Removed

Removed
Chapter 3 Part 6



Matahari hampir meraih cakrawala. Langit-langit yang berwarna biru berkat ozon, berubah ke emas-emasan.


Langkah kaki para murid saling berdentuman. Sangat sejuk rasanya melihat murid-murid saling bergerombol dan bersama-sama berjalan pulang. Arti persahabatan tiada tara.


Rasa harmonis dan kesejukan yang berambai-ambai di udara dingin tiba-tiba terhapus oleh dua murid yang tergesa-gesa ingin mengarah ke suatu tempat.


Reinu dan Ayako dalam misi penyelamatan dadakan. Tanpa rencana, tanpa keahlian, hanya mengandalkan kecepatan dan ketepatan dalam fisik maupun pikiran. "Ayako! Apa aku boleh lari sendiri!?" tanya Reinu yang sedang ditarik paksa oleh Ayako.


"..." Ayako tak mengatakan satu pun kata dari bibirnya. Tapi ia menuruti permintaan kawannya untuk melepaskan genggamannya.


Reinu akhirnya dapat berlari dengan bebas serta memilih rute yang lebih cepat. "Ayako, aku tahu jalan yang tercepat!" ujarnya.


"..." Lagi-lagi tanpa perkataan. Hanya menggoyangkan kepalanya ke bawah lalu kembali menandakan sebuah persetujuan.


Reinu dan Ayako berusaha keras untuk berlari menuju rumahnya. Tak peduli keringat yang membanjiri tubuh, energi yang terbuang sia-sia, serta kemampuan otot yang tidak terpenuhi untuk lari sepanjang dan secepat ini yang penting sampai pada waktunya.


Terpaksa lewat gang itu lagi ya...? dalam benak Reinu. Ia berusaha untuk mencari jalan yang mempersingkat waktu secara telak. Mau bagaimana lagi, Reinu harus melewati gang yang tak diinginkan untuk dilewati selama ini karena suatu alasan.


Biasanya jika ingin mempersingkat waktu, Reinu selalu menggunakan fasilitas negara berupa kereta. Karena jika jadwalnya tepat, pasti sampainya lebih cepat dibandingkan berlarian. Tapi karena waktunya terbuang karena pertukaran gagasan yang tak berguna antar ketiga orang itu, jadwal kereta yang biasanya tertinggal dan terpaksa harus menunggu kereta baru untuk datang.


Di saat-saat seperti ini, Reinu merasa ingin membeli sebuah sepeda untuk bepergian dan pastinya untuk menghemat tenaganya.


"Belok sini, Ayako," ujar Reinu berbelok ke arah gang yang tak memiliki pencahayaan apa pun.


Ayako menuruti arah jalannya. Ia percaya bahwa Reinu memiliki kunci jalan pintas yang mengarah tujuan dadakannya. Jalan yang dipilih Reinu hanya lurus dengan rumah-rumah yang terlihat normal berjejer lurus. Kendaraan bermotor maupun fisik tertidur.


Masih terasa normal dan hidup.


...tapi ada sesuatu yang mengganggu indranya. Otot-otot kaki yang memompa cepat transisi ayunan masing-masing kaki seperti tertahan oleh sesuatu. Seakan-akan ada beban dan rantai yang menariknya kembali. Larinya semakin melambat dan tertinggal oleh temannya—energinya pun terasa ikut berkurang.


Reinu yang tetap berlari tanpa ada kekurangan apa pun hampir saja tak sadar akan Ayako yang terlibat oleh hal gaib. "Ayako...?" Pergerakan antar kedua kaki melambat, menransisi perhentian.


Pada saat itu, mereka berdua telah mencapai garis akhir gang yang gelap itu. Namun, Ayako masih saja berada di tengah jalan raya tuk menyeberang. Sementara itu, Reinu sudah menyelesaikan penyeberangannya.


Energi Ayako seperti terkuras drastis membuatnya kesulitan untuk berjalan cepat. Berjalan pun tak mudah lagi baginya. Mungkin kejadian yang datang secara tiba-tiba ini dapat ditembuskan dengan bantuan pertama. Tapi bagaimana jika kejadian ini terjadi ketika korban berada di tengah jalan dengan lampu seberang hijau mau akan merah? Itu yang membuat kepanikan Reinu terhadap kawannya mulai bereaksi.


Pada pukul 5, di mana para manusia banting tulang dan para pelaksana klub di dalam sekolah telah menginjakkan kakinya di depan gerbang kepulangan. Jalan raya yang sepi ini pasti akan ramai dalam waktu dekat.


