Removed

Removed
Bertahan dan Maju



Setelah berpisah dengan Kaito, hari-hariku sebagai seorang siswi kelas 2 SMA kembali terasa normal dan biasa saja.


Aku berusaha sebaik mungkin untuk berpikiran positif dan tidak menyalahkan keadaan.


Hari ini, Shouta berencana untuk memperkenalkan seorang teman baru yang akan bergabung bersama dengan kami dalam kegiatan klub bercocok tanam.


"Ah. Sebelah sini, Kaede-chan!" serunya, saat aku tiba di rooftop sekolah pada jam istirahat siang.


Dan tentunya, aku melihat seorang anak tak dikenal yang nampaknya seorang adik kelas. Anak itu adalah seorang gadis berambut kepang hitam yang berkaca mata dan cukup manis.


"Terima kasih sudah bersedia menemaniku dan teman baru kita, Kaede-chan. Kukira, aku akan selalu gagal dalam berteman. Aku senang sekali!"


"Tidak, kamu bukan orang yang diabaikan. Jangan berpikiran seperti itu, Shouta-kun." tegurku.


"Begitukah? Haha." katanya, malah meringis.


"Halo." sapaku kepada anak baru itu.


"H-halo juga, senpai." balasnya.


"Jadi, kamu memang adik kelas. Siapa namamu?" ucapku ramah.


"A-aku.. Yukari Itou." katanya pelan dan seperti malu-malu.


"Salam kenal, Yukari-chan. Namaku Kaede Fujisawa. Kamu di kelas yang mana?"


"1-A. Kalau Fujisawa senpai?"


"Aku kelas 2-D, sama dengan Shouta-kun." jawabku.


Begitulah. Setelah berkenalan, percakapan kami berakhir dengan cepat.


Jika itu Kaito.. Hingga saat ini pun, dia pasti mampu membuatku kesal, sekaligus tertawa.


Sementara itu, di rumah lain keluarga Doujima di ibu kota Tokyo..


"Tunggu, Tuan Muda. Saya mohon..!" pinta butler Yama Kinoshita.


"Berisik. Jangan menghentikanku." kata Kaito, dengan tatapan sinis.


"Tapi, Tuan Muda.. Bagaimana jika Tuan Besar marah lagi kepada Anda?" bujuk Yama memelas.


"Mana mungkin aku peduli? Aku takkan pernah memuaskan otou-sama dengan berusaha seperti apapun!" jawab Kaito ketus.


Tidak tahan lagi dengan perlakuan keras Ren Doujima, Kaito berencana untuk meninggalkan rumah saat ayahnya tersebut sedang bekerja. Namun, apakah itu adalah keputusan yang tepat?


"Tuan Muda.." ucap Yama, nampak khawatir dan sedih.


"Cih. Yah sudah! Aku akan mencoba untuk berbicara lagi dengannya." kata Kaito, akhirnya mengalah.


Ini semua demi masa depanku dan Kaede.


Dengan motivasi tersebut, Kaito pun berusaha untuk bertahan dalam segala rintangan dengan sebaik mungkin.


Ren berencana untuk menyekolahkan putranya di sebuah SMA elit yang didanai oleh pemerintah, dengan kurikulum dan standar kompetensi yang sangat berbeda dari sekolah-sekolah biasa.


Sebuah sekolah yang dikenal dengan nama Seiko; yakni tempat anak-anak cerdas nan berbakat dari keluarga terpandang akan bersaing secara ketat demi nilai dan masa depan yang menjanjikan.


Sayangnya, masalah terbesar Kaito hanya satu, yakni fakta bahwa ia tidak pernah termotivasi untuk menjadi yang terbaik di atas orang lain.


Padahal, dulunya Ren Doujima sempat menjadi seorang ayah yang bersifat hangat dan disayangi oleh Kaito sebagai anak.


Entah mengapa, kedekatan Kaito dengan ayahnya perlahan memudar semenjak suatu hari. Kaito pun merasa yakin bahwa sesuatu yang cukup serius telah terjadi. Sesuatu yang selama ini selalu dirahasiakan oleh sang ayah.


...****************...


Sepulang sekolah, aku masih ingin mempersibuk diriku sendiri dengan tugas-tugas sekolah hingga pekerjaan rumah.


"Tidak perlu khawatir, otousan. Aku baik-baik saja." kataku mantap, dengan sikap ceria.


Ayahku hanya mendesahkan nafas, lalu menungguku selesai melakukan semua aktivitasku yang jelas-jelas disengaja itu.


Aku berusaha keras membuat semua hal yang kulakukan terasa menyenangkan.


Benar. Aku tak ingin tiba-tiba patah semangat dan melupakan impian terbesarku bersama Kaito.


Suatu saat nanti, kami akan mengikat diri dalam sebuah pernikahan yang sakral. Walau saat ini semuanya nampak mustahil, kami yang masih terus merindukan satu sama lain pasti akan mampu melaluinya.


