dengan kecepatan yang luar biasa. Lampu sorot yang memperpanjang jarak cahaya dinyalakan oleh sang pengendara untuk memperingatkan kebodohan Reinu. Tidak ketinggalan klakson yang terdengar sampai penghujung dunia.


Antara panik, takut, dan gila. Sulit untuk dipilih antara ketiga opsi yang mendeskripsikan keadaan Reinu saat ini. Tetapi bagaimana jika ada satu opsi rahasia yang tak disadari oleh orang normal lainnya? Rasa ingin mati?


Keinginan Ayako untuk menyelamatkan seseorang mulai bereaksi. Tapi energi untuk menggerakkan lemak dan otot belum pulih sempurna. Mungkin satu-satunya cara tuk menyelamatkannya adalah menggunakan sihirnya. Namun, waktu ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengekspos sihir yang dimilikinya walaupun hanya 2 orang saja yang akan mengetahuinya.


Pada rasio jarak 20 meter dengan kecepatan yang setara air hujan yang terjatuh ke tanah bumi, mobil itu berdecit memaksa berhenti. Meski roda terhenti, tetap saja keempat roda yang dihentikan secara paksa pada kecepatan yang luar biasa kalah terhadap gesekan—rodanya memang berhenti, tetapi gaya geseklah yang akan bekerja sisanya.


Jarak 20 meter sepertinya tak cukup bagi mobil ini untuk berhenti. Satu-satunya cara yang bisa pengendara lakukan untuk menghentikannya hanyalah melakukan pembantingan setir ke arah yang menurutnya aman tanpa adanya halangan.


Ada tiga penentuan yang akan ditentukan oleh takdir.


Pertama yang pasti, mobil tersebut kalah mutlak dengan hukum fisika. Reinu yang berdiri tak akan sempat lagi menghindari kendaraan misterius yang akan menabraknya.


Kedua, pengendara itu akan panik dan menabrakkan dirinya sendiri ke suatu gedung yang ada di sekitar Reinu. Pada opsi kedua ini, ada kemungkinan penambahan satu korban.


Yang paling akhir dan mungkin menjadi akhir yang baik untuk korban, bagaimanapun caranya Reinu menghindar secepat mungkin pada waktu yang tepat. Kecepatan pergerakannya harus melebihi rasio kecepatan benda yang menabraknya.


Untuk melebihi kecepatan mobil tersebut cukup dibutuhkan tubuh yang ringan saja. Tapi, beban berat ringan timbangannya yang dimiliki Reinu ternyata setara dengan ringannya fisik dirinya. Berlarinya pun lambat, sampai-sampai Ayako hanya melakukan jalan cepat untuk mempersilahkan Reinu mendahului.


Reinu... bodohnya kau! Kesabaran sang Ayako terganggu gugat. Ia terpaksa untuk menunjukkan bakat sihirnya di depan dua orang bodoh yang telah memiliki karcis gerbang masuk akhirat.


Tanpa terdengar perintah atau mantra melalui pita suara. Kartu-kartu yang beterbangan bebas di udara membentuk sebuah formasi yang menghalangi jalannya sang mobil.


Ah... ternyata kau akhirnya mengeluarkannya, kata dalam hati Reinu. Aslinya, ia mengorbankan dirinya dan menyelamatkan Ayako untuk suatu tujuan yang tersimpan di dalam otaknya. Ia yakin bahwa temannya memiliki hal yang akan mengejutkan mata.


Apalagi di saat Ayako dapat dengan mudahnya menghemat sihir tuk melakukan hal lain yang tak kalah penting. Kartu yang berformasi sebagai pelindung itu ternyata hanya setengah dari kartu yang dimilikinya.


Setengah kartu yang tak terpakai dimanfaatkan untuk mengurangi gaya gesek yang memercikkan api pada sela-sela ban. Jalanan aspal berteriak kencang mencetak arang hitam. Kartu-kartunya seperti menjadi tangan ketiga mengangkat keempat roda meloloskan mobil dari jebakan hukum gesek.


Paling unik lagi adalah bentuk dari perisai yang dibuatnya. Ia membentuknya seperti sebuah sendok pada bagian cekungannya. Hal itu dapat mengurangi dampak kerusakan karena ban roda yang bermaterial karet menghantam sisi terluar terlebih dahulu dan pastinya dapat dimanfaatkan Ayako sebagai tambahan waktu untuk tahap penyelesaian.


Pengangkatan kendaraan pun memiliki tujuan yang cukup baik untuk sang sopir. Ayako berusaha mencari dan mempraktikkan bagaimana caranya menyelamatkan keduanya tanpa ada jejak kecelakaan pada sekitar. Dalam pengecualian, jejak cetakan gesek yang dihasilkan oleh karet dan aspal bermaterial hidrokarbon.


"Reinu!" teriak Ayako memanggil Reinu kemari.


Kepuasan sang Reinu mencapai batasnya. Ia langsung merespons dan kembali melangkah sampai menaiki tonjolan trotoar.


Ayako sampai tidak fokus terhadap pengendalian sihirnya karena menatap temannya yang berekspresi ceria meskipun tak jauh beda dari wajah aslinya. Kenapa nih anak? pikirnya.


"Ayako, fokus!" seru Reinu secara tiba-tiba. Menyadarkan Ayako yang lengah dalam sihirnya. Sihirnya seketika melonggar yang membuat proses pengangkatan mobil gagal dan menabrak keras perisai yang dibuatnya.


Beruntungnya, mobil tersebut berhenti sembari mengeluarkan asap putih dari keempat roda diakibatkan oleh debu-debu yang berkelompok dan menempel pada udara maupun bidang-bidang yang ada di sekitarnya.


Ayako pun melepaskan sihirnya dan mengembalikan seluruh kartu sihirnya ke dalam suatu kotak hitam berbahan besi khusus yang terasa layaknya mengangkat barbel. Itu pun berat kosongnya, beban bisa bertambah dua kali lipat jika terisi kartu-kartu sihirnya yang tak terhingga jumlahnya.


Kedua benda itu seperti perangkat sihir namun jenisnya sangat jauh berbeda dari yang lain. Jenis sihirnya pun sangat jarang terlihat pada medan peperangan, lebih sering terdengar pada teknik sulap yang sangat jadul rupanya.


Apa mungkin itu alasannya mengapa Ayako berada di dalam kelas terendah?