
31 Oktober 2014, perayaan Halloween.
Itulah salah satu hari yang paling berbahagia dan yang terakhir kunikmati bersama ibuku, sebagai keluarga yang utuh.
"Kyaa! Kaede-chan, kamu manis sekali." seru Kaori, ibuku.
"Haha. Kau benar, istriku. Anak kita memang sangat manis." ujar Kakeru, ayahku.
Saat itu, aku yang masih duduk di bangku SMP sama sekali tidak menyukai kostum yang telah dibuatkan oleh ibuku.
"Kaede-chan, mengapa kamu cemberut?" tanya ibuku.
"Kostumnya jelek! Kaede tidak mau tampil seperti ini!" kataku, merajuk.
Kedua orang tuaku nampak bingung dan sedikit sedih melihat kekecewaanku.
"Maaf ya, Kaede-chan. Berikutnya, okaasan akan membuatkan kostum yang jauh lebih bagus untukmu." bujuk ibuku, sambil tersenyum lembut.
Okaasan..
Dia memang seorang ibu yang sabar, gigih dalam usaha apapun, dan sangat penyayang.
Andai, pada waktu itu aku bersikap sedikit lebih baik padanya.. Mungkin, perasaanku tidak akan sesakit ini.
Inikah yang dikatakan sebagai penyesalan yang terlambat?
...****************...
31 Oktober 2017, festival Halloween SMA Shima.
Semenjak pagi, para murid telah menyiapkan seluruh perlengkapan acara dan memasang banner tulisan besar di dekat pintu masuk.
Mau tidak mau, kami juga diharuskan memakai kostum.
"KYAAA!!"
Dan tentunya, para gadis selalu tergila-gila melihat ikemen seperti Kaito Doujima, yang kini adalah kekasihku.
Aku hanya sesekali menatap Kaito dari kejauhan, karena aku cenderung tidak menyukai keramaian.
Sesuai tema Halloween yang diberikan untuk kelas 1-A, Kaito mengenakan kostum bajak laut dengan penutup mata hitam pada salah satu matanya.
Uniknya, cerita dan kekejaman seorang bajak laut cukup disukai sebagai tema Halloween pada masa kini.
Apa yang sebaiknya kulakukan? Biarkan saja atau ikut-ikutan memuji penampilannya?
Kaito tidak menanggapi para pemujanya dan malah celingak-celinguk mencariku.
"Ah, ketemu. Kaede!"
DEG
Saat aku hendak berlalu dari sekitar lokasi itu, Kaito malah berseru memanggilku.
Dia bahkan berlari kecil dan langsung meraih tanganku, seolah aku akan kabur.
"K-Kaito-kun.." ucapku, gugup dan sedikit terkejut karena sentuhan tangannya.
"Kaede.."
"Apa--"
BATSS
Tiba-tiba, Kaito melepaskan jubah pada pakaiannya, lalu menutupi seluruh jarak pandanganku.
"Apa yang kau lakukan, Kaito-kun?" tanyaku kebingungan.
"Aku tidak bisa membiarkannya.." katanya tidak jelas.
"Apa maksudmu, Kaito-kun?" tanyaku lagi.
"Kamu manis sekali!"
DEG
Lagi-lagi, aku terdiam dan hanya dapat memalingkan wajah.
"Sial. Para pemuda di sekitar sini pasti sedari tadi mengamatimu! Namun, kamu juga harus melihatku seorang. Kau mengerti, Kaede?" katanya, terus mengomel.
"Iya, iya." jawabku, sambil meringis kaku.
"Huh. Memangnya, siapa yang mau melihatnya?" sahut seseorang secara tiba-tiba.
Kaito pun menoleh dengan garang. Sementara, aku langsung mengenali suara itu.
"Miyu-chan.." responku pelan.
"Dilihat darimana pun kostum Kaede biasa saja. Bukankah aku terlihat jauh lebih manis dan anggun mengenakan kostum putri bangsawan ini?" kata Miyu, dengan rasa percaya diri yang tinggi, seperti biasa.
