
7 November 2017.
Sehari sebelum hari ulang tahun Kaito, tiba-tiba aku mendengar sebuah rahasia darinya.
"Eh?!" seruku terperangah.
"Sudah kuduga. Kaede pasti akan terkejut." katanya ringan.
"Habisnya, aku sama sekali tidak menyangka. Lalu, mengapa Kaito-kun telat masuk SMA? Kukira, aku sedikit lebih tua darimu. Hehe." tanyaku spontan.
"Ah, itu.. Untuk saat ini rahasia." jawabnya, malah mengedipkan sebelah matanya padaku.
"Eh.. Padahal kau telah membuatku penasaran! Menyebalkan sekali." gerutuku.
"Hahaha."
"Lagi-lagi, Kaito-kun menertawakanku." kataku cemberut.
"Ahaha.. Baiklah. Itu karena aku ingin sekelas dengan Kaede. Tuhan pun mengabulkannya." ujar Kaito.
"Hmm.."
Aku menatap wajah Kaito, seolah mengecek kebohongan atau kejujurannya. Sayangnya, aku tidak pernah mampu membaca sikap orang lain.
"Kalau ditatap oleh Kaede seperti ini, aku jadi ingin berbuat mesum padamu."
DEG
"A-apa katamu?!" pekikku, seketika melangkah mundur karena malu dan terkejut.
"Hahaha. Aku hanya bercanda. Wajahmu merona sekali. Imutnya." tawa Kaito, semakin serunya menggodaku.
Aku tidak dapat membalas ucapan Kaito dan hanya menggeram. Bisa-bisanya dia membuat candaan seperti itu!
Walau sikapnya seringkali iseng, aku sangat menyukai Kaito. Aku ingin mengenalnya, jauh lebih dalam lagi.
Namun, entah mengapa aku merasa bahwa Kaito masih menyembunyikan sesuatu dariku.
Sore harinya, setelah ia mengantarku pulang..
"Benar juga. Aku harus menyiapkan hadiah ulang tahun untuk Kaito-kun.." gumamku seorang diri, seketika memasuki kamarku.
Dengan cepat, aku mendapatkan ide untuk menyulam sebuah syal dan sarung tangan hangat untuk musim dingin yang akan mendatang.
"Baiklah. Akan kubuatkan satu untuk otousan, satu untuk Kaito-kun." putusku, bersemangat.
Aku pun mulai menyulam dari pukul 6 sore hingga 9 malam. Untungnya, aku cukup mahir dan telah selesai dengan desain utama kedua benda hasil sulamanku itu.
"Hoahm.. Sedikit lagi, harus diperindah." ucapku, seraya menguap.
Akhirnya, aku berhasil memberikan sentuhan terakhir kepada karyaku dan bersiap untuk tidur.
Tak lama kemudian, aku sudah kelelahan dan tertidur lelap. Bahkan, aku bermimpi.
Mimpi yang indah.. dimana Kaito Doujima selalu muncul.
...****************...
8 November 2017.
Untungnya, hari ini adalah akhir pekan di hari Minggu.
Pagi-pagi, Kaito telah mengajakku bertemu di suatu tempat yang tak lain adalah sebuah cafe berinisial KD. Alih-alih ingin membuat kejutan untuknya, aku malah dikejutkan terlebih dahulu.
"Kaito-kun. Ini.." ucapku terpana.
"Benar. Ayahku memproduksi berbagai jenis minuman kopi terbaik di Jepang. Apa kamu ingin mencobanya, Kaede?" kata Kaito, lalu memberiku isyarat untuk mendekat kepadanya.
Aku melihat beberapa jenis minuman kopi yang beraroma sedap dalam gelas plastik sekali buang di atas meja dapur cafe.
"Kamu ingin aku mencoba semuanya?" tanyaku bimbang.
"Kalau kau mampu."
GLEK
"Mana mungkin mampu!" seruku kesal.
"Haha. Kalau begitu, yang ini saja. Kopi KD no.5 sepertinya cocok untuk Kaede."
Aku pun menerima dan meminum kopi itu.
"Uwah.. Enak sekali. Kopi ini sangat harum, namun rasa kopinya tidak terlalu kuat." pujiku terkesima.
"Kamu jujur sekali. Bagaimana dengan yang ini?" Kaito memberiku segelas minuman kopi yang berbeda.
"Wah.. Yang ini sama sekali tidak manis. Namun, kopinya sangat terasa dan meninggalkan rasa yang unik setelah diminum." kataku jujur.
"Ayahmu hebat sekali, Kaito-kun. Meski aku hanya seorang amatir.. Menurutku, tidak mudah membuat cita rasa kopi yang unik dan berbeda seperti itu. Lagipula, aroma dan rasanya enak sekali."
