Removed

Removed
Tekad dan Harapan



Tak terasa, musim semi telah berlalu dan Fukuoka kembali memasuki musim panas pada bulan Juni 2018.


Walau perlahan, rasanya aku mulai dekat dengan Shouta dan Yukari.


"Kaede-chan!" panggil Shouta, dengan ceria seperti biasa.


"Hai." balasku, lalu melakukan high five dengan Shouta.


"Kebetulan, Yukari-chan juga datang bersama denganku. Apa yang bisa kami bantu, Kaede-chan?" ujar Shouta.


Karena hari ini adalah hari Sabtu, sebelum pekan liburan musim panas, Shouta menawarkan diri untuk membantu pekerjaanku yang ditinggalkan oleh Kakeru ke suatu tempat karena urusan tertentu. Tugasku kali ini adalah memeriksa dan mengatur stok sayur-sayuran. Tak kusangka, Shouta akan membawa Yukari.


"Ah.. Kamu tidak perlu memaksakan diri. Pasti Shouta-kun yang mengajakmu. Maaf ya, Yukari-chan." kataku pada Yukari, gadis yang selalu terlihat gugup itu.


"Ehh? Yang benar saja.. Jangan menuduhku seperti ini, Kaede-chan! Padahal, aku tadi bertemu dengannya di dekat pemberhentian bus. Ya kan, Yukari-chan?" keluh Shouta.


"Ah, anu.." ucap Yukari, kewalahan menjawab.


"Pemberhentian bus? Itu malah terdengar seperti paksaan. Bukankah jaraknya sedikit jauh dari sini?" godaku.


"Kaede-chan! Itu kan cuma berjarak beberapa meter.. Ah, sudahlah." desah Shouta, menyerah.


"Hahaha."


"Jangan tertawa, Kaede-chan..!" seru Shouta, mulai kesal padaku.


"Maaf, maaf. Habisnya, mudah sekali bercanda terhadap Shouta-kun. Biasanya, aku tidak pernah bercanda karena ideku sangat tidak lucu ataupun menarik." jelasku jujur.


"Begitukah?" gumam Shouta, langsung tenang kembali.


"Yukari-chan. Maaf, kami tidak bermaksud untuk mengabaikanmu." kataku, beralih kepada adik kelas kami yang pendiam dan manis.


"Tidak apa-apa, senpai. Aku sudah terbiasa." jawab Yukari, dengan senyuman canggung.


"Baiklah. Mari kita membantu Kaede-chan. Setelah itu, bagaimana jika kita membeli sesuatu yang segar di sekitar tempat ini?" usul Shouta.


"Boleh." jawabku singkat, lalu mulai memberitahu dan mendemonstrasikan pekerjaanku kepada Shouta dan Yukari.


Kami pun mengerjakan semuanya bersama-sama hingga tuntas.


"Selesai. Terima kasih atas bantuan kalian." kataku tulus, seraya menyalami tangan kedua orang temanku itu.


"Ahaha. Mengapa kita jadi bersalaman? Ini bukan apa-apa, Kaede-chan. Tidak perlu seformal itu." respon Shouta, sembari tertawa kecil.


"Kami senang dapat membantu, Fujisawa senpai." kata Yukari setuju.


"Ah. Benar juga. Kamu juga tidak perlu bersikap seformal itu kepada Kaede-chan. Coba panggil dia Kaede senpai, lalu panggil aku Shouta senpai. Ayo, Yukari-chan." pinta Shouta tiba-tiba.


"A-aku.." ucap Yukari kebingungan dan sedikit panik.


"Tenang saja, Yukari-chan. Kamu bebas untuk mengabaikan seseorang seperti Shouta-kun." kataku, seraya tersenyum manis.


"Ukh.. Senyuman dan perkataanmu tidak sama indahnya, Kaede-chan." gerutu Shouta.


"Hihi."


Tak diduga, Yukari tertawa untuk pertama kalinya. Meski suaranya termasuk jauh lebih kecil daripada suaraku, mendengar anak itu tertawa bagaikan mendengar suara seorang penyanyi yang sedang kehilangan suara emasnya.


"Merdu sekali.." ucap Shouta spontan.


"Eh.." respon Yukari, masih belum menyadari maksud Shouta.


"Maksudku, suaramu. Suara Yukari-chan benar-benar manis." jelas Shouta.


DEG


"E-eh.. Suaraku.. biasa saja.. senpai." kata Yukari, dengan wajah merona dan ucapan terbata-bata yang khas dirinya.


"Aku tidak suka berbohong. Lagipula, telingaku sangat dapat membedakan suara yang bagus dan yang tidak. Hehe." ujar Shouta, sedikit mengarang.


