Removed

Removed
Mendadak Berpisah



"Yama, siapa anak perempuan itu?" tanya pria misterius yang sangat mirip dengan Kaito.


"Tuan Besar, dia adalah Kaede Fujisawa... kekasih Tuan Muda." jawab Yama, dengan sedikit ragu dan terpaksa.


"Begitu." respon pria itu singkat, kemudian berjalan memasuki cafe dengan satu dorongan tangannya pada pintu.


Sementara itu, aku dan Kaito masih asyik mengobrol dan bersenda gurau.


"Kaito."


Seketika mendengar suara panggilan itu, sorot mata Kaito berubah.


Pemuda itu menoleh ke arah pria dewasa yang tengah berdiri sedikit jauh di belakang kami.


"Otou-sama." ucapnya pelan, dengan ekspresi yang tak kumengerti.


"Sedang apa kau di sini? Seharusnya, kau pulang ke rumah sesuai perintahku beberapa saat yang lalu." kata pria yang kuyakini adalah Ren Doujima, ayah Kaito.


GLEK


Celaka.. Apakah Kaito-kun akan dimarahi gara-gara aku?


Sepertinya, Kaito langsung dapat menyadari kepanikanku. Dengan lembut, ia menggandeng tanganku.


"Tidak apa-apa, Kaede. Biar aku yang berbicara." ujar Kaito, seraya tersenyum singkat kepadaku.


"Kaito-kun.."


"Siapa anak ini?" tanya Ren Doujima, seperti memancing reaksi putranya.


DEG


"Sa-saya.."


"Dia pacarku." sahut Kaito, sebelum aku menjawab dengan benar.


Suasana pun menjadi hening dan menegang. Aku hanya merasa gugup dan tidak dapat berkata-kata lagi.


"Kaito. Apa kau sadar bahwa tindakanmu ini akan ditentang oleh keluarga kita? Kamu hanya akan memberatkan gadis ini." desah Ren.


"Berisik. Jangan merisaknya! Kalian orang-orang tua sebaiknya tidak melibatkanku dalam semua urusan dan keegoisan kalian!" bentak Kaito kasar.


BUAAK


Mendadak, jantungku rasanya berhenti berdetak.


Aku sangat terkejut dan tidak menyangka.. bahwa Ren Doujima akan memukul Kaito.


Apakah sifat pria terhormat itu sebenarnya seperti ini?


DEG DEG DEG


"Kaito-kun.." ucapku sedih dan mulai takut.


"Aku tidak apa-apa, Kaede. Menjauhlah sebentar."


"K-kamu mau apa, Kai--" seruku, semakin panik.


Namun, aku langsung dikejutkan oleh tindakan yang diambil oleh Kaito.


"Maaf. Kuharap, otou-sama dapat memahami keegoisanku. Aku sangat menyayangi Kaede. Oleh karena itu, jangan merisaknya. Kumohon.." ucap Kaito, dalam sekejap telah bersujud di hadapan ayahnya sendiri.


DEG


"Kaito-kun.."


Melihatnya rela berbuat sedemikian untukku, air mataku pun mengalir.


BAATS


Tanpa berdalih, aku pun turut bersujud di hadapan pria dewasa itu. Entah apa yang akan kami alami.. Namun, aku yakin bahwa Kaito akan selalu berada di sisiku.


"Maaf.. Tolong jangan bersikap terlalu keras kepada Kaito-kun.. Maaf... Saya benar-benar menyukai Kaito-kun.." kataku, sambil memohon dengan menangis terisak-isak.


"Diam."


DEG


"Aku tidak bertanya padamu. Lagipula, siapa yang akan mengizinkan seorang gadis biasa sepertimu bergaul dengan penerus utama keluarga Doujima?"


Ucapan itu terasa begitu dingin dan angkuh. Benarkah dia Ren Doujima, sahabat lama ayahku?


Dalam seketika, tubuhku seperti kehilangan kekuatan dan keseimbangan. Aku begitu ketakutan.


Apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin terpisah dari Kaito dengan cara seperti apapun..!


RING


Tiba-tiba, suara panggilan telepon pada HP Ren Doujima menghentikan suasana mencekam itu.


"Pulanglah, selagi kesabaranku masih tersisa."


Begitulah ucapannya kepada Kaito, sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu diikuti oleh butler Yama Kinoshita yang terlihat sangat mengkhawatirkan nasib Kaito.


"Kaede.." ucap Kaito, seketika menatap ke arahku.


"Kaito-kun... hu-huwaa!" responku, akhirnya menangis lebih keras, walau cukup memalukan.


Kaito hanya memelukku erat dan berusaha sebaik mungkin untuk menenangkanku.