Mendengar komentar positifku, Kaito tersenyum.
"Itu karena ada banyak sekali orang Jepang yang mengonsumsi kopi. Meski awalnya aku tidak menduga bahwa Kaede akan menyukainya. Kopi kami sangat laris hampir dalam setiap musim, terutama musim panas yang lalu. Entah mengapa, permintaannya sangat meningkat di cuaca yang sepanas itu. Kurasa, itu karena orang-orang tertarik untuk membuat hidangan manis seperti coffee jelly atau tiramisu."
Setelah itu, Kaito menceritakan berbagai hal mengenai biji kopi, serta proses pembuatannya hingga pengolahan minuman kopi siap saji.
Kaito juga membisikkan beberapa nama merk kopi terkenal yang ternyata masih menggunakan campuran biji kopi atau teknik pembuatan minuman kopi keluarga Doujima.
Aku hanya mendengarkan tanpa dapat menutupi rasa penasaran dan kekagumanku.
"Hmm.. Oleh karena itu, saat pertama kali bertemu dengan Kaito-kun di toko ayahku, sepertinya aroma kopi itu melekat pada tubuhmu." ucapku, seketika teringat.
"Begitu?"
"Benar. Nampaknya, Kaito-kun sangat menyukai aroma atau rasa dari kopi."
"Haha. Kau benar. Apa Kaede juga menyukainya?" tanya Kaito penasaran.
"Tentu saja. Apalagi, kopi yang tidak terlalu pahit, namun lezat dan beraroma. Hehe." jawabku jujur.
"Begitu ya."
Setelah hening selama beberapa detik, aku pun teringat akan hal terpenting yang harus kulakukan.
"Kaito-kun. Ini, hadiah ulang tahun dariku. Selamat ulang tahun yang ke-17. Kali ini, jangan sampai turun kelas lagi ya!" kataku, balas menggodanya.
"Uwah.. Terima kasih banyak, Kaede. Aku senang sekali." ucap Kaito, terpana dan terharu.
GYUTT
"Terima kasih kembali, Kaito-kun." kataku, seraya memeluknya.
"Kaede.."
Kaito membalas pelukanku, kemudian mengecup keningku sebanyak dua kali.
"Kamu imut sekali. Mungkin, kamu juga lebih lezat daripada kopi." godanya.
DEG
"A-apa sih, Kaito-kun?!" bentakku malu dan kesal.
Lagi-lagi, Kaito tertawa renyah melihat reaksiku.
"Ngomong-ngomong, apa Kaito-kun suka makanan manis yang terbuat dari kopi?" alihku.
"Hmm.. mungkin." balasnya, setelah berpikir singkat.
"Kalau begitu, aku akan belajar membuatkannya untuk Kaito-kun." ujarku, entah mengapa menjadi lebih bersemangat dibandingkan dengan Kaito.
"Terima kasih, sayang. Kalau Kaede?"
"S-sayang apanya? Aku juga suka.." kataku, lagi-lagi tersipu.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita membuat kue manis dengan rasa kopi asli bersama-sama sebelum hari Natal?" usul Kaito.
Ide itu terdengar cemerlang bagiku, sehingga aku langsung membalasnya dengan anggukan kepala yang mantap.
"Tentu, aku mau! Hmm.. Bagaimana jika kita mengajak Shouta-kun?"
"Kaede.. Aku tidak mengusulkan hari Natal yang membosankan dan penuh kepalsuan seperti itu." ucap Kaito, seakan merajuk.
"Membosankan dan penuh kepalsuan? Apa maksudmu, Kaito-kun?" tanyaku kesal, seolah memprotes.
"Kupikir, mulai tahun ini aku dapat menghabiskan hari Natal berdua saja dengan Kaede. Jangan menyertakan seorang pun pengganggu." ujar Kaito, seperti merengek kepadaku.
"Jangan mengomel begitu. Bukankah Shouta-kun adalah teman kita?" kataku, sedikit memaksa.
"Yah.. Apa boleh buat." desah Kaito.
"Hehe. Apa kamu akan membuka kado dariku?" ucapku.
"Boleh?" tanyanya.
"Tentu saja. Bukalah."
Hari itu, aku dan Kaito sangat berbahagia, seakan tidak memikirkan sedikitpun rintangan yang dapat terjadi di masa depan. Kami tidak takut apapun, sebab kami akan selalu bersama.
Kami pun tidak menyadari tatapan misterius di balik dinding kaca cafe dari seorang pria gagah berpenampilan kelas atas yang secara kebetulan datang bersama dengan Yama, butler keluarga Doujima.
- Bersambung -