
BAB INI BERISI KONTEN YANG MUNGKIN TIDAK PANTAS DAN TIDAK NYAMAN UNTUK SEBAGIAN PEMBACA!!
PARA PEMBACA MEMILIKI KEBIJAKSANAAN UNTUK MEMBERIKAN NASEHAT DAN SARAN UNTUK AUTHOR.
Terimakasih ^^
***
Seolah Badai tidak akan kunjung mereda, Badai lainnya ikut bergabung membentuk badai yang lebih Dahsyat.
Sekolah Menengah Pertama itu kini tengah dalam masa-masa kelulusan, seharusnya para siswa dan siswi bersemangat untuk hasil ujian mereka dan sekolah SMA yang akan mereka tuju nantinya.
Namun, hal seperti itu nyatanya tidak terlalu menggugah minat para Siswa. Gosip dan Insiden yang terjadi oleh si kembar menjadi kesenangan dan minat yang mereka pedulikan.
"Apakah kau mendengar?" Seorang gadis mengenakan seragam olah raga bertanya kearah teman wanita disisinya yang mengangguk pelan
"Yah, aku mendengarnya! Bukankah itu Milena dari kelas 3 B, semua orang mengatakan bahwa dia Jatuh Cinta pada si tampan Eros pacar saudara Kembarnya Selena" gadis itu menjawab seraya mendesah pelan dan melanjutkan "Sayang sekali untuk Mile, Eros sangat mencintai Selena. Maka Mile menggunakan cara tercela untuk membuat mereka berpisah! Bukannya berhasil tapi hal itu malah membuat namanya tercoreng dan di Benci oleh Eros!"
Seolah gosip satu belum cukup gosip lainnya yang menyakitkan muncul untuk membuat Hidup Milena serasa tercekik.
Gadis disisi wanita yang berbicara itu mengangguk setuju dengan temannya "Oh, aku juga mendengar sebenarnya Milena juga sangat suka tidur dengan banyak Om-om. Dia juga minum dan menggunakan obat!"
"BISAKAH KALIAN DIAM DAN MENUTUP MULUT BAUMU ITU???" Mulan berteriak keras tidak lagi dapat menahan amarahnya mendengar Gosip yang semakin merajalela
Para siswa yang mendengar Teriakan Mulan hanya mencibir dan mengejek kearahnya.
Mulan tidak akan pergi kesekolah saat ini sebenarnya, karena keluarganya tengah sibuk berbenah untuk kepindahannya ke Jakarta. Ia sangat tidak ingin pergi dan meninggalkan Mile sendiri, bahkan Mulan telah merengek dan memohon pada nenek dan orang tuanya untuk membawa Mile, tapi meraka hanya mengatakan 1 kalimat "Sabarlah!"
Mulan sangat marah, benar-benar marah. Dia juga benci pada para siswa dan tidak ingin melihat mereka. Tapi dia harus bertahan dan menggertakkan giginya keras untuk datang kesekolah karena Mile telah di panggil kesekolah oleh para guru.
Mereka akan melakukan persidangan terhadapnya dan juga mengundang kedua orang tua Mile. Mulan yang berada di luar ruangan tidak tahu bagaimana keadaannya dan hanya dapat menunggu di luar.
Tapi para siswa tampaknya tidak dapat menutup mulut meraka dan terus mengonggong layaknya seekor 4nj1n9
Di dalam ruang yang terlihat seperti Aula namun tidak terlalu Luas. Tubuh Milena terduduk di sebuah bangku kayu di tengah-tengah Aula itu. Orang tua Milena terduduk disisi kanannya dengan Memeluk tubuh Selena yang tengah menangis.
Milena sendiri tidak dalam keadaan baik, gadis itu memiliki warna mata merah dengan lingkaran hitam di sekitarnya. Disudut-sudut matanya terlihat bekas-bekas air mata yang belum mengering. Wajah putihnya tampak lebih putih dengan warna yang sangat pucat seolah tidak memiliki tanda kehidupan yang tersisa.
Keadaan Milena yang seperti mayat hidup mengerikan itu tidak menggerakkan hati sedikitpun orang di dalam ruangan. Semua mata yang memandang kearahnya di penuhi dengan rasa jijik yang ketara. Meninggalkan gadis rapuh itu Sendiri di tengah badai dengan menyedihkan.
"Tuan Goldwind, kami tidak tahu harus bagaimana lagi! Tapi kelakuan putri anda sungguh telah menodai reputasi sekolah kami!" Seorang guru pria yang berada di barisan paling kiri akhirnya berbicara membuka pertemuan yang mereka adakan
Ayah Milena memiliki wajah gelap sebelum menunduk kearah guru itu "Kami benar-benar minta maaf karena tidak mendidik putri kami dengan baik. Akan saya pastikan kedepannya dia tidak akan dapat melakukan apapun yang memalukan lagi"
Ibu Milena juga turut menundukkan kepalnya kearah para guru dengan mata penuh kebencian menatap kearah tubuh Mile terduduk.
