Pure Love

Pure Love
Ch. 17 - Perasaan Eros (?)



Sinar cahaya pagi bersinar lembut menerobos masuk melalui kaca transparan dan bening di kantor Milena. Dengan gaun berwarna putih polos lembut, wajah cantik gadis itu terlihat begitu serius menatap beberapa lembar kertas di atas meja. Jemari tangan kanannya yang putih dan ramping memegang sebuah pensil panjang dan mengayunkannya riang diatas kertas. Sebuah gambar anak kecil dengan gaun indah terbentuk seolah itu adalah lukisan dalam sebuah kanvas yang terlihat sangat menawan.


"Permisi!"


Sebuah suara terdengar membuat kepala Milena yang tertunduk terangkat. Menatap Kiara yang berdiri di hadapannya dengan canggung, Mile ternyum masam. Sepertinya kebiasaan bekerjanya yang fokus hingga tidak dapat mendengarkan ketukan pintu tetap tidak hilang.


Mendesah pelan Mile berbicara kearah Kiara dengan nada menyesal "Apa itu?"


Kiara tersenyum sedikit dan mengatakan alasannya mengganggu Mile "Ada seorang tamu pria yang tengah menunggu di ruang tunggu, beliau bilang ingin anda mendisain baju untuk putrinya secara pribadi"


"Aku akan segera kesana!" Mile mengangguk kearah kiara, gadis itu membungkuk pelan sebelum kembali ketempatnya bekerja


'Huhh!' Desahan nafas panjang keluar dari bibir merah ceri Milena, gadis itu bersender pada kursi tempatnya duduk seraya memijat pelipis matanya pelan


Setelah merasa lebih baik untuk beberapa waktu, Mile beranjak pergi dari kantornya untuk keruang tamu.


"Selamat siang!" Mile tersenyum dan mengangguk lirih kearah seorang pria paruh baya? Tidak! Pria yang cukup dewasa sekitar 40 tahunan lebih.


Mile terduduk di kursi depan pria itu seraya mengamatinya sedikit. Pria itu cukup tampan dan terlihat sangat dewasa dan maskulin. Dengan kacamata hitam yang tergantung diantara hidung panjangnya, aura yang keluar dari tubuhnya terasa sedikit gagah dan perkasa. Entah kenapa setelah mengamati pria itu cukup lama, Mile merasakan perasaan Familiar.


Menggelengkan kepalanya lirih untuk menghilangkan pikirannya yang berkeliaran Mile membuka percakapan kearah Pria itu yang hanya diam seraya mengamatinya "Baju seperti apa yang ingin anda buat untuk putri anda?"


Pria itu tersenyum lembut dan ramah seraya melepas kacamata Hitamnya memperlihatkan kerdua bola mata Hitam yang terlihat misterius "Itu, adalah baju untuk pesta ulang tahun! Aku ingin bajunya di buat seperti Putri Salju. Dia sangat menyukai putri salju. Usianya sekitar 7 Tahun, dia tinggi seperti anak lainnya dan tubuhnya sedikit kurus namun sangat kuat"


"Ahh, itu sangat manis! Kami memiliki banyak desain yang lucu untuk gaun tuan putri, anda tidak perlu khawatir baju itu akan terlihat sempurna untuknya!" Milena tersenyum manis dengan sedikit semangat di hatinya, ia selalu menyukai anak kecil yang memakia gaun tuan putri. Apalagi gaun itu adalah gaun yang akan di pakai untuk pesta ulang tahun


Pria itu turut tersenyum lembut dan menatap wajah Mile lekat-lekat. Mile merasa sedikit tidak nyaman karena tatapan pria itu dan berbicara kembali "akan lebih baik jika anda membawa putri anda untuk melakukan pengukuran agar bajunya nanti pas untuknya. Ngomong-ngomong kapan gaun ini di butuhkan?"


"Aku akan membawanya kemari 1 minggu lagi, dan untuk gaunnya sendiri akan digunakan 1 bulan lagi saat ulang tahunnya" Pria itu menjawab pertanyaan Mile dengan mata Hitamnya yang terus tidak terlepas di wajah dan tubuh Mile "Aku Brian, bisakah aku tahu siapa namamu?"


Mile tersenyum canggung menyadari mereka belum berkenalan "Maaf, saya Milena. Senang berkenalan dengan anda, maka saya akan menunggu anda dan putri anda dalam 1 minggu kedepan!"


