
Pindah Rumah yang dilakukan oleh Milena selesai dalam satu hari itu juga. Ia pindah dan tinggal bersama dengan Eros kini di rumah Eros yang besar dan sunyi.
Milena berusaha beradaptasi dengan lingkungannya sangat cepat, ia membersihkan ruang kamar yang akan di pakainya. Tadinya ia akan memakai kamar yang berbeda dengan Eros karena Mile tahu bahwa Eros amat membencinya dan tidak ingin berada di ruangan yang sama dengannya. Kala itu Eros melakukan hal yang tak terduka karena ia mabuk. Dan sekarang saat Eros sepenuhnya sadar ia pasti tidak ingin melihat wajahnya dan juga saat berada di dalam kamar Mile pun, ia sangat yakin bahwa kata-kata yang di lontarkan Eros hanya sebuah lelucon untuknya.
Namun, sial untuk Mile dengan adanya Vena yang membantu seluruh proses, ia dan Eros hanya dapat mengangguk patuh pada Vena yang menyeramkan. Alhasil Mile dan Eros berada dalam satu ruangan.
"Baik semua sudah selesai sekarang. Aku akan pulang!" Vena mendesah dengan lelah, ia menatap kearah Eros dengan tajam sebelum kembali berbicara "Jika kau sampai tidak pulang kerumah setelah bekerja, aku akan mematahkan kakimu! Dan lagi jika sampai kau membuat Milena menangis aku akan mencekikmu!"
Eros hanya mengengguk lirih dengan punggungnya yang telah basah oleh keringat dingin. Ia merasa walaupun telah menikah, entah kenapa kesialannya tidak berakhir. Vena akan tetap mengawasinya layaknya seorang Ibu tiri. Eros hanya mengehela nafas panjang menerima nasip sialnya. Ia menyerah untuk menikahi Mile semata-mata bukan karena hanya paksaan kakaknya. Ia berfikir mungkin akan baik-baik saja memiliki gadis itu disisinya dan menyiksanya layaknya sebuah alat pemuas hasratnya. Maka saat fikiran ini muncul di kepalanya, entah kenapa Eros menjadi sedikit semangat.
Eros tidak menyukai Mile, atau lebih tepatnya ia membencinya. Namun, setiap kali ia menatap wajahnya hati Eros menjadi tidak nyaman. Tubuh Eros juga sangat tidak nyaman saat ia berada di dekat gadis itu dan menghirup aromanya.
Maka pilihan yang akhirnya Eros buat adalah untuk memanfaatkan gadis itu sebisa mungkin. Ia akan menyiksanya dan membuatnya menderita berada disisinya untuk memuaskannya. Dengan begitu hanya Eros yang akan mendapatkan keuntungan.
"Terimakasih kak Vena. Sering-seringlah berkunjung!"
Eros terkesiap menatap kearah Mile dengan mata gelap. Kenapa gadis ini mengatakan kalimat menakutkan kearah Vena. Apa ia bermaksud untuk menggunakan Vena sebagai pelindungnya dan membuatnya tersiksa?
"Aku akan menjaganya dengan baik! Kakak tidak perlu sering berkunjung kemari! Kami akan baik-baik saja dan hidup bahagia, lagi pula kakak sangat sibuk dengan Reno" Eros menyela ucapan Mile cepat seraya merangkul pinggul Mile kearah tubuhnya dengan cepat
Vena mengangguk lirih menatap kearah dua orang di hadapannya "yah aku akan berkunjung tapi mungkin tidak akan sesering itu. Kau benar Reno sudah mulai sibuk dengan kegiatan di sekolahnya aku akan sibuk. Ngomong-ngomong bocah itu menangis saat tahu bahwa Mile menikah dengan pamanya. Ckck, aku akan pulang sekarang"
"Sampaikan salamku untuk Reno kak" Mile tersenyum kearah Vena yang mengangguk dan berlalu pergi
Keheningan datang pada dua orang setelah kepergian Vena.
Milena yang berada dalam rengkuhan lengan Eros mengeliat membebaskan diri untuk berjalan kearah kamar mereka berada. Eros tidak mengatakan apapun dan hanya mengikuti di belakangnya layaknya seekor anak itik.
"Aku akan tidur di sebelah, jadi kau tidak perlu khawatir"
Eros mengerutkan dahinya menatap kearah Mile yang tengah membawa beberapa pakaianya untuk pergi kekamar sebelah.
Dengan kesal Eros menarik tangan ramping Milena, ia menariknya kasar hingga jatuh dalam pelukannya.
"Eros?"
"Apa kau ingin lari lagi?" Suara Eros terdengar tepat di telinga Mile membuat tubuh Mile sedikit merinding akibat udara panas yang berhembus "Aku memang tidak menyukaimu! Tidak, aku sangat membencimu! Tapi itu tidak sama untukmu bukan? Kau sangat mencintaiku kan?"
Melihat Milena yang hanya terdiam dengan wajah memerah malu, Eros terkekeh pelan layaknya seorang Iblis sebelum kembali bersuara "Walau begitu, aku masih bisa tidur denganmu! Bukankah itu bagus! Kita bisa melakukannya kapan pun dan dimana pun! Kau tidak berhak untuk mengatakan tidak! Lagi pula kau juga merasa bahagia kan?"
