Removed

Removed
Salah Paham



Setelah hari itu, wajahku selalu memerah ketika bertemu atau berpapasan dengan Kaito di sekolah.


"Kaede."


DEG


"Ya, Kaito-kun..?" balasku pelan.


"Kau kenapa?" tanyanya blak-blakan.


"A-aku tidak apa-apa." kataku, sedikit panik.


"Wajahmu merah sekali. Apa kau demam?" tanya Kaito lagi.


"Tidak."


"Lalu?" desak Kaito.


GLEK


"T-tidak tahu!"


"Hmm, melihat reaksimu yang manis ini.. Jangan-jangan.." gumam Kaito, seperti menggodaku.


"Apa?" ucapku lirih.


"Kau suka padaku, Kaede?"


DEG


"Tidaakkk!!" jeritku tiba-tiba, lalu kabur darinya.


Kaito hanya berdiri mematung dan terpana.


"Tidak? Kau memang manis, Kaede." gumamnya, malah sedikit tersipu.


Tanpa sepengetahuan orang lain, ternyata Kaito masih memikirkan ucapanku sebelumnya.


"Benar juga. Apa sebenarnya alasanku menyukai Kaede? Aku ingin memberinya jawaban yang tepat."


Beberapa jam kemudian, pelajaran sekolah pun berakhir dan murid-murid mulai berhamburan keluar dari ruangan kelas.


Seperti biasa, Kaito mencariku untuk berjalan pulang bersamanya.


"Kaede." panggilnya tiba-tiba.


"Uwaaa!" pekikku terkejut.


"Kau sedang apa?" tanya Kaito, dengan tatapan yang sedikit sinis.


"Eh.."


"Mengapa kau bersembunyi di balik semak-semak halaman sekolah?" tanya Kaito lagi, semakin tidak suka.


"Ahaha.." tawaku garing.


"Apa Kaede ingin terus menghindariku? Pernahkah Kaede memikirkan perasaanku? Memangnya, aku ini virus bagimu?" tanya Kaito secara beruntun.


"Ah, itu.." ucapku pelan dan kesulitan memilih kata.


Kaito nampak kesal, lalu berpaling dan berjalan pergi tanpa mendengarkan ucapanku.


"Kaito-kun.. aku.. juga suka padamu." kataku tulus, walaupun Kaito sudah meninggalkan tempat itu.


Beberapa saat kemudian..


"Hmm.. Kaede memang selalu menggemaskan. Ternyata, memang tidak ada hal yang kurang kusukai dari Kaede." ujar Kaito seorang diri, seketika berjalan di luar sekolah.


"Kaito-sama." sapa seseorang berpakaian serba hitam dan berkaca mata hitam yang cukup mencurigakan.


"Ah, Yama-chi." respon Kaito.


"Tuan Besar telah menunggu Anda." kata pria itu, setelah menuntun Kaito dan membukakan pintu sebuah mobil mewah yang telah diparkirkannya.


"Hah. Bukankah sudah kubilang? Jangan menunjukkan kekayaan keluarga Doujima di sekolah ini. Apa kau sedang mencoba untuk membuatku marah, Yama-chi?" desah Kaito, sambil menggerutu.


"Mohon maaf, Kaito-sama. Namun, akan sangat aneh bagi saya untuk menjemput Anda tanpa menggunakan salah satu mobil keluarga Doujima. Tuan Besar telah menunggu Anda." kata orang itu, seperti mengingatkan sang Tuan Muda.


"Iya, iya. Dasar. Untung saat ini halaman sekolah telah sepi. Ayo berangkat." balas Kaito, akhirnya tidak jadi berjalan pulang dan memasuki mobil.


Saat itu, pada jarak beberapa meter yang tak nampak..


"Fufufu. Rupanya, kau memang serasi denganku. Kaito Doujima." kata seorang gadis misterius yang nampaknya mulai tertarik kepada Kaito.


Di sisi lain, aku telah tiba di depan rumah.


"Oh. Kau sudah pulang, Kaede?" ucap ayah, seketika melihatku.