"Tentu" Brian mengangguk lirih "Bisakah aku meminta nomer Hpmu? Ini untuk menghubungimu soal gaun itu tentunya"


Milena ragu sejenak, ia merasa ada yang tidak beres dengan pria di hadapannya ini. Apalagi cara pria itu menatap Mile sangat membuatnya tidak nyaman. Entah itu perasaan Mile saja atau memang pria itu terlihat seolah mengamati Bibirnya dan juga tubuh sekitar dada dan bagian bawah tubuhnya. Ini membuat Mile sedikit merinding. Namun, pada akhirnya Mile hanya mendesah seraya memberikan pria itu Nomer Hpnya.


"Kalau begitu, sampai jumpa lagi Milena. Aku akan menghubungimu!" Brian tersenyum lembut kearah Milena sebelum melangkah pergi dari tempatnya


'Mari kita Lihat apakah aku bisa mendapatkannya?' Brian menatap lekat-lekat kearah Butik Milena sebelum melangkahkan kakinya untuk pergi


Jauh di seberang jalan seorang pria mengepalkan tangannya Erat menatap kearah Toko Milena dan kepergian Brian dari sana. Pria tampan itu mengepalkan tangannya erat dengan dadanya yang berdegup kencang karena menahan amarah.


"Gadis itu masih berhubungan dengan Brian? Walaupun dia memiliki Suami? Walaupun dia Mencintaiku? Betapa Tercela!" Eros menahan amarahnya di dalam Mobil miliknya


Kakak ipar Eros memintanya untuk memgambil baju keponakannya, maka dari itu disini lah Eros pada akhirnya. Ia masih berfikir bagaiman caranya masuk kedalam toko Milena. Karena, sudah dipastikan penjaga disana serta karyawan wanita itu pasti mengenalinya dan langsung mengusirnya pergi saat melihat Eros.


Karena kebingungan menemukan cara, Eros terdiam cukup lama di dalam mobil. Tapi siapa sangka ia akan melihat Brian keluar dari Butik Mile.


Bagaimana Eros mengenal Brian?


Tentu saja karena mereka berada di Dunia yang sama saat ini. Saat Eros mulai melangkah di jalan yang salah ini, ia mendengar banyak Hal tentang Brian. Dia adalah Pria yang sangat populer dan di sukai wanita. Terutama karena adik besarnya dan Skilnya yang hebat di ranjang.


Eros menenangkan kemarahan yang menjalar di tubuhnya. Ia harus tenang untuk sekarang agar dapat mengambil pakaian milik keponakannya, jika dia marah kehilangan kendali dan lagi-lagi gagal membawa pulang pakaian keponakannya. Tuhan tahu apa yang akan terjadi padanya -_-


Eros menarik nafas dalam-dalam, ia mengenakan topi hitam di kepalanya serta masker untuk menutupi wajahnya. Dan tentu saja kacamata Hitam sebagai sentuhan akhir. Mungkin ia terlihat seperti penguntit mesum sekarang, tapi Eros dengan tidak peduli hanya melangkah masuk kedalam toko Milena.


Eros mendekat kearah salah satu pekerja disana, untung saja itu bukan pekerja yang mengusir Eros kala itu "Aku ingin mengambil baju keponakan milikku. Atas nama Vena Islean!"


"Ahh, ibu Vena! Mohon tunggu di ruang tamu, saya akan memanggil Nona Milena segera!" Pekerja itu menjawab ramah menunjukkan ruang tunggu untuk Eros sebelum pergi untuk memanggil Mile.


Eros mendesah dan terduduk diam disalah satu kursi. Ia melepaskan topi, masker, dan kacamata yang menutupinya karena risih. Setelah menunggu beberapa menit, pintu ruangan itu terbuka. Gadis cantik yang sudah Eros kenal baik muncul di balik pintu dengan ekspresi terkejut.


"Aku datang kemari untuk mengambil baju keponakannku! Kau tidak perlu takut dan kabur!" Eros mengatakan tujuannya dengan dingin menatap kearah Mile yang sedikit takut dan ingin pergi lari


Mendengar perkataan Eros, Mile tertegun sejenak sebelum melangkah mendekat dan duduk dikursi depannya dengan tangan yang memegang sebuah kotak.


"Kau adalah paman Reno?"


Eros diam tidak mengatakan sepatah katapun, bukannya karena ingin mengabaikan gadis di hadapannya ini atau apa. Jika bisa ia ingin menjawab dan mengatakan beberapa makian untuknya. Tapi, saat Milena melangkah masuk keruangan, Aroma segar Stroberi yang manis tercium oleh Eros. Aroma itu semakin tajam saat gadis itu terduduk diam dihadapannya. Menghirup aroma yang begitu nikmat di seluruh ruangan, tubuh Eros kembali merasakan sensasi aneh dan terbakar dengan detak jantungnya yang berdegup kencang.