Mau tidak mau, hatiku masih saja terasa sakit dan aku sering menangis seketika memikirkan tentang kelangsungan hubungan kami.


"Tenang saja, Kaede. Sejak pertama kali melihat Kaito-kun, otousan merasa cukup yakin bahwa perasaannya padamu benar-benar tulus. Dia sedikit berbeda dengan Ren. Entah apa yang telah membuat Ren yang kukenal berubah sebanyak itu. Lagipula, Kaito-kun adalah seorang pemuda yang berkemauan keras dan pantang menyerah. Tidak mungkin dia akan meninggalkan Kaede." hibur ayahku.


Tiba-tiba, sebuah pemikiran tersirat dalam benakku.


"Otousan. Bisakah aku mendengar lebih banyak mengenai keluarga Doujima?"


Ucapan spontan itu nampaknya membuat ayahku sedikit terkejut. Beberapa detik kemudian, ia meresponi permintaanku dengan sebuah anggukan kepala.


"Baiklah, jika itu maumu. Akan kuberitahukan semua yang kuketahui kepada Kaede."


"Terima kasih, otousan." ucapku senang.


"Tidak perlu berterima kasih. Lagipula, informasi yang otousan miliki hanya berdasarkan pada masa lalu."


"Ya, otousan." jawabku.


"Sebenarnya, otousan dan Ren sempat bersahabat selama beberapa tahun. Selain kami berdua, ada juga teman-teman lain; seperti Haruhi, Makoto, dan Sayuri. Makoto laki-laki, dan dua yang lain tentunya wanita. Dulu, Ren sering sekali menemui kami secara diam-diam, karena takut ketahuan oleh kedua orang tuanya yang sangat keras dalam mendidik dan mengontrol kebebasannya. Hingga kami beranjak dewasa dan mulai menjalani hidup masing-masing secara terpisah. Makoto menikahi Haruhi dan akhirnya memiliki Momoe-chan yang baru lahir setelah Haruhi mengalami keguguran secara beruntun. Sedangkan, Sayuri memutuskan untuk tidak menikah dan hidup seorang diri. Karirnya lebih mantap daripada Haruhi. Dialah yang pertama kalinya memutus hubungan dengan kami, entah apa alasannya. Perlahan, Ren juga menjauhi kami. Oleh sebab itu, saat kudengar bahwa Ren dan keluarganya kembali ke Fukuoka, otousan sangat senang. Kukira, hal itu akan berlangsung lebih lama, sehingga memungkinkan kami untuk berhubungan kembali."


"Oh." ucapku pelan.


"Ya kan? Sudah kubilang, informasi otousan tidak akan begitu berguna. Maaf ya, Kaede." desah ayahku.


"Ah, tidak. Terima kasih, otousan. Aku sangat menghargainya." kataku, sembari memeluk ayahku.


"Malangnya kamu, Nak. Padahal, kamu telah memberinya hadiah ulang tahun. Andai Kaito-kun masih berada di Fukuoka, otousan pasti sudah berkali-kali mendatangi rumahnya. Sayang sekali, rumah sebesar itu kini dibiarkan kosong dan hanya dijaga oleh beberapa pelayan." ujar ayahku, seketika membalas pelukan itu dan membelai rambutku dengan lembut.


"Aku ingin mengenalnya, otousan. Aku ingin menjadi kekuatan dan penyemangat bagi Kaito-kun."


"Tentu saja. Kaede pasti mampu. Lalu, bagaimana dengan temanmu yang satu lagi?" tanya ayahku.


"Shouta-kun?" tanyaku balik, untuk memastikan.


"Benar. Anak berambut pirang yang serampangan dan sangat ceria itu."


Mendengar ulasan ayahku mengenai Shouta, aku sedikit tertawa.


"Memangnya, Shouta-kun berbuat apa lagi saat berkunjung kemari, otousan?" tanyaku lagi.


"Hmm.. Dia menyatakan bahwa dia menyukai Kaede dan ingin menggantikan Kaito-kun."


"Eh.. Apa-- Tidak mungkin! Otousan pasti sedang membohongiku." kataku kesal.


"Ahaha. Kaede benar-benar sangat mampu menebak ya." tawanya.


"Puh. Apaan sih." gerutuku.


"Tapi, jangan pernah membatasi dirimu sendiri, Kaede. Jika nasib berkata lain dan kamu akhirnya bertemu dengan seorang pemuda lain, kamu pun harus mampu melupakan masa lalu dan melanjutkan hidupmu dengan baik."


Nasihat itu memang khas Kakeru Fujisawa, yang selalu mampu bersikap positif dan bijaksana dalam mengatur perasaan pribadi serta tanggung jawabnya.


Seperti kedua orang tuaku, kuharap aku takkan perlu melupakan dan berhenti mencintai Kaito hingga selamanya.


- Bersambung -