"Karena ini sudah terlanjur terjadi, maka tidak ada lagi yang dapat kami lakukan. Apalagi Milena sudah kelas 3 dan akan lulus dalam beberapa minggu. Tapi sekolah tidak dapat membiarkan hal ini berlalu. Jadi kami meminta Milena untuk tidak lagi datang kesekolah. Untuk Ijazah dan Surat-surat kelulusan, saya berharap anda sendiri yang akan mengambilnya!" Kepala Sekolah yang terdiam turut berbicara perlahan kearah orang tua Milena
Orang tua Mile kembali menunduk dan meminta maaf kearah guru seraya terdiam di tempatnya mendengarkan setiap penjelasan. Selena yang terus menangis disisi ibunya juga terdiam dan hanya melirik kearah Mile sesekali. Senyuman licik yang tidak terlihat melintas dibibirnya tanpa diketahui sapapun sebelum memudar bersama angin.
"Kami akan memgumumkan bahwa sekolah ini telah mencoret nama Milena, seolah gadis itu tidak pernah bersekolah disini. Jadi tolong bekerja sama dengan baik!"
Mendengarkan kalimat ke 3 yang mereka ucapkan tubuh Milena menegang, gadis itu mengepalkan tangannya erat menahan rasa sakit yang menusuk dihatinya perlahan menjalar disekujur tubuhnya.
Setelah mengatakan beberapa kata lagi dan mencapai kesepakatan dengan orang tua Milena. Mereka pergi meninggalkan ruangan. Milena yang terdiam sejak awal mendapatkan tatapan tajam dari ayahnya.
"Jangan berani untuk pergi! Ikuti kami kerumah!" Kalimat dingin itu keluar dari mulut ayah Milena. Gadis itu hanya mengangguk patuh dan membuntuti mereka tanpa bicara apapun.
"Mile? Bagaimana?" Mulan yang menunggu di luar ruangan bertanya kearah Mile setelah melihatnya keluar.
Melihat Mile yang hanya terdiam dengan kepala menunduk dan berjalan pergi mengikuti orang tuanya mengabaikannya, Mulan menggertakkan giginya sedih. Ia hanya mendesah sebelum turut ikut pulang kerumahnya dengan enggan.
***
Bam!!!!
Teriakan marah ayah milena bergema di dalam rumah seolah Iblis telah merasukinya. Ia menendang tubuh rapuh Mile dan menamparnya berkali-kali.
Mile hanya terisak sedih dan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya seraya menutupi lengannya yang mengeluarkan darah segar.
Pemandang tragis itu seolah tidak mengganggu Selena ataupun ibunya. Mereka hanya terdiam disisi ayahnya dan melihat dengan dingin.
"Apakah kau bahkan Manusia? Bagaimana mungkin aku memiliki Putri sepertimu? Bagaimana mungkin kau tega untuk melakukan hal tercela itu? Bagaimana mungkin kau melakukan Hal memalukan itu? Dan Bagaimana mungkin kau memfitnah Saudaramu sendiri? Apakah kau bahkan Manusia? Tidak, kau adalah Iblis! Aku bukan ayahmu, aku tidak memiliki anak sepertimu! Wanita j4l4n9!"
Ayah Milena menjerit marah mencengkram kerah baju Mile dan mengguncangkan tubuhnya dengan keras, tidak cukup disana tangan kanannya terangkat untuk menampar pipi Mile bertubi-tubi.
Milena hanya terus menangis dan terdiam tidak mengatakan apapun. Gadis itu menahan semua pukulan Ayahnya layaknya karung tinju. Hatinya sakit, tidak itu bukan hanya sakit. Tapi Berdarah! Mile sangat membenci Dunia dan ketidak adilannya. Ia membencinya amat membencinya.
"Ayah cukup! Jika kau terus memukulnya seperti itu dia akan mati!" Selena berteriak mencoba menghentikan ayahnya yang di luar kendali. Mata gadis itu sedikit takut menatap kearah Mile yang kini tersungkur dilantai dengan darah menetes dan memar menakutkan disekujur tubuhnya. Tubuh Selana juga bergetar karena ketakutan. Selena tidak pernah membayangkan bahwa Hal yang ia lakukan, yang menurutnya sederhana akan menjadi di luar batas hingga membuat Mile benar-benar hancur. Selena tidak menyesali perbuatannya, dia hanya takut, di takut sekarang memikirkan bagaimana dia bisa menghadapi Mile dimasa depan.