"Ada-ada saja. Yuk, kita beli beberapa buah semangka." alihku.


Mendengar ajakanku, keduanya nampak ceria dan bersemangat. Kami pun menyempatkan diri untuk bermain 'tutup mata dan pukul semangka,' sama seperti yang pernah kulakukan bersama Kaito.


Aku sangat senang, sekaligus ingin menangis karena perasaan rindu yang tak terelakkan ini. Untungnya, aku berhasil menahan dan menutupi kesedihanku di hadapan Shouta dan Yukari.


...****************...


Sama sepertiku, di Tokyo saat ini, Kaito juga sangat merindukan kebersamaan kami.


"Ah.. Aku jadi ingin memakan buah semangka. Kaede, apa kau baik-baik saja?" gumam Kaito, yang sedang berdiam di rumahnya.


"Hmm.. boleh saja. Tapi, tidak mungkin kau bisa mendatangkannya dari Fukuoka secara langsung, bukan?" ucap Kaito, dengan tatapan kosong menghadap jendela ruang tamu dan sedikit melantur.


"Kaito-sama.."


Tentunya, Yama selalu mencemaskan Tuan Muda yang selama ini telah dilayani dengan baik olehnya.


Tiba-tiba, sebuah ide muncul dalam benak Yama.


"Bagaimana jika saya membuatkan kudapan buah semangka yang terlezat untuk Kaito-sama?" katanya spontan.


"Hah?" respon Kaito singkat, dengan tatapan jutek.


"Uh.. Sepertinya, tidak akan berhasil ya." ucap Yama, frustrasi.


"Hah. Ya sudah, buatkanlah." jawab Kaito setelah mendesahkan nafas, secara tak terduga.


"Ah.. Baik, Kaito-sama!"


Yama pun bergegas menuju dapur dan mulai bersiap untuk melakukan percobaannya.


"Hmm.. Apa yang sebaiknya kubuat? Wagashi ? Kakigori ? Atau buah semangka biasa..?"


Sambil berpikir secara matang, Yama mencuci tangan dan mengenakan celemek dapur.


Akhirnya, dia pun memutuskan untuk membuat kakigori (\= hidangan es serut manis Jepang) ala Yama Kinoshita.


Dengan ahli, Yama mencampurkan beberapa potongan buah semangka dengan sirup, minuman bersoda, beberapa topping lain yang lengkap tersedia di dapur kediaman keluarga Doujima, serta es batu yang dihancurkannya secara manual.


Beberapa menit kemudian..


"Selesai.. Rasanya lumayan juga. Kuharap, Kaito-sama akan menyukainya." gumam Yama, sedikit bangga akan hasil usahanya.


Yama pun membawa dan memberikan kudapan itu kepada Kaito.


"Oh.. Ini buatanmu, Yama-chi?" tanya Kaito, nampak sedikit terkejut.


"Benar. Semoga Kaito-sama--"


Sebelum Yama menjawab dengan sepenuhnya, Kaito telah meraih sendok pada nampan yang disodorkan kepadanya dan mencoba kudapan itu.


DEG DEG DEG


Tanpa sadar, Yama mulai merasa gugup karena takut gagal dan dimarahi.


"Ini.."


GLEK


Yama hanya menunggu dengan sangat gugup.


"Enak sekali. Kau hebat, Yama-chi!" puji Kaito senang.


"Kaito-sama.." ucap Yama terharu.


"Ah. Kau tidak membuat lebih untukmu sendiri, Yama-chi?" tanya Kaito tiba-tiba.


"Eh.. Mana mungkin saya berani, Kaito-sama? Tentu saja, saya hanya akan merasa senang bila Kaito-sama menyukai kudapan itu." balas Yama tulus.


"Begitu ya." gumam Kaito.


Yama hanya merespon dengan anggukan kepalanya.


"Kalau begitu, selama liburan musim panas ini buatkanlah 2 porsi kakigori seminggu sekali untukku." perintah Kaito.


"Baik, Kaito-sama."


"Lalu, kamu tidak boleh menolak kapanpun aku mau memberikan satu porsinya kepadamu." tambah Kaito.


"Eh.."


Yama terdiam selama beberapa detik, kemudian menjawab dengan senyuman hangat yang sangat jarang ditampilkannya.


"Baik, Kaito-sama."


Begitulah. Nampaknya, sejauh ini Kaito masih mampu bertahan setelah terpisah dariku. Harapanku dan Kaito tetap sama, yaitu menjalani semuanya dengan baik, hingga kami benar-benar dapat bersatu kembali.


- Bersambung -