
Sudah beberapa meter ditarik keras oleh laki-laki ini. Seluruh bagian badan terasa pegal sekali meskipun setengah dari tenaga dibantu oleh tarikan sang Ayako. Jangan lupa soal rasa malu yang datang kepadanya di setiap melewati sekelompok murid baik laki-laki maupun perempuan.
Mereka yang awalnya hanya saling bertukar pikiran, berdiam diri, dan berjalan bersama tiba-tiba pada fokus ke Ayako dan Reinu. Ada yang menahan tawanya, ada juga yang merasa kasihan dengan Reinu. Tapi menjadi pusat perhatian publik sekaligus menjadi topik pembicaraan yang menggantikan topik sebelumnya bisa menjadi aib besar jika mereka membicarakan keburukannya.
Bisa saja mereka berpikir jauh dari kata normal yang pastinya bukan tujuan yang dituju oleh keduanya. Lebih parah lagi tidak mungkin hanya yang melihatnya secara langsung yang tahu akan hal ini. Pasti akan tersebar dari orang ke orang melalui internet yang dibuat oleh akademi.
Semoga saja mereka tidak menipu... pikir Reinu yang berharap kepada mereka untuk menghindari hal yang menghancurkan status mereka berdua—meskipun statusnya dari awal sudah berada di paling bawah karena tingkat kelasnya.
"...Ayako?" bisiknya seraya kembali menggunakan kedua otot kakinya untuk mengurangi kecepatan langkah antar kaki Ayako.
"...?" Ayako tak menjawab bisikannya. Namun, ia merespons Reinu dengan mengintip sedikit ke arahnya yang berada di belakang.
"Kurangi... kurangi kecepatan langkahmu bodoh!"
"..." Pergerakan kakinya terhenti secara singkat. Genggamannya ikut lenggang dan akhirnya membebaskan Reinu dari ikatan tangan.
"A... Ayako...?" Secara pelan-pelan, lengan tangan yang ditarik paksa diturunkan sampai lurus menunjuk tanah. Hampir seluruh bagian anggota tubuh pegal dan lemas terutama pada bagian kaki kanan yang menjadi penumpu kestabilan dan tangan kanan yang menjadi korban.
"Kita, kita sampai..." Ia menghadap tepat di depan pintu sebuah ruangan yang disebut-sebut sebagai ruangan spesial. Pintu yang berbahan kayu maple berwarna gelap dengan ukuran 5 kali lebih besar dibandingkan rata-rata besar dan tingginya laki-laki dewasa.
"Ruang OSIS?" tanya Reinu. Air mata seakan-akan melewati bola matanya ketika melihat keagungan pintu. Itu hanya pintu, tak bisa dibayangkan jika membukanya. Ruang khusus dipenuhi murid-murid penting nan berpengaruh yang telah dipilih untuk berbakti kepada Akademi Majishi.
Tapi ada sesuatu yang aneh menurut mereka. Tak ada secuil suara yang lolos di antara sela-sela pintu. Sedangkan jika diintip-intip tepat lurus di depan sela tanpa kemiringan 1 derajat pada jarak apa pun, cahaya kecil yang masuk dari jendela ruang OSIS tetap dapat meloloskan diri ke dalam lorong melewati sela-sela engsel.
Kalaupun kedap suara, pasti tetap tak ada sekerikil pun cahaya yang keluar memantul melewati dinding atau pintu tanpa adanya bantuan dari keajaiban kaca. Apalagi untuk tempat yang dikatakan "penting" oleh masyarakat maniak sekolah seharusnya tak memiliki fasilitas sekedap ini.
Apa suara ketukan mampu menembusnya? Tak ada tombol bel, tak ada pula alat untuk mengetuk yang mungkin saja dilapisi aneh-aneh. Satu-satunya cara untuk membuka pintu agung ini dengan tetap menjaga kesopanan hanya dengan cara mengetuknya.
"Ah... kamu mengetuk?" Ayako ikut-ikut gugup untuk mengajukan permohonan membuka kepada siapa pun yang bernapas di dalam.
Jarang sekali melihat murid-murid berkeliaran di lorong depan pintu ini. Entah karena kemegahan yang membuat seseorang tidak pantas untuk melewatinya atau atmosfer yang terkesan berbeda dari tempat lain yang tersedia di gedung akademi.
...tepat sebelum salah satu jari menyentuh tekstur kayu, seorang perempuan satu tingkat di atas menghampirinya.
"Apa kamu yang dimaksud ketua?" tanya perempuan itu.
"Aku? Um... mungkin?" Reinu menurunkan tangannya karena merasa bahwa perempuan yang hadir di depannya adalah salah satu dari anggota OSIS yang ingin memasuki ruangannya.
Perempuan itu diam selama satu detik. Sempat heran karena melihat tangan Reinu yang tak jadi mengetuk pintu. "Mengapa kau tidak langsung membukanya saja?" lempar balik pertanyaan.
"Ah, Uh, Um... langsung?" Nadanya terdengar sangat takut sekali hanya membuka sebuah pintu hanya dengan dorongan ringan yang mudah untuk didapatkan kembali. Terbuka sedikit pun pasti akan disadari oleh orang-orang yang berada di dalamnya.
"Langsung saja."
Langsung... langsung... mengapa tanganku tak mau mendorongnya!? Jari-jarinya mengeluarkan suatu guncangan. Cahaya lampu yang sejajar menyinari sepanjang lorong terkesan redup di pandangannya.
"Reinu...?" Ayako sempat sadar dan mendapatkan keinginan untuk membantu temannya yang sedikit abnormal ini.
Tetapi orang itu telah menyadarinya lebih dulu. "Apa butuh bantuan?" tanyanya.
"..." Reinu tak menjawab apa-apa.
Tangan kanan yang menjorok ke depan tuk membuka pintu layaknya sebuah gerbang menuju surga diturunkan secara lemah lembut oleh seorang murid yang tak dikenal ini. Dia mewakili tangan Reinu untuk membuka secara alun-alun pintu suci ini. Cahaya alami yang masuk ke dalam melalui pantulan kaca jendela terbebas menyilaukan mata.
Kedua kelopak mata merespons cepat dengan menyaring sinar yang masuk secara tiba-tiba. Bentuk ruangan, objek-objek yang berdiri di dalamnya, diiringi makhluk hidup yang tinggal di dalamnya mulai terlihat di setiap transisi penyaringan cahaya.
"Permisi... ada dua tamu datang," kata perempuan tadi yang melangkah masuk mendahului Reinu.
Setiap langkah perempuan ini, pintu menuju tempat misterius semakin terbuka lebar. Mempersilahkan Reinu dan Ayako untuk menginjakkan kakinya di atas lantai yang dilapisi dengan karpet halus yang memiliki rasa hangat di musim dingin dan dingin di saat musim panas.