Ucapan Miyu langsung membuatku tersadar akan kostumku sendiri.
Aku hanya mengenakan kostum anak perempuan bergaya barat klasik yang nampak ketinggalan zaman, jika dibandingkan dengan kostum Miyu yang modis dan rupawan.
"Tunggu. Ternyata, kostum Kaede memang cocok dengannya. Bukankah dia memang seorang gadis petani miskin? Hahaha! Tak kusangka, dia sangat memahami posisinya. Dasar, rakyat jelata!" ejek Miyu, semakin menjadi-jadi dengan tawanya.
Tak tahan dengan cemooh dan tatapan para murid lain yang berlalu lalang, aku pun berlari pergi dengan wajah tertunduk.
"Kau.. gadis jalang!" bentak Kaito kepada Miyu, sebelum mengejarku.
"Apa..? Beraninya dia berkata seperti itu padaku?" ucap Miyu kesal dan malu.
Sementara itu, aku terus berlari semakin jauh dari halaman luar hingga mendekati hutan kecil yang terletak di belakang bangunan sekolah.
"Kaede!" seru Kaito, lalu akhirnya berhasil menghentikanku dengan langkahnya yang jauh lebih panjang dan cepat dariku.
"Kaito-kun.. Maaf. Seharusnya, aku lebih memperhatikan kostum yang kupilih. Padahal, aku tidak ingin mempermalukan Kaito-kun di depan teman-teman sekelas.. hiks.." kataku apa adanya, dengan sedikit terisak.
Sebelum menjawabku, Kaito mendesahkan nafas yang cukup panjang. Tanpa ragu, ia memelukku dan salah satu tangannya membelai rambutku.
"Mengapa kau berpikiran seperti itu? Tidak mungkin aku merasa malu karenamu. Justru, aku selalu bangga karena Kaede mau menerimaku." ucapnya lembut, namun terdengar tegas.
"Kaito-kun.. Sebenarnya.. aku memiliki sebuah kenangan buruk.. hiks.." jawabku terbata-bata.
Kaito selalu bersikap lembut dan tulus kepadaku, sehingga aku pun mulai terbuka dan merasa terbiasa dengannya.
"Dulu.. sekitar 3 tahun lalu, aku kehilangan ibuku."
Kaito sedikit terkejut mendengar ucapanku. Ia tidak mengucapkan apapun dan membiarkanku bercerita.
"Saat ibuku Kaori masih hidup, aku sering bersikap kekanakan dan kurang menghargai kebaikannya. Aku merasa bahwa sudah seharusnya bagi seorang ibu untuk memberikan yang terbaik kepada keluarganya. Akibat dari semua itu, aku tidak pernah mengucapkan terima kasih dengan benar kepada ibuku.. hingga ia meninggal dunia secara mendadak karena sebuah kecelakaan besar. Pada hari yang sama 3 tahun lalu, aku menerima sebuah kostum Halloween yang dibuatkannya secara khusus untukku." kataku, dengan tubuh gemetar dan air mata mengalir yang tak tertahankan.
"Rupanya begitu.. Aku mengerti. Pasti sangat berat untukmu." ucap Kaito, dengan terus memeluk dan membelai rambutku hingga perasaanku perlahan-lahan membaik.
"Ah, Kaito-kun. Akan kulanjutkan ceritanya nanti saja. Festival kita akan segera dimulai." selaku, beberapa saat kemudian.
"Kamu sudah tidak apa-apa, Kaede?" tanyanya, memastikan.
Aku membalasnya dengan anggukan dan senyuman yang seceria mungkin.
Kami pun berjalan kembali ke halaman luar sekolah, pusat festival itu diadakan.
Akhirnya, kami mampu bersenang-senang dan menikmati suasana Halloween itu bersama dengan teman-teman sekelas. Walau tidak akrab dan jarang berbicara dengan anak-anak yang lain, tiba-tiba seorang pemuda mendekati kami.
