Pure Love

Pure Love
Ch. 12 - Dunia Tanpamu(?)



12 Tahun Kemudian, DKI Jakarta.


Dedaunan kering di atas pepohonan melambai ringan tertiup angin hingga patah dan terjatuh di atas tanah dengan lembut. Seolah angin itu tidak puas hanya membuat daun itu patah dari pohon, angin lirih itu berputar dan membawa daun kering terbang dengan bebas hingga menghantam kaca transparan sebuah bangunan.


Mata Emas berkilauan indah menatap daun kering yang telah menghantam kaca tempatnya terduduk itu dengan sedikit penyesalan sebelum bersuara lirih "Kurasa musim gugur akan segera tiba!"


"Tidak ada musim gugur di Indonesia! Dan berhentilah melamun menatap keluar Jendela!" Suara Mulan terdengar dengan sindiran kearah gadis di hadapannya yang hanya terdiam menopang dagunya untuk melihat keluar Jendela


"Apakah Putrimu dibawa oleh Ibumu?" Wanita di hadapan Mulan bertanya dengan nada suara yang terdengar sedih


"En, Ibu membawanya! Dia bilang ingin membelikan mainan untuk Amaira!" Mulan mengangguk ringan menjawab pertanyaan gadis dihadapannya


"Maka kedatanganku kemari hanya sia-sia!"


Melihat gadis itu hendak beranjak pergi dari tempatnya dengan wajah sedih, Mulan kembali bersuara "Mile, cepatlah untuk menemukan seseorang yang kau Cintai dan menikahinya! Dengan begitu aku tidak akan terlalu khawatir!"


Tubuh Mile yang berjalan terhenti sejenak, ia menolehkan kepalanya kearah Mulan dengan senyuman manis dibibirnya dan berkata "Berhenti berbicara omong kosong! Dan jangan lupa untuk membawa Amaira ketempatku. Aku akan membuatkan banyak gaun cantik untuk putri kecilmu yang berusia 3 tahun itu!"


Mulan hanya mengangguk lemah menanggapi Sahabatnya, sudah hampir 12 tahun. Mereka kini tengah berusia 27, Mulan sendiri telah menikah dan di karunia seorang putri kecil yang cantik. Tapi, sahabatnya itu tetap sama. Sama seperti dimasa lalu. Hanya mencintai 1 orang.


Gaun putih halus dengan renda dan jaket switer lembut membalut Tubuh Milena dengan erat. Memperlihatkan tubuh rapuh namun elegan itu dengan keindahan.


Angin dingin membawa dedaunan kering menyapu lirih kearah Milena menerbangkan rok putihnya. Milena tersenyum dan mengangkat tangannya untuk mengapit rok putih miliknya untuk tidak terbang.


Setelah angin dingin itu mereda, Milena kembali berjalan ringan di bawah sinar matahari yang tidak terlalu menampakkan sinarnya. Wajah lembut dan cantiknya terlihat begitu indah terkena cahaya lembut matahari membuat pesona gadis itu berada di luar batas.


Mata Emas Milena menatap kesuatu tempat, seolah tempat itu begitu jauh dan tidak dapat ia gapai. Mata indahnya terlihat sedikit kosong saat Mile menatap keajuhan seperti itu, bibir merahnya tergerak lirih dan menggumamkan kalimat yang hampir tidak dapat didengar "Eros, Bagaimana Kabarmu?"


12 Tahun yang lalu, keadaan Milena lebih parah dari yang di prediksi oleh Dokter.


Milena yang di bawa ke Jakarta dalam keadaan Koma tidak terbangun hampir 3 bulan lamanya. Setelah terbangun, gadis itu hanya akan terdiam seperti patung tidak berbicara atau pun bergerak. Mata indah berwarna Emas miliknya tidak lagi memiliki jejak kehidupan.


Dokter yang merawat Mile meminta pada keluarga Mulan agar Milena di rawat di Rumah sakit selama 1 tahun penuh. Ia perlu menjalani terapi pemulihan karena depresi yang sangat parah.


Setelah 1 tahun, kondisi Mile menjadi lebih baik. Namun, gadis itu tetap tidak pernah lagi tersenyum. Dokter meminta Mile untuk menemui seorang Pshycolog untuk konsultasi dalam waktu yang lama.


Perlahan tapi pasti Milena yang memulai kembali bersekolah akhirnya mendapatkan kembali semangatnya.


Hari berlalu berganti dengan Bulan hingga akhirnya berganti tahun. Milena yang telah tubuh Dewasa mulai bekerja seraya bersekolah. Hingga akhinya ia memiliki sesuatu yang ia sukai.


Milena memutuskan bahwa ia akan menjadi seorang Desainer pakaian anak kecil.


Melupakan masa lalu yang menyakitkannya, Milena terus bergerak maju dan menyibukkan dirinya. Walaupun begitu senyuman di wajah Milena tidak pernah lagi terlihat.


Sampai suatu ketika saat Mulan menikah dan melahirkan seorang putri, saat itulah keadaan tertekan dalam hati Mile menjadi lebih ringan. Ia kembali tersenyum dan tertawa setiap kali bersama dengan Amaira.


Dengan semangat yang baru, Mile akhirnya berhasil membangun sebuah butik pakaian untuk anak kecil miliknya sendiri.


Kehidupan Mile menjadi lebih ceria dikarenakan banyaknya para orang tua yang datang ketokonya untuk membeli pakaian untuk anaknya seraya membawa mereka kesana.


