
Kanvas biru bernoda putih, kini berwarna kemerahan. Sang bulan mulai bangkit dari horizon yang tak terbatas. Tanah hijau seakan-akan memerah. Kaca-kaca mencerminkan cahaya kuning yang menyilaukan mata.
Dua murid kelas 2 SMA sekaligus menjadi sang penguasa sekolah kini disibukkan oleh suatu masalah yang misterius. Sang sekretaris, Haruka pun bingung dan tak mengetahui apa tujuan atasannya. Entah itu dapat mengubah nasib akademi atau tidak, kalau itu adalah perintah atasannya, bagaimana alasannya diusahakan untuk menurutinya.
Haru, ketua OSIS SMA Majishi sedang mencari salah satu kendaraan yang diizinkan oleh sang pihak. "Haruka, kendaraan apa yang bisa kita pakai?" tanyanya.
"Kendaraan? Oh... bagaimana dengan mobil yang di situ?" jawab Haruka. Ia memilih, bukan dipilihkan oleh pihak akademi.
Meskipun tanpa izin, anggota OSIS tetap dapat menggunakan seluruh fasilitas akademi secara bebas. Dalam tanda kutip, demi melakukan hal penting.
Seperti yang dilakukan keduanya, akademi memiliki salah satu fasilitas yaitu kendaraan lengkap—dari yang terkecil yaitu sepeda sampai yang terbesar yaitu kapal pesiar. Semua itu disediakan khusus untuk seluruh warga akademi.
Tapi yang pastinya, dibutuhkan perizinan yang mengutip alasan penting untuk mengakses fasilitas besar seperti kendaraan. Terkecuali sepeda.
Para warga akademi pun dilarang keras untuk memodifikasinya, apalagi mengubah secara total fisik atau spesifikasi yang sudah ada. Memang peraturan yang sangat mainstream. Tapi buktinya, catatan yang berisi masalah dipenuhi oleh masalah fasilitas kendaraan—banyak kerusakan yang diakibatkan modifikasi sembarangan.
Pastinya dalam daftar catatan tersebut banyak berisi kecelakaan-kecelakaan yang timbul akibat kerusakan pada fisik maupun spesifikasi tidak asli dari pabrik.
Sampai saat ini, totalnya hanya 2.000 kendaraan yang tersisa—sudah termasuk yang terkecil sampai yang terbesar. Perizinannya pun diperketat.
Haruka memilih salah satu mobil yang berjenis sport. Dengan menggunakannya, mereka berdua tidak mudah untuk tertangkap oleh Reinu dan Ayako.
Tetapi hal ini tak terlalu dipercaya oleh sang Haru. Ia pasti sudah menebak kalau menipu Reinu tidak semudah yang ada di dalam mimpi. Dibutuhkan strategi khusus untuk memata-matainya. Ada kemungkinan juga insting sang Reinu bisa-bisa melebihi insting yang dimiliki seekor serigala.
Paling konyol lagi, untuk apa mobil bernilai tinggi berhenti pada jalanan yang sempit? Entah rencana apa yang ingin Haruka pikirkan. Alasan apa pun itu, sang ketua tetap membantah dan lebih memilih mobil yang tidak terlalu mencolok.
Haru menolaknya dengan melanjutkan jalannya. Ia menghampiri salah satu garasi kuno yang berkarat dan bersemak. Bangunannya masih berdiri kokoh tanpa adanya dinding yang bolong. Yang ada saja warna cat yang memutih diselimuti oleh tanaman spora.
"Ketua, apa yakin mau meminjam yang ada di dalam sini?" Haruka sempat tak yakin terhadap atasannya.
"Kau tahu diriku bukan?"
"Hah?"
Suatu benda berbentuk kunci entah dari mana asalnya ditancapkan ke dalam lubang kunci oleh Haru. "Jika aku memilih, pasti ada tujuannya," katanya. Genggam kunci ia putar sampai maksimum. Terdengar suatu pergerakan dari dalam bangunan.
"Memang pintunya mau terbuka?"
"Um... seharusnya sih..."
"'Seharusnya' katamu? Berarti sekarang rusak kan?"
"Maksudku, tadi pintu ini terbuka!"
"Jangan membohongiku, ketua. Lagian, tidak ada jejak kakimu di area sini."
"I-itu... apa kamu tidak belajar pelajaran biologi!? Pantes saja kamu tidak bisa melawan dia."
"Terserahlah..." Haruka tidak mau memperpanjang topik yang membelok tajam ini. Ia merasa kalau atasannya sedang mengalami masalah kejiwaan tingkat dasar. Sedikit aneh rasanya jika seseorang menolak kilatnya emas, tapi lebih memilih karatnya besi.
Garasi yang ia pilih pun sangat rapuh. Gampang ditebak kalau isi dari gudang kendaraan ini kebanyakan adalah benda yang memiliki sejarah panjang—membuat Haruka tidak yakin atas keputusan sang Haru.
Rata-rata mobil pendahulu pun lebih memiliki kaca yang sangat tembus pandang. Mereka berdua dapat tertangkap dengan mudah, meskipun hanya melihat sekilas. Mesinnya juga berisik tak seperti yang sekarang, lebih terdengar seperti tanpa mesin. Bukannya pemakaian mobil kuno malah jauh lebih mencolok dibandingkan yang dipilih Haruka?
Dibandingkan diam di tempat dan membuang waktu, Haru mencoba mengobservasi sekeliling bangunan melihat cara untuk mengaksesnya.
Semak demi semak. Kulitnya yang tidak terlindungi oleh seragam tergores oleh rantai-rantai tumbuhan. Lebih jelasnya pada bagian kedua kaki yang tidak terlalu terpantau jauh oleh pandangan mata—secara otomatis, otak seperti mematikan refleks kaki.
