
Cahaya bulan bersinar terang diatas langit menampakkan kemilau yang begitu indah. Mata Emas Milena memandang kearah pintu depan rumah miliknya dengan penuh kerinduan.
Setelah pertemuan Mile dengan ibunya, Ia pergi kerumah Mulan untuk menceritakan hal itu. Mulan marah dan mengutuk keras, ia benar-benar tidak dapat memahami bagaimana Mile dapat memaafkan semua hal yang telah dilakukan oleh keluarganya.
Tentu Mulan juga tidak mengatakan apapun yang berlebihan, walau bagaimanapun mereka tetap orang tua Mile. Yang tidak Mulan mengerti adalah, kenapa mereka semua tetap merahasiakan hal tercela itu dan membiarkan nama baik Milena tetap tercemar. Ia juga marah pada Mile yang meminta pada orang tuanya agar tidak memberitahu Eros.
Jika orang tua Mile menceritakan segalanya, mungkin sikap Eros akan berubah menjadi baik terhadapannya. Jadi ia benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Milena.
Suara pintu terbuka keras terdengar, Milena tersadar dari pikirannya yang berkelana. Mata emas miliknya menatap sosok yang ia rindukan tengah memasuki ruang tamu.
Milena berdiri menghampiri Eros dengan penuh kelegaan di hatinya "Apa kau lelah? Apakah kau lapar? Haruskah aku membuatkanmu makan malam?"
Eros tidak menjawab pertanyaan Milena, ia hanya berlalu masuk kedalam kamar mengabaikannya. Milena mendesah dan mengikuti Eros yang tengah melepas baju yang ia kenakan dan masuk kedalam kamar mandi.
"Aku akan membuatkanmu makan malam, makanlah setelah selesai mandi!" Setelah mengatakan kalimat itu, Milena bergegas meninggalkan dapur untuk memasak makan malam untuk Eros
Suara gemercik air yang jatuh terdengar diseluruh kamar mandi membasahi tubuh Eros yang telanjang.
Pria dingin bermata hitam itu menghela nafas panjang sebelum mengangkat kedua tangannya untuk mengusap rambut hitam pendeknya yang basah.
Sudah hampir lebih dari satu minggu Eros tidak puĺang dan tidur dirumah. Walau pun begitu Eros juga tidak pergi ke bar atau bermain dengan wanita.
Hal yang ia lakukan hanyalah tidur setelah pulang dari kerja di sebuah hotel. Eros sendiri tidak yakin dengan apa yang ia rasakan. Ia marah dan ingin agar Mile menggugurkan janinnya. Tapi walaupun begitu, Eros sadar bahwa janin dalam rahimnya itu tidak bersalah. Maka yang dapat ia lakukan hanyalah mengutuk kebodohannya sendiri selama beberapa hari ini.
Selama beberapa hari ini juga Eros terus menerus mencoba mencari alasan yang tepat untuk membiarkan janin dalam rahim Milena tetap hidup. Namun, ia tidak dapat menemukan alasan apapun. Sampai pada akhirnya ia menyerah dan hanya membiarkan semuanya berjalan apa adanya untuk saat ini. Dan lagi sudah hampir satu minggu juga ia tidak menyentuh Milena. Ia merasa gatal dan ingin memyenyuhnya saat ini, tentu saja Eros tidak pernah berfikir dalam benaknya bahwa ia merindukan Mile. Ini dikarenakan ia tidak berhubungan dengan siapa pun dan orang terakhir yang berhubungan dengannya adalah Milena.
Merasa cukup membasuh seluruh tubuhnya hingga bersih, Eros mengambil handuk dan mengeringkan tubuhnya. Setelah merasa kering Handuk di tangannya ia lilitkan diantara pinggang Eros.
Ia berjalan perlahan keluar dari dalam kamar mandi dan menatap ruang kamar yang telah beberapa hari terakhir tidak ia kunjungi dengan pandangan rumit.
Mata Hitam Eros mengerjap tersadar dari pikirannya yang kosong, ia berjalan melangkah mendekat kearah sebuah Smartphone yang tengah berbunyi.
Menatap sebuah Hp yang tidak ia kenal, Eros mengerutkan keningnya "Mungkin milik Mile" gumamnya pelan dan mengangkat telepon yang berdering dengan nomor yang tidak di tersimpan
"Ahh, maaf apakah aku mengganggumu?"
"Halo? Apakah kau masih disana? Milena. Ini aku Brian. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih atas...."
Bam!
Tanpa mendengarkan lebih lanjut apa yang akan di katakan Brian di seberang, Eros menutup telepon Mile dengan marah dan meletakkannya di Meja secara kasar.
"Eros, makan malam sudah siap....?"
Mata hitam Eros teralihkan dan menatap Milena yang kini tengah berjalan kearahnya dengan bingung.
"Eros?" Menyadari tatapan tajam dan dingin yang Eros berikan, tubuh Mile yang berjalan mendekat kearahnya terhenti seketika dengan sedikit khawatir.
Eros tidak mengatakan apapun, ia hanya berjalan mendekat kearah Mile menarik tubuhnya dengan kasar dan melemparkannya kearah tembok untuk menghimpitnya.
"Ahh? Eros apa yang-?"
Ucapan Mile terhenti akibat Eros yang telah ******* bibir merahnya seraya menekan tubuh Mile dengan lebih ganas. Milena mengeram takut seraya terus menerus mendorong tubuh Eros darinya.
Ia takut apa yang dilakukan Eros akan membuat janin dalam tubuhnya dalam bahaya. Maka ia benar-benar berusaha sekuat tenaga untuk mendorong tubuh Eros darinya.
"Bagus sekali, hanya tidak lebih dari satu minggu dan kau sudah berhubungan lagi dengannya! Apakah kau begitu tergila-gila oleh sex?" Teriakan marah Eros bergema karena penolakan yang Milena lakukan. Ia memandang gadis di hadapannya yang tengah menangis dengan dingin dan niat membunuh.
"Apa yang? Apa yang kau bicarakan?"
Mile bertanya Heran dengan air mata yang terus mengalir, kedua tangannya memegang perutnya dengan penuh perlindungan.
Mendengar kalimat yang tidak ia harapkan dari Mile, seolah tidak mengerti. Eros menjadi lebih marah. Ia menyeret kedua tangan Milena yang tengan memegang perutnya dengan kasar dan melemparkan gadis itu hingga menghantam sebuah meja rias di dalam kamar dengan keras.
"Aku kira aku bisa sedikit memberimu kesempatan dengan adanya janin dalam tubuhmu. Tapi kurasa aku telah salah. Tidak perduli apa seorang pel4cur tetaplah seorang p3l4cur..!!"
Dengan kalimat itu Eros mengambil baju miliknya dan beranjak pergi lagi meninggalkan rumah itu.
Milena menangis sedih dengan kedua tangannya yang memeras perutnya yang terasa sakit. Ia menyeret tubuhnya yang mulai melemas dengan sekuat tenaga untuk menelpon Mulan sebelum kehilangan kesadaran.