"Itu bagus jika dia hanya Mati Saja!" Ayah Mile berseru tajam dan melangkahkan kakinya pergi tidak lagi peduli pada putri yang telah ia hancurkan
Ibu Milena juga turut menyeret Selena pergi meninggalkan Mile sendirian tergeletak di lantai meninggalkan beberapa kalimat "Aku selalu tahu bahwa kau akan menjadi Aib keluarga ini. Aku seharusnya membuangmu saja ketika bayi, dan tidak membiarkan ibu untuk merawatmu! Aku benar-benar kecewa padamu Mile, jauh didalam hatiku sebagai seorang ibu. Aku selalu mengharapkan kamu untuk berubah seperti Selena! Tapi kurasa itu tidak mungkin lagi!"
Tubuh Milena terbaring lemas dan tidak bergerak, ia menangis saat mendengarkan apa yang ibunya ucapkan. Mile menangis bukan karena ibunya kecewa ataupun ayahnya telah memukulinya. Ia juga tidak menangis karena rasa sakit di tubuhnya.
Milena menagis karena hatinya terluka. Hatinya sangat terluka, rasanya benar-benar sakit. Kenapa? Kenapa ini harus terjadi dalam hidupnya? Bukankah Mile tidak pernah mengaharapkan apapun? Dia juga tidak pernah menginginkan apapun!
Tapi kenapa seolah seluruh kemalangan telah melekat padanya sejak ia di lahirkan.
Hal yang ia harapkan di Dunia ini hanyalah sesuatu yang tidak berarti.
Dia hanya ingin orang tuanya tidak membencinya, dan melihat kearahnya sedikit saja, hanya sedetik dan itu akan baik-baik saja.
Hal lain yang ia inginkan adalah Cinta Eros!
Sejak awal pertemuan sampai sekarang. Milena selalu berharap bahwa Eros akan melihat kearahnya dan mengenalinya! Atau mungkin jika memang Eros tidak salah paham bahwa dia bukan tuan putri dan memilih Selena sejak awal, Mile juga tidak akan mengatakan apapun.
Mile akan mendukungnya dari belakang agar dia bahagia. Tapi itu tidak, Eros sejak awal salah mengira Selena sebagai dirinya dan terus mencintainya.
Hal ini juga membuat Hati Mile sakit. Kenapa Eros tidak menyadari bahwa Cinta yang ia berikan bukan pada orang yang sebenarnya?
Mile mengeram dan menjerit keras, namun suara yang keluar dari tenggorokannya hanyalah Erangan ringan yang teredam. Gadis itu menyeret tubuhnya yang babak-belur dengan rasa nyilu menyakitkan mejalar. Setelah merasa cukup menyeret tubuhnya, Mile kini tengah berada di bawah sebuah lemari kecil berisi perabotan rumah.
Mata merah Mile terus menangis dengan darah segar mengalir disudut bibirnya. Cairan darah juga mengalir keluar dari hidunganya.
Tangan kanannya yang terluka penuh darah mengepal dan membuka lemari disisinya. Ia mengambil sebuah gelas dan memecahkannya.
Dengan mata Memerah penuh air mata. Cahaya di matanya tidak lagi penuh kehidupan tapi sebuah keputusasaan akan kematian.
Menggenggam erat pecahan gelas di tangan kanannya ia meletakkan pecahan itu tepat di garis nadi tangan kirinya dengan penuh keyakinan.
Tuhan, jika memang aku terlahir hanya untuk disia-siakan, bukankah lebih baik aku tidak Pernah ada?
Jika Memang kehidupanku begitu tidak berarti untuk Orang Tuaku dan membuat mereka terluka bukankah sebaiknya aku tidak pernah di lahirkan?
Dan bahkan jika Eros, begitu membenciku dan muak padaku bukankah seharunya aku tidak pernah lagi Muncul dihadapannya?
Jika seperti itu, lalu apa Tujuan dari Hidupku?
Apa alasan untuk kehidupanku?
Kenapa aku harus tetap hidup dan menanggung rasa sakit ini seolah aku adalah orang yang melakukannya?
Maka, jawabannya adalah satu.
Aku akan pergi meninggalkan Dunia dan semua orang yang tidak menginginkanku!
Pecahan gelas mengiris lengan kiri Mile dengan dalam membuat cairan merah menyembur keluar, merasa tidak cukup akan yang ia lakukan. Mile kembali menyayatkan pecahan kaca di urat nadi tangan kirinya hingga 5 sayatan, sebelum matanya redup dan tertutup.