"Ya.." jawabku, sedikit lesu.


"Hm? Ada apa dengan anak itu?" gumam ayah kebingungan.


Rumah kami memang sederhana. Aku dan ayahku tinggal di lantai dua, sementara lantai satu adalah tempat ayahku bekerja setiap hari. Sebuah toko kecil yang tidak ada kelebihannya sama sekali.


"Nampaknya, aku harus meluruskan perasaanku kepada Kaito-kun."


Tanpa banyak berbicara dengan ayahku, aku terus merenung di dalam kamar dan hanya sesekali keluar untuk keperluan mendesak.


...****************...


Keesokan harinya, sepulang sekolah Kaito masih tidak mau berbicara denganku. Dia malah terus sibuk berbicara dengan seorang lelaki dewasa yang belum pernah kulihat sebelumnya.


"Uh.. Apa dia ingin membalas dendam kepadaku?" kataku masam.


Belum semenit aku berbicara, tiba-tiba Kaito melirik ke arahku dari kejauhan.


"Kai--"


Namun, saat aku hendak memanggil namanya, pemuda itu langsung memalingkan diri.


DEG


"Apa? Mengapa dia bersikap seperti itu..?"


Tanpa sadar, aku mulai murung dan sedikit takut. Belum pernah sekalipun Kaito mengabaikanku.


"Fufufu. Rupanya, kau sangat naif, Kaede." kata seseorang, secara tiba-tiba.


"Eh.."


Rupanya, seorang gadis. Nampaknya, aku pernah melihatnya. Apakah dia sekelas denganku?


"Kamu siapa? Maaf, aku tidak begitu mengingat nama teman-teman sekelas." ucapku terus terang.


"Eh? Kamu tega sekali, Kaede. Padahal, aku ingin berteman denganmu."


"Ehm.. Tidak apa-apa. Namaku Miyu Sakurano. Bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu, Kaede?" kata gadis itu, dengan pembawaan yang tenang.


Setelah kuperhatikan, Miyu sangat anggun dan tentunya cantik. Namun, apakah seorang gadis dari kelas sosial yang berbeda seperti ini benar-benar ingin berteman denganku?


"Ah, salam kenal. Apa yang ingin kau tanyakan kepadaku, Miyu-chan?" jawabku ramah.


"Apa kau menyukai Kaito Doujima?"


DEG


"E-eh..? M-mengapa kamu menanyakan hal semacam itu, Miyu-chan?" kataku panik dan sedikit malu.


"Aku tertarik padanya. Menurutku, lebih baik untuk memberitahu gadis manapun yang kelak akan menjadi penghalangku." jawab Miyu, tanpa berbasa-basi.


Dalam seketika, tubuhku menegang dan bibirku terkunci rapat.


"Keluarga Sakurano sudah lama memperhatikan keluarga Doujima yang terkenal dan berkelas tinggi, bahkan di antara orang-orang elit dan kaya raya sepertiku. Oleh karena itu, Kaito adalah seorang pemuda yang cocok denganku. Ketahuilah, aku adalah seorang gadis yang tidak pernah menyerah hingga mendapatkan segala keinginanku. Jadi, mari kita bersikap adil dan tidak curang. Kau paham, Kaede?" tambahnya kepadaku, dengan sikap yang semakin ketus.


Apa katanya..? Mengapa?


"Nah. Sekarang, kau dapat memutuskan. Apakah kau akan bersikap realistis dan mengaku kalah dalam persaingan yang tidak seharusnya ini? Sejujurnya, aku tidak menganggapmu sebagai saingan. Dengan begitu, aku akan bersedia untuk menjadi teman pertamamu. Bukankah selama ini kau hanyalah seorang gadis penggila tanaman yang kesepian dan tidak dianggap oleh siapapun? Ataukah kau masih akan bersikap bodoh dan memperjuangkan hubunganmu dengan Kaito yang sementara itu?"


Tidak.. Aku tidak ingin mendengarnya lagi. Tidak..!