Reinu mengangkat lengan kanan Ayako dan melingkarinya pada leher dirinya. Walaupun dirinya lemah serta tidak cocok untuk melakukan pertolongan pertama yang memanfaatkan fisik seorang penolong tetap saja ujung-ujungnya berpusat pada persentase keberuntungan yang diturunkan.


"Siap, Ayako?" tanya Reinu sekaligus memerintah temannya untuk melemaskan seluruh anggota tubuhnya agar beratnya berkurang.


"..." Lagi-lagi tanpa perkataan, ia hanya menggunakan gerakan kepala untuk mengatakan ya kepada Reinu. Ia berusaha mungkin untuk meringankan beban tubuhnya yang akan melawan gravitasi.


"San, ni, ichi...!" Hitung mundur Reinu kepadanya. Setiap nomor yang diucapkan, semakin ringan beban tubuh Ayako. Dirinya akhirnya dapat diangkat yang memberikannya sedikit keringanan untuk berjalan kembali sampai energinya pulih 100%.


"Terima kasih, Reinu..." ucap Ayako. Tampak wajah yang mengarah ke arah Reinu mengubah sifat yang selama ini berada di dalam ingatan temannya—Reinu tadinya sempat menganggap Ayako sebagai manusia tanpa tata ekspresi sekaligus cenderung pendiam.


Sebelumnya, Reinu pernah berpikir bahwa teman yang belum dianggap teman sepenuhnya ini memiliki zero expression ( tanpa ekspresi ) yang bisa-bisa ditakuti oleh orang-orang sekitarnya. Pada kenyataannya, kenyataan tersebut seperti diputarbalikkan 180 derajat. Ayako memiliki beragam ekspresi yang pastinya dimiliki oleh kebanyakan manusia normal. Namun, bentuk ekspresinya masih cenderung paksa. Munculnya ekspresinya pun terkadang jauh dari fenomena yang di ekspresikannya.


"Ayako. Apa kau kuat berjalan sampai seberang sana?"


"Semoga..."


Kenapa malah aku gak yakin? Pada saat-saat seperti ini, korban hampir saja terbantu. Pembantu malah bisa-bisa ikut menjadi korbannya.


Sebenarnya, Reinu ingin membalikkan langkahnya dari garis awal penyeberangan dibandingkan meneruskan—dilihat dari jarak antar keduanya, Reinu dan Ayako berada 10 meter lebih dekat dari awal dan 15 meter lebih jauh dari garis akhir yang berada di depan mata. 5 meter ekstra untuk menyelesaikan penyeberangan yang mengartikan ekstra tenaga dan ekstra kecepatan untuk menyelesaikan secara sempurna selama 10 detik sebelum rambu berganti warna.


"...ikusou." Dua ekstra kaki ditambahkan. Reinu berusaha untuk menuntun irama, jarak, dan tekanan langkah kakinya. Sebaliknya, Ayako mencari cara bagaimana mengikuti pergerakan temannya.


Langkah demi langkah menjauhi tempat start, mendekati garis akhir. Jam sebegini, masih saja tak ada satu pun makhluk hidup yang lewat apalagi membantu mengurangi beban. Kabel ingatan Reinu dan Ayako seperti menyambung pada satu server—pikirannya sama, mengapa masih sepi?


Reinu pernah merasakan suasana yang persis seperti saat ini. Lebih tepatnya kemarin. Tapi ia mengira bahwa tempat sesunyi itu hanya terjadi pada daerah itu saja. Namun kenyataannya, ternyata ada daerah kedua yang menjadi korban kematian. Apa mungkin ada lagi? pikirnya.


Jarak menuju akhir tinggal sekitar 10 meter. Detik perubahan warna mencapai detik ke 3. Persis dugaan Reinu, tak akan sempat dan bisa-bisa mereka berdua mengalami kecelakaan jika jalan raya dipenuhi dengan kendaraan bermotor—untungnya, belum ada kendaraan apa pun yang lewat.


...waktu penyeberangan telah menyentuh angka 0. Waktunya untuk pergantian jalur dari pejalan kaki ke kendaraan bermotor. Tempat sepi dan sunyi seperti ini, siapa yang peduli dengan hal itu?


Tapi suatu hal yang tak diinginkan berada di depan mata...


[ Bunyi klakson mobil tiba-tiba bernyanyi dari kejauhan ]


"...mo-mobil!" seru Ayako.