Tangan besar Eros m3r3m45 p4nt4t Milena dengan ganas, ia mendorong tubuh lembutnya hingga terjatuh ditempat tidur. Saat tubuh Eros berada di atasnya ia tersenyum manis seraya mendekatkan bibirnya kearah bibir merah Milena "Aku akan mengambil cuti selama satu minggu, kau juga harus melakukan hal yang sama!"
Setelah selesai mengucapkan kalimat itu tanpa mendengarkan jawabannya, bibir Eros membongkar bibir Mile dengan ganas. Lidah miliknya bergerak masuk menjelejahi bibir Mile dengan sangat kasar.
"Ehmm..." Milena m3ng3r4ng tidak jelas atas perlakuan Eros yang ganas, ia mencoba untuk mendorong tubuh Eros sedikit agar dapat bernafas lebih baik. Namun, ukuran tubuhnya yang kecil tidak menghasilkan apapun. Ia menyerah dan hanya membiarkan Eros melakukan apapun yang ia inginkan.
Suara Er4ng4n dan r1nt1h4n memalukan tedengar dalam ruangan yang sunyi. Nafas berat serta d3s4h4n yang membuat orang tersipu terus menerus terdengar hingga malam. Namun, seolah malam yang panjang itu tidak cukup suara itu terus berlanjut setiap waktu dan setiap saat di berbagai tempat.
***
Matahari bersinar gagah di atas cakrawala menampakkan sinar hangatnya untuk menyinari Bumi. Burung-burung terbang bebas menyapu setiap awan dengan gerakan indah. Suara serangga terdengar seperti nyanyian membangunkan tidur nyenyak yang telah berlangsung sepanjang malam.
"Hm, ini enak!" Milena bersuara lirih setelah mencicipi sebuah sup yang ia masak
Saat ini gadis itu tengah berada di dapur untuk membuat sarapan pagi. Hari ini adalah hari ke tujuh ia mengambil cuti, atau lebih tepatnya ia dipaksa untuk tidak bekerja selama tujuh hari. Dan hari ini adalah hari terakhir sebelum ia dapat kembali lagi bekerja besok.
Milena terlihat sibuk membuat sarapan pagi. Ia mengenakan sebuah pakaian manis berwarna putih polos. Jika dilihat secara teliti di sisi kedua tangan dan kakinya terdapat banyak sekali tanda merah kebiruan bulat layaknya stroberi yang terlalu matang. Bahkan tanda merah kebiruan di leher gadis itu terlihat lebih parah.
Walaupun ia terlihat bersemangat memasak dan sibuk, tubuhnya sendiri tidak mendukung tindakannya. Ia terlihat sedikit pincang atau lebih tepatnya tidak seimbang karena rasa sakit yang menjalar di bawah pinggulnya.
"Selamat pagi!"
Tubuh Milena menegang terdiam kaku seketika saat suara Eros terdengar tepat di telinganya seraya memeluk tubuhnya dari belakang. Mile tidak menjawab dan hanya menelan air ludahnya takut.
Selama satu minggu ini, Milena telah menangis dan memohon pada Eros agar lebih lembut dan berhenti memintanya melakukan setiap saat. Ia benar-benar merasa sakit dan lelah.
Tapi Eros dengan kejamnya mengabaikan permintaannya dan terus menyerangnya layaknya Serigala yang telah lapar melahap seekor domba. Mile selalu berfikir, kenapa pria ini begitu menyukai melakukan hal itu atau lebih tepatnya apakah pangerannya dimasa lalu tetaplah orang yang sama? Apakah dia selalu seperti hewan buas setiap saat?
"Eros! Aku mohon!"
Milena merengek sedih seraya menangkap tangan Eros yang telah berkeliaran menjelajahi ked4lam bajunya.
Seolah Eros tidak mendengar apapun, ia menjadi lebih gesit menjelajahi tubuh Milena di balik baju yang ia kenakan. Milena mendesah lirih dan akan berbicara lagi. Namun, ia terhenti akibat lengan Eros yang telah membalikkan tubuhnya kasar seraya menggendongnya layaknya bayi.
"Masakanmu belum matang! Jadi mari lakukan ini satu ronde saja!"
"Eros aku lelah, aku mohon biarkan aku beristirahat!" Mile menatap kearah Eros penuh dengan harapan, kedua mata Emasnya berembun seolah ingin menangis memohon pada Eros untuk berhenti
Tidak mengidahkan permintaan Mile, Eros menekan bibirnya untuk mencium bibir merah Milena dengan kuat. Ia mencium bibir lembut itu dengan dalam seraya bergerak gesit untuk membongkar p4kaian d4l4m Mile didalam gaun putih miliknya untuk beraksi.
Milena menangis sesenggukan dan mengalungkan kedua lengannya pada bahu Eros seraya meng4ngk4t kedua kakinya untuk tergantung di antara pingg4ngy4 dengan pasrah.
Pagi hari yang seharusnya di mulai dengan sarapan itu kini hanya memperlihatkan pemandangan memalukan dengan isak tangis dan 3r4ng4n yang keluar sampai siang hari.