"Anu.. Apakah Fujisawa-chan baik-baik saja?" ucapnya ragu dan sedikit gugup.
"Heh? Apa maumu?" balas Kaito, lagi-lagi dengan sikap yang garang.
"Kaito-kun, jangan begitu." tegurku.
"Cih. Bukankah kau anak yang waktu itu?" geram Kaito.
Benar juga. Dia adalah pemuda yang waktu itu menerima kabocha dari kami.
"Terima kasih atas perhatianmu. Kalau boleh tahu, siapa namamu?" kataku ramah kepadanya.
Tiba-tiba, mata anak itu berbinar dan ia langsung menjawab dengan bersemangat.
"Namaku Shouta Yamanaka. Terima kasih kembali!"
Melihat sikapnya yang cukup bersahabat, aku pun tersenyum.
"Uwahh.. Fujisawa-chan manis sekali ketika tertawa." pujinya, secara tidak terduga.
BLETAK
"Aduh!"
Tidak tahan lagi, Kaito pun menjitaknya.
"Berisik! Beraninya kau menggoda pacarku! Lagipula, dia hanya tersenyum, tahu!"
Begitulah sentakan khas Kaito.
"Iya. Maafkan aku, Doujima-kun. Aku hanya senang dapat berkenalan dengan kalian berdua." kata Shouta.
"Kaito-kun, jangan emosi begitu. Yamanaka adalah teman sekelas kita. Bukankah sudah seharusnya kita bersikap ramah kepada satu sama lain?" ujarku.
"Uh.." geram Kaito.
"Ayolah, Kaito-kun." pintaku, dengan sedikit merengek manja.
"Baiklah." jawabnya singkat, walau terpaksa.
"Uwaaa.. Sungguh aku boleh berteman dengan kalian?" tanya Shouta girang.
"Tentu saja." balasku, sama cerianya.
GRR GRR
Kaito hanya menahan perasaan cemburunya dengan kedua tangan yang terkepal.
Meski kurang disadari oleh Shouta, kini aku mampu merasakan setiap keinginan Kaito.
CHUU
Tanpa bersuara, aku mengecup pipi pemuda itu.
"Kaede.." ucapnya terpana dan sedikit tersipu.
"I-ini hadiah dariku.. karena aku tidak ingin Kaito-kun salah paham." jelasku sebisa mungkin.
GYUTT
Kaito membalas ciuman itu dengan pelukan erat, lalu mencium keningku dengan sayang.
DEG DEG DEG
"Kaito-kun.."
Apa kami akan berciuman lagi?
"Anu.." sanggah Shouta secara tiba-tiba, dengan wajah yang turut merona.
"S-Shouta-kun..! Maaf, kami benar-benar lupa diri. Padahal, kamu sedang bersama dengan kami.." ucapku panik dan malu.
"Maaf, Shouta." ucap Kaito, ikut meminta maaf.
"E-ee-ehhh, tidak apa-apa! Kalian baru saja memanggilku dengan nama depan.. Aku senang sekali. Terima kasih." kata Shouta, dengan sikap gugup dan gagapnya.
"Itu bukan apa-apa. Sebenarnya, aku tidak ingin memanggilmu Yamanaka. Bukankah lebih nyaman menyapa teman sebaya dengan nama depan?" balas Kaito, dengan sikap yang berbeda.
"Benar. Kita saling memanggil dengan nama depan saja, Shouta-kun." kataku setuju.
"K-Kaito-kun.. Kaede-chan.." sebut Shouta, dengan amat terharu dan sedikit gemetar.
"Bodoh. Kau akan terlihat seperti seorang gadis, jika bersikap cengeng." sindir Kaito blak-blakan.
"Hahaha."
Walau terasa canggung dan masih sangat baru, kami bertiga pun akhirnya tertawa.
Sebagai siswa-siswi SMA, bukankah ini adalah waktu yang sangat tepat untuk lebih membuka diri dan berteman sebanyak mungkin?
- Bersambung -