Setelah berjalan ringan dan menemukan taksi. Milena melaju cepat untuk menuju kearah butik miliknya. Taksi yang di tumpanginya berhenti tepat di halaman depan Toko baju miliknya yang tidak terlalu besar.


Setelah membuka pintu toko, udara dingin dari AC menyapu tubuh Mile dan membuatnya merinding sejenak.


Salah satu asisten Mile di toko itu yang bernama Kiara berjalan mendekat kearah Mile yang baru memasuki toko.


"Bu Mile, Ibu Vena datang bersama putranya untuk memesan sebuah baju baru. Ia tengah menunggu di ruang tunggu saat ini" Kiara berkata pelan kearahnya, Mile hanya mengangguk pelan sebagai tanggapan dan berjalan keruang tamu


Saat tubuh Mile mencapai ruang tamu, bibir Mile menampakkan senyuman manis menatap seorang wanita Cantik dengan putranya yang berusia 5 tahun.


Mile mendekat dan menyapa mereka dengan Ramah "Halo Reno, apak kabar? Apakah kamu menunggu lama?"


Reno anak kecil berusia 5 tahun yang disapa oleh Mile tersenyum malu sebelum menggeleng pelan "Aku tidak menunggu lama. Kakak cantik, darimana kamu?"


Mile tersenyum lembut kearah Reno hendak menjawab pertanyaannya. Namun, ia terhenti akibat ibu Reno, Vena. Vena Tertawa dan mencubit pipi Reno seraya berbicara kearah Mile "Mile, aku merasa kau terlalu tua untuk di panggil kakak oleh anakku. Itu mungkin lebih cocok dipanggil tante atau bibi.haha!"


"Ibu, kakak Mile masih muda dan cantik. Dimasa depan Reno akan menikahinya!" Reno menjawab ibunya dengan kesal


"Baiklah! Baiklah! Lebih baik kita cepat memesan baju untukmu dan cepat pulang, atau ayahmu akan marah jika kita tidak cepat pulang!" Vena tersenyum lembut kearah Reno, Putra kecilnya ini memang sangat menyukai Mile. Hal ini membuat Vena sedikit menitikan air mata, Putra tercintanya sudah memiliki seseorang yang dicintainya dan akan segera menikah, ia benar-benar bahagia.


Menyadari wajah aneh yang di buat Vena, Mile hanya tersenyum kecut. Dia tahu pasti Vena tengah memiliki pikiran aneh di otaknya saat ini.


Vena adalah seorang wanita yang sangat baik, dia lebih tua 5 tahun dari Mile. Mereka telah memesan pakaian dari toko Mile sejak pertama di buka 2 tahun lalu. Maka dari itu hubungan yang mereka berdua miliki sangatlah baik.


"Berhenti memiliki pikiran aneh kak Vena!" Mile membuyarkan lamunan Vena yang tetap tidak berhenti, gadis itu mendesah sebelum kembali berbicara "Lain kali jika ingin datang, lebih baik hubungi aku dulu agar kakak tidak menunggu terlalu lama!"


Vena tersenyum malu seraya mengangguk pelan mendengarkan perkataan Mile. Ia kemudian mengatakan tujuannya datang kemari.


Mereka berbicara untuk beberapa saat tentang baju yang dipesan untuk Reno.


"Aku benar-benar ingin kamu menjadi adikku yang sesungguhnya Mile" Vena kembali berbicara setelah selesai dengan apa yang dimintanya, ia mendesah menatap wajah cantik Mile dengan penuh keinginan dan berbicara lagi "Andai saja putraku sudah lahir beberapa tahun lebih dulu!"


"Berhenti berkhayal kakak! Jika sudah selesai lebih baik kau cepat pulang atau suamimu akan marah nanti!" Mile memotong ucapan aneh wanita dihadapannya ini dan mendorongnya untuk pergi agar tidak lagi melantur


Vena tersenyum sebelum melangkah untuk pergi bersama putranya dari toko milik Mile. Sebelum ia benar-benar jauh, langkah kakinya terhenti dan kembali menatap kearah Mile seraya berbicara serius "Atau mungkin aku hanya akan menikahkanmu dengan adikku! Maksudku dia bukan adik kandungku tapi adik iparku. Yakinlah dia sangat tampan, dia ada di London saat ini tapi, 1 minggu lagi dia akan kembali ke Indonesia!"


"Ibu, paman sangat jelek, aku lebih tampan darinya. Dan berhentilah meminta kakak Mile menikahi orang lain, aku akan menikahinya kelak dimasa depan!" Reno yang dari tadi diam di samping ibunya berbicara dengan marah


Vena mendesah menepuk kepala putranya, ia menggendong putranya dan memasuki mobil dengan enggan. 'Mungkin ia hanya akan berbicara dengan Mile saat putranya tidak ada nanti!' Begitulah pikirannya saat itu


Mile tertawa hingga perutnya sakit menatap kedua orang tua dan anak yang sangat konyol di hadapannya sebelum menghilang. Sejak ia memiliki toko butik ini, ia selalu merasa lebih baik. Banyak sekali orang-orang seperti Vena dan anaknya yang datang untuk membuat hari-harinya lebih baik. Milena benar-benar bersyukur karena keputusannya untuk membangun toko ini benar-benar sangat tepat.


Aku hidup dengan cukup baik, di dalam Dunia Tanpamu?


***


Seperti inilah kira" Milena saat ini



Sumber pict : Pinterest