'Sial!' Eros mengutuk dirinya sendiri seraya menggertakkan giginya keras.


Kenapa gadis dihadapannya memiliki aroma yang lebih kuat dari saat dia di SMP?


Itu benar, Eros sebenarnya tidak peduli dan menjauhi Milena juga karena hal aneh ini.


Waktu pertama kali Eros bermain kerumahnya dan bertemu putri kecil Selena untuk pertama kalinya, entah kenapa Eros merasakan rasa ketidak-bahagiaan. Putri kecilnya Selena terlihat berbeda dari saat ia bertemu di taman. Mata Emas murni itu, senyuman tulus itu, serta keberanian itu. Dia tidak memiliki semuanya.


Eros tentu saja pernah merasa curiga, tapi setelah mendengar dan melihat tingkah Milena yang berlebihan pada Selena kecurigaan Eros musnah.


Tapi tetap saja, setiap kali Eros berada dalam jarak dekat dengan Milena, ia akan mencium aroma yang sangat akrab seperti di taman bulan. Apalagi dengan pandangan mata emas miliknya. Eros yang marah dengan pikiran bodohnya membenci Mile bahkan lebih karena ia selalu kejam Pada Selena. Maka dari itu Eros selalu menghindarinya dan tidak ingin menatap langsung kearah matanya.


Hal yang paling membuatnya menjadi sangat marah dan membenci Milena hingga tidak lagi dapat mentolerirnya tentu saja sejak Video itu beredar dan Mile melakukan hal tercela seraya memfitnah Selena, tidak berhenti disana, kebenciannya padanya menjadi lebih dan lebih buruk dan membuat hatinya terluka berdarah karena kekejamannya pada saudaranya hingga tidak ingin menolongnya dan membunuhnya.


Maka semua hal yang mengganggu pikiran Eros musnah hanya di gantikan Amarah, kekecewaan, dan sakit hati!


"Berhenti bertanya dan berikan baju itu padaku! Berada satu ruangan denganmu membuatku muak!" Eros membuka mulutnya dengan nada suara serak


Milena mengangguk pelan dan tidak mengatakan apapun, ia meletakkan kotak ditangannya dan mengambil beberapa baju lalu membungkusnya dengan tas untuk diserahkan pada Eros.


Melihat gadis dihadapannya hanya diam dan patuh entah kenapa Eros merasa kesal, ia kembali membuka mulutnya tanpa berfikir panjang "Apakah kau tahu bagaimana saat-saat terakhir Selena mati?" Wajah Mile yang fokus pada Meja terangkat menatap Eros dengan pandangan tidak nyaman "Dia menangis! Mengatakan 'Ibu aku tidak ingin mati! Kumohon temukan Mile dan selamatkan aku!' Apakah kau bahagia mengetahui itu? Kau pasti bahagia mendengarnya begitu putus asa memanggil namamu saat kematiannya!"


Mendengar perkataan Eros, sekujur tubuh Mile bergetar hebat, mata Emasnya meneteskan cairan air mata dalam sekejap. Perkataan yang di ucapkan Eros seolah terngiang di telinganya dan membuat hatinya sakit serta menyesal.


Eros yang Melihat bahwa Mile terguncang dengan apa yang ia katakan memiliki sedikit perasaan tidak nyaman, tapi perasaan itu hilang saat Eros mengingat sosok Brian yang keluar dari tempat ini. Dia mengepalkan tinjunya Erat seraya mengambil baju di tangan Mile yang gemetar. Eros bangkit dari tempatnya berdiri hendak pergi dari tempat itu.


Sebelum benar-benar pergi Eros menatap Milena yang menangis dengan tajam dan bersuara dingin "Memiliki seorang suami tidak dapat memuaskanmu hingga kau tetap berhubungan dengan pria itu. Bahkan walaupun begitu kau tetap tidak menyerah padaku. Benar-benar wanita menjijikan! Dan lagi jika kau memang ingin melakukannya dengan pria itu, lakukan di hotel! Akan sangat berbahaya jika kau melakukan hal itu ditempat ini ketika Reno datang berkunjung!"


"..." Milena yang menangis hanya diam di tempatnya saat melihat Eros berlalu pergi dengan kata-kata yang ia tidak mengerti (?)


Semua hal yang ada di otaknya kini hanya perkataan tentang saat terakhir Selena. Milena sedih, dia menyesal, dan juga membenci dirinya karena tidak berguna hingga membuat saudaranya meninggal dengan meyedihkan seperti itu. Ia bahkan dapat mengerti jika Eros sangat membencinya dan ingin membunuhnya. Hal ini pasti sangat sulit untuknya selama ini.