Haruka masih berdiri di tempat awalnya. Ia lebih memilih untuk menunggu sang ketua menyerah dan menuruti sarannya. Lagian ia belum mendapatkan sebuah perintah oleh ketua. Jadinya, lebih baik tegak di tempat dengan kata-kata "******" di dalam otaknya.
Aduh... dia menemukan akses? Semoga tidak, pikir Haruka. Ia sesegera mungkin menghampiri Haru. Harapan tentang atasannya menyerah masih ia simpan dalam saku. Tinggal menunggu salah satu takdir yang datang.
Haru yang menyerunya terlihat seperti berusaha mencapai sesuatu yang jauh dari genggamannya. "Haruka, aku menemukan jendela. Tapi... apa kamu mau membantuku untuk mencapainya?" tanya Haru kepadanya.
...Eh? ternyata beda 180 derajat. Rasanya ingin balik, tapi sang ketua sudah terlanjut mendengar langkah kaki Haruka yang menetas dedaunan. Bagaimana pun juga, ia tetap harus membantu atasannya yang sedang mengalami suatu kesulitan. "Baiklah, aku kan boost tubuhmu ke dalam sana..." jawabnya.
"Oke! Maaf ya diriku tidak setinggi kamu."
"Kalau ketua setara denganku, bukannya dirimu menjadi beban...?"
"Iya juga sih... tapi aku bisa mencapainya sendiri."
Eh...!? malah lubang itu jauh lebih tinggi dariku, respons dalam hati Haruka. Menatap lubang bekas jendela yang sangat dekat dengan atap.
Punggung bagian bawah ia sandarkan pada tembok tepat di bawah jendela. Melebarkan kedua kaki, serta membungkukkan tubuh bagian atas sampai 45 derajat. Diselangi dengan lengan yang lurus beserta telapak tangan saling dihubungkan sebagai pijakan kaki.
Sampai sekiranya persiapan Haruka selesai, Haru mulai memijakkan salah satu kakinya di atas telapak tangan Haruka. Ah, berat sekali dah ketua... Sudah terasa beratnya Haru meskipun ia hanya memberikan hanya sedikit tekanan.
Sepertinya dibutuhkan ayunan ekstra untuk melemparkannya ke udara. Sebaliknya, Haru juga harus ikut mendonasikan sedikit kekuatan kakinya untuk melawan gravitasi.
"Ketua, siapkan tanganmu..." ucap Haruka.
"Tangan? Oh, iya-iya." Haru menegangkan kedua lengan ke atas, bersiap-siap untuk menggapai suatu keinginan yang belum ada rupanya.
"Siaplah, aku hitung!" seru Haruka. Ia berhitung mundur tuk menyiapkan dirinya dan diri Haru sendiri yang akan meluncur bebas ke udara.
Ayunan kedua telapak tangan disesuaikan dengan genjotan salah satu kaki sang ketua. Sekiranya penyesuaian irama selesai, Haruka mulai berhitung mundur.
"Se, no!" Ayunan tangan yang memberikan dorongan tambahan pada lompatan Haru berhasil. Ditambah dengan dorongan kaki oleh Haru membuatnya meluncur lebih tinggi lagi. Lubang bekas jendela berhasil digapai oleh kedua tangannya.
Meskipun berhasil untuk menembus udara, gravitasi tetap hadir di sana. Gravitasi seperti mengajaknya untuk kembali ke tanah. Ditambah lagi, otot-otot tubuh pada mendukung sang gravitasi. Otot mengeras, membuatnya ingin melepas diri dan jatuh ke tanah.
Tapi bagaimana pun hambatan yang menolaknya untuk masuk, Haru memaksakan kinerja otot untuk bekerja untuk dirinya. Ia mendorong tubuhnya sampai dirinya dapat melihat isi di dalam garasi.
"Ketua, bagaimana dengan mobil yang ketua maksud?" tanya Haruka yang masih menggenggam harapannya.
"A-aku belum— bisa melihatnya, dengan- jelas...!"
"Berarti kosong..."
"Haruka... apa, kamu— mau mendorongku lagi!?"
Masih belum menyerah ini anak. Haruka kembali mendekatinya. Kedua tangannya mendorong kedua kaki sang Haru yang berada tepat pada ketinggian mata. Dorongan itu kembali memberikannya ekstra tambahan ketinggian dan memperlemah gaya gravitasi.
Haru pun memasukkan lebih tangannya sampai ke bahu lalu pelan-pelan memasukkan kepala dan dadanya.
"Hati-hati, Haru... ada kemungkinan dirimu akan melakukan frontflip."
Karena mendengar kata "frontflip" dari sekretarisnya, Haru memasukkan terlebih dahulu kaki kanannya diiringi kaki kirinya. "Se-sedikit, lagi...!" ucapnya. Terdengar seperti manusia penuh dengan semangat dan usaha.
Kedua kakinya telah mendahului perutnya. Tangan sang Haruka tak lagi dapat mendorong maupun menyentuhnya.
Eh? Gak seru... pikir Haruka. Ia lagi-lagi mengharapkan sesuatu yang tak semestinya diharapkan oleh para manusia normal. Memang, dia bisa melihat segelap itu? tanya dalam hati.
...cahaya seketika mengusir kegelapan yang menguasai garasi.
Haruka terkejut. Cahaya...!? oh aku lupa tentang sihirnya... Ia melupakan identitas lengkap sang ketua. Sudah bertahun-tahun rasanya tidak melihat Haru berinteraksi pada garis paling depan, memimpin dan mewakili para warga akademi. Haruka mengharapkan hal itu terjadi lagi, meski berbahaya. Tetapi, bukannya hal itu membuat seluruh akademi lebih aktif?