"Kaede. Jangan menangis. Maafkan aku.. Karenaku kamu harus mengalami hal yang seburuk ini." ujarnya, dengan suara yang parau.


"Tidak.. Ini bukan salah Kaito-kun. Ini semua salahku.. Aku--"


Belum berkata selengkapnya, Kaito mencium bibirku lagi.


"Maaf, Kaede.. Mungkin, tak lama lagi kita harus berpisah untuk sementara waktu."


DEG


"Kaito-kun..." ucapku lemah dan terkejut.


"Jangan khawatir. Perasaanku padamu takkan pernah berubah. Aku mencintai Kaede. Kita harus menguatkan diri. Apakah kau masih mau berjuang bersamaku, Kaede..?" tanya Kaito lembut.


"Kaito-kun.. huhu.. Tentu saja! Aku mau, aku juga sangat mencintai Kaito-kun!" jawabku pedih dan terus menangis.


"Kalau begitu, jangan menangis lagi. Aku berjanji. Saat kita dapat bertemu lagi, aku akan melamar Kaede." ucap Kaito, disertai senyuman, lalu memelukku erat sekali lagi.


Kami berciuman dengan penuh perasaan dan akhirnya berpisah..


Semenjak hari itu, aku tak pernah melihat Kaito lagi. Mungkinkah dia telah dipindahkan ke sekolah lain?


Namun, sesuai janjinya padaku, aku akan selalu menunggunya.


...****************...


Beberapa bulan setelah kejadian yang memilukan tersebut, aku telah menginjak bangku kelas 2 SMA.


Saat ini musim semi, bulan April 2018.


Walau sangat merindukan Kaito, aku telah berjanji padanya agar bersikap teguh dan tidak menangisi kepergian kekasihku itu.


"Kaede-chan! Hebat sekali, kita sekelas lagi!" seru Shouta, seketika berlari ke arahku.


"Ah, Shouta-kun. Selamat pagi. Itu berarti kamu juga ditempatkan di kelas 2-D?" balasku ramah.


"Benar! Kau tahu siapa guru wali kelas kita?" tanyanya ceria.


"Tidak. Aku belum mendengarnya." kataku jujur.


"Ume Himesaka sensei! Hebat kan? Dia adalah guru termuda dan tercantik di sekolah ini! Apalagi, sifatnya mirip dengan Kaede-chan! Kurasa, aku akan jatuh hati padanya.. hehe." kata Shouta, tanpa berbasa-basi.


"Hus! Jangan berkata sembarangan, Shouta-kun. Nanti kau terkena masalah jika menyukai seorang guru. Bukankah Himesaka sensei jauh lebih tua darimu?" tegurku.


"Ahaha. Begitulah. Mungkin usianya sekitar 23 tahun. Kudengar, dia baru saja menamatkan kuliahnya." balas Shouta, cengengesan.


"Dasar. Shouta-kun benar-benar terlalu santai dan apa adanya ya." kataku, sembari tertawa kecil.


"Benar juga. Ah.. Kuharap, Kaito-kun baik-baik saja di suatu tempat di luar sana."


DEG


Senyumanku pun sirna, seketika mendengar nama itu.


GLEK


"Ma-maaf, Kaede..! Lagi-lagi, aku bersikap sembrono!" kata Shouta panik.


"Tidak." sanggahku.


"Kaede..?"


"Ini lebih baik. Kau tahu, Shouta-kun? Aku tak ingin melupakan Kaito-kun.. Aku takkan pernah sekalipun membiarkan perasaanku padanya berubah. Walau sedikit saja memori yang tersisa, itu sangat.. berarti bagiku." ucapku, tanpa sadar mulai menangis lagi.


"Kaede.." ucap Shouta iba, lalu mulai berusaha untuk menghiburku.


Shouta memang seorang pemuda yang kurang menonjol dalam hal apapun, jika dibandingkan dengan seseorang seperti Kaito Doujima. Namun, dia adalah temanku yang ceria, baik hati, dan tulus.


Entah apakah aku akan mampu melewati semua cobaan dan waktu yang tak menentu ini tanpa merasa terpuruk.


Kaito-kun.. Apakah kamu baik-baik saja?


Padahal, aku masih ingin mengenalmu.. jauh lebih dalam lagi. Bahkan, janji kita untuk menikmati hari Natal bertiga dengan Shouta-kun tahun lalu juga tidak terwujud.. Namun, tidak apa-apa.


Kuharap, kita akan terus mengingat dan dengan sabar menunggu satu sama lain. Aku akan selalu mendoakanmu. Aku sayang padamu, Kaito-kun, selamanya.


- Bersambung -