"Kau hanya seorang gadis miskin yang tidak setara dengannya, Kaede."


DEG


Dia mengatakannya.. Lagi-lagi, ucapan itu.


"Kutunggu keputusan terbaikmu. Sampai jumpa, Kaede." ucap Miyu dengan sorot mata yang dingin, kemudian berlalu begitu saja.


DEG DEG DEG


Tidak.. Benarkah aku seperti yang dikatakan oleh gadis itu?


Apa yang sebaiknya kulakukan?


"Kaede?"


Suara itu..


"Kaito-kun.."


"Kau sedang a--" tanya Kaito spontan.


SRATT


Tanpa menyelesaikan ucapannya, Kaito langsung menarik tubuhku ke dalam dekapan salah satu lengannya yang kuat.


"Mengapa kau menangis? Apakah terjadi sesuatu padamu?" tanya Kaito, sebelum aku membuka mulut untuk berbicara.


Benar. Saat ini, aku sedang mempermalukan diriku sendiri. Air mataku tidak berhenti mengalir. Semua ini karena perasaan baru yang tidak selayaknya dimulai di antara kami..!


"Kaito-kun.. hiks.. tidak seharusnya.. bersamaku.. hiks.. Aku--" kataku lemah dan terbata-bata.


"Cukup!" sanggah Kaito, dengan suara yang cukup keras.


Kali ini, Kaito menatapku dengan tajam dan tidak seperti biasanya.


"Kaito-kun.."


"Jika Kaede benar-benar tidak menyukaiku, katakan saja."


DEG


"B-bukan begitu--"


"Kalau begitu, apa alasanmu? Mengapa kau selalu menutup diri dariku, Kaede?" desak Kaito.


"Aku--"


"Kau ingin putus denganku?"


Mendadak, seluruh tubuhku mati rasa. Mengapa Kaito begitu marah kepadaku? Apakah aku telah melakukan sebuah kesalahan yang memuakkan baginya? Nampaknya, penjelasanku tidak akan berarti lagi.


Mengapa tidak pernah ada seorang pun yang bersedia untuk mendengarkanku?


Apakah pendapatku begitu tidak penting? Benarkah hanya aku yang tidak layak untuk dicintai?


DEG


"Kaede.." ucap Kaito melunak, seketika menyadari ekspresi dan bahasa tubuhku yang begitu terluka.


"Sampai jumpa, Kaito-kun." kataku dengan tubuh gemetar dan tangisan yang begitu pahit, sesaat sebelum berlari meninggalkan Kaito saat pemuda itu masih terpaku.


Tak lama kemudian..


"Kaede!" seru Kaito di belakangku.


Mengapa dia mengejarku?


"KAEDE!!!"


GYUTT


Dalam sekejap, tubuhku seperti ditarik dan aku hanya memejamkan mata karena sangat terkejut. Rupanya, aku nyaris tertabrak oleh sebuah mobil yang melaju cepat di tempat penyeberangan jalan.


"Apa kau bodoh, Ka--" tegur Kaito yang nampak sangat cemas.


Lagi-lagi, aku sangat tidak berdaya.


"Huhuhu..." tangisku lemah dan pasrah, seolah duniaku telah runtuh.


"Kaede.."


Pemuda itu tidak jadi berkata-kata dan langsung memelukku erat.


"Kumohon, jangan menangis. Aku sayang padamu. Maaf.. Maafkan aku, Kaede." ucap Kaito lembut dan penuh perasaan.


"Aku.. juga.. menyukai.. Kaito-kun.." balasku terisak-isak, dalam dekapannya yang hangat.


"Kau milikku, Kaede. Oleh karena itu, kau hanya perlu mempercayaiku seorang."


DEG


"Kaito-kun.."


Dengan tatapan lembut, Kaito menyentuh wajahku, lalu memberiku sebuah ciuman yang begitu mendamba.


Kurasa, inilah bukti ketulusan perasaan kami, yang akan terus berkembang menuju kesempurnaan.


- Bersambung -